
Baby menatap seragamnya yang kusut, dengan wajah kusut dia meminum susu dan berlalu pergi.
"Papa ku pinter nyetrika Lo Tante" mendengar ucapan Ara tiba tiba membuat Adry maupun Baby kompak menoleh.
Adry menatap anaknya dengan kerutan di dahi, sedangkan Baby dengan senyum yang lebar.
Baby menatap Adry, mengerjap kan mata berulang ulang guna meminta tolong.
"Jangan harap saya mau nyetrika baju kamu" ujar Adry yang tahu kalau Baby akan meminta tolong.
"Busyet belum nyuara udah jawab duluan" komentar Baby.
Baby memakan rotinya tanpa memperhatikan seragam kusut lagi, memilih pasrah dan menikmati sarapannya.
"Ara buruan, kamu bisa terlambat" suara Adry yang sengaja menyindir Baby untuk makan cepat terdengar keras.
Tinnn
Suara klakson di depan pagar membuat Ara buru buru memasukan kotak bekal kedalam tasnya. Dia juga menyalami Adry dan Baby bergantian.
"Nanti papa jemput Ara gak?" Tanya Ara sambil mengenakan tas ransel kecil
"Pasti papa jemput" Adry menggendong anaknya untuk keluar. Entah Ara akan sekolah dengan siapa? Temannya atau bus jemputan sekolah.
Lima belasan menit Baby sudah selesai dengan melahap empat buah roti tawar dan segelas susu. Adry yang datang dari luar rumah berdecak kesal ketika melihat Baby tidak membereskan piring .
"Cuci piringnya" kata Adry tajam
"Lah katanya punya pembantu. Suruh pembantunya lah cuci piring" Baby mengikat tali sepatu hitam .
"Kamu beneran mau sekolah pakai baju kusut begitu?" Tanya Adry yang berniat masuk kedalam kamarnya.
"Iya, emangnya kenapa? Mau nyetrikain baju gue?" Baby menaikan alisnya.
"Gak" Adry membanting pintu kamar, lalu keluar lagi dan mengulurkan tangan
"Mana?" Katanya
"Apa?" Tanya Baby yang juga tidak paham
"Baju kamu, sekalian saya juga mau nyetrika baju saya"
Baby mengembangkan pipi. Lalu buru buru masuk kamar Adry dan mengganti dengan kaos dan celana pendeknya. Dia memberikan baju kotor yang belum dicuci ke Adry.
"Yang rapi ya Om" kata Baby saat menyodorkan seragamnya.
Adry bercimbik kesal, lalu menyetrika seragam Baby yang kusut seperti sudah dimakan kuda. Baby menunggu dan memperhatikan bagaimana gaya menyetrika dari duda keren didepannya.
Drrtt
Panggilan dari Vio membuat lamunan Baby buyar. Buru buru dia mengangkat panggilan itu.
"Ampun beb. Lo kemana aja sih dari semalaman gue telfonin gak diangkat?" Suara Vio yang seperti toa langsung terdengar cempreng ditelinga.
"Gue ketiduran semalam" jawab Baby jujur
"Lo tahu gak sih nyokap bokap elo sampe kerumah gue malem malem, nyariin anak gadisnya yang tiba tiba ilang" teriak Vio
"Sumpah ya Vio. Lo bisa kecilin suara elo gak sih" decak Baby kesal
"Ya ya maaf, Lo semalam tidur dimana?" Tanya Vio memelankan suaranya.
"Di_di" Baby bingung, haruskah jujur atau menyembunyikan semuanya dari Vio.
"Dimana ha? Ngaku Lo?" Cerocos Vio tak sabaran.
"Gue semalam tidur di rumah Adry"
Ketika Baby menyebutkan kata Adry, Adry yang tengah menyetrika kontan menoleh. Ya, dia merasa tidak senang Baby menyebutnya tanpa embel embel pak ataupun Om.
"Adry? Adry siapa?"
"Demi apa?" Vio berteriak keras "Lo tidur berdua sama dia? Sama Om Om? Ampun beb Lo udah gak perawan lagi. Astaga beb" jerit Vio histeris
"Viooo dengerin gue. Gue emang tidur di rumah Adry tapi bukan tidur bareng Adry, semalam gue ketiduran di mobil dia" jeas Baby.
Adry dengan sengaja membanting seragam Baby tepat kearah wajah Baby.
