First Love Duda

First Love Duda
Undangan Pernikahan



Waktu itu tidak akan berhenti hanya untuk menunggu kita sembuh dari patah hati, tapi kita yang harus sembuh ditengah waktu yang terus berjalan


Perumpamaan itu cocok untuk keadaan Baby, singkat cerita, Baby sudah mengobati lukanya selama di Belanda, di negara itu dia banyak belajar mengenai merelakan dan mengikhlaskan hingga tiga tahun dia bertahan di Belanda apapun mengenai Adry sudah terlalu biasa untuknya.


Membaca artikel mengenai Adry pun, Baby tidak lagi gemetar hebat, tidak lagi merasa teriris seperti dulu, hanya saja dia memang sering merindukan lelaki itu.


Baby mengabaikan waktu selama enam tahun di Belanda, dia melanjutkan pendidikan sampai jenjang s2, meskipun Rindu tidak pernah memaksa anaknya untuk berpendidikan tinggi seperti dirinya. Dan setahun kemarin Baby sudah kembali ke Indonesia, sudah menggantikan Baskara untuk memimpin Araba dan Elena grup.


Di Belanda tidak ada yang istimewa, Baby hanya menjalankan rutinitas biasa selama disana, belajar, les dan melakukan apapun yang belum pernah dia lakukan


Gadis berambut pendek yang tengah berdiri didekat jendela itu menarik nafas perlahan. Kantor sudah terasa sepi sejak lima belas menit lalu, ini jam makan siang tapi perutnya tidak terasa lapar sedikitpun.


Suara geseran dari pintu membuat Baby menoleh kearah sumber suara, disana, kakaknya, Si Ken Arya Jef Alandra, berjalan dengan membawa sebuah paperbag.


"Beb" Ken langsung duduk di sofa, kakinya diangkat


"Anterin undangan ke rumah Om Rama" pintanya


Baby berjalan mendekati kakaknya yang sudah menyilangkan kaki diatas sofa.


"Dateng maen nyuruh, Lo kan bisa nganterin sendiri" tukas Baby menolaknya, lagipula siapa yang mau mengantarkan undangan pernikahan ke Kanada.


"Gue banyak kerjaan" imbuh Baby selanjutnya


"Kerjaan elo sama kerjaan gue, masih sibukan gue kali Beb" Ken menatap adiknya, menatap rambut pendek adiknya yang membuat Baby terlihat dewasa. "Lagipula perusahaan tetep berkembang meskipun elo tinggal sehari" imbuh Ken memaksa


"Gue ada meeting besok" Baby menggeser tablet kerja, memeriksa jadwal miliknya


"Cuman ke Bandung, gak lama kok" Ken meletakkan paperbag "tar gue minta tolong Manik buat nganterin elo ke sana" lanjut Ken "ya ya ya, Please, gue belom milih gedung, juga belum beli gaun" Ken memohon


Bandung? Geseran tangan Baby berhenti sejenak, apakah Adry ada di Bandung.


"Bandung?" Baby mengulangnya


"Iya, Om Rama ada di Bandung selama empat tahun terkahir ini" katanya


"Oh" Baby hanya menanggapi dengan oh, namun hatinya memiliki banyak pertanyaan. Benarkan lelaki itu ada di Bandung?, tapi kenapa dia baru tahu, kenapa dia tidak mendengar kabar Adry bahkan dari teman teman papanya?.


"Mau kan, gue mau jemput calon istri gue" Ken melirik arlojinya "Dia bentar lagi selesai sidang" kata Ken


Baby mengangguk lemah, ditatap Ken yang sudah berlari dari balik pintu tanpa menutupnya.


Undangan pernikahan didepannya itu ditatap Baby dengan nanar, haruskan Baby menemui Adry, apa tidak canggung? Ini sudah enam tahun sejak terakhir kali mereka bertemu.


**


Baby sedang menatap laptop di kamarnya, banyak dokumen yang harus dia selesaikan segera, apalagi jadwal pernikahan Ken membuat dia mau tidak mau mengambil cuti bekerja, itu artinya Baby harus merangkap pekerjaan selama dia cuti.


Rindu yang sudah berkeriput membawa buah buahan ke kamar putrinya, bagi wanita berumur lima puluh lima tahun itu menyiapkan makanan kesukaan keluarganya adalah sesuatu pekerjaan yang paling menyenangkan.


Semangkuk buah buahan yang sudah di iris diletakkan di dekat laptop Baby. Gadis itu menoleh sekilas Lalu tersenyum.


"Lagi sibuk?" Tanya Rindu membelai rambut putrinya,


Baby mengangguk "Meriksa proposal ma" katanya


"Ditunggu Manik di bawah Lho" Rindu membelai rambut putrinya bagaikan Baby adalah anak umur tujuh belasan bukan gadis berumur dua puluh lima.


"Manik kesini?" Tanya Baby


Rindu mengangguk, akhirnya Baby menutup laptop kerjanya, ikut menuruni tangga bersama dengan Rindu. Disana Manik, tengah membantu Ken dan calon istrinya memilih dekorasi untuk pernikahan esok. Juga memilih makanan yang akan di pesan dari restoran Alan.


