First Love Duda

First Love Duda
Boneka



Kejadian kemarin memang membuat Adry shok berat. Dia tidak menyangka kalau Baby sekasar itu pada orang. Meskipun sikap Rike memang keterlaluan pada Ara tetapi tidak seharusnya Baby membalas sekasar itu.


Ada keraguan seketika untuk Adry mengungkapkan perasaanya. Bagi seorang duda rasa nyaman dalam hubungan bukan sebuah jaminan dia akan menikah lagi, tapi seperti mampukah Adry mengulang rumah tangga yang dulu pernah dia jalani bersama orang lain? Mampukah Adry membawa seseorang dan memperkenalkan orang asing itu kepada Ara?


Adry bukan tidak mencintai Baby, sungguh lelaki yang saat ini tengah duduk termenung di dekat kolam amat sangat mencintai Baby, bila perlu dia akan memberikan apapun yang Baby minta padanya, jangankan bomba, setruck bomba pun akan Adry berikan.


Namun Adry selalu menahan diri untuk mengungkapkan , mengawali sebuah hubungan tidak semudah itu, Adry harus benar benar mengenal watak orang yang tengah dicintai yang kemudian bisa dia percaya kan Ara pada perempuan baru nya. Juga, membawa seseorang masuk ke rumah tangga seorang duda juga tidak semudah memulai sebuah pernikahan saat bujangan dulu, bagaimanapun cinta tidak cukup meyakinkan saat ini.


"Ram" Alan dengan kaos santainya mendekati Adry.


Lelaki itu menoleh, meletakkan gelas diatas meja


"Ditungguin Baskara di Rungan game"


Mereka melangkahkan kaki menuju ruang game Milik Adry. Mereka sepakat untuk berkumpul, meluangkan waktu ditengah pekerjaan padatnya. Nampaknya Pandu belum datang, dia memang yang selalu sibuk sendiri, padahal gajinya paling kecil sendiri di bandingkan ketiga temannya.


"Pandu belum dateng?" Tanya Adry meraih stick ps di depan.


"Palingan lagi ngejar penjahat" Alan tertidur terlentang "udah lama gue gak nikmati masa masa kayak gini" lelaki itu memejamkan mata


Baskara pun melakukan hal yang sama, dia tertidur tanpa memainkan gamenya. Ava milik Baskara diam saja tidak bergerak menunggu pemainnya untuk memainkan.


"Kenapa sih? Istri kalian memperlakukan gak baik?" Tanya Adry


"Bukan gitu" tangan Alan dijadikan bantal oleh dirinya "Akhir akhir ini gue stres sama bisnis gue" ceritanya


Baskara juga tampak menerawang jauh, entah fikiran nya tengah pergi kemana, yang jelas suara suara milik Alan dan Adry terdengar sumbang ditelinga


"Kenapa? Gak ada inovasi buat bikin menu makanan baru?" Adry melempar stick ps dan ikut membaringkan tubuh di karpet


"Tiga restoran gue, uangnya dikorupsi sama manajer restoran" Alan mengusap wajahnya "gila gak sih, gue mati matian bikin restoran itu dan mereka dengan enaknya ngorupsi gitu aja"


"Udah Lo urus?" Akhirnya Baskara bersuara


"Lagi proses" Alan menegakkan tubuh. "Yok cerita cerita, udah lama kita gak kumpul full personil gini" Alan merentangkan tangan "aahhhh ngerasa bebas gue kalo ketemu kalian" curhatannya yang mendapatkan tawa dari Adry dan Baskara.


"Gue, perusahaan lancar cuman___" Baskara terdiam sejenak "Gue kepikiran anak gue"


Saat mendengarkan Baskara menyebutkan kata anak, jantung Adry berdenyut kencang. Rasanya Adry secanggung itu saat ini bertemu Baskara, tidak sesantai kemarin kemarin.


"Kenapa? Baby bikin ulah lagi?" Tebak Adry


Baskara menggeleng, dia hendak menjawab tapi suara pintu yang dibuka membuatnya berhenti. Pandu datang dengan tampang kusut, saat duduk dia menghela nafas dengan berat.


