First Love Duda

First Love Duda
ketiduran



Didalam mobil Ara terus saja mengoceh dan berdebat dengan Baby. Mungkin jika sekilas orang mendengarkan pembicaraan mereka, orang akan menyimpulkan kalau Baby dan Ara seumuran, Baby tidak dewasa sama sekali justru sering berdebat dan menyalahkan Ara.


"Tante udah baca dongeng putri salju?" Tanya Ara yang duduk di sebelah Baby.


"Ngapain gue baca dongeng begituan?" Tanyanya


"Bagus Tante ceritanya" Ara mengambil buku dongeng yang ada ditasnya.


"Ini tentang Putri yang dibuang sama ibu tirinya__" belum selesai Ara bercerita Baby sudah lebih dulu memotong


"Udahhh tauukk, gak usah cerita cerita deh"


"Sini Tante Ara ramal" Ara menarik tangan Baby , kemudian jari telunjuk Ara tampak mengikuti garis tangan Baby.


"Apa? Gue bakalan kaya gitu?" Tanya Baby tanpa menoleh kearah Ara.


"Tangan Tante halus" puji Ara tulus


"Ya iyalah gue sering perawatan, emangnya elo doyan maen pasir" ejek Baby.


Karena jengah mendengar perdebatan antara anaknya dan Baby, Adry memutar lagu mellow yang seketika membuat Baby menyandarkan kepalanya di jendela, Ara menyandarkan kepalanya di lengan Baby. Entah sejak kapan kedua nya langsung tertidur pulas


Adry menatap mereka berdua dari kaca depan,melihat Ara yang menyandar diatas paha Baby , melihat mata Baby tertutup rapat sambil memegangi kepalanya.


"Malah pada tidur, mana aku gak tahu alamat si Baby lagi" decak Adry frustasi.


Karena bingung akan membawa Baby kemana, dan gadis ini sedari tadi dibangunkan sangat sulit sekali. Adry memutuskan untuk membawa Baby ke rumahnya. Adry membopong Ara terlebih dahulu, menidurkan Ara di kamarnya.


Kemudian melakukan hal yang sama, namun kali ini dengan berat badan yang berbeda. Adry berkali kali menggerutu karena berat badan Baby, dia memutuskan menidurkan di kamarnya saja, karena kamar Ara yang terletak di atas dan itu jelas saja membuat Adry tidak sanggup.


Adry membanting tubuh Baby diatas kasurnya, menyelimuti gadis itu dan menghela nafas lega.


"Cewek ini berat berton ton" akhirnya Adry keluar kamar dan membaringkan tubuh diatas sofa.


Beberapa detik saat mata Adry tertutup, terdengar bunyi bel dari rumah. Dengan malas Adry bangun, membuka pintu rumah dan mendapati dua sahabatnya datang dengan kaleng soda ditangan.


"Kebiasan banget malam malam kesini" gerutu Adry sambil membukakan pintu.


"Lagi ribut gue sama istri" sahut lelaki yang ditumbuhi kumis diarea bibir.


Temannya yang tengah melepas sepatu, berdiri tegak sambil menerobos masuk.


"Anak Lo udah tidur?" Tanyanya


"Baru aja" Adry duduk di sofa memandangi kedua temannya yang sibuk membuka kaleng soda dengan ciki cikian.


"Si Baskara gak ikut?" Tanya Adry pada Pandu dan Alan.


"Kita sengaja gak ngajak dia" ujar Alan sambil meneguk botol sodanya "pusing gue sama istri, kerjaannya ngoceh muluuu tiap hari" Alan memegang kepalanya , memberi gestur bahwa dia benar benar pusing.


"Berantem lagi?" Tanya Adry sambil meneguk soda.


"Yah gitu lah"


Adry menatap soda ditangannya, memandang jauh jauh dan membayangkan mendiam istri yang selalu menasehati mengenai minuman soda.


"Lo gak ada niatan buat cari istri lagi?" Tiba tiba suara Pandu memecah keheningan.


Adry menatap manik mata Pandu yang terlihat benar benar ingin mendengar jawaban nya.


"Gue belum mikirin" jawab Adry menyenderkan pada sandaran sofa.


"Mau sampe kapan? Lo gak kasihan sama Ara, ini udah dua tahun sejak istri Lo meninggal" sela Alan memandangi Adry


"Lo pada mau maen ps gak, kebetulan kemarin gue baru aja instal game baru" Adry bangkit meletakan kaleng soda dan berjalan kearah televisi.


