First Love Duda

First Love Duda
Kabur



Adry sudah masuk kedalam mobil namun dia langsung tersentak kala Baby juga ikut duduk di kursi penumpang.


"Jalan Om" kata Baby memerintah seakan yang duduk di kursi pengemudi adalah supirnya


"Ngapain kamu ngikutin saya?" Tanya Adry kebingungan


"Pokoknya ayok jalan" Baby memukuk mukul lengan Adry dengan pelan, meski begitu tidak membuat Adry melangkah barang sedikitpun.


"Turun atau saya teriak" ancam Adry


Baby mendongak dengan berani, menantang Adry untuk melakukan apa yang dia ancamkan.


"Ya teriak aja sih, kalau gak mau gue bilang elo udah perkosa gue" ancam balik Baby.


Adry mendegus "saya gak habis fikir dengan isi kepala kamu" Adry geleng geleng.


"Gue juga Om, isi kepala gue apaan ya bisa se lelet ini" Baby nyengir tanpa dosa


"Buruan turun" titah Adry sekali lagi


Baby menggeleng dengan tegas sambil menatap mata elang Adry.


"Kamu yang turun atau saya" kata Adry mengancam.


"Om aja yang turun"


"Bener ya saya turun" Adry membuka pintu mobil berharap dengan dirinya turun maka Baby akan ikut turun.


Ketika Adry turun dari mobil buru buru Baby berpindah pada kursi pengemudi, membelokan mobilnya sehingga membuat Adry mengejar dan memukul bemper mobil berulang ulang.


"Stop stop" teriak Adry hingga satpam sekolahan menatap nya.


Mobil sedan itu terpaksa berhenti agar tidak memancing curiga satpam sekolahan, jika Pak Blenu satpam sekolahan Baby tahu jika Baby berniat kabur, urusannya akan semakin runyam.


Adry membuka pintu mobil namun tidak langsung masuk kedalam, melainkan berdiri diambang pintu.


"Keluar" titah Adry ganas


Tangan Baby bersatu, membuat gestur minta tolong dengan kelopak mata yang dibuat sememelas mungkin.


"Pleasee ommm ijinin Baby ikut ya" rengek Baby.


"Saya gak ada waktu buat ngeladeni kamu"


"Pleasee ommm, pleaseeeeeee" rengek Baby semakin menjadi "pokoknya gue gak mau turun sampe Om ngijinin gue ikut" Baby duduk dengan melipat tangan.


Entah fikiran apa yang sudah membuat Adry justru mengangguki permintaan konyol Baby.


"Pindah sana" tukas Adry meminta Baby bergeser ke kursi penumpang.


Karena senang, Baby langsung bergeser dengan cepat, duduk dan memperhatikan Adry yang keluar gerbang tanpa satu pertanyaan pun dari pak Blenu.


"Kita mau kemana?" Tanya Baby ketika mobil sudah berada di luar sekolahan.


"Kemana aja, asal kamu bisa turun"


Baby menggeleng "Hem Hem, gue kan mau ikut elo Om, kemanapun deh"


"Kamu udah gila ya?" Adry menoleh kearah Baby. Lalu fokus kembali pada jalan.


"Hampir" katanya melemah. "Om mau kerja kan. Gue ikut ya" pinta Baby memelas


"Terserah" kata Adry memutar stir mobil menuju kantornya.


Yang ada di fikiran Adry hanyalah berdebat dengan Baby tidak akan menyelesaikan masalah, apalagi membuatnya menjauh dari Adry. Seketika Adry menyesal telah membaca pesan singkat dari Baby dan memeriksa kamarnya, menyesal karena menemukan dompet dan mengantarkannya ke sekolahan ini.


Baby memainkan ponselnya tanpa memperdulikan Adry yang berulang ulang menarik nafas tidak nyaman.


"Kamu bisa gak jangan ikuti saya, maksud saya kamu akan saya antarkan kemana saja asal jangan ikut saya" kata Adry tanpa menoleh kearah Baby.