"Kenapa lagi elo?" Tanya Alan


"Gue banyak kasus nih" Pandu memijat pelipisnya "Gue nanganin sepuluh kasus pembunuhan"


"Bubar bubar" Baskara menyoraki


"Giliran gue cerita dikacangin" Pandu protes "kalian semua juga cerita tentang kerjaan, masak gue gak boleh sih"


"Masalahnya Pan, kerjaan kita itu jarang ada masalah, nah kerjaan elo itu nangkepin orang bermasalah, jadi jelas aja kerjaan elo paling banyak masalah" jawab Baskara


Pandu membaringkan tubuhnya "Serah lah, gue gak mau cerita lagi"


"Lo, ada masalah apa Ram?" Mereka bertiga kompak menatap Adry yang tengah memegang stick ps. Merasa ditatap Adry menghentikan game.


"Gak ada" ujar Adry berusaha menyembunyikan


"Gak usah bohong Ram" kata Pandu


Adry menarik nafas, bohong pada ketiga temannya memang sulit. Mereka selalu bisa tahu kapan Adry memiliki masalah.


"Gue lagi suka sama orang" Adry mulai dengan kejujurannya "Tapi gue gak yakin sama dia, terlebih umur kita jauh berbeda"


"Wih mantep dong kalo udah bisa move on" celetuk Alan "Pepet aja udah, bila perlu langsung di sah hin, kasihan Lho si Ara , butuh sosok pengganti Sisil" imbuhnya


"Gak semudah itu Lan, bagi orang kayak gue, ngulang rumah tangga jadi hal yang paling sulit, gue harus bener bener tahu apa dia cocok untuk jadi ibunya Ara, apa dia sanggup jadi istri seorang duda?" Kata Adry


"Kalo Lo nunggu yakin sama diri elo, terus sampe kapan?" Pandu mendudukan tubuhnya "Ram, Lo harus mikiri Ara juga kan, di umurnya segitu dia butuh sosok ibu. Dan elo gak bisa mainin peran keduanya" lanjut Pandu


Adry menatap Baskara yang tidak berkomentar apapun, terlebih sebanarnya Adry membutuhkan saran dari orang tua orang yang dicintainya. Namun Baskara tidak bersuara, dia terfokus pada gamenya.


"Ceritain tentang dia coba ke kita" pinta Alan


Adry masih diam, "Dia masih SMA"


Uhuk


Mereka bertiga kompak terbatuk, menatap Adry dengan tatapan mengadili. Bagus, kali ini Adry menjadi fokus pembicaraan mereka.


"Becanda, serius amat sih" Adry tanpa rasa bersalah membaringkan tubuh diatas karpet sulfur


"Sumpah elo bikin kita jantungan" Pandu memukul paha Adry hingga lelaki itu hanya tertawa cekikikan


"Abis elo semua pada serius"


Adry diam, memejamkan matanya sangat lama. Tidak ada bunyi stick maupun bunyi benda lainnya, itu artinya ketiga teman Adry  sedang menunggu jawaban dari Adry.


"Untuk saat ini belum" Adry membuka mata perlahan


**


Baby terus menerus bergulir diatas kasur, menunggu balasan pesan nya dari Adry. Tapi lelaki yang ditunggu tunggui tak kunjung membalas, mungkin sedang pergi umroh.


"Beb, Lo tahu komik Jepang gue gak?" Tanya Ken dari ambang pintu


Baby menatap ponselnya "gak tahuuuu" jawab Baby


Oh ya, setelah kejadian Baby bertengkar dengan Ken. Esoknya mereka sudah berbaikan kembali, jangan heran mereka memang seperti itu, tidak penting seberapa kasar dan menyakitkan pertengkaran mereka yang jelas mudah untuk mereka berbaikan.


Pernah juga, Baby memukul kepala Ken dengan sendok stanlees hingga kepala Ken berdarah, tapi Ken tidak membalas hanya memaki Baby saja. Juga esoknya mereka bermain kembali, Baby juga pernah menyeburkan Ken ke kolam saat umurnya lima tahun, tapi Ken tidak marah hanya memakinya.


Pernah juga Ken meninggalkan Baby di taman bermain sendiri, itu membuat Baby menangis tapi Ken tidak benar benar meninggalkan adiknya, pernah juga Ken menjatuhkan Baby dari sepeda, itu membuat Baby memaki Ken dan menangis, tapi setelahnya Ken membantu Baby mengobati lukanya.