"Ma" panggilan dari Pandu membuat Adry menghentikan langkahnya.


"Kita kesini gak sepenuhnya karena lari dari masalah keluarga. Tapi karena kita mikir elo butuh keluarga"


Adry menarik nafas, menoleh teman temannya dengan terpaksa dia menarik sudut bibir untuk tersenyum.


**


Baby tersadar ketika bunyi alarm di ponsel nya bergetar, dengan sekali hentakan dia duduk, menyibak selimut, membuka mata.


Dia juga menatap sekeliling karena bingung saat ini dia berada dimana, kamar yang asing dengan tatanan hitam putih, kamar Ken? Tidak tidak, Ken tidak menyukai warna hitam.


Kamar Ken bernuansa putih, hanya putih. Dan ini juga bukan kamarnya, kamar Baby semuanya dipenuhi dengan warna biru muda.


Astaga dimana dirinya berada sekarang, Baby berdiri. Merapikan rambut yang acak acakan serta mencari dimana ponselnya berada.


Ketika dia menemukan benda Pipih yang berada di atas meja, Baby langsung menggeser tombol kunci.


110 panggilan tak terjawab dari Baskara


69 panggilan tak terjawab dari Rindu


14 panggilan tak terjawab dari Ken


58 panggilan tak terjawab dari Vio


Dan belum lagi ribuan spam chat dari mereka semua. Mati, sudah tamat riwayat Baby saat ini.


"Mampus" Baby memukul jidatnya, mencari tas yang berada disudut kamar.


Dengan buru buru, Baby berlari ke kamar mandi yang dia sendiri tidak tahu ini kamar dan rumah siapa yang jelas dia harus pergi sekolah terlebih dahulu.


Selesai berdandan, dan terpaksa menggunakan seragam kucel yang tidak dicuci, Baby berjalan keluar kamar. Dia kaget. Benar benar kaget saat melihat Adry tengah mengoleskan slai coklat di roti milik Ara.


"Pagi Tante" sapa Ara si kecil yang tiba tiba memiliki wajah cerah dan tidak sepucat serta sedingin kemarin


"Lah ngapain elo disini? Ngikutin gue?" Tunjuk Baby pada Ara.


"Tante kan dirumah Ara sekarang"


Bagus. Masalah kedua hadir lagi. Baby tengah berada di rumah seorang CEO yang menyebalkan sejagad raya. Lelaki itu diam, hanya memberikan roti tawar dan menyodorkan susu kepada Ara.



Lelaki yang hampir berkepala lima itu menatap Baby dengan tajam.


"Mau kemana kamu?" Tanyanya sarkatistik


"Lo gak liat gue pakek seragam sekolah, itu artinya gue mau sekolah" balas Baby dengan suara menaik.


"Ini masih jam setengah tujuh. Sarapan terlebih dahulu dan strika bajumu" saran Adry.


Baby melirik seragam yang kucel parah. Dia juga bingung haruskan pergi dengan keadaan seperti itu atau menerima saran Adry.


Baby memilih opsi kedua, duduk dan bergabung dengan Ara. Dia mengambil roti tawar dan memakan rotinya.


"Gak ada susu ya Om?" Tanya Baby yang langsung ditoleh oleh Adry.


"Kamu gak sadar dimana kamu sekarang?"


"Sadar, dirumah Om Om nyebelin sejagad raya"


Mendengar ucapan baby, Ara tertawa cekikikan . Adry melirik kearah Ara yang masih menunduk menahan tawa.


"Sana buat sendiri. Saya gak mau buatin susu kamu"


"Yeee gitu tadi nyuruh sarapan" akhirnya Baby berdiri dan mengambil susu, membuat susunya sendiri.


"Ada pembantu gak dirumah ini?" Tanya Baby di sela dia membuat susu.


"Pembantu datang sekitar jam sembilan, kenapa?" Adry menghentikan mengunyah dan memandang Baby.


"Gue gak bisa nyetrika, terus gimana dong, masa gue sekolah pakek baju kucel gini" seketika wajah Baby berubah murung, terlebih saat melihat perbedaan seragam abu abu miliknya dan merah putih milik Ara yang tersetrika dengan rapi.