Baby menatap jalan, memikirkan kata tempat yang bisa dia jadikan persembunyian. Dimana? Rumah nenek dan kakeknya? Baby menggeleng saat memikirkan opsi itu, Kakek neneknya selalu bersekongkol dengan Rindu


"Gak ada" jawab Baby akhirnya


"Saya antarkan kerumah kamu" tawar Adry


"Eh jangan jangan" Baby langsung tegak "gak boleh ke rumah pokoknya. Bisa berabe"


"Kamu bolos dengan menggunakan Saya? Kamu lupa saya siapa?" Tanya Adry dengan nada Menaik


"Inget kok. CEO Sila kan"


"Saya ini adalah atasan kamu, saya bisa memutuskan kontrak kamu dalam sekali panggilan" ancam Adry


"Duh Om, dengerin ya, gue itu tahu sistem kerja perusahaan. Kalau Om mau mecat model Om, berarti Om siap tanggung kerugian " Baby menjeda kalimatnya "karena apa? Karena di kontrak dijelaskan kontrak bisa dibatalkan jika minat pasar ke gue itu rendah. Nah sekarang minat pasar ke gue itu lagi tinggi" Baby memiringkan tubuhnya


"Om lupa. Gue ini selebgram yang hampir 1 jt follower. Akun akun fansbase gue juga udah banyak, dan di ig lagi banyak banget orang yang respost foto gue. Itu artinya Sila gak bakalan dengan mudah mutus kontrak sama gue"


Adry geleng geleng begitu mendengar penuturan Baby yang seolah paham dengan pasar. Semua yang di katakan anak umur tujuh belasan disebelahnya memang benar, Adry tidak semudah itu memutuskan kontrak dengan model yang sudah tanda tangan dengan perusahaannya.


"Jadi sekarang saya harus gimana?" Tanya Adry memilih mengalah


"Gue gak minta banyak kok Om, cuman minta tempat persembunyian untuk sementara"


"Kamu buronan?"


"Buronan orang tua gue" kata Baby menatap jalanan depan.


Beberapa saat mobil Adry berhenti tepat di perusahaan Sila, Baby mengikuti langkah kaki Adry dari belakang. Tidak lepas dari pandangan beberapa karyawannya yang merasa aneh dengan kedatangan bosnya kali ini. Bersama dengan seorang gadis SMA.


Adry membuka ruang kerjanya, duduk di kursi kerja sambil memperhatikan Baby yang tengah menjelajahi ruangan.


"Gede juga ya ruangan nya Om" decak Baby takjup


"Saya peringatkan Jangan buat ulah disini" tegas Adry


Adry memulai kerjanya, sedangkan Baby memulai merebahkan tubuh diatas sofa sambil memainkan ponsel. Sesekali tertawa cekikikan oleh tontonan.


Adry merasa risih. Belum lagi Baby yang mengotori ruangannya dengan memakan kacang atom. Sampah sampah berserakan serta suara cekikikan yang keras.


"Ruangan Saya itu tempat kerja bukan tempat bersantai" akhirnya Adry ambil suara, menegakkan tubuhnya dan meminum soda yang ada di kulkas.


"Anak kecil juga tahu kalau kantor tempat kerja" komentar Baby


"Kamu sudah menghabis kan makanan saya dan sekarang kamu mengotori ruangan saya" cerocos Adry


"Ampun deh Om, Om kan punya OB, dimanfaatkan dikit kenapa sih" Baby menegakkan tubuhnya , menutup tayangan YouTube yang sedang dia tonton.


"Tapi saya__" belum selesai Adry berbicara tangan Baby memberi isyarat untuk diam


Baby mengangkat panggilan dari Baskara, papanya.


"Dimana kamu sekarang?" Sapa Baskara dengan suara memanas.


"Kabur" jawaban Baby ketus


"Pulang, jangan buat papa marah"


"Pokoknya Baby gak mau pulang sampe papa ngebatalin buat homeschooling Baby" teriak Baby


"Baby, dengerin papa"


"Gak, papa gak sayang sama Baby, Baby gak mau ngomong sama papa" ujar Baby sampai keluar air mata "Baby bukan anak idiot pa, Baby gak mau di homeschooling"


"Siapa bilang homeschooling cuman buat anak idiot" koreksi Baskara


"Pokoknya gak mau ya gak mau"


Panggilan itu ditutup oleh Baby dengan jatuhnya Baby ke sofa sambil terisak, benar benar terisak sampai membuat Adry memandangi Baby dengan memelas.