
Kalimat dunia itu sempit memang sesederhana itu, Manik berdiri dengan gelas penuh beer, dia tengah berbincang bersama salah satu teman wanitanya.
Karena merasa kenal, Baby menepuk bahu Manik sambil menyapanya.
"Manik" panggil Baby agak keras
Manik menoleh, lalu tersenyum cerah kearah Baby "Beb" katanya
"Lo kok bisa disini?" Baby mendekati telinga Manik, bukan menggoda hanya saja karena suara dentuman musik membuat suaranya tidak terdengar
"Kebetulan diajak temen" kata Manik juga berbicara disebelah telinga Baby.
"Gue kesana ya" pamit Thea langsung berjalan
Gadis itu sudah menemukan prianya, melihatnya berjalan dengan pria itu saja Baby bisa menebak kalau pria itu punya banyak uang.
Manik dan Baby duduk di kursi belakang. Saling bertatap sambil menyodorkan minuman.
"Beb, bapak elo pemilik Araba atau Elena grup sih?" Tanya Manik
Baby menoleh "dulu Kakek gue pemilik sah Elena, terus diwarisi ke bokap, karena bokap pengen punya perusahaan sendiri , jadi bokap bikin perusahaan namanya Araba. Gitu, tapi dua duanya masih kepemilikannya sah bokap gue sih, he he he" Tutur Baby
Manik manggut manggut "Gila ya Beb, Lo kaya banget, Elena aja udah perusahaan gede, apalagi ditambahin Araba" Manik berdecak kagum dengan penuh kejujuran
"Ah apa sih" Baby menatap sekeliling, mencari keberadaan Thea.
"Bdw, hubungan elo sama Lydia gimana?" Tanya Baby
Manik tidak menjawab, dia menggoyangkan gelas yang penuh beer lalu meneguknya. Saat ber itu diteguk oleh Manik, aroma alkohol tercium dari hidung Baby.
"Gue udah putus" jawab Manik setelah bungkam sangat lama
Baby manggut manggut, masih memperhatikan minuman dihadapannya.
"Rasa beer gimana sih?" Tanya Baby yang penasaran akan minuman itu
"Lo mau coba?" Tawar Manik mengangkat botol beer.
"Ah gak ah, takut gue" Baby meneguk minuman jus biasa.
Sedari tadi dia terus menerus melihat sekeliling, mencari keberadaan Thea yang entah pergi kemana.
"Cobain deh" tawar Manik sudah menuangkan beer ke dalam gelas bersih. "Lo harus nyobain pengalaman baru" kata Manik mengangkat gelasnya.
Baby ragu ragu ingin mencoba, kalau Baskara dan Rindu tahu, bisa bisa dia dicoret dari kartu keluarga. Baby menatap Manik yang tengah menaikan alis, lama dia berfikir akhirnya gelas itu di angkat Baby. Mereka melakukan cheer hingga bunyi gelas berdenging.
Perlahan, Baby mencicipi minuman itu di area bibir, baunya begitu kuat, lalu mencoba sekali satu tegukan. Yang dia rasakan hanyalah panas di area leher, lalu.
"Grrhhhh kok agak pahit pahit gitu ya"
Mendengar itu Manik kontan tertawa, apalagi dengan wajah polos dari Baby. Manik menuangkan sekali lagi beer kedalam gelas Baby.
"Lo beneran baru nyobain sekali ini?" Tanya Manik tidak sepenuhnya percaya kalau Baby tidak pernah meminum alkohol
"Beneran, rasanya aneh" jawab Baby yang langsung meneguk air putih
"Masak sih model gak pernah minum beginian" nada Manik terdengar mencibir namun Baby tidak begitu memperdulikan
"Ayo dicoba lagi" tawar Manik.
Awalnya Baby ingin menolak, tapi melihat tatapan dari Manik yang penuh harap membuatnya meneguk segelas lagi.
"Argghh" geram Baby saat merasakan panas dan pahit diarea lehernya.
"Enak gak?" Tanya Manik memastikan
"Lama lama kayak ada manis gitu, tapi pahitnya masih kuat"
Thea datang menghampiri Baby dengan tubuh sempoyongan, rambutnya sudah acak acakan apalagi riasannya. Ada bekas kissmart di bagian dada Thea yang terekspos.
"Beb, cabut yuk, pusing banget gue" kata Thea memegangi kepalanya
"Ah elo, giliran gue belum apa apa elo ngajak cabut" Baby berdecak
"Baby biar balik sama gue. Ntar gue yang anterin" ucap Manik
"Bener?" Tanya Thea menatap Baby.
