
Tahu Adry membawa Baby kemana? Bukan sebuah mall atau taman bermain dan apalah itu tempat nongkrong yang romantis. Tapi Adry membawa ke perpustakaan. Astaga, melihat deretan buku yang tersusun di rak Baby hampir muntah, bahkan lelaki dingin itu berjalan didepannya tanpa menunggu. Adry menuju deretan buku bisnis. Saat Adry sibuk memilih buku mana yang akan dia bawa, Baby bersandar di rak buku sambil bersidekap.
"Om, Om tahu gak bahasa nge date itu gimana?"
Adry memindahkan pandangannya kearah Baby sambil tangan memegang buku. Dia berpikir sejenak, kenapa tiba tiba gadis ini bertanya seperti itu.
"Maksud kamu?"
"Enggak, gini Lo Om, kita kan lagi nge date, tapi kenapa kita ke sini?" Ekspresi Baby benar benar lucu, gadis itu menghentakkan kakinya berkali kali.
"Kata kamu tadi terserah saya" Adry kembali membaca buku yang dia pegang, dirasa itu bukan buku yang dicari Adry, lelaki itu mengembalikan buku kembali ditempat semula.
Sedangkan Baby menahan kesal mati matian, dia menarik lengan Adry. Lelaki itu hanya berdehem sebagai jawaban dari ajakan Baby untuk meninggalkan perpustakaan.
"Sebentar" kata Adry setelah Baby tidak berhenti menarik bajunya.
"Ommm, omm kan punya duit banyak, kenapa gak beli aja sih buku yang Om cari, kenapa harus kesini" Baby benar benar tidak suka aroma buku, apalagi di perpustakaan ini dia tidak diperbolehkan bersuara
"Ada beberapa buku yang gak di jual lagi" Adry membaca buku yang dia pegang
"Aahh ommm"
Jari telunjuk Adry berada di bibir "ssttt" kata Adry meminta Baby untuk tidak bersuara lagi.
Tapi bukan Baby kalau tidak membuat Adry malu, gadis itu justru menghentakkan kaki dengan keras. Adry menoleh Baby, melihat apa yang akan di lakukan gadis nya.
"Ayo pulang" teriak Baby menggebu.
Beberapa orang yang berada disana langsung menatap Baby tajam.
, mereka tengah menghakimi Baby, bila perlu memenjarakan gadis itu karena membuat ulah.
Adry kewalahan, buktinya dia meletakan kembali buku ditempat semula dan menarik tangan Baby.
"Kamu bikin saya malu" katanya setelah keluar.
"Abis Om katrok banget sih" caci Baby
"Katrok?" Adry mengulang Kalimantan , astaga dulu di jaman Adry, dia pernah berpacaran di perpustakaan. Dan itu dirasa romantis meski jarak beberapa Minggu dia langsung putus dengan kekasihnya.
Baby masih cemberut, dia berjalan kearah cafe tanpa mengajak Adry. Biarlah lelaki itu berdiri disana atau menghabiskan masa tuanya di perpustakaan.
"Dasar Om Om model kulkas, kanebo kering, triplek" Baby masih mendumel tanpa henti.
Dia memilih duduk didekat jendela, memesan latte dan juga kue. Baby masih mendumel kesal, bisa bisanya Adry mengajak dia ke perpustakaan, padahal mereka sedang menikmati kencan.
Pesanan Baby sudah berada diatas meja, Baby tidak langusng meminumnya, dia menunggu Adry. Tidak lama lelaki itu datang dan menghampiri di mana Baby berada. Tangan Adry di sembunyikan Kebelakang, Baby tampak tidak perduli dengan sikap adry lagi.
Saat Adry mengeluarkan tangannya, Baby langsung menarik sudut bibir. Kemarahannya lenyap seketika saat melihat sebuket bunga ditangan Adry.
Baby tidak bisa menyembunyian wajah bahagianya atau berpura pura marah pada Adry. Bagaimana dia mampu, Duda itu begitu keren.