"Tumben?" Baby duduk di pegangan sofa sebelah Ken.


Manik, lelaki yang mengenakan kemeja tersenyum kearah Baby. Dia masih memilih makanan mana yang akan dihidangkan di pernikahan Ken.


Baby mengangguk "Padahal gue pengen ngajak ke Bandung, nganterin undangannya Ken"


"Sory ya gak bisa" Manik menatap mata Baby yang berwarna coklat


Gadis itu hanya mengangguk "Next Time aja" ujarnya


**


Sebenarnya agak aneh kalau tiba tiba Baby muncul dihadapan Adry setelah enam tahun lebih mereka tidak berkomunikasi. Baby dengan Google map menyusuri alamat yang di berikan Ken padanya. Katanya Adry sudah pensiun dari jabatan CEO Sila, dia hanya menikmati dari uang saham yang jumlahnya lebih dari 10 triliun di Sila.


Berita pensiunnya Adry memang sudah didengar oleh Baby, tapi perempuan berambut pendek yang tengah menyetir mobil tidak tahu kalau Adry memilih Bandung sebagai tempat menikmati masa tuanya.


Drttt


Ponsel miliknya bergetar, dengan nama Vio sebagai si pemanggil beserta foto centilnya terpampang di layar. Baby memasang earphone, menekannya dan panggilan terhubung


"Lo kemana sih? Katanya mau maen ke rumah sakit gue?" Vio langsung menyerang dengan suara cempreng nya.


"Maaf Vio, gue lagi sibuk" Baby berhenti di perempatan jalan, dia mengetuk layar ponsel, dan berakhir memilih belok kiri.


"Iya gue tahu elo paling sibuk tapi masak sih gak bisa nyempetin waktu buat nemuin gue" kata Vio menggebu


"He he maaf" Baby hanya nyengir. "Next Time deh gue bakalan ngeluangin waktu buat liburan sama elo" imbuh Baby agar Vio tidak kecewa


"Keburu gue nikah kalo nungguin jadwal elo kosong" cibir Vio


"He he" Baby menjawabnya dengan cengiran "bdw udah dulu ya, gue lagi dijalan nih, mau ke rumah_" ucapannya tergantung, dia berhenti saat melihat Adry bersama wanita muda.


"Halo Beb" panggil Vio berulang ulang.


Wanita itu begitu muda, mungkin seumuran Baby dulu, rambutnya digerai panjang, dia tersenyum sambil menggandeng Adry, lelaki yang wajahnya sudah sedikit keriput. Baby menelan Saliva nya sendiri melihat pemandangan didepan.


"Vio, udah dulu ya" Baby buru buru mematikan.


Perempuan yang lebih muda dari Baby itu tersenyum ceria ketika berbincang dengan Adry, dan mereka memasuki gerbang rumah yang sama juga dengan suara tawa yang menggema.


Baby terdiam, menatap sayu Adry dan perempuan itu hingga hilang di balik pintu. Siapakah perempuan disebelah Adry? Apakah perempuan itu yang membuatnya bisa melupakan Baby?


Baby turun dari mobil, memasuki gerbang tanpa satpam, bangunan rumahnya sedikit lebih kecil dibandingkan rumah Adry yang di Jakarta, juga dipenuhi dengan bunga bunga di belakang rumah.


Baby berdiri di depan pintu, berniat mengetuk tapi diurungkan saat mendengar suara tawa yang begitu bahagia. Diletakkannya undangan pernikahan Ken didepan rumah Adry. Baby pergi tanpa mengetuk nya.


**


Hujan tampaknya mengguyur halaman rumah Adry, lelaki yang sudah dipenuhi dengan jenggot itu menatap rinai hujan dari jendela. Tatapannya jatuh pada mobil sedan warna hitam didepan rumahnya, sebuah mobil yang tampak ragu untuk pergi. Mobil itu dalam keadaan menyala tapi tidak berjalan, terus terparkir disana.


"Pa" Ara memanggil Adry dari belakang.


Perempuan berambut panjang dengan switer mendekati Adry.


Ara, sudah menginjak kelas dua SMP, dia berumur tiga belas tahun, wajahnya begitu cantik menurun dengan almarhum ibunya, melihat Adry yang suram Ara langsung merangkul lengan Adry untuk membawa lelaki itu duduk di kursi makan


"Ara udah nyiapin makan malam buat papa" kata Ara tersenyum hingga pupyeyes nya terlihat


Ara begitu pintar memasak, sejak kelas enam dia meminta Adry untuk mengajarinya memasak, lelaki yang sudah berumur lima puluh tahun didepannya memiliki waktu banyak setelah memilih pensiun dari pekerjaan.


Adry melahap makanan buatan putrinya, "Lusa papa mau ke perusahaan di Jakarta  kamu mau ikut?" Tanya Adry pada Ara.


Ara menggeleng "Tante Bunda masih di Belanda kan. Jadi gak bisa ketemu sama Tante Bunda" wajah Ara tampak murung tapi selanjutnya dia tersenyum ke Adry "Next Time pa. Lagi pula besok Ara ada Ujian di sekolahan"


Adry mengangguk "Next Time kita bakalan ketemu Tante Bunda" ujar Adry lirih menatap mangkuk supnya