First Love Duda

First Love Duda
Melangkahlah



Baby selalu tergesa gesa melakukan banyak hal, seperti dia memutuskan kembali ke Belanda secepat mungkin. Dia tidak ingin bertahan terlalu lama di Indonesia, bayangan mengenai perlakuan orang enam bulan yang lalu masih terlintas di kepalanya. Juga, lelaki yang ditunggu tunggu sudah pergi dari Indonesia, Baby akan mencari obat untuk lukanya, mengobati luka itu sambil menunggu seseorang mendobrak hatinya.


Baby tidak akan memaksa jatuh cinta. Baginya jatuh cinta hanyalah membuat dirinya terluka, biar nanti dia menunggu jika ada seorang lelaki datang penuh keberanian dan menyatakan cinta padanya. Maka Baby akan membuka hati untuk lelaki itu.


Baby sudah berada di pesawat, dia akan mengambil jurusan bisnis, sedangkan Ken, lelaki itu tengah berjuang meminta restu Baskara untuk meneruskan hukum. Agak susah mebujuk lelaki yang hampir berkepala lima itu.


Mungkin Baby sudah terbang melewati beberapa negara selama kurang lebih empat belas jam, selama itu pula Baby sudah menulis rencana yang akan dia lakukan selama di Belanda. Pertama dia akan mendaftar ke universitas Leiden, tentu kali ini Baby tidak mendaftar karena nilainya bagus tapi karena Rindu yang hampir mendapatkan gelar profesor, juga mama nya sebenarnya di tarik untuk menjadi dosen di universitas Belanda karena Rindu lulusan Havard. Mempunyai orang tua lulusan kampus terbaik memang selalu menjadi jalan enak untuk anaknya mendaftar sekolah.


Kedua Baby akan melanjutkan les memasaknya, juga akan melakukan tour selama di Belanda, terutama untuk kota Amsterdam. Baby akan mulai mengenal kota itu, kota yang memiliki bangunan serupa, supaya Baby bisa hafal jalannya.


Barend si lelaki kelahiran Belanda yang sudah tua, membungkuk hormat ketika sudah bertemu nona nya. Lelaki itu sudah botak, dengan kacamata bening yang selalu merosot ke bawah karena hidungnya pesek, kata Barend saat ditanya kenapa hidungnya pesek, lelaki itu bilang dia memiliki darah campuran Indonesia, dulu saat ayahnya menjajah Indonesia.


"hallo mevrouw, hoe was uw vlucht?" Barend membenarkan letak kacamatanya, dan langsung menyeret koper Baby sambil menanyakan bagaimana penerbangan Baby.


"Het is hetzelfde sinds de laatste keer dat ik hier kwam"


Mereka tidak lagi mengobrol karena Barend paham nonanya tidak banyak mengerti bahasa Belanda, Baby selalu menggunakan bahasa Inggris jika di rumah.


Barend membawa Baby menuju rumah yang dihuni selama enam bulan, sampai disana rumah bercat putih itu masih saja sama bentuknya, tidak ada yang membuatnya istimewa. Sama seperti saat dia datang kesini, menatap pintu dengan tatapan paling menyakitkan yang berusaha dia rubah menjadi semangat lagi.


Baby menarik nafas, dia kira kemarin adalah terkahir kali Baby tidur dirumah ini, tapi sepertinya akan berubah menjadi hunian tetap untuk empat atau lima tahun lamanya.


**


"professor, my notes are lagging behind" Baby dengan tas ransel dan tangan penuh buku mengejar profesornya, lelaki bule dengan wajah penuh totol totol itu meninggalkan catatan tugas milik Baby.


"Oh, I'm almost there" profesor yang tingginya lebih dari Baby menepuk jidat lalu menerimanya.


Kemudian profesor yang mengajar Baby langsung pergi, gadis itu menghela nafas, selanjutnya Baby berjalan menuju perpustakaan, Baby memang tidak banyak menghabiskan waktu dikantin kantin, dia masih belum terbiasa dan tidak memiliki banyak teman disini. kebanyakan  orang asli Belanda yang mayoritas masih berfikir kolot mengenai Indonesia tidak begitu suka dengan Baby .


"hey Beb, what are you doing?" Suara Jame seorang lelaki asal Thailand yang gaya nya hampir seperti perempuan, Jame satu satunya orang yang ramah pada Baby, hanya dia, selebihnya Baby tidak terlalu akrab.