Ah, lucu bukan. Begitulah mereka, Ken menutup pintu Baby dengan kasar. Lelaki itu kembali ke kamarnya lalu kembali lagi ke kamar Baby.


"Beb Lo tahu celana dalam gue gak?"


Mendengar pertanyaan konyol dari seorang Brandon Arya Ken Jaskanendra itu, Baby melirik tajam


"Lo punya penyakit gangguin orang ya?" Pekik Baby


"Gue boring dirumah Beb" Ken menyandarkan punggung di pintu. "Keluar yuk"


"Kemana tapi?" Baby menegakkan tubuh


"Kemana ajalah, yang penting gak dirumah"


Baby berdiri "yaudah ayok"


Saat mereka berjalan beriringan, Baby menerima sebuah pesan dari Adry. Lelaki itu meminta Baby bertemu di Bintaro, salah satu rumah makan.


"Sory ya kembaran, gue gak bisa nemenin Elo" kata Baby berlarian menuruni tangga.


"Woy mau kemana lo?" Teriak Ken menggebu


**


Adry sudah menyiapkan pesanan, dan  begitu melihat Baby datang dengan cengiran rasanya hati Adry sangat puas. Usahanya datang lebih awal berbuah saat pancaran mata Baby begitu sempurna.


"Om" Baby menyapa dan langsung duduk.


Adry hanya menatap Baby dengan senyuman paling tulus. Tangan nya bergerak mengambil boneka besar yang dia belikan tadi.


"Whoahhh gede banget" Baby menerima boneka Teddy bear yang begitu besar  "Buat gue Om?" Tanya Baby sambil tersenyum


"Bukan, tapi untuk Ara"


Mendengar itu ekspresi wajah Baby langsung mendatar, dia kesal sendiri, kalau utuk Ara kenapa di tunjukan ke Baby. Memangnya Baby siapa?


"Buat gue mana?" Tanya Baby


"Nih" Adry mengeluarkan sesuatu dari paperbag


Boneka beruang bewarna coklat dia letakkan diatas meja. Begitu kecil karena boneka itu muat jika dimasukan ke tas Baby. Hanya sebesar telapak tangannya, Baby cemberut meski begitu dia senang karena di belikan boneka selucu itu dari Adry. Itu artinya lelaki didepannya ini selalu ingat tentang Baby.


Adry sendiri justru mengutuk dirinya yang tak berani saat memberikan boneka besar. Sebenarnya boneka itu untuk Baby, tapi Adry terlalu malu mengatakannya. Takut dikira alay, masak orang setua Adry bersikap kekanakan begitu.


"Yah gak papa deh, masih mending dibeliin ketimbang enggak" Baby menyimpan boneka mini itu kedalam tas.


"Silahkan di makan" Adry mempersilahkan dengan bahasa formal, dan itu membuat Baby berdecak lagi.


Diam diam meski kesal Baby tersenyum, dia harus bersyukur karena Adry memperhatikannya. Mungkin lelaki tua itu tidak tahu cara mengekspresikan perasaan juga terlalu malu malu kalau ketara menunjukan perasaannya. Bagaimanapun kan, Adry orang dewasa bisa jadi lelaki itu takut kehilangan kewibawaannya.


Adry mengantarkan Baby pulang kerumah setelah matahari kehilangan cahaya. Gadis itu keluar dari mobil, tersenyum kearah Adry.


"Makasih ya Om" kata Baby menatap Adry.


"Sama sama" Adry tidak bersemangat mengucapkannya. Sebenarnya dia ingin bilang agar Baby membawa boneka tady bear besar di belakang. Tapi bagaimana, Adry bingung mengatakannya.


"Ee bonekanya buat kamu" Adry berkata dengan suara lirih, sungguh sangat lirih.


"Apa?" Baby berteriak membuat Adry menoleh nya "he he" Baby nyengir kuda "maaf Om telinga gue congek"


"Gak jadi, sana masuk" dan mobil Adry sudah pergi meninggalkan senyuman dari wajah Baby.


Di kamar pun, Baby hanya memandangi boneka tady bear kecil hadiah Adry.  Dia memandangi sambil berguling diatas kasur.


"Bisa romantis juga om Adry" Baby cekikikan


Bonekanya itu dipeluknya juga di cium berulang ulang. Bahagia sederhana ternyata.