First Love Duda

First Love Duda
Istri



Baby menemui Adry lagi di kantornya dan seperti biasa lelaki itu berkutat dengan laptop tanpa memperdulikan hal yang lain.


"Ommm" begitu masuk kedalam ruangan suara nyaring Baby mampu menghentikan Adry.


"Kamu bikin saya kaget saja" komentar Adry lalu kembali pada pekerjaannya.


"Kenapa sih gak bales chat gue?" Baby menghentakkan kaki sambil naik keatas meja.


Adry berhenti sejenak dari rutinitas kerjanya, dia bersandar pada kursi. Memperhatikan lebih rinci lagi wajah gadis didepannya. Baby cemberut, wajahnya ditekuk.


"Saya sedang sibuk" jawab Adry memegang tangan Baby.


Gadis itu menunduk sambil memperhatikan kuku kuku Adry yang terawat. Kulit putih Adry ditekan tekan dengan kuku Baby.


"Masa sih gak bisa ngeluangin waktu buat ngebalas chat gue" Baby bercimbik kesal.


Ekspresi itu membuat Adry hanya bisa menarik nafasnya, dihembuskan secara kasar dari mulut Adry. Dengan kesabaran penuh Adry menatap wajah Baby dengan lamat. Kursi goyang ditarik Adry untuk mengapit kaki Baby yang sedang bergoyang.


"Saya benar benar sibuk" Adry menjedanya "biasanya kan kalau tidak sibuk saya nyamperin kamu" imbuh Adry


Baby terdiam "sebenarnya perasaan Om ke gue itu gimana sih?"


Adry seperti berhenti bernafas saat Baby bertanya seperti itu padanya. Hubungan? Memangnya haruskah seseorang memiliki hubungan diusia seperti ini. Bayangkan di usia hampir kepala lima Adry berpacaran, itu terdengar tidak masuk akal kan.


"Omm" Baby menggoyangkan lengan Adry untuk meminta jawaban


Dan yang bisa dilakukan Adry mendongak tanpa daya, dia tidak mampu menjawabnya, perasan Adry ke Baby tidak cukup untuk membuat gadis itu tetap disisinya kan?


"Saya" Adry menjedanya, dia enggan meneruskan, demi Tuhan , bagi Adry tidak penting sebuah pernyataan perasaan, bukankah selama ini hanya Baby perioritas keduanya setelah Ara. Sampai membuat lelaki tinggi semampai itu meluangkan waktu setelah pulang kerja hanya untuk menemui Baby.


"Apa? Apa perasan Om ke gue?" Baby mengulang kembali pertanyaannya.


Pertanyaan seperti itu benar benar menyiksa Adry, Baby terlalu kekanakan yang memerlukan sebuah pernyataan cinta dan sebuah ikatan hubungan


Sedangkan diumur Adry sekarang, dia tidak membutuhkan hal semacam itu. Semuanya tidak penting, yang terpenting bagaimana sikap Adry ke Baby.


"Baby, itu semua gak penting kan, yang penting bagaimana sikap saya ke kamu" Adry berusaha menjelaskan agar Baby tidak salah paham


"Gak penting?" Ulang Baby "Gak penting menurut Om tapi penting buat gue" Baby turun dari meja


"Gue harus tahu Om, perasaan Om ke gue itu gimana, selama ini gue yang selalu ngejar ngejar elo" tegas Baby


Adry mengacak rambutnya frustasi. Di usianya setua ini, Adry harus memikirkan mengenai biaya pensiun juga mencari rumah tua untuk dinikmati di ujung umurnya. Bukan memikirkan mengenai hubungan seperti ini.


"Apa sikap saya selama ini tidak jelas ke kamu" ujar Adry terdengar kesal


"Sikap? Oh sikap Om ngejelasin kalau Om gak suka sama gue" Baby menjedanya dengan pahit "itu ya yang Om maksud"


Baby langsung berlalu pergi, seperti dugaan Adry, gadis itu akan salah mengartikan arti yang dimaksud nya. Secepat kilat Adry berusaha menyusul kepergian Baby. Gadis yang dikejarnya masuk kedalam lift, Adry menengadahkan tangan ditengah lift yang hampir tertutup, mencegah agar lift tidak tertutup.


