
Baby berjalan membawa tas ransel dengan tatapan nanar. Semua siswa siswi bahkan sudah berani membicarakan Baby, memberinya tatapan menjijikan. Baby berjalan menunduk dengan mata yang berkaca kaca, menatap beberapa kramik putih yang dia pijaki.
Srek
Tas ransel milik Baby di rebut seseorang, Baby mendongak. Menatap Lydia yang sudah melemparkan tas ransel ke taman kelas. Baby hanya menatap tas ransel warna hitam yang terkena tanah.
Vio mengambilnya, menepuk tas itu dan menatap Lydia dengan tajam.
"Eh kalo mau jadi preman jangan disini, sana di pasar" maki Vio dengan suara lantang.
Lydia bersidekap dengan wajah congkak, dia menatap Baby yang sudah kehilangan nyali.
"Cewek murahan kayak elo gak pantes sekolah!!" maki Lydia
Baby menarik nafas, mencoba memberanikan diri untuk melawan Lydia. Tapi nyali besarnya yang dulu sering dia banggakan sudah lari entah kemana. Apalagi bukan hanya Lydia yang membenci Baby saat ini, beberapa siswa siswi sudah menatap penuh penghakiman ke pada Baby.
Reno, lelaki penguasa setelah keluarga Araba berjalan kearah Baby. Dia tersenyum sekilas, lalu menepuk pipi Baby dengan lembut.
"Beb, Lo masih punya muka sekolah disini?" Tanya Reno
Mereka yang sudah termakan berita seolah berlagak seperti hakim. Menghakimi seseorang hanya dari tulisan. Mengumpati diam diam atau secara terang terangan. Orang seperti Baby sekarang sudah dianggap sampah.
"Lo" suara Baby bergemetar, bagaimana dia mampu menghadapi satu sekolahan "Lo mau gue keluarin dari sekolahan ini" ujar Baby sekuat tenaga
Baby meremas roknya. Ucapannya tadi ditertawakan Reno dan Lydia. Kedua orang itu sedang puas menertawakan Baby sekarang.
"Apa Lo bilang?" Reno mendekatkan telinganya kearah Baby "ngeluarin gue?" Dia tertawa
"Lo dulu kali Beb yang bakalan keluar dari sekolahan ini" Lydia mendorong bahu Baby sehingga gadis itu mundur kebelakang "Lo udah kehilangan kekuatan disini Beb" dorongan Lydia bertambah kuat
"Selebgraam kok doyan sama oom oom" ucapan Reno tadi ditertawakan oleh siswa siswi yang menonton mereka.
Baby hampir menangis, dia menunduk sejadi-jadinya. Tawa dari siswa siswi yang memenuhi koridor seketika musnah. Ken membelah kerumunan, dia langsung memasang kuda kuda dan menendang tubuh Reno dengan kakinya sendiri.
Reno tersungkur kelantai, yang bisa dilakukan Ken hanya tertawa gembira melihat orang itu sudah jatuh ketanah.
Tahu kalau Ken datang, Lyida mundur selangkah. Ken menatap Lyida dengan tajam, seisi sekolahan tahu bagaimana sikap Ken, lelaki itu tidak segan memukul perempuan, siapapun bahkan bisa habis ditangan Ken, lelaki dingin berwatak sombong.
"Jaga ucapan Lo" Ken menuding Reno yang tengah berdiri.