"Maaf" ucap Adry lirih
Baby menerimanya, dicium bunga itu sekali lagi "Bunga pertama" kata Baby
"Kata siapa?" Adry menggeser kursi didepan Baby "itu bunga kedua dari saya"
Mendengar kata kedua Baby langsung menatap Adry dengan serius. Seingatnya dia tidak pernah menerima bunga dari Adry sama sekali. Dan kenapa bisa lelaki itu berkata kalau dia memberikan bunga untuk kedua kalinya.
"Kapan Om ngasih gue bunga?" Tanya Baby
"Dulu, pas kamu marah sama saya, saya ngirim bunga mawar ke rumah kamu"
Mawar? Baby mencoba mengingat ingat kembali. Apakah dia pernah menerima bunga selain dari papanya, seingat dia sih tidak pernah.
"Kapan sih Om?"
"Kamu lupa" Adry menghela nafas "saya beli bunga didepan sekolah kamu, dulu saya bingung dan terlalu gengsi mau ngasihnya"
Oh, Baby baru ingat sebuket bunga dan sebuket strwabary. Disaat papanya pergi ke luar negeri, dan diwaktu yang sama dia melihat Adry dari ujung jalan.
"Oh iya" Baby berdecak
"Sekarang ingat, wah saya tidak menyangka, ternyata kamu tidak banyak memperhatikan apa yang sudah saya kasih ke kamu ya" Adry menekan kalimatnya
"He he, maaf" Baby nyengir kuda "dulu papa juga ngasih buket strawbary, gue kira itu semua dari papa"
Adry hanya bisa geleng geleng pasrah. Begitu senyum di wajah Baby tidak lekas pudar, perasaan hangat langsung menyelimuti Adry. Sebehagia ini ternyata melihat perempuan bermata coklat itu tertawa girang.
Mereka menikmati secangkir kopi, juga beberapa cake yang dipesan Baby. Mereka membicarakan apapun dan mendebatkan apapun. Setelah kopi habis, mereka bergerak pergi. Bukan menggunakan mobil, tapi berjalan bergandengan. Baby selalu memperhatikan langkah keduanya yang sudah beriringan, juga melihat tangan Adry yang menggenggam tangan Baby begitu kuat.
"Mau naik sepeda?" Tawar Adry begitu melihat rentalan sepeda.
Baby agak ragu untuk mengiyakan, dia tidak begitu pandai menaiki sepeda. Pernah jatuh dan ditertawakan Ken hingga kembarannya itu menangis menahan tawa. Tapi kalau menolaknya , Baby akan segera kehilangan momen kebersamaan dengan Adry.
"Tapi gue dibonceng ya"
Adry tidak lagi menggubris Baby, lelaki itu sudah memilih dua sepeda. Memberikan sepeda bewarna putih kepada Baby, dan bewarna hitam untuknya.
"Kita berkeliling di sekitar sini saja"
Adry menaiki sepedanya, sedangkan Baby termenung melihat kendaraan roda dua didepan nya itu. Bagaimana kalau Baby tidak bisa menaikinya, Adry sudah meng goes sepeda yang dinaiki, dari dua meter tempat Baby berdiri Adry menoleh nya.
"Kenapa? Gak bisa naik sepeda?" Tanya Adry memastikan
Baby langsung menggeleng, dan naik ke jok sepeda. Mengayun dengan perlahan pedel nya. Stir itu bergerak ke kanan ke kiri, tapi masih bisa Baby kendalikan. Huh, untung nya dia tidak lupa cara menaiki sepeda.
Adry terlihat begitu menikmati, dia tersenyum sesekali memperhatikan wajah tegang Baby. Sudah lama Adry tidak menaiki sepeda, terakhir kali ketika dia SMA, oh ya, bukan ketika di SMA melainkan saat dua hari setelah menikah dengan istrinya.
Bay tidak banyak memperhatikan Adry, stir gadis itu begerak tidak teratur. Sambil meng goes sepedanya, Baby menelan air ludah karena gugup. Keringatnya bercucuran, dia memperhatikan jalanan depan dan berusaha mengendalikan stir sepeda.
"Wo wow wo" seru Baby ketika menghindari pejalan kaki.
