First Love Duda

First Love Duda
Es Cream Ara



Sesuai janji mereka yang akan datang ke undangan makan malam keluarga Rike, hari ini Baby dan Adry sudah rapi menuju rumah Rike. Masalah ijin dengan kedua orang tua Baby, gadis itu selalu memiliki banyak alasan untuk pergi dari rumah. Dan kali ini, Baby berkata dia akan menghadiri ulang tahun temannya, Baskara tidak tahu kalau Baby pergi dengan Adry, karena, Yah lelaki itu menunggu didepan gerbang.


Kalau dosa bisa di ibaratkan, mungkin selama ini malaikat Atid sering menulis dosa Baby sampai pena miliknya habis, sedangkan malaikat Rokib dia hanya duduk menyilangkan kaki sambil tertawa. Tidak tahulah, kenapa gadis itu selalu pintar berbohong.


Ara sibuk memainkan permainan yang baru di belikan papanya dari mall kemarin, dan Baby hanya melirik anak kecil itu bermain.


"Tante bunda mau beli es cream gak?" Tanya Ara, yang dimaksud es cream bukan es cream sungguh sungguhan karena saat ini Ara sedang bermain gerobak es cream.


"Ini yang coklat" tunjuk Baby dengan nada malas.


"Ini" Ara menekan es cream yang ditunjuk Baby, lalu mengeluarkannya. "Nih lima ribu ya Tante Bunda" kata Ara.


"Mahal amat?" Cicit Baby menerima es cream itu dan pura pura memakannya


Ara cekikikan sambil menutup mulutnya dengan tangan "Soalnya Ara mau bantuin papa nyari uang"


Mendengar itu Adry tertawa terbahak bahak, sungguh Ara yang ajaib. Batin Adry. Lelaki berumur itu membelokkan stir ke perumahan Rike. Baby tidak heran dengan bangunan super megah didepannya karena rumah yang dimiliki Baby jauh lebih megah dari ini. Mereka bertiga keluar dari mobil, Ara membawa mainan barunya, juga menggandeng tangan Baby seperti dia menggandeng tangan ibunya. Dan Adry, lelaki itu selalu berjalan didepan Baby tanpa mau mengimbangi langkahnya.


"Selamat malam pak Adry" sapa lelaki yang sudah sedikit keriput, hidungnya mancung Dengan sebagian rambut tembaga di area depan.


"Malam kembali" Adry membalas jabatan tangan lelaki didepannya.


Melihat Adry bertamu tidak sendiri, lelaki itu menaikan alis. Dia tersenyum kearah Baby juga kearah anak kecil yang mengayunkan tangan Baby.


"Kenalkan, ini anak saya, Ara" mula mula Adry memperkenalkan Ara yang ada di sebelahnya, lalu menatap Baby dan ragu memperkenalkan gadis ini sebagai apa?


Rike dan ibunya ikut menyambut Adry meskipun sedikit terlambat, perempuan gila bergincu merah itu langsung cemberut saat melihat wajah Baby. Matanya tajam menatap Baby, seperti memberikan tatapan menghunus yang mampu membelah badan Baby. Tapi gadis yang ditatapanya justru cuek.


"Ini eee" Adry melirik kearah Baby "Salah atu model diperusahan saya"


Deg


Baby melirik Adry yang sudah tersenyum menutupi kecanggungannya. Hanya model? Apa itu dia untuk Adry. Benarkah?


"Saya Purna" lelaki tua berambut tembaga itu mengulurkan tangan kearah Baby.


Dan dengan berat Baby menerimanya "Baby" katanya


Setelah berbasa basi cukup lama, mereka menuju meja makan yang sudah disiapi banyak hidangan. Mereka menikmati itu, sambil bercerita. Sebanarnya yang banyak bercerita hanya Adry dan Purna, selebihnya mereka memilih mendengarkan.


"Mari kita lanjutkan mengobrol di ruang santai" ajak Purna begitu makanan sudah selesai


Baby ikut berdiri dan menggandeng tangan Ara, gadis kecil itu menarik tangan Baby berulang ulang. Baby menatap Ara yang berwajah bosan.


"Apa?" Tanya Baby


"Tante bunda, Ara bosen, kita main di luar yok" ajak Ara mengayunkan tangannya.


Baby mengangguk, lagi pula mengikuti Adry hanya akan membuatnya tambah bosan, mereka selalu membicarakan hal yang tidak Baby mengerti. Akhrinya setelah berpamitan dengan Adry, Ara dan Baby bermain di dekat kolam.


Ara memainkan mainan es creamnya disebelah Baby. Gadis itu sesekali tertawa saat mendengarkan Ara yang bermain peran menjadi penjual es.


