First Love Duda

First Love Duda
tangisan Ara



Baby tidak banyak bicara selama perjalanan pulang dari mall ke rumah Adry. Baginya tidak ada akhir hidup selain tidak memiliki kartu kredit, atm dan uang cash yang banyak. Uang cash Baby hanya tinggal dua ratus ribu, itupun receh semua, dan Baby paling malas dengan uang receh.


"Kamu ada masalah apa sama orang tua kamu?" Adry yang tengah menyupir mobil melirik Baby


"Berantem dikit aja" jawab Baby lemas


"Kenapa gak pulang aja, diselesaikan baik baik"


Sudah lama rasanya Baby tidak mendengar seseorang bercakap padanya dengan nada lembut tanpa memaksa. Dan Adry satu satunya orang yang baru dia dengar mengajaknya bercakap-cakap seperti itu.


"Gue gak mau balik. Sampe papa batalin homeschooling ngin gue" kata Baby ikut melemah


Baby menunduk, entah kenapa rasanya masalah homeschooling menjadi pukulan mental untuk dirinya, Baby tidak suka dikengkang, dibatasi ruang geraknya dan berada diruangan yang sama dengan orang yang sama selama berhari hari.


"Kalau begitu kamu bilang ke orang tua kamu , kasih tahu alasan kenapa kamu gak mau homeschooling"


"Udah Om, tapi papa tetep Keukeh, katanya biar Baby gak bandel"


"Mama kamu gimana? Biasanya salah satu orang tua akan membantu anaknya"


"Malahan ini ide Mama, Mama ku dosen Om, dan aku bodoh di sekolahan, jadi Mama merasa malu punya anak kayak aku" cerita Baby


"Gak ada orang tua yang malu punya anak sejelek dan sejahat apapun dia" Adry membelokan setir mobilnya "mungkin bagi mama kamu homeschooling satu satunya cara dia buat bisa memperbaiki sekolahmu" nasihat Adry bijak


Baby tetap menunduk saat mobil berhenti, air matanya tidak sengaja menetes. Adry melepaskan sabuk pengaman, tapi melemah saat mendengar suara isakan dari Baby.


"Saya cuman ngasih tahu sebagai orang dewasa yang kebetulan ada didekat kamu sekarang" ujar Adry melirik kearah Baby "hal hal yang kamu anggap menyenangkan di masa muda, gak selamanya baik untuk masa depan kamu, bisa jadi hal yang kamu anggap masa depan kamu ternyata mengantarkan kamu pada kegagalan yang terburuk"


Adry menarik nafas "saya juga pernah muda, dan saya juga pernah gagal. Jadi saya menasehati sebagai orang yang pernah berada di umur tujuh belas seperti kamu" nasihat Adry kemudian dia membuka pintu dan bergegeas pergi, meninggalkan Baby menunduk dengan tangisannya


Dari derap langkah Adry, ada rasa tidak enak yang tiba tiba menyelimutinya. Melihat Baby yang biasanya cerewet bisa menangis karena kalimatnya barusan membuat merasa sedikit tidak tega.


Ara menggendong Seno anak kucing berwana putih keabu-abuan mendekati Adry.


"Tadi seno pup" cerita Ara sambil menggendong Seno


"Pup dimana?" Adry langsung menyambut anaknya, bahkan ikut menggendong Seno dan mengelus kepala Seno.


"Di dekat kolam, tapi bibik Kar udah ngelap"


"Seno nakal ya, pup sembarangan" komentar Adry sambil tertawa.


"Ara udah mandi?" Tanya Adry


Ara mengangguk "udah dimandiin bibik Kar" kata Ara pergi sambil menggendong Seno


"Papa mau mandi ya, mainannya jangan keluar halaman rumah" pesan Adry.


Saat Adry masuk kedalam kamar, Baby muncul dari balik pintu dengan paperbag berisi belanjaannya. Dia meneteng dan membanting di sofa ruang tamu.