"Saya bisa jelaskan" begitu Adry berada di dalam lift, Adry menarik tangan Baby selembut mungkin.


"Semuanya udah jelas Om" mata Baby berkaca kaca, Adry yakin kalau dia salah mengatakan kalimat bisa membuat Baby menangis


"Saya cinta sama kamu" akhirnya kalimat itu lolos dari mulut Adry "Menurut saya pengungkapan seperti itu tidak penting Baby" diteruskan dengan kata yang terdengar menyakitkan


"Kamu dan saya sama sama tahu kalau saling mencintai, jadi untuk apa pengungkapan seperti itu dan sebuah hubungan" imbuh Adry terdengar tajam


Baby menatap Adry dengan sisa air mata, wajah basahnya membuat Adry langsung menekan tombol lift ke ruangannya. Adry tidak mau ketika lift sampai di lobi, karyawannya melihat Baby menangis.


"Buat gue semua itu penting "


Adry menarik nafas, melepaskan pegangan tangannya dari tangan Baby. Dia menatap arah lurus dimana pantulan dirinya tergambar di sana .


Baby tidak sepenuhnya salah, memang di usia dia, yang namanya pengungkapan dan ikatan di perlukan tapi untuk usia Adry, semuanya tidak penting.


"Om" Baby menarik jas Adry


Lelaki itu tidak menoleh, saat lift terbuka, dia berjalan menuju ruangannya menggandeng tangan Baby. Adry tidak lagi mengindahkan tatapan Sinta. Dia sudah kalut dengan masalah perasaan yang membuat hidupnya rumit.


Sampai diruangan, Adry memegang bahu Baby. Lelaki itu berusaha menjelaskan agar Baby paham , Baby harus mulai membiasakan semuanya, tentang gaya pacaran juga tentang sikap Adry.


"Baby" suara Adry begitu lembut "Kita sama sama tahu kalau saling menyayangi, jadi kita tidak perlu hal hal semacam itu"


"Om, siapa orang yang tahu perasaan pasangannya kalau pasangnya secuek Om" Baby menekan kalimatnya "Selama ini Om selalu memperlakukan gue seenaknya, Om cuek, gak peduli dan___"


"Dengarkan saya" suara Adry naik satu oktaf "Kamu harus terbiasa dengan sikap saya jika kamu memang mencintai saya, tolong" Adry menjedanya, dia menelan Saliva


"Tolong Baby, pahami posisi saya, saya seorang ayah, saya seorang pimpinan dan saya juga orang dewasa"mata elang Adry begitu teduh "Sudah sepatutnya saya bersikap dewasa, saya tidak bisa bersikap kekanakan seperti kamu saat ini"


Kekanakan? Apa sikap Baby selama ini seperti anak anak bagi Adry.


"Tapi gue butuh ikatan Om" Baby masih merengek


"Saya tidak butuh pacar untuk saat ini" Adry mempertegas penolakannya


"Kenapa? Karena gue anak kecil atau karena gue anak badung?"


Tahukan kenapa Adry tidak ingin memiliki ikatan konyol seperti abg, diusia setua itu Adry harus memplaning masa tua dan juga masa depan Ara. Banyak tanggung jawab yang akan di pikul Adry, dan Baby gadis itu terlalu dini untuk paham


Adry menegakkan tubuhnya. "Saya mencari istri, kamu mau jadi istri saya? "


"Gue siap"


Kalian dengar, Baby baru saja mengatakan kesiapannya untuk menjadi istri, dia tidak paham apa yang akan ditemui setelah dia menyandang gelar istri. Adry tertawa, sungguh konyol sekali dia bisa jatuh cinta pada gadis semuda Baby.


"Kamu siap?" Tanya Adry mengejek "Kamu siap menikah dengan saya hari ini?"


