First Love Duda

First Love Duda
Salahkah Jatuh cinta



Adry meremas kaleng bir dan melemparnya ke ujung kolam. Ditatapanya air yang berliuk liuk, dengan gelombang kecil. Adry menghela nafas, menatap langit biru bertaburkan bintang, amat indah andai hatinya tidak patah seperti ini.


Apakah jatuh cinta memang selalu salah?. Apakah ingin dicinta seseorang yang  kita cinta selalu sesulit ini ?, kenapa harus Baby dari bermilyar manusia di muka bumi, kenapa tidak Rike yang jelas jelas orang tuanya menerima status Adry sebagai Duda, kenapa tidak orang lain yang jarak usianya tidak sejauh itu, yang bukan seorang ABG juga anak dari sahabatnya.


Adry menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangan, nafas nya tidak beraturan. langit Malam yang indah perlahan kehilangan keindahannya juga bintang bintang bercahaya sudah meredup. bintang tadi digantikan Rintik rintik hujan  yang perlahan turun, angin yang semula tenang berhembus terburu buru. Rambut Adry bertebrangan diterpa angin. Hujan langsung turun dengan serentak tanpa aba aba membasahi baju Adry , lelaki itu dengan lemas berpindah kedalam rumah. Menatap lukisan pemandangan yang tergantung di dinding.


Tatapannya memang kesitu tapi fikirannya tidak kesana. Adry memikirkan mengenai perasaannya pada Baby, berusaha menjabarkannya sebaik dan sebijak mungkin.


Hujan diluar, semakin membuat fikiran Adry kalut, ditambah sebanyak apapun Adry menjabarkannya, jawab hatinya tetap mengenai dia mencintai Baby sebanyak mungkin, ingin kalau gadis itu ada di pandangannya , juga gadis itulah alasan Adry selalu datang ke studio foto ketika dia tidak ada kegiatan disana. Tapi kenapa harus gadis itu anak sahabatnya? Mengapa Baskara yang selalu menjadi alasan dia patah hati?.


Tidak puaskah Tuhan membuatnya menderita hanya karena Baskara?


Brak brak brak


Suara pintu di gedor membuat Adry menoleh, siapa orang bertamu semalam dan ditengah hujan begini. Adry berjalan dan membukanya, setengah terkejut kala melihat tubuh Baby basah kuyup ditengah hujan, bibirnya menggigil, kaki nya bengkak membulat.


"Baby, apa yang kamu lakukan?"


Baby menatap Adry dengan kedinginan, wajahnya pucat, bibirnya terus bergetar.


"Gue udah berusaha nyari jawaban, tapi percuma om, jawabannya tetep gue suka sama elo, gak perduli apapun" kata Baby dengan gemetar


"Gue gak perduli sekalipun Om itu seorang duda, atau Om punya anak satu, gue gak pernah peduli Om" bibir Baby bergetar hebat, terlebih karena saat ini dia menangis ditengah hujan


Adry masih berdiri , menggeretakkan giginya karena kebingungan. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa saat ini, menerimanya atau mengakui kalau dia juga memiliki perasaan yang sama.


"Sebanyak apapun otak gue nolak om, sebanyak itu juga Om selalu buat gue gila. Gue gak perduli sekalipun pun papa gak ngerestuin hubungan ini, gue gak pernah perduli Om" teriak Baby bersatu dengan hujan


"Biar gue buat kesalahan ini nambah parah" kata Baby bergerak maju ke dapan.


Baby  semakin mempercepat langkahnya, membuat Adry hanya mampu terdiam. Dilingkarkan tangan Baby di leher Adry sambil berjinjit, perlahan namun pasti Baby menempelkan bibirnya ke bibir Adry.


Semua terjadi secepat itu mampu membuat jantung Adry berhenti berdetak, mampu membuat nafas Baby berhenti. Tidak lama ciuman itu terjadi karena selanjutnya Baby terjatuh ke pelukan Adry.


"Baby, Baby buka mata mu" pekik Adry mengguncangkan tubuhnya,


Tidak ada reaksi yang diberikan Baby pada Adry, tubuhnya hanya diam saja terlebih tubuh Baby benar benar terasa dingin, bibirnya pucat, wajahnya juga seperti kehabisan darah. Adry membopong tubuh Baby untuk masuk kedalam.


**


Baby membuka matanya perlahan, sedikit berat di kepala, rasanya kepalanya benar benar terasa pusing, namun saat meliat Adry duduk disebelahnya dengan wajah menunduk, pusingnya langsung hilang digantikan rasa kantuk yang hebat.


Adry duduk menunggui Baby sedari tadi, sudah ada lima jam Baby tidak sadarkan diri, kata dokter yang memeriksa Baby tadi, gadis itu hanya terkena demam, mungkin dia akan sadar namun saat matanya terbuka dia akan merasakan kantuk yang hebat.


