
Malam ini, seperti yang sudah direncanakan jauh jauh hari. Keluarga Araba akan mendatangi pembukaan restoran megah milik keluarga Alan. Sebenarnya Baby enggan pergi, buktinya dia hanya mondar mandir didepan walk in closet untuk memilih baju.
"Males banget sih gue kesana, ketemu Lydia " gerutunya lirih.
"Beby, buruan sayang kita bisa telat" teriak Rindu dari bawah
Buru buru Baby merias wajahnya, menggunakan dres yang manis. Dia turun, tersenyum kepada Rindu dan Baskara yang sudah menunggu.
"Siput gak selelet elo kali Beb" komentar Ken pedas
Mendengar itu Baby langsung merubah wajahnya menjadi keesal, sangking kesalnya dia hampir memukul Ken dengan sepatu hells nya.
**
Pesta pembukaan bisnis baru milik keluarga Alan disambut dengan meriah. Banyak pebisnis-pebisnis hebat disini, Baby menyalami Alan juga istrinya. Tapi dia langsung berjalan lurus begitu menatap Lydia yang berdiri disebelah ibunya.
"Amit-amit gue salaman sama demit kayak dia" kata Baby memaki Lydia dengan mengatakan bawa Lydia demit/setan
Rindu sudah bergabung dengan ibu-ibu yang lain, sedangkan Ken entahlah lelaki itu kemana.
"Gue paling males kalo pesta modelan kayak gini" Baby mengambil cake diatas meja
"Emm, enak juga" katanya lirih lalu memakan roti lagi.
"Tante bunda"
Ujung gaun Baby merasa ditarik seseorang, Baby menoleh, menatap Ara yang berdiri manis.
"Eh elo" rasanya mood Baby langsung berubah menyenangkan saat bertemu Ara, seperti dia bertemu temannya.
"Kesini sama siapa?" Tanya Baby,
"Sama papa" Ara tersenyum
Sedangkan mata Baby, sudah menjelajahi sekitar mencari Adry yang entah kemana. Pada saat dia menatap dimana posisi papanya berada disana dia melihat Adry tengah berbincang serius bersama Baskara, Alan dan Pandu.
"Oh, bokap Lo lagi ngomongin bisnis" ujar Baby menatap Ara yang sedang menyicipi makanan.
"Suka?" Tanya Baby ramah.
Ara mengangguk, memakan donat coklat sekali lagi, lalu meminum jus jeruk.
"Tante bunda kok gak pernah main kerumah Ara?" Tanyanya "Ara udah keluar dari rumah sakit" kata Ara memberitahu
"Cepet banget?"
"Ara bosen Tante Bunda di rumah sakit, jadi Ara minta papa bawa Ara pulang" Ara menggenggam tangan Baby seolah tangan itu adalah tangan ibunya.
Baby tidak merasa risih ataupun malu karena itu, dia tetap tersenyum dengan lembut ke Ara.
"Gue kangen sama elo" katanya lirih "terutama sama bokap elo"
"Apa Tante Bunda?" Tanya Ara yang tidak mendengar kalimat Baby barusan
"Ah enggak, ke belakang yuk, duduk disana" ajak Baby untuk duduk ke bagian taman restoran.
Ara menurut, mengikuti Baby dengan tangan masih bergandengan. Sampai di taman, mereka duduk bersebelahan, menatap langit langit yang sudah menghitam.
Ara menyenderkan kepalanya di bahu Baby, tanpa penolakan lagi seperti dulu dulu. Rasanya Baby merindukan Ara, sangat rindu.
"Tante bunda tinggal dirumah Ara aja, biar Ara punya temen main" kata Ara dari arah samping
Baby hanya terdiam, tidak menjawab juga tidak menolak. Dia ingin tinggal bersama Ara, sungguh.
"Tante bunda tahu, Seno sekarang punya temen baru" Ara menegakkan kepalanya.
"Oh ya, siapa?"
"Namanya Shiro, warnanya abu abu, dibeliin papa kemarin"
"Iya, Seno seneng, kayak Ara kalau tante bunda dirumah Ara pasti seneng" tambah Ara dengan binar mata jujur
Baby menarik sudut bibir, tulus.
