First Love Duda

First Love Duda
Pergi kepantai



Baby masih saja mengikuti Adry dari belakang, lelaki itu terus berjalan tanpa menunggu langkah Baby yang sudah terseok-seok. Sesekali Baby berteriak untuk meminta Adry menunggunya, namun percuma lelaki itu tetap berjalan tanpa menghiraukan ucapan Baby sedikitpun.


"His" decak Baby amat keras sambil berjongkok, rasanya dia tidak kuat lagi jika harus mengejar Adry.


Adry yang tahu kalau Baby tertinggal jauh berhenti sejenak, menoleh anak itu sambil tersenyum menang. Menggoda Baby memang selalu menyenangkan, apalagi melihat gadis itu mencak-mencak tidak jelas.


"Tungguin Om" rengek Baby


Adry berdiri menunggu Baby sambil melihat kearah arlojinya. Mulutnya berkomat Kamit tidak jelas lalu dia mengangkat telapak tangan


"Saya hitung sampai tiga, kalau tidak sampai di sini, saya akan tinggal kamu" ancam Adry yang membuat Baby langsung berlari sekencang mungkin.


Sampai di samping Adry Baby langsung menghadiahi tatapan tajam beserta nafas yang memburu. Tatapan itu seperti tatapan akan memangsa Adry, namun Adry justru tertawa melihat reaksi Baby yang berlebihan.


"Kenapa ? Kamu mau membunuh saya?" Tanya Adry menaikan alis sambil menggoda


Baby hanya bisa mencimbikan bibir sambil berdecak, urusan dengan Adry memang selalu menyebalkan.


Mereka melangkah beriringan, saling diam sebelum sampai di pantai, Adry sempat mengajak Baby untuk membeli makanan ringan namun Baby menolaknya.


Angin pantai kembali menerpa wajah Baby, rasanya tidak bosan kalau pergi mantai begini, apalagi degan seseorang yang terasa istimewa disamping Baby. Adry memasukan tangan kedalam saku, melihat kekanan dan ke kiri. Rasanya dia juga menikmati udara pantai, sudah lama dia tidak pergi liburan, hanya di kantor menyelesaikan kerjaan yang terasa melelahkan.


"Tadi kamu kemana?" Adry masih menanyakan kemana Baby pergi tadi siang. Pertanyaan yang ditanyakan Adry hampir tiga kali


"Gue?" Tanya Baby memastikan apakah Adry menanyakan posisinya atau tidak


"Apa ada orang lain disini selain kamu?" Tanya Adry dengan nada menaik


"Om, hari ini Om lagi PMS ya, kenapa sih sering banget marah marah" cicit Baby dengan gemas


"Kamu tadi siang dari mana?" Ulang Adry


"Dari pantai" kata Baby sambil merentangkan tangan


"Pantai? Dengan siapa?" Tanya Adry menatap Baby dengan tajam


"Manik" katanya


"Manik" kali ini Adry mengeraskan nadanya sampai membuat Baby terjingkat dan sedikit menjauh dari Adry "dengan pakaian seperti ini?" Tunjuk Adry pada pakaian terbuka Baby.


Baby melihat ke arah tubuhnya, dimana pakaian pantai yang sedikit terbuka, lalu Baby berdecak.


"Emangnya kenapa sama pakaian gue? " Teriak Baby memanas "Kayaknya semua orang selalu seneng ngomentari pakaian gue, ck"


Baby langsung berjalan pergi meninggalkan Adry yang mematung di pantai. Terserah lelaki itu akan mengikuti Baby atau tidak, hanya saja Baby sedang kesal dengan sikap Adry hari ini.


Sampai di luar area pantai, Baby menunggu kendaraan yang tengah melintas di depannya, padahal tidak banyak kendaraan sehingga Baby bisa menyebrang kapan pun. Namun Baby tengah menunggu Adry. Sampai matahari hampir menghilang pun Adry tidak kunjung datang.


Akhirnya Baby berbelok, kembali lagi ke tempat dimana Adry berada. Sampai disana, dia tertegun, dadanya terasa sesak, padahal hanya melihat Adry tersenyum dengan orang lain, tapi rasanya ada sesuatu yang merebut miliknya.