Sejak Baby jatuh pingsan di depan vilanya, perasaan Adry jadi tidak tenang. Adry benar benar kacau, takut kehilangan seseorang yang dia anggap berarti lagi.


"Jangan lakukan ini hanya untuk saya" ujar Adry lirih sambil memegangi tangan Baby.


**


Baby membuka mata perlahan, ditatapanya Adry sudah tidak ada disebelahnya, digantikan aroma bubur yang begitu tercium menggoda, ditambah aroma bawang merah digoreng, perut Baby perlahan berbunyi namun dia tidak bangkit, masih tertidur karena kepalanya terasa pusing.


Adry datang dengan nampan berisikan mangkuk putih, dia hanya menggunakan kaos tipis warna putih, rambutnya tersisir rapi.


"Sudah bangun?" sapanya


Adry membimbing Baby untuk mendudukan tubuhnya. Disibak anak anak rambut yang menghalangi wajah Baby, disembunyikan semua rambut itu kebelakang telinga.


Baby tidak bereaksi apa apa, menatap wajah Adry dengan mengingat kejadian semalam. Saat dia menyadari kalau semalam baby mencium Adry secara bruntal, perasaan malu menyeruak dengan tiba tiba.


"Semalam__"ucapan Adry terhenti saat Baby langsung kembali ke sifat semulanya


"Semalam gue beneran, gue, gue minta maaf bagian gue nyium om tiba tiba" kata Baby menyembunyikan semburat kemerahannya.


Adry tersenyum tipis melihat sikap Baby seperti itu. Sangat lucu apalagi semburat merah yang sengaja di tutupi Baby dengan selimut. Adry mengacak rambut Baby dan itu membuat Baby langsung berantakan seketika. Maksudnya bukan hati Baby yang berantakan melainkan perasannya yang terombak ambik seketika.


"Silahkan sarapan, saya tinggal pergi mandi" ucap Adry hendak berlalu namun berhenti saat mendengar suara manja Baby


"Suapi" kata Baby sambil menegakkan posisi duduknya


Adry diam diam tersenyum, sikap yang begitu sama dengan mendiang istrinya. Adry menoleh Baby, lalu mengangkat alisnya.


"Yang terkilir hanya kaki kamu kan?" Tanyanya.


Baby diam sejenak , mengedikkan bahu lalu menggaruk rambutnya.


"Semalam pas gue jatuh, tangan gue terkilir. Aw sakit Om" dia memegang tangan yang diyakini sakit.


Adry tersenyum sekilas tapi mampu meruntuhkan hati Baby hanya dengan melihatnya saja. Adry itu bagaikan manusia sedingin es namun ada kehangatan didalamnya, dan perlahan Baby merasakan hari ini bagaimana dia dengan telaten merawatnya.


Adry mendekat, duduk di depan Baby dan menyendokkan bubur. Melihat perlakuan Adry saat mengaduk dan memainkan sendok bubur, Baby tertawa cekikikan pelan.


"Kamu menertawakan saya?" Tanya Adry


Baby menggeleng "kelamaan Om, gue keburu mati kelaparan kalau Om nyendoknya kayak miss Indonesia gitu" nada Baby Menaik


Adry memelototinya dengan tajam, lalu menyuapi Baby sedikit demi sedikit.


"Sore nanti saya pulang ke Jakarta"ucap Adry ditengah dia menyuapi Baby.


"Gue ikut" pinta Baby spontan


"Kamu tidak ada jadwal pemotretan lagi?" Tanya Adry


Baby menggeleng "gak ada Om, kalau pun ada bisa dibunuh bokap gue" ujarnya


Adry menyeka bekas bubur di ujung bibir Baby, lalu menyuapinya kembali dengan telaten.


"Kenapa? Kamu tidak ijin sama papa mu kalau pemotretan?"


Baby memutar matanya setelah menggeleng berulang ulang. Mungkin ada tiga kali kalau Adry tidak menyuapinya dia tidak berhenti menggeleng


"Bisa mati kalau gue ngomong jadi model" Baby bergidik ngeri.


Tidak terasa ditengah obrolan yang singkat, semangkuk bubur dihabiskan Baby tanpa sisa, atau memang watak gadis itu yang selalu sebruntal itu dengan makanan.


"Nanti sore gue ikut pulang ya Om?" pinta Baby lirih


"Boleh. Tapi tunggu panas mu turun" ucap Adry membawa mangkuk beserta Nampan keluar.


Sehangat itu ternyata lelaki yang sedingin es, hampir membekukan seluruh perusahaan dengan sikapnya. Baby menarik nafas, entah bersyukur atau sedang mempertanyakan jawaban dari pengakuannya semalam. Hanya saja Baby sedikit bersyukur kalau pengakuannya membuat Adry sehangat itu tidak sedingin dan menjauhinya.