First Love Duda

First Love Duda
Duda Keren



Meskipun dongkol setengah mati, Baby harus meninggalkan Sila, dia juga tidak mau marah marah diruangan Adry dan membuat harga dirinya runtuh. Sampai dirumah pun Baby hanya uring uringan, dia melampiaskan segala kekesalannya pada Ken yang sedari tadi hanya duduk menonton televisi.


"Lo hidup kalo cuman nontonin iklan mending mati aja Ken" teriak Baby sambil makan cemilannya.


Ken melirik Baby sekilas lalu menatap iklan yang sedang ditayangkan di TV 3D nya.


"Lo kalau pengen nonton sinetron alay mending dikamar elo" jawab Ken santai


Baby berdecak, merebut remote tv dengan kasar lalu menekan asal saluran televisi. Ken yang melihat itu kontak melempar bantal ke wajah Baby.


"Perasaan tv dirumah gak cuman satu" komentar Rindu yang datang dengan senampan kue.


"Dikamar kalian kan juga ada tv" imbuh Rindu


Baby tidak menanggapi Rindu, dia cemberut sedari tadi menatap televisi yang sedang menayangkan sinetron. Ken juga enggan berkomentar dia menyomot kue dan di bawanya ke kamar. Belum ada lima langkah dari Ken pergi, Baby bersuara lantang


"Ken, gue denger denger elo gay ya?" Saat Baby menyelesaikan kalimatnya, Ken lantas berbalik dan berjalan kearah Baby.


"Maksud Lo apa?" Tanyanya dengan dingin


Baby menatap Ken dari posisi duduk, sedangkan Ken yang tinggi jangkung tengah berdiri dengan raut wajah datar.


"Iya, elo gay kan?" tuding Baby asal


"Jangan asal ngomong ya elo" bentak Ken


Rindu yang melihat perdebatan keduanya, lantas berdiri dan memisahkan. meski tubuh Rindu yang kecil ditelan kedua anaknya, namun suara berat Rindu seakan membungkam Ken dan Baby.


"Sudah cukup" bentak Rindu tegas


Ken melirik Baby tajam, mungkin berniat menghabisi nyawa adiknya. Dan Baby pun juga melakukan hal yang sama, dia seakan melampiaskan kekesalannya pada Ken.


Baskara membuka pintu dan terkejut saat melihat kedua anaknya berkumpul di ruang televisi, biasanya jam segini mereka mengurung diri di kamar masing masing.


"Tumben" suara Baskara lirih diakhir kalimat begitu menyadari ekspresi keduanya


"Berantem lagi?" Tanya baskara mendekati keduanya


"Lo punya mulut kan di sekolahin, kalo ngomong jangan kayak orang gak pernah makan bangku sekolahan" Ken melanjutkan perdebatan yang sempat tertunda


Saat mendengar ucapan Ken. Baby beringas marah. Dia kira seseorang yang terpelajar semuanya harus berbicara seperti Ken, bahkan Ken yang sama sama terpelajar saja masih berkata seenak jidatnya sendiri.


"Kenapa elo marah? Berarti berita kalau elo gay itu emang bener!" Baby menaikan kalimatnya


"Lo" Ken menunjuk dengan jari tepat di wajah Baby, perempuan itu tidak takut akan kemarahan kakaknya, justru memasang tampang congkak.


"Kalo elo bukan adek gue, udah gue bejek bejek Lo" Ken menekan kalimatnya dengan gemas.


"Eh udah" lerai Baskara


Rindu diam saja melihat kedua anaknya yang tengah adu mulut. Memang pemandangan didepannya ini lazim ditemui Baskara ataupun Rindu, tapi mendengar ucapan Baby mengenai Ken , Rindu langsung bungkam. Apa yang dikatakan Baby tadi terdengar masuk akal untuk Rindu.


"Ken" panggil Rindu dengan suara keibuan.


Ken menoleh tapi tidak menjawab.


"Apa yang dibilang adek mu itu bener?" Tanya Rindu memastikan


"Maa" Ken berniat memprotes Rindu yang mudah terprovokasi oleh ucapan Baby , tapi tidak jadi karena Baby langsung menyambarnya.


"Benerkan ma, coba deh Mama sama papa pikirin baik baik, selama ini pernah gak sih kalian denger Ken deket sama cewek?"


Ken mendegus, menatap ekspresi orang tuanya yang ikut menuding Ken.


"Lo gila ya Beb, udah gak waras elo nuduh kakak elo sendiri kayak gitu?" Ken naik pitam


"Ken" kali ini Baskara ambil suara. "Kalau yang dikatakan adek mu itu gak bener, seharusnya kamu gak perlu marah" kata Baskara menengahi


"Pa, gimana Ken gak marah kalo denger omongan kayak gitu" jangkung Ken bergerak "Ken masih normal pa, seratus persen" ucapnya


"Heleh, normal dari mana, elo kemana mana sama Yoshua terus, gak pernah tuh gue liat elo deket sama cewek" ujar Baby memprovokasi.