Iya, disana, ditempat itu, Adry berdiri dengan Rike, tersenyum cerah tidak seperti saat mereka bersama. Baby berdecak kesal lalu menghentakkan kakinya berulang ulang


"Brengsek " cicitnya kesal


**


Hari ini jadwal pemotretan, sedari pagi Baby tidak melihat Adry, entah lelaki itu dimana. Mungkin sedang mempersiapkan acara pembukaan kantor cabang, atau sedang mencari wanita turis di Bali.


Area pemotretan ini berada dipantai, dengan banyak kain kain putih sebagai baground serta beberapa perias yang juga sudah berganti orang.


"Perias sama tim photograper sering diganti ya?" Tanya Baby pada perias


Perias itu berhenti sejenak, menatap mata Baby, lalu melanjutkan memoles bibirnya.


"Sebulan sekali Sila merubah tim" kata perias yang tidak dikenali oleh Baby itu.


Kini giliran Baby, dia berdiri didepan kamera, lensa itu membidik seperti seekor singa yang sudah menemukan mangsanya. Tidak dibiarkan barang sedetik pun untuk lepas, Baby tersenyum sesekali berpose sehingga tulang lehernya terlihat.


Saat juru kamera menerima hasil jepretannya dari laptop, dia berdecak kagum oleh kecantikan Baby yang seperti Dewi, terlihat natural dan begitu sempurna.


"Nama Lo siapa?" Tanya photograper yang membuat Baby menaikan alis


"Baby" kata Baby cuek


Lelaki itu manggut-manggut, dan menyelidik lebih dalam lagi wajah Baby. Beberapa potret Baby sudah didapatkan, kini dia harus berganti pakaian ke pakaian selanjutnya, begitupun Thea, gadis itu tengah menunggu giliran berganti pakaian, karena tim sedang menyiapkan pakaian yang akan digunakan.


Baby bermain ponsel, sesekali membuat insta story tentang kemewahan dirinya.


"Beb, nanti malam jalan kuy" ajak Thea tanpa menoleh orang yang sedang diajak bicara


Baby menoleh "nanti malam?" Ulang Baby


Thea mengangguk tanpa suara, membuat Baby berfikir sebentar. Nanti malam sepertinya tidak ada alasan untuk menolak ajakan Thea. Lagipula terlalu membosankan kalau dia hanya tiduran di hotel.


"Kemana tapi?" Tanya Baby


"Club" Thea berbisik pelan sambil berdiri.


Gadis itu sudah didepan kamera, berpose menggoda yang membuat kamera memandang dengan tajam.


**


Ah waktu di Bali tidak semenyenangkan dugaan Baby, dia banyak menghabiskan waktu hanya untuk bekerja, tidak ada jam kosong sedikitpun, dia kira, dia bisa pergi berlibur jika di Bali. Bahkan dari jam tujuh sampai pukul sembilan malam, kegiatan nya baru saja selesai.


Baby merentangkan tangan sambil menguap lebar, di rebahkannya tubuh kecil itu diatas kasur sambil menggulir laman Instagram.


Tok tok tok


"His" Baby berdecak kesal


Dia berdiri sambil membukakan pintu, dilihatnya Thea sudah rapi dengan pakaian club. Ah Baby hampir melupakan janjinya pergi ke club malam ini.


"Belum ganti?" Tanya Thea begitu kaku.


"Sory lupa" kata Baby enteng sambil berjalan memungut pakaian dengan asal.


Dia masuk kamar mandi dan menggantinya, keluar sudah rapi dengan pakaian yang dia ambil secara acak dari koper.


Baby hanya memakai kaos tipis warna putih, serta celana pendek warna hitam. Cukup sederhana tapi tetap mewah jika sipemakai adalah Baby.


Mereka keluar, lalu mencari taksi dan melenggang ke tempat yang direncanakan semula. Udara Bali agaknya jauh lebih baik dari pada udara Jakarta, serta penduduknya yang sedikit ramah.


Tidak ada percakapan berarti didalam mobil, mereka sibuk dengan ponsel masing masing, Baby pun berkali kali menatap nomor Adry tanpa berani menghubungi lelaki itu.


Apalagi selintas bayangan mengenai Adry dan Rike yang terputar bagai kaset rusak di kepalanya.


Ah Bali yang membosankan ...