First Love Duda

First Love Duda
Catatan BK



Pak Iam sedang menjelaskan pelajaran bahasa Indonesia mengenai puisi. Memberikan beberapa kosa kata baru yang baru didengar Baby, hanya untuk Baby karena gadis ini tidak pernah belajar.


"Semalam Lo tidur sendiri apa sama Adry?" Tiba tiba Vio berbisik disebelahnya


"Sendirilah pe'a" jawab Baby melirik Vio tajam


Tok tok


Tiba tiba Ken berdiri diambang pintu, masuk kekelas dan menyalami pak Iam.


"Permisi pak, manggil Baby" kata Ken permisi.


Baby langsung berdiri begitu mendengar namanya dipanggil, tanpa permisi dia keluar kelas dan berjalan pelan menunggu Ken yang tengah berbasa basi dengan guru dikelasnya.


"Dipanggil Mama" kata Ken yang berjalan dibelakang Baby.


Baby memelankan langkahnya, sangat pelan sampai Ken yang sudah didepannya menghentikan langkah.


"Dimana Mama?" Tanya Baby tampak takut


"Ruang BK" ujar Ken memasukan tangan kedalam saku


Baby berhenti melangkah, memutar badannya tetapi tidak bisa berlari atau melangkah ketika kerah bajunya di tarik oleh Ken dengan kasar.


"Mau kemana lo? Kabur?" Tanya Ken menyeret adiknya untuk keruang BK


"Please Ken, gue janji bakalan baik sama elo, tapi ijinin gue kabur sekali ini aja" pinta Baby dengan memelas


"Denger ya, gak ada di silsilah keluarga Araba yang lari dari masalah" pertegas Ken dengan merubah posisi tangannya ke lengan adiknya.


Begitu Baby dan Ken tiba didepan ruang Bk, Rindu dan Baskara yang tengah berbincang dengan kepala sekolah, guru Bk dan beberapa staf menoleh kearah mereka berdua. Baby gugup, tanpa sadar wajahnya jatuh menunduk.


"Eh ini Baby sudah datang" suara ramah dari Bu Adel tiba tiba terdengar dan memecahkan keheningan.


Beberapa staf juga langsung berubah ramah pada Baby.


"Si Baby ini paling cantik Lo Bu di sekolahan, bahkan jadi ratu disekolah" puji Bu Adel dengan mengelus rambut Baby.


Rindu tidak tersanjung dengan pujian dari Bu Adel mengenai penampilan Baby. Rindu berwajah datar tanpa senyum dan menatap anaknya dengan lekat. Sedangkan Baskara masih bisa cengengesan ketika mendengar pujian Bu Adel barusan.


"Si Ken ini jangan salah salah lagi. Dia pintar dan sering juara olimpiade, makanya sekolah ini bisa sukses begini karena ada siswa kayak Ken" puji kepala sekolah.


Rindu mengangguk "terimakasih pak buk pujiannya" kata Rindu.


"Jangan khawatir tentang pendidikan anak anak ibu dan bapak, pokoknya semua terjamin kalau di sini" tambah Bu Rita staf tata usaha yang bertumbuh kurus.


"Bisa saya meminta waktu sebentar dengan anak anak saya" kata Rindu sopan kepada kepala sekolah dan staf.


"Oh tentu Bu, kami akan memberi ibu waktu" kata kepala sekolah lalu bergegas pergi yang diikuti staf dan guru Bk.


Baby menunduk. Tidak berani mengangkat kepalanya barang secenti pun.


"Masuk Beb, Ken. Pa" ujar Rindu meminta Baskara, Baby, dan Ken untuk kedalam ruang Bk.


Sengaja pintu ditutup oleh Rindu, agar tidak ada orang yang akan mendengarkan pembicaraan mereka.


Rindu menatap Baskara, meminta Baskara untuk memulai membahas mengenai belajarnya Baby yang semakin buruk dari waktu ke waktu.


"Eee" Baskara menunduk "papa udah liat semua catatan Kamu di ruang Bk, Kelas dan prestasi kamu akhri akhir ini" kata Baskara terdengar berat dan berwibawa.


Baby masih menunduk, mengusap usap kemeja putihnya sehingga kusut.


"Semuanya " Baskara menjeda "buruk. Sangatt buruk sampai papa malu saat baca semua catatan kamu disekolahan" tambah Baskara.


"Kamu diam, berarti kamu mengakui semua kesalahan kamu yang tercatat di sekolahan?" Tanya Baskara horor


"Baby jawab" bentak Rindu sarkatistik


"Iya maaf ma pa. Baby cuman jenuh sama kegiatan sekolah" alasannya.


