First Love Duda

First Love Duda
Tawaran Pulang Bareng



Karena hari ini pengambilan photoshoot seluruh model Sila, maka Baby dan Vio belum juga pulang sebelum acara selesai.


"Beb, nyokap gue udah nelfonin terus nih" ujar Vio takut saat ponselnya berdering lagi.


Baby melirik jam di ponselnya, sudah setengah enam dan acara ini belum juga selesai.


"Duh gimana?" Tanya Baby ikutan panik


"Gue balik duluan ya. Takut dimarahi nyokap gue" pinta Vio memelas.


Sebenarnya Baby ingin menolak permintaan Vio. Namun saat melihat wajah cemas dan panik dari Vio, Baby tidak tega, toh ini adalah pekerjaan Baby bukan pekerjaan Vio. Vio hanyalah admin yang mengurusi endorse endorse bukan asisten yang harus mendampinginya.


"Yaudah deh balik sono" usir Baby.


"Lo gak papa nih gue tinggal?" Tanya Vio ragu saat akan meninggalkan Baby.


Baby mengangguk, berusaha memasang wajah santai


"Gak papa. Gue mah biasa balik sendiri"


Baby mengantarkan Vio untuk mencari taksi. Ketika Vio sudah duduk di taksi, Vio membuka kaca pintu mobil


"Beb, jangan balik malam malam. Ntar Lo dicariin bokap sama nyokap elo" nasihat Vio sebelum pulang


"Dah pulang Sono, gak usah banyak bacot deh"


Baby melambaikan tangan ketika mobil taksi itu menggelincir meninggalkan arena Photoshoot Baby.


Baby kembali kedalam ruangan. Menunggu gilirannya berfoto. Menunggu dengan gelisah karena jam terus berputar dengan cepat. Sekarang sudah pukul enam lebih tiga belas menit. Dan pemotretan terus berjalan, beberapa kali Baby menghentakkan kakinya karena gelisah dan cemas.


"Kak Riko, masih lama?" Tanya Baby pada photograper yang memotret mereka


"Bentar lagi. Palingan jam delapanan"


"Hah" Baby menganga "serius aja jam delapan. Gue bisa dicariin nyokap bokap gue kak" rengek Baby.


"Itu bukan urusan kita, elo udah taken kontrak sama Sila, jadi elo harus ikutin jam kerja Sila" tukas Rio langsung berjalan ke deretan model yang sudah ditata posenya.


Dia membidik model dengan gaya yang berbeda. Baby semakin kacau, beberapa kali berjalan mondar mandir.


Brukk


"Aw" rintihnya ketika tidak sengaja Baby menabrak dada seseorang.


"Punya mata?" Tanya Adry sarkatistik


Baby cemberut, sudah mood tidak stabil harus bertemu orang ini pula.


"Gak ngeliatin mata gue ada dua" tunjuknya pada bulatan mata


Adry tidak menggubris langsung berjalan meninggalkan Baby yang masih cemberut. Lelaki tu membisikan sesuatu kalimat ke telinga Riko, setelahnya Riko meminta seluruh model untuk istirahat sejenak.


Baby duduk, Memainkan ponselnya yang dengan penuh harap semoga Rindu dan Baskara tidak menelfon atau menanyakan dimana keberadaannya sekarang.


Adry dan Riko tampak berbincang sangat serius karena beberapa kali Adry harus memegang pelipisnya karena pusing. Kegelisahan Baby sedikit memudar kala melihat wajah serius Adry saat bekerja. Adry menyodorkan lembaran kertas pada Riko yang langsung dibacanya oleh Riko.


Jam semakin cepat berjalan dan sekarang pukul tujuh malam, Baby semakin dibuat gelisah karena pemotretan tak kunjung usai.


Drrtt


Panggilan pertama dari Baskara membuat Baby menelan ludah, Baby keluar ruangan langsung mengangkat panggilan dari papanya dengan nada sesantai mungkin.


"Kamu dimana?" Adalah pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Baskara.


"Dirumah Vio, lagi kerja kelompok" dusta Baby.


"Jam segini belum pulang?" Tanya Baskara penuh penekanan.


"Tadi nunggu Vio les dulu, jadi nya baru sempet kerja kelompok malem" dustanya lagi


Baskara menghela nafas berat, lama sekali waktu jeda percakapan antara mereka "papa jemput ya?"


"Gak-gak usah pa. Masih lama kerja kelompoknya" dusta Baby lagi "nanti kalau udah selesai Baby kabarin deh" tambahnya


"Tapi benerkan kamu dirumah Vio?" Tanya Baskara was was takut kalau Baby membohonginya lagi


Lalu panggilan langsung diputus sepihak oleh Baby


"Bodo kalau gue jadi anak durhaka. Penting gue selamat dulu" ucapnya lirih


"Tante bohong"


Terdengar suara dari belakang Baby yang membuat Baby hampir melompat karena kaget. Baby menoleh, mendapati Ara sudah berdiri dibelakangnya.


