
Baby sudah berada disekolahan Ara tetapi dia tidak menemukan Ara. Padahal Baby tidak tahu kelasnya di mana. Sambil berjalan pelan Baby menoleh kekanan dan kiri, mencari kehadiran anak itu.
"Tante bunda" suara kecil itu Baby kenal milik siapa.
Tanpa sadar Baby tersenyum dengan cerah, rasanya seperti bertemu dengan buah hatinya sendiri. Ara langsung memeluk Baby seolah yang datang itu adalah ibunya. Ibu Ara yang berada di surga.
"Tante bunda ngapain disini?" Tanya Ara setelah melepaskan pelukan.
"Ngambilin rapornya elo" kata Baby
"Beneran Tante Bunda" Ara berlonjak riang
"He he norak amat lo" cibir Baby membuat Ara berhenti berlonjak
"Ayo Tante Bunda Ara anterin ke kelas Ara" kata Ara menggandeng tangannya.
Ara berhenti lalu menunjuk kelas yang sudah dipenuhi wali murid.
"Ini kelas Ara, silahkan masuk Tante bunda" kata Ara.
Baby sudah melangkah namun berhenti "eh bentar nama lengkap Lo siapa?" Tanyanya
"Ara Carlina Gerilbadry" kata Ara memberitahu
Baby mengangguk lalu masuk kedalam. Duduk dan mendengarkan ceramah dari wali kelas Ara membuatnya benar benar bosan. Baby tidak menyimak banyak, karena rasanya dia tidak mengerti dan paham dengan yang disampaikan wali kelas Ara.
"Baik bapak ibu, ini adalah nama nama anak yang mendapatkan juara kelas" kata wali kelas memberitahu.
"Juara ke tiga Lena Hana Pratiwi" semuanya bertepuk tangan lalu wali murid maju kedepan sambil diberikan hadiah berserta rapor.
"Juara kedua Asyifa Hana Maimunah" semuanya bertepuk tangan
Tetapi Baby justru menguap lebar lebar.
"Juara pertama diraih oleh " semuanya terdiam, mungkin sedang menunggu apakah nama anaknya yang akan disebutkan wali kelas.
"Ara Carlina Gerilbadry"
Mendengar nama Ara disebutkan Baby langsung berdiri sambil tersenyum menang. Rasanya dia senang kalau Ara mendapatkan juara satu.
"Bapak bapak ibu ibu liat itu anak gue juara satu kan" kata Baby tanpa sadar menyebutkan kalau Ara adalah anaknya.
Wali kelas tampak sangat heran meski begitu buru buru menutupi keherannya saat Baby maju kedepan dengan songong.
Wali kelas ragu ragu menyerahkan rapot Ara namun dia juga tidak enak jika tidak memberikannya. Jadi rapot dan hadiah diberikan saja ke Baby, urusan nanti dengan pak Adry wali kelas akan berbicara.
"Selamat ibu, mohon terus untuk mengajari Ara" kata wali kelas basa basi.
Setelah selesai pengambilan rapot Baby langsung mencari Ara untuk memberikan hadiahnya.
"Gile anaknya Adry pinter juga ya" Baby menepuk rapot Ara "Pantesan Mama selalu marah marah kalau gue gak dapet juara, ternyata rasanya gini kalau anak kita dapat juara satu" Baby tersenyum.
Dia berjalan untuk mencari Ara, namun tidak kunjung menemukan anak itu. Sampai dia berada diujung sekolahan, terdengar suara anak kecil menangis dan suara olok olokan dari teman temannya
"Gak punya ibu. Gak punya ibu, gak punya ibu" suara itu terdengar berirama, kompak berserta tepuk tangan.
Awalnya Baby penasaran dengan sumber suara itu, ketika didatangi dia melihat Ara menangis sambil terduduk, menatap ke empat anak laki laki yang terus menepuki tangan sambil berkata bahwa Ara tidak punya ibu.
"Heh, berani beraninya kalian" Baby berteriak memanas.
Entah mengapa rasanya sakit saat melihat Ara menangis. Anak anak itu berhenti, menoleh ke sumber suara. Baby langsung membimbing Ara untuk berdiri, sambil berkacak pinggang dia memakai maki anak kecil tanpa memperdulikan apakah orang tua mereka ada disini.