"Lo, punya mulut dijaga" Ken menunjuk nujuk Baby.


"Sudah" bentak Baskara


"Baby, masuk kamar" titah Baskara dengan kalimat tegas tak bisa ditolak "Ken ikut Papa" lanjutnya.


Baby berjalan berpisah dengan Ken, mereka bertatapan dengan tajam, mungkin saling mengumpat dalam hati.


Sampai dikamar Baby merebahkan tubuhnya, bayangan mengenai kedatangan Rike di kantor Adry terlintas kembali, tangan Baby menggenggam dengan kuat. Baby mengambil ponsel dan melihat pesan pesan yang tak kunjung mendapatkan balasan dari Adry, hanya dibacanya saja.


"Sialan ni oom oom" maki Baby


Baby langsung menghubungi Adry, dua nada tersambung terdengar, dan selanjutnya adalah tanda getar sebagai penanda terangkat.


"Hal__"


"Om, Om tadi kan udah janji sama gue kalo mau balas chat gue, sekarang mana, semua chat yang gue kirim ke elo cuman di read, Om kira gue ngirim chat itu cuman buat jadi bahan bacaan" cerocos Baby dengan nafas memburu.


Terdengar tarikan nafas dari ujung seberang, dan juga bunyi klakson. Adry sedang di jalan raya saat ini, mungkin tengah menepi hanya untuk mengangkat panggilan Baby.


Akhirnya suara Baby melemah seiring dia merasa bersalah karena telah memaki maki Adry seperti itu.


"Maaf Om" kata Baby lirih "gue cuman__"


"Kamu dimana sekarang?" Tanya Adry


"Di kamar" jawab baby bingung


"Keluar, saya ada di depan gerbang rumah kamu, saya tunggu lima menit, kalau kamu gak keluar saya pergi"


Dan panggilan langsung terputus. Baby dengan cepat keluar kamarnya, menuruni anak tangga dengan bruntal. Saat bertemu dengan Rindu, Baby berteriak kencang.


"Ma ngambil pesenan goofood" teriaknya


Baby menyusuri halaman rumah tergesa gesa, begitu dia didepan gerbang, suara nyaring nya mampu membangunkan satpam rumah. Dan ketika gerbang hitam perlahan terbuka Baby meneruskan larinya. Dia langsung masuk kedalam sedang hitam yang terparkir di depan rumah. Menatap Adry sambil mengatur nafas. Tangan Adry mengusap rambut Baby halus


"Atur nafasmu " titah Adry


"Om ngapain disini?" Baby tersenyum saat mengatakan kalimat itu.


"Saya?" Ulang Adry . Lelaki itu mengambil sesuatu yang dia letakkan di bangku belakang, dan memberikannya kepada Baby.


"Saya belikan kamu kue" Adry menyodorkan kotak kue kearah Baby.


Gadis itu menerimanya, membuka perlahan dan tersenyum cerah. Kue rainbow bertaburkan coklat. Juga ada tanda hati yang membuat senyum Baby bertambah mengembang.


"Suka?" Tanya Adry menyandarkan tangannya di sandaran kursi yang diduduki Baby. Gadis muda itu mengangguk berulang ulang, menatap mata Adry dengan cerah.


"Kamu kenapa marah marah sama saya?" Tanya Adry


"Abis Om sih gak bales chat gue" wajah Baby berubah murung


"Kerjaan saya banyak, bukan kayak kamu yang selalu bermain ponsel" Adry melipat tangannya sebagai bantal, menatap jalanan yang padat


"Oh ya Om, Rike tadi ngapain ke kantor?" Tanya Baby mengintrogasi


"Rike?" Adry menarik tangannya dari kepala, kali ini tangan itu diletakkan distir mobil.


"Dia ngundang saya buat makan malam di rumahnya"


Baby berdecak, ikut menatap arah lurus yang penuh mobil berlalu lalang.


"Kamu mau ikut?" Tawar Adry


Mendengar itu, wajah cemberut tadi perlahan lahan kembali cerah. Secepat itu saat Adry mengatakan kalimat sederhana


"Emangnya boleh?"


"Kenapa enggak, lagi pula saya harus ngajak Ara, kasihan dia gak ada temannya" Adry menarik nafas sebentar "dan juga acara makan seperti ini cuman membahas bisnis"


"Kapan acaranya?" Tanya Baby bersemangat


Adry mengelus rambut Baby sambil tersenyum, dilihat seperti ini gadis itu amat sangat cantik tanpa polesan. Kenapa Baby selalu menggunakan polesan saat sekolah, mengherankan.


"Nanti saya kabari" kata Adry , lelaki berjas hitam itu melirik arlojinya "sudah malam, nanti dicari papa mu, sana masuk"


Indahnya menjalin hubungan dengan Om Om, tidak perlu gaya alay seperti yang pernah Baby lakukan. Adry dengan kesederhanaan nya pun telah menjadikan Baby Putri di istana yang Adry ciptakan. Perlahan mobil sedan itu meninggalkan pekarangan rumahnya, meninggalkan kerinduan yang sudah antri di depan hati Baby