Bruk
Akhirnya sepda yang ditumpangi Baby itu terjatuh. Dengan keadaan tengkurap, Baby mencoba bangkit dan menahan kakinya. Padahal baru beberapa meter dari tempat penyewaan sepeda, tapi dia sudah terjatuh dan membuat para pejalan kaki memandangnya sambil menahan tawa.
Adry membelokan stir sepeda, dan mengayuh sepedanya menuju ketempat Baby. Dia berlari begitu sepeda di letalkan didepan Baby.
"Kamu tidak apa apa?" Adry membantu Baby bangkit
"Gue gak bisa naik sepeda" tukasnya menahan malu
"Gue cuman" Baby menunduk kesal sekaligus malu "gue cuman gak mau kehilangan satu momen sama o'om"
Adry berdecak kesal, kenapa gadis didepannya ini selalu bertingkah seajaib anak balita. Adry melihat lutut Baby yang tergores, Baby mengenakan celana jeans pendek, jadi membuat lututnya berbenturan dengan trotoar jalan.
"Mas, tolong sepedanya"
Adry berkata pada penyedia jasa sewa sepeda. Lelaki bermata keriput itu lantas berlarian tergopoh-gopoh dan mengambil sepeda miliknya.
Adry tidak berkata apapun, dia langsung menggendong Baby menuju mobilnya . Berada digendongan lelaki itu Baby merasa dia menjadi gadis berumur lima tahun lagi. Tangannya yang di kalungkan di leher Adry, membuat Baby menarik sudut bibir. Tidak masalah kakinya terluka, asal jangan hatinya. Adry begitu memacu mobil dengan tergesa gesa, tangan kiri Adry di letakkan di paha Baby. Sepertinya lelaki dingin itu begitu khawatir akan kondisinya.
"Om, gue gak bakal mati" Baby menenangkan dengan kalimatnya yang hanya di toleh sekilas dari Adry.
Sampai di pekarangan rumah, Adry buru buru menggendong Baby dan membawanya ke ruang kerja. Disana obat obatan tersusun rapi, Adry sengaja meletakkan di ruang kerja, agar tidak di jadikan mainan oleh Ara.
Adry membawa kotak p3k mengoleskan alkohol yang membuat Baby meringis karena perih
"Awww" Baby menghalu tangan Adry untuk mengolekan kembali alkohol ke lukanya
"Perih Om" Baby berdecak
"Luka mu harus di obati, jangan sampai nanti infeksi"
"Infeksi apa sih, luka kayak gini aja" kelakar Baby
"Tahan sedikit, tidak sakit" kata Adry memindahkan tangan Baby
Dia mengoleskan obat merah, perih itu seakan menggerogoti tulang tulang Baby. Gadis itu memekik menahan perih, air matanya keluar. Baby cengeng, tidak bisa menahan sakit barang sedikit pun
Cup
Adry mencium lutut Baby, saat merasakan basah di lututnya, Baby menyeka air mata.
"Lagi ommm" rengeknya lucu
Adry tertawa, selucu itu Baby ini. Adry mengulangi perbuatannya hingga membuat Baby terkekeh geli.
**
Pukul setengah tiga Adry mengantarkan Baby pulang kerumahnya, lelaki perawakan Sunda - Jawa itu tidak ikut mampir, hanya mengantarkan sampai didepan gerbang rumah Baby.
"Om gak mampir?" Tanya Baby
"Enggak" Adry mengusap rambut Baby "nanti papamu malah curiga"
Baby menarik sudut bibir, dan melepaskan seatbelatnya dengan sedih. Berpisah dengan Adry tidak menyenangkan, dia ingin selalu berada didekat lelaki itu.
"Kapan kapan kita bolos lagi ya" ajak Baby
Adry meliriknya tajam "waktu adalah uang!" Adry berseru
"Santai aja kali Om mukanya. Gak usah gitu juga" Baby bercimbik, mendorong pintu mobil dan keluar.
Dia berdada ria dengan Adry, lelaki bermata elang itu menarik sudut bibir dari dalam, membunyikan klakson dan pergi.
Sedangkan Baby, hanya mampu berdiri memaku melihat mobil sedan kesukaannya pergi.
