First Love Duda

First Love Duda
Bali In Love



Baby memaksakan dirinya untuk bangun meskipun tubuh ringkih itu belum sepenuhnya sembuh. Dia berjalan sedikit menarik kakinya, seharusnya Bali menjadi tempat liburan menarik bukan malah menjadi tempat dia merasan sakit seperti ini.


Baby melihat arah dapur, sebuah mangkuk bubur yang belum tersentuh juga segelas susu putih. Ini pasti sarapan Adry yang belum dia santap sama sekali.


Adry keluar dari kamar mandi dengan mengeringkan rambut menggunakan handuk.


"Kenapa keluar? Kaki mu belum sembuh" ucap Adry sambil membuka kulkas


Lelaki berumur itu mengambil sebotol Aqua lalu meneguknya, diamati wajah Baby yang masih terfokus pada Adry. Lelaki itu sedikit menaikan alis sambil bersidekap


"Oh ya, yang gantiin gue semalam siapa? Jangan bilang elo ya Om, Lo mesum banget sih" cerocos Baby sambil menutupi area dada


Adry mendegus lalu meletakkan botol Aqua kedalam kulkas


"Kamu kira saya tinggal di vila ini tanpa pembantu?" Tanyanya yang seperti menjawab


Adry membuka pintu yang menghubungkan kolam, sehingga mentari yang sedang gembira gembiranya menyapa orang itu mengenai permukaan wajah Adry. Memberikan vitamin pagi bagi Duda yang sedang di ambang kebimbangan. Mungkin dia juga berharap bahwa mentari bisa memberikan jalan terang untuk dirinya.


"Jam berapa pulangnya om?" Tanya Baby sambil memeluk Adry dari belakang.


Gadis itu rasanya semakin berani setelah pengakuannya semalam. Dan Adry, seperti tidak keberatan, dia masih berdiri menghalang sinar matahari untuk mengenai tubuh Baby. Tidak menolak atau menerimanya, karena lelaki itu masih berdiri dengan tegap, seolah Baby adalah benda asing yang baru saja menempel di tubuhnya.


Merasa tidak mendapatkan respon, pelukan Baby semakin melemas. Dan dia menjauhkan tubuhnya dari Adry, lalu berdiri disebelah Adry dengan perasaan campur aduk.


"Oh ya, nanti saya ingin mampir ke suatu tempat , kamu tidak keberatan?" Tanya Adry akhirnya menatap wajah Baby.


Baby hanya mengangguk tanpa menanggapi lebih, dan Adry sudah kembali masuk kedalam vila. Rasanya Baby seperti di gantungkan dan tidak diberi kepastian. Adry seperti menerima kedekatan mereka, seperti menerima perasaan Baby, namun dia juga seperti menolak dengan tidak meresponnya sama sekali. Salahkah dengan perasannya? Atau salahkan Baby menjabarkan situasi saat ini?


"Kamu gak mandi?" Tanya Adry duduk di meja makan.


Baby meliriknya sekilas, lelaki itu tengah memakan bubur buatannya sendiri, juga memainkan ponsel yang tidak tahu ada sesuatu apa yang bisa membuat Adry  sefokus itu.


"Nanti" katanya lemas


"Mau pergi ke pantai?"


Mendengar penawaran Adry yang terdengar seperti memberikan saham perusahannya membuat gadis berumur tujuh belas itu menoleh cepat. Hampir melompat kalau dia tidak segera merasakan nyeri di tumit.


"Boleh" kata Baby tersenyum cerah


"Mandi, saya tunggu disini" titah Adry kembali menyantap buburnya


Baby buru buru menuju kamar Adry, membasuh tubuhnya dan keluar dengan lilitan handuk. Yah, Baby lupa dia tidak memiliki sehelai pakaian sama sekali, pakaian yang dia gunakan pagi tadi itu adalah kemeja Adry yang kebesaran.


"Om beliin gue baju" Baby mengeluarkan kepala dari pintu, mengintip Adry yang sudah tidak ada di meja makan.


"Ooooooommmmmm" teriak Baby menggema


Tidak ada sahutan dari lelaki itu, tidak mungkin kan lelaki itu meninggalkan Baby pulang ke Jakarta . Atau meninggalkan Baby karena dia tidak akan membalas perasaannya.


"Oooooommm" Baby berteriak kencang, bibirnya bergetar.


"Oooomm" suara itu makin melemah, jantung Baby berdegup kencang, tidak mungkin kan lelaki itu akan meninggalkannya begini. Bahkan Baby dana Adry belum memulai hubungan apapun.


Baby terjatuh lemas dengan tetesab air mata . Dia tidak tahu kemana Baby yang tegar dulu, sekarang gadis itu menjadi semakin lemas.


Klik


Saat mendengar suara mobil terkunci dari luar, Baby langsung bangkit, namun kaki lemahnya membuat ia terjatuh kembali.


