First Love Duda

First Love Duda
Ken Gay



Sudah hampir lima harian Adry tidak membalas pesan Baby juga tidak menelponnya. Lelaki tua itu hanya mengangkat panggilan Baby, tapi tidak menelfon, juga selalu sedingin kemarin.


Baby terkelulai lemas diatas meja kelasnya, hari pertama sekolah yang membosankan. Dia harus menyiapkan serangkaian pendaftaran kuliah juga menyiapkan study planningnya.


Baby tidak memikirkan kemana dia akan kuliah, toh kalau semua universitas di dunia menolaknya ada Araba yang akan menerimanya.


"Beb, Lo tu tidur diatas meja udah kayak mayat tahu" cibir Vio membanting tas di sebelah Baby.


Baby hanya menggeser kepalanya lalu mengikuti arah Vio yang berjalan ke loker buku.


"Gimana liburan ke Dubai ?" Tanya Baby mengalihkan dari kebosanan


Vio berhenti sebentar saat menutup loker lalu tersenyum cerah yang begitu cerah, amat cerah. Vio berlarian kecil kearah Baby


"Lo tahu gak, di Dubai gue ketemu siapa?" Tanya Vio menaikan alis


"Siapa?, Justin Bieber" tebak Baby asal


"Ih bukan" Vio bersungut kesal tapi wajahnya masih menunjukan keinginan Vio  untuk Baby menebak lagi


"Jungkok? Member BTS atau Adipati Dolken?"


"Sumpah ya, elo nyebelin jadi temen" Vio menggebrak meja dengan bukunya


"Lah kan BTS pernah di undang ke Dubai " Baby semakin asal menebak


Bugh


Dengan kekuatan penuh Vio memukul paha Baby dengan buku yang berada ditangannya. Baby hanya menatap Vio tanpa mengaduh kesakitan


"Dasar fans musiman" cicit Vio jengah "Yang diundang ke Dubai si EXO bdw"


Baby nyengir lalu memainkan kuku kuku tangan yang baru di kelupas kutek bewarnanya, sehingga warna putih alami sedikit kepucatan membuat Baby kesal.


"Gue ketemu Hendri, temennya Manik"


Baby berhenti saat menggesekkan kuku dengan kuku nya yang lain. Lalu mendudukan tubuhnya.


"Sumpah lo?" Baby terlihat tidak percaya dan itu membuat Vio nyengir bangga


"Gue di Bali juga ketemu Manik, sumpah ya, dunia tak selebar daun kelor" kata Baby takjup


Disaat Baby dan Vio tertawa bersamaan, Lydia masuk kekelas sambil menendang kursi yang menghalangi lorong jalan. Gadis itu bersidekap dengan congkak, ditatapanya Baby yang hanya menatap kedatangan Lydia dengan biasa.


Ketika Lydia berdiri didepan Baby juga Vio, gadis itu memutar mata dengan jengah.


"Liburan kemarin elo kemana?" Tanya Lydia dengan nada cueknya


"Perlu ya gue lapor ke mana gue pergi kemarin" Baby memainkan kakinya


"Gue tanya, Lo kemarin kemana?" Kali ini suara Lydia naik satu oktaf dan itu membuat Baby tidak Senang.


Memangnya Lydia siapa sampai dia harus melaporkan kemana dia pergi. Bahkan orang tuanya tidak seperti itu.


"Lo siapa gue sih. Polisi? Atau RT yang harus wajib lapor 24jam" cicit Baby turun dari atas meja.


"Lo kemarin liburan sama Manik ke Bali" Lydia semakin beringas dengan mendorong dada Baby.


Baby mundur akibat dorongan keras dari dadanya, dan Baby tidak senang ketika ada orang yang memperlakukannya seenak itu. Segera ditepis dengan kasar tangan Lydia dari dadanya, tanpa sengaja karena terlalu kuat tangan Lydia terkena ujung meja.


"Brengsek" terima Lydia tak terima


"Gue kasih tahu ya sama elo" mata Baby melotot "pertama gue emang ke Bali, kedua gue kesana bukan liburan sana Manik, ketiga gue gak suka ada anjing yang megang tubuh gue"


"Shit" Lydia mengumpat "Kalau bukan karena bokap gue kenal sama bokap elo, udah gue telanjangin elo disini" kaya Lydia dengan wajah merah padam


Baby tersenyum smirk. Dia maju selangkah membuat Lydia mau tidak mau mundur. Ditatap Lydia dengan tajam menghunus, Baby menggeretakkan giginya.


"Lo tahu hal di dunia ini apa yang gue suka?" Tanya Baby bersidekap


Lydia tidak menjawab, dia masih menatap wajah Baby dengan tatapan tidak sukanya.


"Ngeliat orang yang gue benci gak bisa nyentuh gue" Baby melewati Lydia dengan mengatakan bahu Lydia


Gadis itu menghentakkan kaki dengan kesal. Di tatapnya punggung Baby dan Vio yang bergerak menjauh.


"Awas Lo Beb, gue bakal cari tahu kebusukan elo" teriak Lydia.


Baby mengipasi lehernya dengan lima jari. Rasa rasanya dia selalu merasa gerah jika berurusan dengan Lydia. Gadis termenyebalkan sejagad raya setelah Rike.


Sampai dikantin, mata Baby sempat beradu sebentar dengan Ken, tidak lama karena Ken memutuskan kontak mata mereka secepat kilat. Ken memang selalu menghindari tatapan mata, wajah juga bertemu dengan Baby terlalu lama, baginya itu bisa membuat Ken tertular kebodohan, itu sih kata Ken .