"Woy ngapain elo disitu?" Suara Ken yang berat terdengar didekat kotak sampah
Baby cemberut, berjinjit dan memasuki pelataran rumah. Ken mengikuti adiknya, menarik narik rambut Baby yang diikat satu.
"His" Baby berdecak "Lo bisa gak sih gak gangguin gue barang sedetik, sejam, sehari dan setahun"
Ken mengangkat bahu dan berjalan dengan acuh.
Didalam rumah, Ken men rebahkan tubuhnya di atas kasur Baby. Gadis itu berdecak sebal begitu melihat kembarannya sudah bermain ponsel disana.
"Eh minggir" Baby menarik narik Ken agar lelaki itu pergi.
Ken tidak beranjak barang sedikitpun, dia malah terlentang, mengerjapkan mata dan menguap
"Eh dari mana Lo, tadi kita ngisi study plaing di sekolah" Ken memberitahu
Baby nampaknya tidak perduli, dia ikut merebahkan tubuhnya diatas kasur, tepat disebelah Ken. Gadis itu memainkan ponsel membuka Instagram dan memposting fotonya.
"Beb, gue kayaknya mau ngambil hukum deh"
Mendengar itu Baby menggeserkan arah pandangnya. Ken memang seperti itu, dia selalu berbicara penting jika sudah masuk kedalam kamar Baby. Dan baru saja Ken melakukannya.
"Kenapa? Lo mau jadi pengangguran dengan masuk hukum?" Baby berceloteh,
Ken membalikan tubuhnya dan menatap seprai kasur Baby, lelaki itu tidak langsung menanggapi, dia seperti bimbang untuk meneruskan ucapannya.
"Kenapa sih Ken?, Lo kenapa tiba tiba pengen ngambil hukum?" Baby yang tahu menggeser tubuhnya dan menjadikan punggung Ken sebagai bantal
Lelaki itu tidak memprotes, dia masih memainkan seprei milik Baby.
"Gue pengen aja" jawab Ken lirih
"Tumben elo jawab pertanyaan orang gitu" Baby masih memainkan ponselnya "Papa udah tahu kalo elo mau ngambil hukum?"
Ken tidak menjawab, seperti dugaan Baby, lelaki itu masuk ke kamarnya untuk meminta bantuan Baby. Pasti, Ken tahu Baby tidak memiliki study planing, dia terlalu acuh dengan itu, olehnya Ken akan meminta Baby yang meneruskan keinginan Baskara untuk mengambil bisnis, sedangkan dirinya akan mengambil Hukum.
"Belom" Ken menarik nafas "Lo bisa gak bantuin ngomong ke papa?"
"Gue mah oke oke aja, tapi masalahnya" Baby berhenti dan bergulir "Papa udah ngerencanain buat setelah lulus ini elo kuliah di Havard, nerusin perusahaan bokap"
Ken menunduk "Gue gak suka dunia bisnis Beb"
Baby menegakkan tubuhnya lalu menimpa paha dengan bantal, dia menatap wajah Ken dari samping, lelaki itu tampak begitu bingung, wajahnya curam.
"Terus yang ngambil bisnis siapa? Lo tahu kan anak papa harus ada yang mewarisi Elena sama Araba"
Ken menoleh, dia menelentangkan tubuhnya setelah lama dengan posisi tengkruap
"Elo belum punya study planing kan? Kenapa gak elo ngambil bisnis aja" Ken menatap Baby penuh harap
"Gue gak pengen kuliah" Baby tegak , berjalan menuju kamar mandi dan menutupnya
Sedangkan Ken, ditinggalkan dengan wajah sedih. Ah, bagaimana dia akan berbicara kepada Baskara kalau dirinya akan mengambil Hukum. Ken betul betul menginginkan itu, dia sudah mencari tahu mengenai jaksa, bahkan dia sering ikut Pandu berkerja.
"Gue harap elo mikirin omongan gue tadi beb" Ken berteriak sambil beranjak, setidaknya harapan Ken ada pada Baby, semoga saja gadis itu mau meneruskan perusahaan.