
Manik mengantarkan Baby sampai di lobi hotel, katanya dia tidak menginap di hotel ini, Manik menginap di vila milik keluarganya, wajar saja keluarga kaya memang selalu memiliki banyak vila di berbagai kota.
Baby? Ah keluarga Baby memang kaya tapi Baskara dan Rindu tidak pernah membeli vila khusus liburan keluarga. Dulu Baskara punya vila di Batam, namun dijual karena Baby kerap kabur kesana.
Baby dan Manik sudah berpisah sejak lima menit lalu, dan sekarang dia berjalan menyusuri lorong hotel.
"Beb Beb tungguin" suara itu berasal dari arah belakang, Thea dengan senyuman manisnya langsung menggandeng tangan Baby.
"Apa?" Tanya Baby cuek
"Dari mana sih elo?" Thea menggandeng lengan Baby dengan kuat
"Jalan jalan sama temen" ucap Baby berjalan ke kamarnya
Thea masih setia mengekori Baby dari belakang, bahkan ikut masuk ke kamar Baby dan membaringkan tubuhnya di kasur.
"Oh ya lo tadi dicariin pak Adry" ucap Thea
Mendengar ucapan Thea, tangan Baby berhenti melepaskan celana pendeknya, bahkan mengurungkan niat untuk melepaskan celana dan memasangkan kembali kancing celananya.
"Seriusan Lo?" Tanya Baby memutar badan menatap Thea.
Yang ditatap justru memainkan ponsel sambil tertawa tanpa menggubris pertanyaan Baby. Baby menatap tajam Thea yang masih cekikikan dengan ponselnya.
"The, gue nanya beneran nih" kata Baby geram
"Eh apa?" Akhirnya Thea menurunkan ponsel dari tatapan matanya
Baby memutar mata sambil berdecak kesal
"Beneran pak Adry nanyain gue?" Ulang Baby
"Iya. Tadi pas gue buru buru matiin telfon, pak Adry lagi kearah gue" cerita Thea
"Maksudnya nanyain gimana?" Baby duduk di sebelah Thea
"Katanya, ngeliat Baby gak, gitu" Thea kembali menatap ponselnya.
"Dia ngapain kesini?"
"Ya nyiapin acara pembukaan cabang Sila lah, emangnya ngapain lagi kesini" jawab Thea yang justru membuat Baby kesal.
Baby langsung keluar kamar hotel dan berjalan ke arah lobi. Dia menekan lift berulang ulang karena kesal, apalagi jawaban dari Thea tentang alasan Adry kesini. Baby berharap bahwa alasan Adry ke Bali adalah untuk menemuinya.
Ting
Lift terbuka dan Baby setengah terkejut ketika orang yang berada didalam lift adalah Adry. Baby terpaku, diam membisu tanpa bisa bergerak sedikitpun, dia menatap Adry begitupun dengan Adry yang juga menatap nya. Adry berdiri dengan switer hitam juga celana hitam yang membuatnya terlihat manly.
"Tidak jadi masuk?" Tanya Adry yang tetap berdiri dengan dingin
Baby langsung masuk kedalam lift dan berdiri disebelah Adry dengan gugup. Rasa jantungnya langsung berdetak dengan keras begitu melihat tampilan Om Om disebelahnya, kenapa orang yang sudah berkepala empat masih setampan Adry.
"Dari mana saja kamu?" Tanya Adry yang terdengar seperti kekasih posesif
"Kamar" jawab Baby tidak tahu arah pertanyaan Adry.
Adry bedecak amat keras karena wajahnya juga terlihat kesal dengan jawaban Baby barusan.
"Maksud saya, kamu tadi siang kemana?" Ulang Adry dengan nada menaik
"Kok Om bentak saya?" Teriak Baby tak kalah Menaik
"Kapan saya bentak kamu?" Ulang Adry masih dengan nada suara seperti tadi
"Barusan"
Adry menghela nafas dengan kasar, lalu menghadap kearah Baby, dia menatap wajah Baby dengan teduh, yang ditatap justu ketakutan sambil melangkah mundur
"Kamu tadi pergi dengan siapa?" Ulang Adry melemah
Ting
Lift terbuka lebar, dan Baby belum memberikan jawaban dengan siapa dia pergi. Ketika di loby Baby melihat Manik berdiri dengan seorang lelaki, sepertinya dia bertemu dengan seorang photograper terlihat dengan lelaki yang sedang berbicara dengan Manik membawa sebuah kamera.