"Eh gimana Bali? Ketemu cowok ganteng gak?" Tanya Vio sambil meniup mie ayamnya


"Apaan biasa aja" Baby memasukan bakso kedalam mulut tanpa memotongnya.


"Si Adry Adry itu masih nyebelin?"


"Owh hywa gwhye lwhyuphwya __"


Belum selesai Baby berucap, si Vio sudah memukul lengan Baby dengan keras.


"Ditelan dulu bego, Lo bisa kesedek bakso" ujar Vio


Baby tidak menelannya justru memuntahkan di mangkuk baksonya. Baru setelah itu dia menatap Vio dengan isi kepala penuh cerita.


"Gue lupa mau ngasih tahu elo tentang Adry" Baby mulai bercerita sambil memotong bakso yang dia muntahkan tadi, dan, bagian ini menjijikan untuk dituliskan, namun bakso yang telah dipotong tadi dimakannya kembali.


"Apa apa?" Vio nampak tertarik tanpa memperhatikan temannya.


"Si Adry itu ternyata Om Rama"


"Uhuk" Vio memukul dadanya dan meyambar teh manis, sekali tegukan minuman itu langsung ludes.


"Sumpah? Demi apa Lo? Om Rama yang istrinya pasien Mama gue dulu, si si Tante siapa itu___" Vio berfikir sejenak lalu meneruskan "pokonya Om Rama yang temen bokap elo itu kan?" Tanya Vio memastikan agar tidak salah orang


Baby mengangguk berulang ulang sambil mengunyah bakso.


"Gila gak sih, dunia sesempit itu, dari berjuta milyar manusia di muka bumi ini, elo kerja jadi model diperusahan temen bokap elo" Vio geleng geleng tidak percaya "wahhh, kayaknya anak cucu kita bakalan kenal orang orang itu itu aja" terus Vio


Baby berhenti mengunyah bakso ketika mendengar ucapan Vio. Sebenarnya dia ingin bercerita mengenai perasaannya, namun ragu setelah mendengar kalimat Vio barusan. Bagaimana reaksi anak disebelahnya ini jika tahu dia memiliki perasaan dengan Adry, bisa bisa satu sekolahan ini mendengar jeritan nya. Ah untuk ini Baby rasa dia tidak perlu membagikan kepada Vio, biar hanya dia, Adry dan Tuhan saja yang tahu.


"Beb" karena tidak ada tanggapan dari Baby, Vio menepuk bahu Baby.


Baby sedikti gugup ketika mata mereka bertatapan. Ini kali pertama Baby menyembunyikan sesuatu dari Vio. Mungkin akan banyak kebohongan lain dan hal yang tidak bisa dibagi kepada Vio.


"Apa?" Baby segera membuat suaranya terlihat biasa saja


"Lo udah denger gosip belum tentang Kakak elo?" Tanya Vio


Baby menoleh, lalu menatap kearah Ken yang sedang tertawa dengan Yoshua teman karibnya.


"Apaan?"


"Jangan kaget tapi ya" Vio menarik nafas setelah menatap kearah ken "kakak elo di gosipin kalau gay"


"What?" Nada baby begitu melengking, sampai beberapa orang disebelah mereka menoleh kearah Baby.


"Mulut elo agak dikecilin toa kelurahan" kata Vio memberitahu sambil sedikit was was "kalau kakak Lo tahu gue bisa dibikin rujak" lanjutnya bergidik ngeri


"Lo dapet gosip itu dari mana sih?" Tanya Baby


"Dari anak anak lah, masak dari Mbah dukun" Vio menatap kearah Ken yang nampaknya sedang serius dengan pembicaraan mereka berdua, Ken dan Yoshua.


"Sayang banget gak sih kalau Ken yang ganteng kayak malaikat gitu ternyata gay" Vio menyangga dagunya "Punah sudah tokoh tokoh dunia ******* yang sempurna" wajah Vio serius menyayangkan


Baby memutar mata "maksud Lo ?"


"Itu tokoh ******* kebanyakan digambarin jadi cowok tajir, ganteng, pinter dan dingin"


"Bukan itu pe'a" Baby memukul kepala Vio dengan botol mineral kosong "gay gimana maksud elo?" Tegasnya


"Lo gak tahu istilah gay, gay itu penyuka sesama jenis"


"Gue udah tahu itu Bambang" Baby benar benar kesal sendiri jika bercakap dengan Vio "yang gue tanyain sifat yang bisa di bilang guy yang mana?"


"Coba deh lo mikir, selama elo hidup sama Ken, Lo pernah gak, tahu Ken naksir cewek atau bergaul sama cewek?" Tanya Vio


Baby berfikir sejenak sambil mengamati gerak gerik Ken. Jari jemarinya menari diatas meja, kalau dipikir pikir selama tinggal di bumi bersama kembarannya, Ken tidak pernah membahas apapun mengenai seorang perempuan. Tapi kalau gay, apa iya orang seperti Ken disebut gay. Rasanya tidak mungkin.


"Iya sih gue gak pernah liat dia naksir cewek. Tapi siapa tahu si Ken bukan gay" Baby berhenti sejenak "tapi kalo bener Ken gay, siapa orang yang di sukai Ken coba?"


Vio dan Baby kompak menatap kearah Yoshua lalu melihat Ken yang mendekatkan bibirnya ke telinga Yoshua, tengah berbisik namun begitu tidak lajim


Brak


Baby menggebrak meja, hingga Ken Yoshua dan beberapa penghuni kantin menatap kearah Baby.


"Keeeeeennnnnnn" teriak Baby


catatan : Nih tak tambahin satu ❤ ❤ buat yang kemarin minta crazy up