"Lo bisa gak sih salam dulu, jangan main ngagetin orang" protes Baby


"Abis Tante dari tadi telfonan gak ngeliatin Ara duduk disini"



Ara menatap Baby dari atas sampai bawah. Tanpa tersenyum dan tanpa ekspresi apapun. Dia duduk di kursi depan, mengayunkan kakinya sambil menatap Baby lekat.


"Ngaapin elo disini?" Tanya Baby akhirnya duduk disebelah Ara.


"Nungguin papa" jawab Ara singkat.


Hujan turun didepan Baby dengan deras, membasahi beberapa kendaraan yang terparkir.


"Hujan lagi, gimana gue baliknya coba?" Gerutu Baby


Baby berdiri, melirik Ara yang masih menatap guyuran air hujan.


"Mau masuk gak?" Tanya Baby tidak ramah "ada hantu air baru tahu rasa" ucapnya sudah berlalu pergi meninggalkan Ara duduk sendiri diteras.


Sepertinya ketika Baby tiba diruangan, Adry dan Riko sudah menyelesaikan pembicaraannya. Beberapa model pun tampak duduk rapi, Baby mengambil duduk disebelah Rike karena itu satu satunya kursi yang tersisa.


"Bulan depan Sila akan launching pakaian musim panas, aksesoris dan beberapa makeup untuk musim panas" kata manager marketing, Yayuk namanya. Perempuan dengan potongan rambut pendek, rok payung dan kemeja Monalisa yang sengaja di masukan.


"Jadi kita akan mengambil photoshoot di Bali" ujar Yayuk yang mendapat tepuk tangan riuh dari beberapa model tapi tidak untuk Baby.


Jika bulan depan acaranya, maka Baby harus bolos sekolah selama semingguan hanya untuk pemotretan ini. Tidak ada kata tidak bisa setelah seorang model taken kontrak dengan perusahaan, hanya ada dua pilihan, menggagalkan kontrak dengan bayar uang penalti yang jumlahnya besar atau mengikuti pemotretan dan bolos sekolah.


Baby menunduk, menyembunyikan wajah bingungnya. Setelah Yayuk memberitahu jadwal dan beberapa jenis fashion yang akan digunakan untuk masing masing model. Yayuk dan tim lainnya, membubarkan pemotretan. Termasuk Riko yang sudah merapikan kameranya.


Baby duduk di kursi depan. Tempat dimana Ara duduk menunggu Adry. Beberapa model dan tim sudah pulang menggunakan kendaraannya, Baby gelisah, menunggu go car pesanannya yang tak kunjung tiba.


"Tante bareng Ara aja pulangnya" tiba tiba suara dari makhluk yang dikenali Baby terdengar diarah samping.


Baby menoleh, menatap wajah mungil Ara yang digandeng oleh Adry.


"Gak ah, ntar elo nyulik gue lagi" balas Baby


"Anak saya itu nawarin kamu pulang bareng, kalau gak mau bilang gak mau. Jangan banyak alasan" komentar Adry pedas.


"Duh. Pusing deh, enggak anak sama bapak perasaan doyan banget bikin gue emosi" teriak Baby


"Yuk Ra, kita pulang aja, gak usah diladenin orang kayak dia" sindir Adry saat bercakap dengan Ara.


Ara menoleh kearah Baby , wajahnya berubah sedih saat tahu Baby tidak menatapnya. Penggangan pada tangan Adry kian melemah, Ara duduk didekat Baby, memegang tangan gadis itu dengan lembut seolah itu adalah ibunya.


"Ngapain?" Tanya Baby bingung


"Pulang aja bareng Ara. Ntar Tante kedinginan" tukas Ara bijak.


Baby memutar mata malas, menyandarkan kepala pada tembok dan memainkan ponsel.


"Duh anak kecil, sana balik sama papa mu" usir Baby tanpa menoleh kearah Ara


Justru Ara tidak bergerak, malah menyenderkan kepalanya ke lengan Baby yang langsung membuat Baby duduk tegak.


"Ngapain sih nyender nyender. Sana pulang, ditungguin papa lo tuh" Baby melirik sekilas kearah Adry yang berdiri disampingnya.


"Gak mau. Sampe Tante mau Ara anter pulang" rengek Ara.


Baby berfikir sejenak, orderan gocarnya sudah dibatalkan karena tidak ada driver disekitar sana, dan jika Baby terus menunggu disini itu artinya dia akan menunggu sampai hujan reda.


"Yaudah iya. Tapi gue ikut karena elo yang maksa ya" akhirnya Baby berdiri tegak dan membuat lengkungan di bibir Ara.