Baby diam, mendengarkan kalimat apa lagi yang akan di munculkan Adry dari bibirnya. Penolakan yang kesekian kali atau penerimaan


Adry tersenyum smirk, dia memegang bahu Baby dengan kuat.


"Yang lebih penting kamu siap memuaskan nafsu saya sebagai suami kamu kelak. Mengandung dan melahirkan, kamu akan kehilangan masa muda kamu Baby" Adry berteriak membuat Baby menangis hebat.


Gadis itu menepis cekalan Adry dan berjalan meninggalkan ruangan Adry. Di luar, Rike berdiri didekat pintu, apa iblis ini menguping pembicaraan Baby dan Adry?.


**


Tujuan Baby bukanlah pulang kerumah, dia pergi ke sebuah club, membeli minuman yang dulu sempat dia coba dengan Manik. Tidak ada yang bisa menjadi teman curhat Baby saat ini, Thea? Ah gadis itu sedang di Malaysia, dia baru saja mendapatkan iklan dengan perusahaan Malaysia.


Vio? Gadis itu tidak akan paham dengan hubungannya. Baby benar benar merasa sendiri, dia menjatuhkan kepalanya diatas meja. Malam yang mencekat dengan pertanyaan pertanyaan Adry yang terngiang di otaknya.


Siapkah Baby menjadi seorang istri? Adry benar jika Baby akan kehilangan banyak hal untuk bisa bersama lelaki itu. Mata Baby terpejam, tidak tahulah kemana arah hubungan mereka.


Ponsel milik Baby bergetar, Ken, Rindu juga Baskara mengiriminya banyak pesan. Baby tidak tertarik sama sekali untuk membukanya, apalagi panggilan panggilan yang semakin menggila itu membuat Baby memutuskan mematikan ponselnya. Dia butuh ketenangan, setidaknya untuk beberapa menit.


Baby tidak menemukan ketenangan bahkan setelah dia setengah jam di club, dia keluar dengan sempoyongan. Alkohol yang dulu terasa panas dan pahit hari ini begitu terasa manis dan menyegarkan.


Baby menatap arah jalan, dia berjalan kearah pulang, tidak peduli apakah bau alkohol tercium atau tidak.


Malam ini tidak ada satupun bintang yang menatap malamnya, juga tidak ada angin segar yang menerpa wajahnya. Semuanya terasa gelap, menyesakkan kalau ingat ucapan Adry tadi.


**


Adry hampir berlarian di jalanan saat menerima telfon dari salah satu karyawannya. Dia berlarian menyusuri trotoar jalan. Kata karyawannya yang tak dikenali Adry, dia berkata bahwa Baby berjalan sempoyongan di tengah jalan.


Keringat Adry bercucuran, lelaki itu menoleh kekanan dan kiri. Tidak ada satupun pejalan kaki yang melintas di jalan raya. Adry berlarian, sepatu miliknya mengetuk trotoar jalan. Nafas Adry tersengal sengal, dirinya sudah kacau, rambutnya berantakan.


Adry berhenti, saat melihat Baby tertidur di depan ruko. Dia tertidur meringkuk di dekat pot bunga. Kalau orang tahu, gadis secantik ini bisa berbahaya. Adry mendekati Baby, dia sedikit lega setelah melihat gadis itu mengecap berkali kali.


"Baby" Adry menggoyangkan tubuh Baby


Baby mengecapkan mulutnya, setengah sadar dia membuka mata, saat wajah Adry tertangkap mata, Baby langsung menarik nafas.


"Brengsek" kata Baby memukul dada Adry.


Hanya helaan nafas yang keluar dari hidung Adry, sekali tarikan Adry memeluk Baby dengan kuat.


"Jangan mabuk mabuk an" ucap Adry lirih "kata kamu. Kamu ingin jadi istri saya, jangan seperti ini Baby" Adry mengelus rambut Baby.