"Reading" Baby mengangkat buku yang sedang dia baca


"Oh" Jame tersenyum, lalu ikut mengeluarkan buku beserta, Jame menoleh kanan dan kiri lalu menyenggol tumit tangan Baby


Jame berdehem lalu menggeser duduknya mendekati Baby, dia berbisik tertahan "Baby, do you want to come with me to the fashion show?"


Baby berhenti membaca tapi tidak mengalihkan matanya "No thanks Jame" tolaknya


"come on Baby, this is the biggest and best fashion exhibition of Sila" rayu Jame


Baby membalikan halaman, mencerna kalimat yang dituturkan Jame barusan, merasa tidak mendapatkan respon, Jame menggoyangkan lengan Baby.


"Ma ley" ucap Jame dalam bahasa Thailand


Baby berhenti, mendengar Jame mengucapakan kata Sila, dia kontan menoleh.


"say again what you just said" Baby hampir memekik menatap Jame


"Ma ley" Jame mengulang kalimat ayolah ayo dalam bahasa Thailand


"Which one?" Jame garuk garuk kepala tidak tahu, mengulang kata yang mana yang dimaksud Baby


"come on, Jame, you just said the word Sila" Baby maksa Jame untuk mengingat kalimat Sila yang dia tuturkan untuk memastikan pendengarnya tidak salah


"Sila will hold a fashion exhibition in Den Haag"


Baby terdiam Den Haag, kota itu berjarak lima puluh enam menit jika dia menempuh A4 tapi bisa satu jam lebih jika macet.


"when is the event?" Tanya Baby menggebu


"this evening, do you want to come with me?" Jame terlihat begitu bahagia, dia tersenyum cerah apalagi saat Baby tersenyum.


Benarkah Sila mengadakan pameran busana di Belanda, maka Adry ada disana, dan dengan buru buru Baby mengajak Jame pergi ke Den Haag sekarang juga.


Baby diantar oleh Barend untuk pergi ke pameran busana Sila, dengan penuh harap kalau disana ada laki laki yang dia cari. Begitu mobil berhenti, Baby langsung keluar dari dalam mobil.


Gedung itu begitu ramai dipadati mobil mobil mewah, Jame tidak berpikir untuk masuk kedalam, dia hanya menunggu para model keluar dan melewati Red carpet saja, tapi saat Baby menuju pintu masuk Jame hanya mengikuti.


"Baby what are you doing?" Jame berbisik karena ragu kalau mereka akan diijinkan masuk kedalam


"see a fashion show" ujar Baby


Jame hanya mengikuti Baby melangkah, dia menuju pintu utama, tentu saja dua penjaga pintu masuk menyetop Baby dan meminta undangan.


"sorry miss show your invitation" tukas seorang lelaki bule bermata hazel yang lebih tinggi dibandingkan Baby ataupun Jame.


"I don't have an invitation, but I know CEO Sila" kata Baby terdengar yakin


Kedua penjaga itu beradu pandang lalu tersenyum "Sory nona, you are prohibited from entering" ucapnya menolak Baby


"Rama Degestra Gerilbadry, just tell him, that there is Baby Arya Kaylovi here" Baby tetap keukuh meminta masuk


Sedangkan Jame menahan malu setengah mati karena mendapat tatapan dari para tamu, terlebih itu adalah beberapa model yang dikenali Jame, maksudnya hanya Jame yang kenal, para model tidak


"What? Rama ? Who is he?" Para penjaga itu justru tidak tahu nama orang penting yang baru saja di sebutkan Baby.


"CEO Sila"


"Sorry nona, There is no name that you mentioned, the name of CEO Sila is Eustatius"


Mendengar itu rasanya tulang kaki Baby lemas, dia kira lelaki bernama Adry itu ada disini, menunggunya datang. Ternyata ini adalah pameran busana dari cabang Sila yang ada di Belanda. Baby menarik nafas , dia merasa sesak sendiri


Jame menarik Baby untuk menjauh, dia berulang ulang mengomel bahwa dia mengajak menunggu di halaman saja, Omelan Jame sedari tadi tidak lagi di gubris oleh Baby, gadis itu sepenuhnya merasa sesak oleh harapan untuk menemui Adry.


Yah, melupakan memang tidak semudah mengucapkan selamat tinggal, kita kerap menginginkan sesuatu yang ingin kita relakan untuk dimiliki meski itu tidak akan terjadi.


Helaan nafas dari Baby, membuat pertahannya kembali membentuk sebuah pondasi agar tidak menangis, sayup sayup Omelan Jame kembali terdengar jelas, dan keramaian saat menyambut model Sila sudah dia tangkap.