"Kalian ini udah badan gumpal gumpal, bau eek pakek acara ngatain anak orang segala, Lo gak tau dia siapa?" Teriak Baby sambil menunjuk keempat anak itu
Keempat anak itu sama sama terdiam. Detik ke tujuh dari diam nya mereka, mereka kompak berlari sambil menangis.
Baby melirik Ara yang masih saja menangis.
"Udah jangan nangis" kata Baby menenangkan
Ara masih sesegukan sambil berushaa menenangkan tangisannya, meski sulit akhirnya Ara berhenti.
Ara memang berhenti menangis tapi bukan karena Baby melainkan karena dia melihat keempat anak itu datang membawa orang tuanya.
"Tente bunda" Ara memanggil Baby dengan lirih
"Apa?" Baby masih menatap Ara tanpa tahu bahwa empat anak yang dimarahi nya datang dengan mamanya
"Mereka kesini lagi"
"Biarin , biar gue marahin mereka" kata Baby mendongak dan kaget bahwa mereka berempat sudah bersama Mama nya masing masing.
"Ini ma Tante Tante yang marahin Leo" kata anak kecil bertumbuh gumpal mengadu pada anaknya.
"Eh mbak maksudnya apa mbak marah marah ke anak saya?" Tanya ibu ibu dengan lipstik merah menyala
"Seharusnya saya dong yang nanya, apa maksud anak ibu ngatain anak saya kalau dia gak punya ibu" kata Baby langsung berkacak pinggang
"Emang kenyataannya Ara itu gak punya ibu kan" ibu ibu dengan sanggul dan baju gamis maju selangkah.
"Dan apa harus anak ibu ngomong gitu. Coba kalau ibu udah mati terus anak ibu di katain kalau dia gak punya ibu, gimana perasaan ibu?" teriak Baby tidak mau kalah
"Ibu nyumpahin saya mati" balas ibu bersanggul
"Ibu gak tahu suami saya siapa, suami saya itu polisi. Saya bisa penjarakan ibu kalau saya mau"
Baby tertawa mendengar itu. Ibu didepannya ini tidak tahu kalau ayahnya pemilik lima stasiun televisi dan jasa penyiaran terbesar di Asia.
"Terus saya peduli" kata Baby sambil menjulurkan lidah
"Dasar ibu gak punya sopan santun" kata ibu ibu ini
"Ada apa ini?" Suara Adry terdengar berat sambil berjalan mendekati Ara.
Baby yang tahu langsung tersenyum menang. Rasanya dia tidak perlu takut lagi menghadapi empat ibu didepannya ini. Bahkan kalaupun ibu ibu satu sekolahan ini menyerangnya dia tidak perlu takut, karena Baby memiliki Adry disini.
"Ini Om, dia ngomongin kalau Ara gak punya ibu" adu Baby pada Adry.
"Emang bener kan kalau Ara gak punya ibu, anak saya cuman ngomong fakta" elak ibu dengan jilbab seperti ibu pejabat
"Ara punya ibu!!!" kata Baby dengan nada menaik
"Kalau gitu siapa ibu,nya?" Tanya ibu dengan tumbuh gumpal
"Saya ibunya" teriak Baby menunjuk dirinya sendiri
Adry terdiam, ikut menatap Baby yang justru memanas hanya karena ucapan ibu didepannya. Entah kenapa dia justru senang melihat Baby hari ini.
"Hah. Mana mungkin!!, kamu itu cocok nya jadi Kakak Ara" cicit ibu dengan lipstik merah
"Permisi" Adry menengahi , dia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kartu nama
"Perkenalkan saya ayahnya Ara, nama saya Rama Degestra Gerilbadry" kata Adry memperkenalkan dengan sopan "ini kartu nama saya" katanya menyodorkan kartu nama
Ibu ibu didepannya itu membaca dengan hati hati lalu sedikit terkejut.
"Nanti pengacara saya akan menghubungi ibu untuk membawa masalah ini ke ranah hukum" kata Adry.
"Kalau tidak mau, silahkan hubungi saya dan meminta maaf secara resmi, saya tunggu permintaan maaf nya sampai jam tiga sore" kata Adry lalu menarik tangan Baby dan Ara untuk berjalan meninggalkan keempat ibu ibu yang tengah syok berat.