First Love Duda

First Love Duda
Pembatalan kontrak Sila



Sepanjang hari, Adry hanya terus melamun, separuh dirinya sedang mengambang memikirkan tentang  istri, separuhnya  lagi pergi dengan bayang bayang Baby. Adry tidak tahu kenapa, yang jelas tinggal beberapa hari dengan Baby membuatnya merasa tinggal kembali dengan almarhum istri.


Dia menatap arah depan dengan nanar, bahkan sepanjang meeting pun dia tidak mengomentari apa yang disampaikan oleh karyawannya. Hanya terus mengangguk, materi pembahasan pun tidak dibacanya.


"Meeting sampai disini, untuk produk terbaru yang kalian presentasikan, nanti akan saya periksa kembali" kata Adry berlalu pergi.


Adry bukan tipikal seperti ini sebelumnya, dia selalu fokus pada apa yang tengah dia kerjakan. Sinta yang menjadi sekretaris nya sudah membawa beberapa tumpukan ide produk terbaru dari karyawan. Dia terus berjalan mengikuti Adry.


"Sinta" di lift Adry memanggil sinta yang berdiri dibelakangnya.


"Ya pak"


"Pernah muda? Maksud saya apa anak muda memang selalu bertindak  seenaknya?" Tanya Adry


Sinta menatap arah depan, menatap pantulan dirinya sendiri.


"Setahu saya anak muda memang senang bertingkah seenaknya" katanya


"Kamu pernah jatuh cinta?" Tanya Adry lagi


"Ha?" Sinta menatap wajah Adry yang hari ini terasa aneh untuknya.


"Maksud bapak?" Tanyanya hati hati.


"Apa kamu pernah jatuh cinta sebelumnya?"


"Bapak lagi jatuh cinta?" Bukannya menjawab Sinta balik bertanya


Lift terbuka, namun obrolan mereka tetap berlanjut.


"Saya nanya kamu, bukan saya"


"Saya pernah jatuh cinta" kata Sinta meletakkan berkas diatas meja "jatuh cinta itu seperti sebuah perjalan sendiri" imbuh Sinta


Sinta menarik nafas panjang "kita merasa semangat dalam keseluruhan waktu, berdegup dan memikirkannya sepanjang waktu"


Sinta tersenyum ramah "saya permisi dulu pak, ada beberapa berkas yang harus saya selesaikan" pamitnya


Kepergian Sinta membuat Adry kembali melamun. Jatuh cinta? Apa dia pernah merasakan seperti yang Sinta katakan barusan?


Dulu pernah, dia mencintai seseorang tapi dia tidak pernah merasa berdegup setiap bersama istrinya. Dia tidak merasa memikirkan sepanjang waktu tentang istrinya jika mereka tidak sedang ada masalah.


Adry mencintai istrinya. Itu yang dia tahu saat menikahinya dulu. Tapi perasaan seperti itu tidak ada di diri Adry saat itu. Bahkan ketika Ara lahir pun, dia hanya memiliki sikap kagum pada istrinya. Apa itu bukan cinta?


Dan jantungnya? Adry terdiam sangat lama. Lalu berdiri menarik jas nya dan pergi.


**


Baby keluar gerbang dengan melingkarkan tangannya di lengan Vio. Mereka tidak sedang membolos, tapi sudah jam waktu pulang. Rasanya sekolah kali ini terasa lebih panjang dibandingkan waktu waktu sebelumnya.


"Naik apa lo balik nanti?" Tanya Vio yang memang belum di jemput supirnya


"Pesen gocar nanti" jawab Baby dengan malas


"Lo kenapa sih, sehari ini kayak gak semangat gitu, biasa semangat banget kalo sekolah" cicit Vio


"Kapan? Gue gak pernah semangat kalau sekolah, bolos iya gue semangat" Baby menendang nendang sepatunya. Mereka berdiri di seberang jalan menunggu gocar pesanan Baby


Sikut Baby di senggol dengan sengaja oleh Vio. Baby mendongak.


"Itu bukannya Adry ya?" Tanya Vio memastikan siapa lelaki yang berdiri di seberang jalan sambil membawa sebuket bunga ditangannya.


Baby mengalihkan arah pandang, menatap arah depan dimana memang benar, Adry berdiri disana dengan setelan jas dan sebuket bunga, mereka bertatap sangat lama.


"Bener kan?" Tanya Vio memastikan karena Baby hanya terdiam memandangi arah lurus


"Dia ngapain disitu?'


"Beli bunga paling" kata Baby memutuskan tidak ingin perduli lagi.