"Sekali gue denger siapapun ngomongin Baby, gue gak segan segan keluarin dia dari sekolah ini!!" Ken berhenti "termasuk elo" Ken menunjuk wajah Reno dan Lydia bergantian
"Lo lupa kalau perusahaan bokap elo udah kehilangan banyak saham" Reno makin berani
Ken tertawa nyengir "ahh, Lo lupa siapa bokap gue?" Tanyanya
"Keluarga gue gak bakal jatuh miskin cuman karena beberapa persen saham di cabut direksi" Ken tersenyum bangga "Saham turun berapapun harganya, bukan jadi masalah besar buat keluarga gue" Ken maju selangkah menatap bengis wajah Reno
"Masih bisa sombong ternyata" Reno membalas tatapan sombong dari Ken
Ken mengibaskan baju seragam milik Reno, dia tersenyum "Lo jangan lupa, bokap gue punya enam stasiun televisi, satu perusahaan jasa pembuatan iklan, hotel bintang lima, sekolahan, dan mall" Ken tersenyum "Rakyat Indonesia emang lagi panas panasnya sama gosip Baby, tapi stasiun bokap gue tetep jadi tayangan nomor satu buat mereka" Ken merampas tas ransel Baby yang dipegang Vio
"Dan Lo Lydia" Ken geleng geleng "gue gak mandang elo anak Om Alan, kalo sampe elo ngasarin Baby, elo bakalan gue kasarin balik "
Setelahnya Ken menarik paksa tangan Baby untuk dibawanya ke parkiran. Didepan mobil, Baby menarik tangan Ken, memintanya untuk berhenti
"Perusahan bokap bakal aman kan?" Tanya Baby ketakutan
Ken menarik nafas "Gue gak yakin soal itu Beb"
**
Adry beringsut sendirian di ruangan rapat. Para direksi dan pemegang saham sudah bubar sejak sepuluh menit lalu. Pokok pembahasan rapat kali ini hanyalah mereka menuntut Adry segera menyelesaikan berita yang semakin kemana mana dan tidak jelas alurnya.
Sebenarnya dia berniat mengklarifikasi hubungan Adry dan Baby, tapi terlambat, karena Baskara sudah mengklarifikasi bahwa keduanya tidak memiliki hubungan apapun. Kalau Adry nekat mengklarifikasi nya. Maka media dan masyarakat akan berasumsi bahwa hubungan antara Baskara dan Adry tidak berjalan baik. Lagipula Baskara buru buru mengklarifikasi berita itu, utuk mencegah Adry berbicara mengenai hubungan antara dia dan Baby. Sebegitu tidak merestuinya Baskara dengan hubungan Adry.
"Permisi pak" Sinta tersenyum ramah kepada Adry
"Ya, ada apa?" Tanyanya
"Bapak Purna sedang menunggu di ruangan bapak "
Adry mengetuk meja, menarik nafas dan berdiri.
"Kenapa beliau ingin menemui saya?" dia berjalan menuju ruangannya.
Disana Purna duduk seorang diri, tidak bersama sekretaris nya, dia duduk mengamati kantor Adry. Melihat kekanan kiri, memperhatikan lebih detail interior diruangan. Saat Adry berdehem, Purna lekas berdiri dan menyalami Adry.
"Silahkan duduk" Adry mempersilahkan Purna untuk duduk
Lelaki berambut tembaga, berkeriput di kelopak mata tersenyum senang.
"Saya sudah mendengar tentang kabar tidak enak mengenai Anda" ujar Purna formal
Adry menyilangkan kakinya, dan menyambungkan jari jemari. Dia tidak menjawab apapun yang keluar dari mulut Purna.
"Media sekarang sungguh kejam kejam, bagaimana berita murahan seperti itu bisa jadi bahan berita" Purna geleng geleng
"Masyarakat sedang membutuhkan hiburan dari tekanan ekonomi" Adry menanggapi sekilas
"Saya juga mendengar saham perusahaan Sila menurun?" Purna mencondongkan tubuhnya
Kalimat Purna hanya ditanggapi senyuman dari wajah Adry. "yah, begitulah permainan saham pak"
"Saya akan tetap meneruskan investasi ke perusahan anda Pak Adry, juga perusahan saya akan memberikan iklan penuh untuk produk anda" tukas Purna membuat Adry mengernyitkan dahi
"Anda yakin?" Tanya Adry
Lelaki itu mengangguk "Saya percaya dengan Anda, Anda akan segera mengatasi kekrisisan perusahan secepat mungkin" Tutur Purna
Adry tersenyum. Setidaknya Sila tidak akan benar benar hancur hanya karena image buruknya.