"Suka kucing?" Tanya Baby dengan nada seperti biasa


Ara mengangguk, meletakkan Seno diatas meja sambil dielus bagian kepala hingga leher


"Namanya Seno, dia cowok"


"Papa lo mana?" Baby merentangkan tangan


"Lagi mandi. Tante Bunda jadi kan gambarin Ara"


Baby menatap Ara, lalu melepaskan kaos kaki yang membalut kakinya seharian, dimasukannya ke dalam sepatu lalu membawa sepatu pada rak.


"Jadi, mana buku gambarnya"


Mendengar itu Ara berlari ke kamarnya, mengambil buku gambar, pensil, dan pewarna.


"Kalau jelek gak papa ya" kata Baby


Baby duduk lesehan, begitu juga dengan Ara yang melihat setiap coretan proses dari gambaran Baby terbentuk.


"Bunga, nah ini bunga" setelah selesai menggambar Baby memperlihatkan gambar bunga pada Ara.


Ara memandanginya. Lalu bertepuk tangan.


"Tante bunda bisa gambar apa lagi?" Tanya Ara.


Baby berfikir sejenak, gambar apa yang sering dia lukis dulu. Rumah. Mobil, pelangi, Gunung dan matahari, sawah Sawahan


"Ha ha gak tau apa" kata Baby memilih tertawa daripada menyebutkan dan membuat Ara meminta digambarkan semua itu


Adry yang keluar dari kamarnya dengan rambut basah menetes ke wajah membuat Baby melotot. Baby terdiam, memperhatikan duda anak satu yang tengah melintas di depannya, berjalan kearah kulkas dan duduk di sofa sebelahnya.



Dia duduk di sofa sambil memegang gelas yang berisi air putih, air air dari rambutnya jatuh kebawah tidak teratur. Jangkung leher saat dia menelan air putih bergerak sedikit lambat seolah menggoda.


Adry menatap Baby yang sedari tadi terus melihatnya. Alisnya Menaik, menyadarkan Baby hingga langsung menatap buku gambar Ara.


"Tante Bunda buatin Ara gambar L.O.L" ujar Ada.


Baby berfikir sejenak. Lalu menulis huruf L besar ,O besar kemudian L besar. Memberikan pada Ara yang langsung merubah wajah Ara menjadi cemberut.


"Kok tulisan" protes Ara.


"Lah katanya L.O.L, ya itu L.O.L lah" jawab Baby


"Bukan ini lho tante bunda. Tapi gambarnya" rengek Ara.


"Gambar apa sih, ya itu gambar. Emangnya L.O.L ada gambar lainnya" suara Baby ikut meninggi


Bibir Ara bergetar, lalu berteriak kencang dan tangisnya pecah. Seketika itu untuk pertama kalinya Baby merasa gugup karena membuat Ara menangis.


"Kok nangis, jangan nangis dong kan gue udah gambarin elo" kata Baby berusaha menenangkan.


Tangisan Ara semakin kencang, bahkan membuat Adry langsung buru buru menggendong Ara.


"Kamu kalau gak bisa gambar gak usah sok sok an gambar" bentak Adry dengan lirikan tajam


"Ya kan gue gak tau anak elo minta digambarin apa" balas Baby tak mau kalah


"Bikin anak orang nangis aja"


Adry langsung membawa Ara naik keatas, kekamarnya. Baby duduk menunggu, lalu mengambil ponsel dan browsing mengenai gambar L.O.L yang dimaksud Ara.


"Pantesan dia marah. Gambar nya apa yang gue kasih apa" decak Baby.


Baby memilih untuk membasuh dirinya dikamar Adry, setelah selesai mengganti pakaian, Baby keluar bertemu dengan Adry yang sudah berkutat dengan pekerjaan nya.


"Gak bokap gue. Gak oom oom sama aja ya ternyata" ujarnya lirih



Baby tersenyum kearah Adry yang senyumnya tidak dibalas atau di terima Adry


"Ara udah tidur?" Tanya Baby ikut duduk disebelah Adry.


"Hem" Adry menjawab dengan geraman dari mulutnya.


Karena Adry yang begitu sibuk dan seolah memberi bentangan pada Baby untuk tidak diganggu. Baby mengambil buku gambar milik Ara, melukis dengan gambar L.O.L yang sesungguhnya, mewarnai hingga dia menguap berkali kali dan jatuh tertidur dengan berbantalkan meja.