"Ara" suara berat dan berwibawa seseorang terdengar dari arah samping
Baby menoleh, menatap Adry yang berdiri menatap nya juga. Tatapan teduh, tidak se tajam kemarin, tidak semenakutkan kemarin, hanya menatapnya dengan penuh kerinduan.
"Papa" Ara langsung berlari kearah papanya.
Adry duduk bertumpukan dengan kaki sebelahnya, menyeimbangkan tingginya dengan tinggi Ara.
"Papa tadikan bilangnya jangan jauh jauh" ujar Adry
"Tadi Ara bosen, terus Ara ketemu Tante Bunda" kata Ara dengan senyuman paling mengembang
Adry menatap Baby, lalu bangkit dan tersenyum tipis. Ada hal yang tidak bisa dijelaskan saja bagi Adry mengenai perasaannya kepada Baby. Melihat Baby seperti melihat seseorang dari masa lalunya.
"Ter__"
"Om gue mau nanya?" Belum selesai ucapan Adry, Baby sudah lebih dulu memotong
Alis Adry terangkat, bingung dengan perubahan wajah Baby yang langsung terlihat kesal.
"Kenapa Om mau mutusin kontrak Sila sama gue, emangnya gue salah apa? Om harus profesional dong kerjanya, jangan karena urusan pribadi Om jadi mau mecat gue jadi model perusahaan Om" kata Baby panjang kali lebar
"Kerjaan kerjaan , pribadi pribadi jangan seneng mencampur adukan masalah kerjaan dan pribadi. Om gimana sih" sembur Baby lagi.
Adry hanya geleng geleng tidak mengerti dengan sikap Baby yang mudah marah dalam sekejap. Padahal pertama kali mereka bertemu Baby dalam keadaan tersenyum tapi sekarang wajahnya masam.
"Saya tidak meminta karyawan saya memutuskan kontrak" kata Adry santai "urusan model Sila itu di kerjakan Edgar"
Baby menatap wajah Adry lalu mendegus kesal "alah alasan, bilang aja om pengen musnahin gue dari hidup Om kan?" Tuding Baby sekenaknya
"Saya malah baru tahu kalau kamu dipecat Sila" katanya terdengar mengejek
"Masih belum bdw" pelototan Baby membuat Adry terkekeh pelan.
Adry duduk di kursi sebelah Baby, ditemani Ara yang sudah memegang ponsel papanya. Ara duduk ditengah sedangkan Baby dan Adry duduk disebelahnya.
"Jadi gimana tentang kontraknya? Kamu terima pemutusan kontrak itu atau kamu tolak?" Tanya Adry menatap arah depan.
"Gue tolak lah, alasan dari pemutusan kontrak nya tuh gak jelas Om, masak nih ya, mereka mau mutusin kontrak ke gue gara gara baru tahu gue anak sekolahan dan ditakutin gak bisa nyesuaiin jam kerja mereka" kata Baby "masuk akal gak sih?"
Adry hanya tersenyum tipis, tipis sekali sampai Baby tidak tahu kalau Adry tengah tersenyum.
"Mungkin terdengar tidak masuk akal, tapi kadang kadang peraturan perusahaan memang selalu tidak masuk akal" komentar Adry.
"Hah yang bener aja?" Cibir Baby.
Adry menoleh kearah Baby, mata mereka bertatap sangat lama. Dengan bahasa dari mata masing masing.
"Apa Lo liat liat" kata Baby menantang
Demi Tuhan, jantung Baby berdetak lebih kencang dari biasanya. Makanya dia memotong tatapan itu dengan tatangan seperti tadi.
"Kamu cantik hari ini" kata Adry memuji dengan tulus
"Uhuk" Baby langsung tersedak "Om mau cabulin gue?" Tanyanya memegang bagian dada.
Melihat itu Adry langsung merubah posisi wajahnya menjadi heran dan sekaligus aneh. Kenapa ada makhluk kayak gini sih duduk disebelahnya.
"Saya hanya memuji kamu" pertegas Adry
"Kenapa tiba tiba?" Tanya Baby
"Karena kamu model saya" kilah Adry begitu menyadari ucapannya yang tidak masuk akal tadi
Yang benar saja dia memuji Baby , seharusnya dia tidak melakukan itu.
Mereka terdiam. Bersama kecanggungan yang luar biasa. Mati canggung itu lebih berpotensi dari pada mati jantungan kalau duduk berdua sama Adry kayak gini.