First Love Duda

First Love Duda
Masa Lalu



Baby dan Adry duduk di pesisir pantai, menatap beberapa pasir pasir yang mengenai alas kaki mereka. Baik Baby dan Adry sama sama menikmati udara pantai yang bercampur panasnya mentari. Melihat beberapa turis berlalu lalang.


"Saya jadi ingat papa sama Mama mu dulu" adalah kalimat pertama setelah dua puluh menitan mereka dilanda keheningan.


Bibir Adry naik sekilas, amat sangat manis.


"Kamu tahu, dulu papa mu sama Mama mu duduk di sini nunggu matahari kembali ke tempatnya" Adry mengulang kembali ingatan saat dia, Alan dan Pandu mengintip Baskara dan Rindu yang duduk di pesisir pantai.


"Papa bucinnya Mama" Baby tersenyum tipis


"Bali jadi saksi papamu ngungkapin perasaannya"


Mendengar itu Baby tersenyum "dan sekarang Bali juga jadi saksi anaknya nyatain perasaan" Baby meletakkan kepalanya di bahu Adry, dan lelaki berumur itu tidak menolaknya


"Saya heran dulu, gimana mama mu bisa suka sama papa mu. Padahal__" lagi lagi Adry tertawa di akhir kata "Papa mu itu sama kayak kamu kelakuannya"


Baby mengangkat kepala lalu cemberut, ditatapanya Adry dengan bengis


"Om, Om kira kelakuan gue mirip sama papa?" Teriak Baby


"Saya gak bilang mirip, tapi sama" koreksi Adry


"Beda"


"Iya beda "Adry manggut manggut "lebih kalem papa mu dikit"


Baby mendegus "Om niatnya ngajak gue ke pantai mau bikin gue seneng apa bikin kesel sih, heran deh" sungutnya


Adry menarik sudut bibir, menatap kumpulan turis yang bermain dibibir pantai, juga ada yang bermain jet ski, dan banana boat. Mata Adry mengikuti anak yang berjalan bergandengan dengan orang tuanya.


"Oh ya Om, gue penasaran dari kemarin" Baby melemparkan pasir kearah depan, sehingga pasir pasir itu diterpa angin, mungkin akan masuk kedalam mata pengunjung.


"Kenapa Om bisa dipanggil Adry?"


Adry menatap Baby, memainkan matanya kekanan dan kiri.


"Saya kan berkecimpung di dunia bisnis Asia, jadi banyak pengusaha lain bernama Rama" ujarnya "saya pertama kali dipanggil Adry oleh rekan bisnis saya dari Malaysia"


Baby mengangguk paham "papa sering nyeritain Om Rama" kata Baby akhirnya


Pembasahan ini jika didengar orang orang akan seperti, seorang Paman yang baru pertama bertemu keponakannya. Tapi untuk keduanya pembahasan ini seperti mengarahkan hubungan ke jenjang yang lebih serius.


"Oh ya, cerita apa?"


"Yah, gitu deh" Baby menatap arah depan, agak ragu kalau membahas mengenai ucapan papa dan Mama. Apalagi mereka sering bertengkar karena Rindu sering menaruh curiga pada Baskara. Dan penyebab pertengkarannya adalah mendiang istri Adry.


"Om, ceritain dong tentang istri Om dulu"


Saat mendengar permintaan Baby, wajah Adry berubah sedih. Sorot matanya tidak setajam tadi, bahkan dia hampir menunduk, tapi berubah menarik senyum ketika tiga hembusan dari nafasnya.


"Istri saya dulu mantan pacar papa mu" jelas Adry. "Saya cuman gantiin posisi papamu buat ngerawat dia"


Baby menunggu Adry melanjutkan, namun sampai menit ke lima, Adry tidak bersuara atau ceritanya sudah usai sampai disitu


"Udah gitu aja?" Tanya Baby memastikan


"Memangnya harus sepanjang apa?"


"Gue kan nanya, ceritain tentang istri Om dulu, kenapa pendek banget, itu mah bukan nyeritain tentang istri Om tapi pertemuan Om"


"Oh pertemuan saya dengan istri" Adry menerawang jauh ke depan "dulu papa mu yang memperkenalkan istri saya ke teman temannya"


"Saya kan sudah menjelaskan semuanya"


"Tapi gak gitu, ah tau gah, ngomong sama oom oom emang beda" cibirnya


"Ha ha ha" Adry tertawa lebar, bahkan hampir mengeluarkan air matanya "Jadi saya harus menceritakan panjang lebar mengenai pertemuan saya hingga perpisahan saya, begitu?"