"Heh, Lo itu udah SD masih main kayak gini" cibir Baby sambil pura pura memakan es mainan.


Ara duduk disebelah Baby sambil memandang langit yang bertaburkan bintang. Memandang dengan lekat keatas sana, seolah tengah menyaksikan sebuah film menyenangkan.


"Tante bunda" panggil Ara lirih. Baby menoleh, rambut Ara bertebrangan di tiup angin.


"Kata papa, Mama ada disana" Ara menunjukan kumpulan bintang di langit "kira kira Mama kangen Ara gak ya?"


Mendengar itu Baby hanya bisa terdiam, dia tidak menjawab barang sepatah pun. Lagi pula otak muda Baby terlalu dini untuk memberikan kata kata mutiara kepada Ara. Sampai pembantu rumah tangga membawakan senampan kue kering dan juga minuman jus dingin.


Tidak lama dari perginya pembantu, Rike datang menemui Baby dengan tampang congkak. Diliriknya sekilas wajah Ara yang sibuk memainkan permainannya, juga berpindah ke wajah Baby.


"Emang ya anak kecil itu cocoknya main sama anak kecil" cicit Rike


Baby tidak ingin menggubris, sungguh, baginya menanggapi kalimat Rike hanya membuat kemarahannya naik.


"Ara" panggil Rike. Pada Ara, yang dipanggil mengangkat dagu. Tapi sungguh ekspresi wajah Ara tidak bersahabat.


"Kamu mau nyusul papa mu?" Tanya Rike berusaha mendapatkan hati Ara


Ara menggeleng, dan berpegangan tangan dengan Baby. Seperti tengah menghadapi orang asing yang tidak pernah dia temui sebelumnya.


"Yuk ikut Tante. Tante punya banyak mainan baru" tangan Rike meraih tangan Ara. Namun ditepisnya dengan kasar


"Gak mau. Ara mau disini sana Tante Bunda" teriak Ara


Rike berdecak "Tante Bunda?" Ulangnya menatap tajam arah Baby


"Lo punya penyakit jenis apa sih? Seneng banget gangguin ketenangan orang" akhrinya setelah merasa jengah dengan sikap Rike, Baby ambil suara.


Baby tegak, menarik tangan Ara untuk menjauhi tempat Rike berdiri. Langit penuh bintang itu seolah menjadi saksi bagaimana Rike tiba tiba menarik Ara dengan kasar


"Anak ini ikut gue" kata Rike setelah Ara ada di genggamannya.


"Lo bisa lebih sopan gak memperlakukan Ara" bentak Baby


Ara berusaha melepaskan cengkraman tangannya dari Rike, setelah terlepas gadis itu berlarian kebelakang Baby


"Eh, gue kasih tahu ya" Rike maju selangkah "Ara itu akan jadi anak gue"


"Gue gak peduli, mau dia  jadi anak elo atau enggak. Yang jelas elo harus memperlakukan orang dengan lembut, gak sekasar tadi" ceramah Baby


"Oh udah sok sok an jadi ibunya Ara" Rike mendorong bahu Baby hingga gadis itu terjatuh kelantai


"Tante bunda" Ara segera menghampiri Baby


"Brengsek" cicit Baby berdiri dan menatap Rike dengan bengis "gue paling gak suka di dorong sekasar tadi"lanjutnya


Rike seperti tidak perduli, dia menipiskan jarak antara mereka berdua.


"Gue pernah bilang kan. Jauhi Adry atau elo akan nyesel" Rike mengulang ancamannya kemarin


"Denger ya!" Baby ikut menipiskan jarak keduanya "elo bukan istri sahnya Adry, jadi dia masih punya hak buat pergi sama siapa aja" Baby sengaja menekan kalimat per kalimat


Rike tertawa sekilas, dan merubah ekspresinya sedatar mungkin. Tidak ada kalimat persahabatan dari keduanya saat ini, Rike terlalu membenci sesuatu yang menjadi miliknya direbut oleh orang lain sedangkan Baby membenci seseorang yang sok penguasa di jagad raya.


"Mana yang paling Lo sayangin, karir elo sebagai model atau keluarga elo?" Rike memiringkan kepala, dia mendekatkan bibirnya ke telinga Baby


"Tinggal pilih, gue bisa ngejahancurin dengan mudah keduanya" saat Rike menjauhkan bibir dari telinga Baby, dengan cepat Baby mendorong Rike dengan keras.


Karena posisi keduanya berada di dekat kolam, Rike langsung terjebur ke kolam. Baby tidak perduli dengan keadaan Rike, yang jelas saat Rike berteriak meminta tolong wajah Baby masih tetap datar dengan kemarahan yang tergambar jelas.