Gadis itu mengeratkan pelukan Adry sambil meneteskan air mata


"Saya sayang sama kamu" lanjut Adry sambil memejamkan mata


Mobil mobil yang berlalu lalang menyoroti mereka. Beberapa pejalan kaki nampak acuh, kadang ada yang berbisik bisik.


Adry melepaskan pelukannya, dia sudah tidak perduli dengan umurnya. Tidak perduli setua apa Adry, dia akan mengungkapkan perasaannya mulai saat ini. Ditangkupnya wajah basah Baby yang manis


"Gue sayang elo Om" tangan Baby mencengkram pinggiran pinggang jas Adry.


Rambut rambut Adry diterpa angin kota, di terpa debu juga di hiasi lampu malam. Adry mendekatkan wajahnya, mengecup bibir Baby dengan lembut.


"Cie cie pacaran" suara itu berasal dari mobil yang melintas, dua anak kecil menonjolkan kepalanya untuk menggoda Baby dan Adry


Sedetik, dua detik sampai tiga detik baru Adry melepasknya. Baby sempat memejamkan mata, dia begitu menikmati ciuman singkat itu.


"Jangan lakukan hal seperti ini lagi" tukas Adry khawatir "Kamu tahu, saya hampir gila saat dengar kamu keluyuran ditengah jalan" nada Adry naik satu oktaf dan itu terdengar menyebalkan.


"He he" Baby hanya cengengesan


"Kamu mabuk lagi?" Tanya Adry dengan nada suara meninggi. Lelaki itu berdiri, dan hendak berjalan namun Baby yang masih terduduk didepan ruko, melambaikan tangannya.


"Gendongggg"


Suara manja itu membuat Adry berhenti dan menoleh.


"Kamu punya kaki" kata Adry berjalan mendekati Baby "kamu itu gendut, mana kuat saya"


Meskipun begitu, Adry duduk jongkok, menunggu Baby menjatuhkan tubuhnya di punggung lebar Adry. Gadis bernama Baby Arya Kaylovi itu langsung naik tanpa pikir pikir.


Adry menggendong Baby menuju mobilnya, sedangkan Baby dia menyandarkan kepala di tekuk Adry.


"Jadi hubungan kita sekarang apa Om?" Tanya Baby


Adry berdehem "Kamu mau nya apa?"


"Istri" celetuk Baby sambil mendongakkan kepalanya mendekati wajah Adry.


Adry menarik sudut bibirnya begitu tipis, dia berjalan di sisi trotoar. Bertemu pengguna jalan yang menatap keduanya heran, sudahlah saat ini jangan memikirkan mengenai umur, pikirkan bahagia saja. Karena umurpun tidak pernah membuat Adry bahagia.


"Ya, kamu istri saya mulai hari ini" Adry membenarkan gendongannya.


"Bener ya" Baby tersenyum di sebelah wajah Adry, lalu mencium pipi Adry sekilas.


Adry terus berjalan, juga Baby yang tidak lagi bersuara, namun dari nafas Baby, gadis itu tampak tenang.


"Kamu tahu, tadi saya hampir mati saat kamu keluar ruangan saya" kata Adry melirik "Saya hanya takut saat kamu jauh dari pandangan saya, tapi saya ragu jika harus memulainya, saya takut menyakiti kamu ataupun menyakiti Baskara"


Baby tidak menanggapi kalimat Adry. Lelaki itu pikir, mungkin Baby sedang mendengarkannya atau menimbang kalimat Adry.


"Heh" Adry menghela nafas "Saya bingung sekarang Beb, harus jujur ke papa mu seperti apa?"


Tidak ada tanggapan lagi dari Baby jadi Adry meneruskan "Kamu dengerin saya?" Tanya Adry yang mulai bosan berbicara sendiri


Tidak tidak, Baby bukannya sedang berpikir, tapi gadis itu sudah tertidur lelap sehabis dia mencium Adry. Saat tahu kalau Baby tertidur, Adry geleng geleng.


"Baskara Baskara, anakmu ini mirip banget sama kamu" ujarnya pada diri sendiri