"Tapi lebih dulu, kita alihkan berita mengenai Anda yang memacari seorang anak SMA" suara Purna terdengar yakin
Adry menaikan alis, mengalihkan berita , maksud lelaki didepannya ini apa?
"Bagaimana kalau Sila dan Elena mengkonfirmasi berita pertunangan Anda dan putri saya , Rike"
**
Baby mengunci diri di kamar, suara bunyi klakson mobil yang ditangkap dari telinga berubah sebagai bunyi orang yang tertawa. Dia memeluk lutut kaki, ketakutan di ruangan seorang diri. Menutup mata oleh bayang bayang teman temannya yang menghakimi. Ucapan Lydia dan Reno pun masih terngiang di telinganya. Bagaimana Baby bisa menjalani ini.
Baby terisak didalam kamarnya, Rindu dan Ken sedang pergi. Mereka berdua akan menumui Baskara, membujuk lelaki itu untuk beristirahat sejenak, karena sejak kemarin Baskara belum pulang kerumah. Melanjutkan kerjaannya, begadang di kantor dan makan disana.
Baby benar benar takut, tidak ada kekuatan yang bisa dia dapatkan dari membayangkan wajah Adry, lelaki itu entah pergi kemana. Baby merasa dia menghadapi semuanya seorang diri, tidak ada tempat untuk bersandar, tidak ada yang menganggap Baby anak baik sekarang, semuanya sudah berpikir bahwa Baby adalah anak murahan.
Baby menatap sebotol pil tidur diatas nakas. Menatapnya dengan tatapan kabur
**
"Gimana keadaan Baby?" Baskara Dengan wajah pucat mendekati Wirawan dan Icha.
"Ada yang ingin kami bicarakan" kata mereka berdua kompak.
Rindu tengah menangis melihat Baby tertusuk selang Infus, bernafas melalui selang oksigen. Icha dan Wirawan sengaja merundingkan masalah Baby di kamar rawat Baby.
"Masalah Baby bukan masalah penyakit, tapi ini tekanan mental" kata Icha memulai
"Dia baik baik aja dari segi kesehatan, cuman aku rasa Baby terlalu depresi sama berita mengenai dia akhir akhir ini "lanjut Wirawan
"Di usia Baby , dia butuh komentar positif dari lingkungan sekitar, dan ini dia malah dapet komen negatif dari semua orang" Icha menatap mata basah Rindu "aku rasa anakmu udah ngerasa gak punya tempat aman"
Rindu menarik nafas dan melirik kearah Baskara, lelaki itu sedang menatap anaknya yang terbujur lemah diatas brangkar. Belum cukup semuanya usai, Baby ingin mengakhiri hidupnya dengan meminum obat tidur.
"Gimana pa?" Rindu masih menatap suaminya "Apa yang harus kita lakuin buat Baby?" Tanyanya
Baskara menarik nafas, dia tidak segera menjawab, menatap nanar anaknya.
"Pa, papa tuntut semua media yang ngeberitain Baby dong pa jangan diem aja kayak gini, cari solusinya, kalau emang dengan konfirmasi hubungan Rama sama Baby, kita konfirmasi pa"
Mendengar itu Baskara kontan menoleh "Ma, kalaupun papa ngebungkam semua media, masyarakat tetep nyebar luasin, berita ini udah gak bisa dikendalikan"
Baskara menarik nafas "Konfirmasi hubungan mereka? Mama pikir dengan kita ngekonfirmasi hubungan mereka, komentar negatif bakalan berhenti, enggak ma, mereka akan tetep nyerang Baby dengan komentar negatif " Baskara mengacak rambut "Di Indonesia seorang yang nikah sama duda itu sebuah kesalahan" Baskara berjalan keluar ruangan
Rindu terisak didalam ruang inap Baby, dia tidak tahu apa yang harus di lakukan nya saat ini.