"Baby" panggil Adry dengan suara menaik


Melihat Rike yang seperti tidak bisa berenang, Adry spontan menyeburkan diri ke dalam kolam untuk menyelamatkan Rike. Di angkatnya gadis itu ke atas, lalu Rike dengan kecentilannya memeluk perut Adry.


"Baby dorong aku" adu Rike dengan wajah memelas.


Baik Ara ataupun Baby masih berdiri dengan tampang datar mereka. Adry menatap keduanya bergantian, lalu melepaskan diri dari pelukan Rike. Pembantu rumah tangga dan ibu Rike menghampiri anaknya, Menyelimuti dengan handuk


"Apa yang kamu lakukan ke anak saya?" Tanya ibu Rike dengan menaikan suaranya.


Baby tersenyum getir "Tante, saya gak ngapa ngapain anak Tante, cuman anak Tante aja yang lemah sama dorongan saya" jawab Baby yang mendapatkan tatapan tajam dari Adry.


"Maaf pak atas kejadian ini" Adry mewakili untuk meminta maaf atas sikap kurang ajar dari Baby


"Kenapa Om minta maaf" teriak Baby tidak terima "Dia duluan yang narik Ara dengan kasar"


"Baby diam" kali ini suara Adry Menaik dengan nafas memburu.


Baik Purna dan sang istri hanya diam, Baby semakin kesal saat melihat Sunggingan dari bibir Rike, juga wajah tidak terima yang ditunjukan dari ibu Rike. Ara mengenggam tangan Baby dengan kuat, sepertinya gadis kecil itu membela Baby.


"Sekali lagi saya meminta maaf atas perlakuan Baby" Adry bersungguh sungguh mengatakan kalimat ini.


"Tidak apa apa pak" Purna menatap wajah Baby


"Sekali lagi saya meminta maaf" Adry bersungguh sungguh


"Ayo pergi Ra" Baby menarik tangan Ara, gadis kecil itu begitu menurut dengan Baby seolah Baby itu adalah ibunya.


Baby berjalan sampai di kursi penumpang, di pangkunya Ara yang bersandar di dada Baby. Tidak lama dari itu Ara tertidur oleh ayunan dari Baby. Dan entahlah kenapa Duda itu begitu lama didalam sana, mungkin sedang berganti atau tengah meminta maaf kepada keluarga Rike.


"Dasar iblis" ujarnya pada diri sendiri.


Adry keluar dari rumah Rike setelah beberapa lagu di ponsel Baby berhenti, mungkin ada sepuluh lagu. Adry duduk dengan setelah jas yang basah, jangkung nya bergetar tanda dia Benar-benar  menahan kekesalan.


Adry tidak mengucapkan sepatah katapun, mobil yang mereka tumpangi sudah keluar dari pekarangan rumah Rike. Membawa kekecewaan dan kekesalan yang tidak terduga.


Baby terlihat begitu kesal, dia menoleh ke sisi jalan enggan menatap wajah Adry sama sekali, tidak ada pertanyaan yang menanyakan kejadian tadi juga tidak ada penjelasan didalam sana. Sampai di rumah Adry, lelaki yang berwajah dingin membopong anaknya sampai ke kamar.


Baby hanya mengantarkan Adry di ruang tamu. Lelaki itu menuruni tangga, mata mereka sempat bertatapan sebentar, tidak lama karena Adry langsung masuk kamar dan mengganti pakaian.


"Ada yang ingin kamu jelaskan?" Tanya Adry saat dia keluar dari pintu dan melihat wajah Baby masih ditekuk


"Gak" jawabnya cuek.


Baby berdiri, berniat pergi namun tangannya ditarik oleh Adry. Gadis itu jatuh di pelukan Adry, begitu hangat saat Adry mengelus punggung Baby. Sepertinya pelukan Adry mendorong air mata Baby untuk keluar, dia menangis terisak isak.


"Gue cuman gak suka kalo Ara diperlakukan sekasar tadi Om" Baby bercerita ditengah isak tangisnya.


Adry menarik nafas "Terimakasih karena sudah membela Ara" katanya tulus "Tapi saya gak suka sikap kamu barusan"


Baby masih menangis sesegukan didada bidang Adry. Dia menangis oleh rasa kesal yang dia pendam sedari tadi. Kadang seseorang perlu pelampiasan menangis ketika dia sedang marah agar menyirami api hatinya yang berkobar.


"Saya gak mau mereka menilai kamu sebagai seseorang pemarah" Adry mengelus Baby setulus hatinya "Lain kali, tolong kendalikan emosimu"