Rindu menghela nafas berat, begitu panjang sampai dia harus memijat pelipisnya karena pusing.


"Mama malu Baby. Mama malu, Mama ini dosen, masa Mama gak bisa ngurusin anak Mama sih"


Baby mengangkat wajahnya melihat raut muka kecewa dari Rindu


"Maaf ma, maaf" ujarnya lirih.


"Cita cita kamu jadi apa?" Tanya Baskara


Baby mendongak, menatap papanya "jadi artis"


Mendengar jawaban dari anaknya yang sangat luar biasa itu mengundang Baskara untuk tertawa. Tidak, dia tidak benar benar tertawa karena lucu melainkan tawanya sampai berubah tangis karena ada rasa lucu dan juga kecewa di tawanya.


Baskara menyeka air mata yang sedikit di kelopak mata.


"Ya, kamu mau jadi artis papa ijinin, tapi lakukan cita cita mu setelah kamu lulus SMA, setelah pendidikan kamu semuanya selesai" imbuh baskara.


"Mulai semester depan kamu akan Mama homeschooling kan" kata Rindu membuat dunia Baby langsung runtuh seketika.


"Apa? Homeschooling? Ma kita udah pernah bahas masalah ini kan sebelumnya" suara Baby kali ini Menaik. Ada rasa tidak terima dalam nada bicaranya


"Dan jawaban Baby akan tetep Sama, yaitu gak mau, Baby anak normal ma, Baby bisa sekolah di sekolahan negri ataupun swasta tanpa di sekolahkan dan dikurung didalam rumah" perjelas Baby hampir menangis.


"Bukannya kamu gak suka peraturan?, kalau kamu homeschooling kamu bisa buat peraturan untuk diri kamu sendiri" pertegas Rindu tak mau kalah dengan anaknya.


"Mama egois ya. Mama jahat, Mama cuman mikirin kepetingan Mama sama papa tanpa tahu apa yang Baby mau selama ini"


Baby langsung pergi Tidak mendengarkan panggilan dari Baskara lagi. Dia berlari jauh. Sambil menyeka air mata yang terus mengalir di pipi.


Brug



"Kalo jalan liat liat dong, gak ngerti orang segede ini elo tabrak gitu aja" bentak Baby


Lelaki yang ditabrak Baby itu mengerutkan dahinya bingung sekaligus ingin marah. Tapi ketika mata kedua bertatapan kemarahan itu langsung luntur saat melihat air mata Baby.


"Kamu kenapa nangis?" Tanyanya


"Om ngapain disini?" Tanya Baby saat tahu orang yang ditabraknya adalah Adry.


"Balikin dompet kamu" Adry menyodorkan dompet merah muda yang tertinggal di kamarnya


"Oh iya" Baby menerimanya dalam sekali hentakan. Lalu menyeka air mata nya "kok tahu gue sekolah di sini. Kan di dompet gue gak ada kartu pengenal"


Adry menarik nafas, geleng geleng begitu mendengar ucapan Baby yang panjang.


"Seragam kamu. Di indonesia yang punya seragam aneh kayak kamu itu cuman sekolah Araba" pertegas Adry sambil mengendorkan dasinya


"Lain kali jangan ninggalin barang sembarangan. Buang buang waktu saya tau gak" imbuhnya


Baby memutar mata malas. "Ya, tadi kenapa pakek dianterin segala? Kan bisa telfon gue, Om kan punya kontak seluruh model yang Om kontrak"


"Mau nya juga gitu. Tapi saya kasihan nanti kamu gak punya uang jajan"


Mendengar ucapan Adry yang seolah menyepelekan uang Baby, langsung membuat Baby ingin menyembur Adry dengan kata kata terpedas nya.


"Enak aja, di dompet ini cuman ada kartu kredit sama atm, uang cas gue kebanyakan ada di saku saku baju atau celana. Maklum orang kaya jadi asal ninggal uang di masing masing baju" ucap Baby sombong


"Terserah kamu lah pokoknya. Saya mau pulang" Adry berjalan pergi meninggalkan Baby


**note : Hey hey hey , semisal kalau cerita ini gak kalian suka, jangan dipaksa di baca, juga jangan ninggalin komen yang bikin aku sakit hati ya 😭😭😭


emang kalau dipikir umur Baby sama Adry itu terpaut jauh banget


tapi kita kan gak tahu ceritanya gimana


juga, kalau cerita ini gak segreget BARA , maaf (dulu pertama aku nulis bara di Wattpad juga di bilang ga greget)


makasih, maaf banyak catatan di setiap bab**