Tidak lama Baskara kembali lagi, rambutnya sudah acak acakan, beberapa kancing kemeja terbuka, lengan kemeja digulung setengah tiang
"Kita kirim Baby ke luar negri"
Rindu langsung menoleh, matanya basah, wajahnya pucat. Luar negri? Apa Baskara berniat membuang Baby sekarang
"Berita ini akan segera ditutup sama berita baru, masyarakat bakalan ngelupain Baby seiring waktu, sementara ini kita kirim Baby ke luar negri" kata Baskara
"Kamu gila ya, gak, Mama gak ijinin Baby ke luar negri" tolak Rindu
"Ma, kita harus bijak sebagai orang tua" suara Baskara Menaik "Mama mau Baby tetep disini, dengerin omongan orang, dengerin beritanya yang semakin bikin mental dia down, bikin mentalnya keganggu" Baskara menatap Baby "Mama lihat, Baby anak yang gak pernah murung sama sekali, sekuat apapun Mama ngehukum dia, sebelumnya Baby gak pernah kehilangan semangat dirinya, tapi sekarang" Baskara menunjuk Baby "anak itu udah nekat bunuh diri"
Rindu menangis, memegangi lengan suaminya. Icha dan Wirawan sebagai orang terdekat mereka ikut iba melihat kondisi sahabat baiknya.
"Rin, saran Baskara gak ada salahnya juga, kalau Baby ke luar negri, disana dia bisa menenangkan fikiran" Icha membetulkan saran dari Baskara.
Rindu menangis, menangis terisak isak.
**
Adry berlarian menyusuri lorong rumah sakit setelah mendengar kabar dari Alan kalau Baby masuk rumah sakit. Nafasnya terengah-engah, butiran keringat menetes di lehernya, jas yang digunakan tadi bergoyang goyang di tangan kanan Adry.
Saat dia hendak masuk, suara tangis Rindu membuatnya hanya bisa menggenggam tangan dengan kuat. Adry mengurungkan niatnya masuk kedalam ruangan Baby.
Lelaki itu bersandar di dinding rumah sakit. Waktu seakan berhenti, orang orang yang berlalu lalang dihadapannya pun seperti tidak pernah ada, helaan nafas yang berat seperti perwakilan dari rasa sakit Adry. Lelaki itu merosot jatuh kebawah, duduk jongkok sambil menunduk.
"Di Indonesia seorang yang nikah sama duda itu sebuah kesalahan"
Suara Baskara membuat jantung Adry berhenti. Adry tidak lagi mampu berdiri tegak, apa mencintai Baby adalah sebuah kesalahan? Apa ingin bersama perempuan itu juga sebuah kesalahan?
Baby terlalu banyak berkorban untuknya, hanya untuk mencintai Adry dia rela kehilangan harga diri dan mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu. Tapi Adry, hanya bisa memberikan penderitaan untuk Baby, gadis itu sudah tidak tahan dengan tekanan dari orang sekitar.
Adry berdiri, dia melangkahkan kakinya untuk meninggalkan ruangan Baby.
"Kalau cinta saya adalah sebuah kesalahan, maka saya tidak berniat membenarkan kesalahan ini" batin Adry dalam hati.
**note : Hari ini tu XL lagi bikin mood kesel, sinyal gak ada, giliran ada kuota abis, pas udah beli kartu perdana khusus kuota, eh malah pas registrasi ditolak terus, padahal nik sama kk betul, eh sekarang malah ke blokir
jadinya ini lagi wifi an di tetangga,
demi Kelian biar bisa baca Adry sama Baby,
bdw jangan lupa vote, biar gak sia sia aku duduk di teras tetangga 😑😑😑**