"Baby saya belikan kamu baju" suara berat Adry setidaknya membuat Baby langsung menghapus air matanya.


Dia menyembunyikan tangis memalukan dari Adry.


"Tarok di situ" ucapnya sumbang


"Kamu menangis?" Adry mendekati pintu, meletakkan paperbag didepan pintu.


Dia menunggu gadis itu keluar, namun Baby tidak kunjung keluar. Hanya terdengar bunyi seperti seseorang mengeluarkan ingus.


"Tinggalin gue Om, gue mau ganti" katanya kembali dengan normal


Setidaknya Adry bisa bernafas lega, gadis itu tidak akan menangis lagi. Rasanya Adry selalu membenci kala melihat seorang perempuan menangis. Adry berjalan ke ruang tamu, duduk disana sambil memainkan ponsel. Dia menatap wajah mendiang istrinya dari ponsel. kilatan memori saat istrinya menangis di depan ranjang, muncul seketika.


Bayangan itu membuat nafas Adry sesak, jantung berdebar cepat. Rasanya Adry masih bisa merasakan bagaimana gemetarnya dia mengulurkan tisu dan meminta mendiang istrinya untuk berhenti menangisi Baskara yang sudah bahagia dengan Rindu.


Kalau mengingat akan hal hal itu, Adry menjadi kesal sendiri. Dia mengusap wajahnya secara kasar, saat mendengar suara pintu digeser, Adry berjalan mendekati Baby.


"Mau saya gendong?" Tawarnya



Baby tersenyum, dia begitu cantik meski hanya di balut kemeja kotak kotak dan switer biasa. Rasanya pepatah "Bukan pakaian yang menjadikanmu Permata namun dirimu sendiri yang menjadikan pakaian berharga" itu benar. Pakaian sederhana terlihat begitu menawan kalau di kenakan Baby.


"Gak usah" tolak Baby sambil bersemu merah


"Kamu demam lagi?" Tanya Adry hampir meletakkan punggung tangan di dahi Baby sebelum Baby menghindarinya.


"Gak gak, gu gue, gue eee ini tadi pakek blas on" dustanya terbata


Adry mengulurkan lengan tangannya untuk menjadi tumpangan selama Baby berjalan. Gadis itu tersenyum senang, diperlakukan sesederhana itu mampu menjadikan Baby seperti tuan putri. Baby berpegangan pada lengan Adry, berjalan menyeret kakinya yang bengkak.


"Om, kalau ke pantai pakai baju kotak kotak diketawain orang orang gak ya?" Tanya Baby


Adry sedikit memelankan langkahnya, dia hanya berdehem sejenak


"Kemungkinan kamu akan dilihati orang orang" jawab Adry sekenanya


"Enak aja, mereka ngeliatin gue karena gue cantik bdw"


Adry membukakan pintu mobil dan membimbing Baby naik ke kursi penumpang. Menunggu Adry memutari mobil dan duduk disebelah Baby .


"Om, Ara dirumah sama siapa?"


Adry tidak menjawab langsung pertanyaan Baby karena lelaki itu tengah memutarkan mobil keluar pekarangan vila. Baru setelah mereka berada di jalan raya, Adry menjawab dengan lirih.


"Neneknya "


"Nenek Ara masih hidup?"


Mulut Baby sudah terdengar pedas seperti biasa, memangnya dia kira anggota keluarga Adry sudah meninggal semua apa. Menyadari pertanyaannya begitu tidak mengenakan , Baby buru buru membenarkan.


"Maksudnya gini Om, kan Om udah tua jadi siapa tahu nenek Kakek Ara udah meninggal semua" ujarnya membetulkan yang terdengar mempertegas pertanyaan Baby untuk terdengar pedas


Adry menarik nafas dan menghembuskan dengan kasar. Harus sabar sabar kalau dekat dengan Baby.


"Apa Saya setua itu sampai kamu ngira sanak saudara saya udah gak ada?" Serang Adry balik


"Lah, Om itu udah mau kepala lima, masak gak sadar sih kalau udah tua, pakek nanya lagi" cerocos Baby


Adry mendegus sekali lagi "kamu pernah dengar ada gadis dimutilasi dibali"


Ketika Adry mengucapkan kata itu spontan Baby memukul lengan Adry hingga lelaki berumur itu menggaduh kesakitan.


"Kira kira kalau mukul orang" cicit Adry


"Kenapa, takut kalau tulang tulang keropos Om itu patah semua?" Baby mendongakkan dagunya


"Saya belum setua itu" nada Adry menarik


"Om sering sering ngaca dong, kalau Om itu udah tua" balas Baby tak kalah Menaik


"Tua tua begini kamu naksir saya kan? "


Kirk kirik


Suasana langsung menjadi canggung. Baik Baby dan Adry hanya saling melirik tanpa membalas kalimat  lagi.