"Ya gak gitu juga, maksudnya lebih mendetail" jawab Baby masih bersungut kesal


"Yang bisa menceritakan sedetail dan selengkap itu cuman Asih" kata Adry selanjutnya


"Oh mahasiswa Mama yang nulis cerita cintanya?"


Adry tidak menjawab, matanya terfokus ke depan lalu memejamkan mata begitu lama. Entah lelaki yang sudah berumur itu tengah menikmati sinar matahari atau sedang membayangkan mengenai istrinya yang hampir dia rindukan setiap malam.


"Om Adry, Om tahu gak. Gue pengen banget lahir kembali di jaman nya Om masih muda, jadi seseorang di cerita perjalanan Om" ujar Baby jujur.


Adry terdiam sejenak, dia menatap wajah Baby dari samping. Menatapnya lebih dekat.


"Jangan, nanti kamu jadi korban rayuannya Om Alan"


Baby tertawa sambil memukul lengan Adry dengan kecil "kalau Om, Om pengen ngulang waktu pas apa?"


Adry menatap Baby, tersenyum sekilas dan menatap arah depan, melihat kumpulan awan putih yang bergerak menuju matahari.


"Saya ingin lahir di jaman kamu, sebagai orang yang tidak memiliki masa lalu dengan papamu" batin Adry lirih


"Emmm apa ya" Adry berdehem "mungkin saya ingin mengenal istri saya lebih awal"


Kalimat itu tidak sepenuhnya bohong, namun percayalah meskipun hanya kalimat yang ditujukan untuk orang yang sudah meninggal namun Baby merasakan teriris di hati.


Kenyataan bahwa Duda anak satu itu belum sepenuhnya melupakan mendiang istrinya membuat Baby hanya bisa menelan saliva.


Baby berdiri sebagai penutupan dari rasa kekecewaannya.


"Cabut yuk Om, laper gue" ucapnya sudah lebih dulu meninggalkan Adry


Adry masih menatap punggung kecil Baby menjauh dari posisi duduknya. Dia berulang ulang mengucapkan kalimat maaf, maaf karena tidak jujur mengenai perasaannya, maaf tidak seberani Baby, maaf karena belum melupakan apa yang diminta Baby untuk di lupakan.


"Omm" panggil Baby dari ujung karena tahu Adry masih duduk dengan santai


"Gue tahu sih ,Om bagian dari rakyat Indonesia yang santuy, tapi bisa gak lebih cepet dikit jangan ke santaian, udah gosong nih gue" cerocos Baby membuat Adry berdiri


Adry segera menyusul dengan cepat, berdiri dibelakang Baby dan menatap punggung gadis itu.


**


Sore hari, barang barang Baby yang ditinggal di hotel sudah di ambil Adry. Juga mereka kini tengah menempuh perjalan Bali - Jakarta. Jangan heran, Adry tidak sepenuhnya senang berpergian menggunakan pesawat, dia lebih nyaman berpergian menggunakan mobil.


Didalam mobil Baby hanya tertidur, menunggu Adry berhenti atau membangunkannya. Beberapa saat Baby merasakan mobil tidak lagi berjalan, dia membuka mata dan melihatnya Adry yang tengah duduk sambil menatap kosong kearah depan.


Dengan ragu Baby melepaskan seatbealtnya, dia turun dari mobil dan berjalan hati hati menuju arah Adry.


Adry berdiri disana, disebuah kuburan mendiang istrinya dengan sebuket bunga. Matanya kosong, dia menatapnya dengan tatapan nanar. Baby tidak mampu melangkah lagi, dia berhenti beberapa meter dari posisi Adry. Menunggu lelaki itu menyadari keberadaan nya.


"Sil" suara itu lirih diucapkan Adry namun bisa ditangkap Baby dari kejauhan


Adry menghela nafas dengan berat, berbalik badan, dia berdiri terpaku saat melihat Baby berdiri beberapa meter darinya.


Apa mencintai memang sesulit ini? Apa ingin dicintai seseorang yang kita cintai memang selalu semenyakitkan ini?