"Om kira kira dong, maen lempar gitu aja" teriak Baby lantang
"Baju kamu baunya kayak tai sapi" setelah mengatakan itu Adry keluar kamar menuju walk in coset.
"Suara siapa beb?" Suara Vio langsung menyambar untuk meminta penjelasan pada Baby.
" Ntar gue jelasin deh" Baby mengapit ponselnya di bahu dan telinga sambil mengenakan seragam
"Yang jelas, Lo harus bantuin gue supaya bokap sama nyokap gue gak tahu kalau gue semalam tidur dirumah Om Om"
"Caranya gimana? Semalam gue udah bilang kalau elo gak nginep di rumah gue"
Baby mengancingkan kemejanya. Menata rambut dan sedikit memoles liptin dibibir mungil, dia juga merapikan kaos dan celana pendek yang dikenakannya, memeriksa tidak ada satu barang pun yang tertinggal di kamar Adry.
"Ya gimana kek caranya"
Baby berjalan keluar, menulis pada kertas kecil yang ditempel di pintu kamar Adry.
MAKASIH TUMPANGAN MAKAN DAN NGINAPNYA OM
"Oh ya, si Oci" tibA tiba suara cempreng Vio langsung Menaik "si Oci kan nginep di rumah neneknya semalam, Lo coba telfon si Oci. Suruh dia bohong dan bilang ke orang tua elo kalau semalam elo nginep dirumah neneknya Oci" saran Vio.
Tanpa basa basi, Baby langsung memutuskan panggilan sepihak, dan menelfon Oci. Di trotoar jalan, Baby terus melambaikan tangannya, mencari taksi.
"Ap_" belum selesai Oci bertanya, Baby sudah lebih dulu memotong
"Lo sekarang dimana? Gue butuh bantuan elo" teriak Baby menggebu.
"Bantuan apa? Gue lagi otw sekolahan"
"Gue nebeng" teriak Baby menggebu, "gak gak, tunggu gue di perempatan sebelum sekolahan, titik"
Terdengar bunyi helaan nafas dari Oci yang berat "Please deh Beb, elo siapa gue tiba tiba perintah seenak jidat elo sendiri"
"Lo mau nomor telponnya si Ken kan? Atau Lo mau Vidio Ken waktu berenang dan absnya diumbar kemana mana"
Tidak ada sahutan dari ujung telepon, bersamaan dengan melemahnya lambaian tangan Baby, sebuah taksi berhenti didepannya. Baby buru buru naik ke dalam taksi
"Oke deal, kita ketemuan didepan cafe sebelum sekolah" ucap Oci jelas lalu mematikan panggilannya.
Taksi yang ditumpangi Baby meluncur ke daerah SMA Araba. Tidak perlu memakan waktu lama taksi itu berhenti di tempat yang disebutkan Baby. Gadis yang tidak terlalu tinggi itu pun langsung keluar dan menerobos masuk kedalam mobil sedan warna hitam setelah membayar uang taksi.
Oci menatap Baby sekilas lalu menatap ponselnya.
"Buruan, apa yang perlu gue lakuin buat dapet no hp si Ken" kata Oci tidak sabaran.
Oci memiliki rambut pendek sebahu, bertumbuh lebih pendek dari Baby dan dengan dua lesung pipi di pipinya. Dia adalah anak dari Pandu Abdiansyah teman Baskara. Oci memiliki kepribadian sedikit tomboy, tetapi kelemahan Oci adalah Ken. Sehingga mudah sekali membujuk Oci untuk menyetujui apapun yang berhubungan dengan Ken
"Ntar Lo bilang sama bokap nyokap gue kalau semalam gue nginep di rumah nenek elo"
Oci menatap arah jalanan yang ramai. Menatap beberapa anak sekolahan yang tampak berlalu lalang.
"Terus " katanya meminta Baby menerangkan lebih lanjut.
"Yah pokoknya elo harus ngeyakinin kedua orang tua gue kalo semalaman gue sama elo" tunjuk Baby memperingati.
Oci memutar mata malas lalu menepuk kursi supir "jalan pak" titah Oci
"Masalah foto dan nomor Ken, gue mau foto foto yang elo kasih ke gue gak elo perjual belikan" ujar Oci memulai negosiasi awal
"Beres" Baby mengangkat tangan membentuk bulatan jari tanda "oke"
"Buruan kirim" bentak Oci sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.