Baby mengangguk, sejurusnya Thea langsung berjalan sempoyongan keluar dari club. Dan Baby ditinggal di club bersama Manik, mencoba hal hal yang belum pernah Baby coba.
***
Adry berputar putar di lobi hotel, sejak tigu puluh menit yang lalu Baby tidak membukakan pintu kamar hotelnya. Jadi Adry fikir Baby sedang keluar mencari udara. Tapi begitu melihat Thea dari pintu lobi, perasaannya justru tidak enak. Baby tidak memiliki teman akrab selain Thea, itu yang selalu dia perhatikan ketika jadwal pemotretan.
"Thea" panggil Adry
Thea mendongak sembari menatap Adry yang tidak jelas. Melipatkan dahi dengan spontan.
"Selamat malam pak Adry" kata Thea mencoba tersadar penuh.
Aroma alkohol tercium di hidung Adry begitu Thea membuka mulutnya. Adry mengibaskan udara disekelilingnya dengan bantuan tangan.
"Kamu tahu Baby dimana?" Tanya Adry.
"Baby" ulang Thea, Thea berhenti berfikir sambil menggaruk kepalanya
"Oh, Baby si anak orang kaya itu" kata Thea mulai tidak jelas "dia di club " kata Thea langsung berjalan pergi
"Club" ulang Adry lebih pada diri sendiri. Adry menoleh kearah Thea, sayang perempuan itu hilang dibalik lift.
"Club? Ngapain anak itu disana"
Entah dorongan dari mana. Adry langsung bergegas pergi menuju mobil, di bawanya mobil kearah club Denpasar terdekat. Dimasuki tempat yang penuh musik musik keras dan menjajakan alkohol. Pertama yang dilihat Adry adalah, wanita wanita menjajakan tubuhnya untuk lelaki yang baru saja masuk, menawarkan diri atau menawarkan minuman.
Mata Adry menjelajahi ruangan sekitar, tidak dia temukan Baby dimana mana. Lalu dia sedikit melangkah, pada ujung meja, dia melihat wajah Baby yang terbenam oleh rambut. Dia duduk bersama seorang lelaki, lelaki yang sama pula, yang pernah ditemui di lobi hotel.
"Baby" panggil Adry sedikit menaik
Sungguh melihat perempuan itu memegang gelas alkohol, rasanya Adry ingin memarahi anak itu.
"Pulang sekarang" teriak Adry hampir seperti ayahnya
"Maaf Om, Om siapanya?" Tanya Manik yang tidak terima kalau Baby di minta pulang begitu saja.
"Pulang" Adry menarik tangan Baby.
Sepertinya gadis itu tidak sepenuhnya sadar, dia langsung berdiri begitu Adry menariknya, berdirinya pun tidak tegak, wajahnya selalu menunduk dan matanya terpejam
"Saya orang yang bertanggung jawab penuh atas Baby" kata Adry memeluk bahu Baby
Saat Adry hendak pergi, tangannya dicekal oleh Manik.
"Tapi hak apa yang Om punya atas dia?" Tanya Manik
Adry terdiam. Hak? Selain atasan Adry memiliki hak apa atas hidup Baby. Sanak keluarga? Teman? Atau pacar. Jawaban mana yang bisa membuat Manik setidaknya melepaskan Baby saat ini. Otak cerdas Adry berfikir sejenak.
"Saya calon suami Baby" kata Adry tanpa pikir panjang.
Dia langsung menggendong tubuh Baby menuju mobilnya. Persetan dengan pikiran Manik nengenai hubungan mereka. Yang jelas saat ini Adry harus membawa gadis ini pergi dari club.
Sampai di mobil, dengan kesal Adry menjatuhkan tubuh Baby dikursi penumpang dengan asal, sehingga kepala Baby terbentur oleh pintu mobil.
"Aww" rintih Baby lirih, namun dia tidak membuka mata, masih memejamkannya.
"Kalau saya tidak kenal sama orang tua kamu, mungkin kamu udah saya biarkan jadi mangsa lelaki hidung belang tadi" rancau Adry semakin menjadi.
"Anak sama bapak sama sama nyusahin" katanya
Baby tertidur pulas atau sudah pingsan. Yang jelas disaat Adry duduk di kursi pengemudi , Baby langsung berdiri dan memuntahkan isi perutnya. Tanpa tahu dimana dia memutahkannya.
Melihat pemandangan itu Adry berdecak kesal.
"Sialan, ngapain kamu muntah dimobil saya" teriak Adry yang terasa percuma.