"Eh itu Manik" kata Baby spontan yang membuat alis Adry terangkat
"Kak Manik" Baby melambaikan tangan berulang ulang kearah Manik.
Dan melihat perubahan ekspresi dari Baby, Adry jadi kesal sendiri namun dia tidak ingin beranjak dari sini. Masih berdiri setia disebelah Baby.
"Eh Beb" Manik berjalan kearah Baby setelah mengucapkan sebuah kalimat yang membuat lawan bicara Manik pergi.
"Ketemu lagi" kata Manik terdengar menjengkelkan untuk Adry.
"Eh kenalin ini pak Adry, CEO perusahaan Sila" ujar Baby memperkenalkan.
"Manik" kata Manik menjabat tangan Adry.
Adry menerima sebagai bentuk sopan santun, namun dia tidak benar benar menyukai perkenalan mereka. Kalau bukan karena Baby, mungkin Manik akan pergi begitu saja. Namun ada yang menahan Adry untuk tetap tinggal disini, yaitu gadis kecil yang tersenyum lebar disebelahnya.
"Nanti malam kosong gak, gue pengen ngajak pergi___" belum selesai Manik berbicara Adry langsung menyela seenaknya
"Baby ada jadwal pemotretan nanti malam" potong Adry dingin
Baby langsung menoleh begitu mendengar jadwal dadakan yang dikatakan Adry barusan, seingatnya jadwal pemotretan akan dilakukan esok, bukan hari ini.
Manik tidak menjawab, dia menatap mata Baby seolah meminta penjelasan dari ucapan Adry barusan. Tentu saja Baby yang ditatap seperti itu hanya bisa diam melongo.
"Sibuk ya Beb?" Tanya Manik terdengar ragu
"Eh, emangnya gue ada jadwal pemotretan Om?" Tanya Baby setelah terdiam cukup lama
"Ya, dan sekarang kamu harus ikut saya untuk mengurus persiapan kantor cabang Sila" ujar Adry seenaknya
"Apa?" Baby berteriak kencang, hingga beberapa orang yang melintas disana menoleh karena kaget dengan nada tinggi Baby
"Kok dadakan" kata Baby memelankan suaranya begitu dia sadar bahwa suaranya sangat keras.
Adry menarik nafas dengan canggung, kini dia menyesali ucapannya mengenai Baby barusan, kenapa dia mengatakan kalimat sekonyol itu?. Kenapa dia harus menghalang halangi Baby pergi dengan lelaki didepannya ini?
"Saya pergi" pamit Adry begitu saja yang meninggalkan kerutan di dahi Baby.
"Kak, bye nanti lagi Lanjut via WhatsApp" kata Baby langsung berjalan mengekori Adry dari belakang.
Lelaki itu, bejalan sangat jauh, tapi Baby bisa menyusulnya dan merentangkan tangan dihadapan Adry.
"Ada apa?" Tanya Adry terdengar berat dan dingin
"Jelasin maksud dari ucapan Om barusan?" Tanya Baby serius
Adry berdehem singkat "maksud yang mana?" Tanya Adry berpura pura bodoh
"Kenapa gue dapet tugas ngurus persiapan Sila?, Om kira gue pekerja sukarelawan apa?, gak bisa gitu dong Om, Om harus gaji gue lebih dari gaji model model yang lainnya, apalagi nanti gue ketambahan jadwal pemotretan, pokoknya gue mau penambahan gaji titik" cerocos Baby panjang kali lebar
Mendengar itu Adry berdecak takjup dengan Baby, dia kira Baby akan bertanya mengapa Adry bisa menyela ucapan Manik begitu saja, dan bertanya mengenai perasaannya, namun diluar dugaan yang Baby fikirkan hanya uang uang dan uang.
Adry memasukan tangannya ke dalam saku lalu tersenyum.
"Nanti saya tambahkan uang gaji kamu, tapi tugas kamu bukan mengurus Sila" ujar Adry menggoda Baby
"Apa?" Tanya Baby sambil melipatkan dahi
"Cuci piring" kata Adry berjalan melewati Baby sambil tersenyum menang
"Ih enak aja, gue penerus perusahan Araba, mana mungkin gue cuci piring" teriak Baby yang tidak lagi di gubris oleh Adry.