Didepan sekolahannya memang ada sebuah toko bunga, mungkin Adry ingin membelikan seseorang bunga, bukan untuk dirinya, meskipun ada harapan kecil didiri Baby kalau Bungan yang ada digenggaman tangan Adry akan diberikan untuk dirinya sebagai bentuk permintaan maaf.


"Lo gak pengen nemuin dia Beb?" Tanya Vio yang tidak tahu kalau Baby dan Adry tengah ada masalah


"Gak" katanya


"Permisi bener mbak Baby istrinya Luchas" kata mas mas driver gocar


"Busyet, Lo belum ganti user name Go-car Lo?" Teriak Vio begitu mendengar mas mas menyebutkan user name Baby


"Gak bakal gue ganti. Lagian  ada untungnya. Orang orang jadi tahu kalau gue istri sahnya Luchas NCT"


Baby langsung masuk ke mobil driver yang bertanya padanya tadi. Duduk dibelakang tanpa mengatakan apapun.


"Hati hati ya, gak usah bolos langsung balik rumah" ancam Vio was was


"Iye iye, bawel banget Lo kayak mak mak"


Vio cengengesan "maklum anak psikolog"


"Hati hati Lo juga, mati mati dijalan" kata Baby tanpa disaring lagi.


Saat menulis ini aku merasa Dejavu sendiri, bahwa apa yang dikatakan Baby juga pernah dikatakan ayahnya pada ketiga temannya. Dasar Baskara dan Baby sebuah fotocopy yang sempurna.


Mobil yang ditumpangi Baby pergi, masih ditatap nanar oleh Adry dari ujung seberang. Adry kesini bukan untuk memberikan Baby sebuket bunga romantis, dia sadar siapa dirinya untuk Baby, namun Adry juga tidak tahu alasannya terus berdiri menatap Baby dari sini. Yang jelas begitu dia keluar dari toko bunga, dia langsung membeku begitu melihat Baby.


Vio yang menatap Adry belum pergi, menunduk dari arah jauh, setidaknya menyapa meskipun tidak kenal. Adry tidak membalasnya karena memang dia tidak terlalu memperhatikan. Dia langsung pergi dengan mobilnya.


Di perjalanan, Adry banyak melamun, kenapa tadi dia tidak bergegas pergi saja, tanpa berdiri seperti orang bodoh menatap Baby dari kejauhan. Adry langsung memutar mobilnya, menunda kepergiannya untuk menemui almarhum istrinya.


**


Dimobil Baby menerima sebuah pesan untuk datang ke perusahaan Sila grup yang ada di Kemang. Itu perusahaan resmi Sila dalam produksi pakaian.


"Pak pak, bisa puter balik gak?" Baby langsung menyodorkan alamat tujuan barunya.


Tidak lama dari itu dia sudah berada di perusahaan Sila. Baby berdiri di lobi menunggu Marlina selaku tim yang menangani model.


Setelah bertemu Marlina, Baby mengikuti Marlina pergi keruangan nya.


"Maaf ya ngehubungi kamu dadakan gini' kata Marlina basa basi


Baby tersenyum "gak papa mbak" katanya


"Gini" Marlina menyodorkan beberapa lembar surat surat "Sila ingin memutuskan kontrak dengan kamu" katanya


Mendengar itu Baby langsung menatap Marlina tidak suka. Apa apaan ini, dia bekerja dengan Sila sangat baik lalu tiba tiba kontrak di putuskan begitu saja.


"Alasannya apa? Saya gak bisa nerima gitu aja pemutusan kontrak ini kalau gak berdasarkan alasan yang kuat" kata Baby menolak


"Setelah kami cek ulang profil kamu ternyata kamu masih berusia 17 tahun dan juga masih seorang pelajar. Sebelum belumnya Sila belum pernah ngejalin kontrak dengan seorang pelajar. Kami takut kegiatan kegiatan nantinya ngeganggu sekolah kamu" Tutur Marlina sopan


Baby berdecak "itu masuk alasan pribadi dan saya gak bisa nerima gitu aja. Kecuali, minat pasar ke saya itu rendah, juga kerja saya dan penampilan saya itu buruk" kata Baby "sebelumnya pakaian yang sudah saya pasarkan itu naik 10% dari model sebelumnya dan Sila pengen mutusin kontrak dengan saya?" Baby bangkit


"Saya gak bisa tandatangani kontrak gitu aja kecuali kinerja dan minat pasar ke saya itu rendah" kata Baby mempertegas penolakannya


"Oh ya satu lagi, kalau pemutusan kontrak ini ada hubungannya dengan Pak Adry, bilang ke dia "bedakan urusan pribadi dan kerjaan" " kata Baby langsung pergi begitu saja