First Love Duda

First Love Duda
Vodelpark



Baskara, Rindu, Ken dan keluarga Icha juga mengantarkan kepergian Putri mereka. Vio sepakat menemani Baby, gadis berambut pendek itu merasa Baby akan membutuhkan kehadiran seorang sahabat di Belanda nanti.


"Hati hati Lo, inget, jangan nangis, Lo tahukan kita kembar" Ken memperingati dan Baby hanya bisa tersenyum samar.


"Jangan lupa makan, jaga kesehatan, sebulan sekali mama akan ke ngunjungin kamu" Rindu mengelus rambut anaknya


Sekali lagi Baby hanya bisa tersenyum, setelah berpamitan mereka masuk kedalam pesawat. Menunggu benda ajaib itu membawanya terbang dengan harapan setelah pesawat landas di Belanda Baby akan segera lupa, tidak ingat lagi tentang Adry yang membuatnya tersakiti begini hebatnya.


**


Adry melamun, menatap pelataran perusahannya dari kaca lantai enam belas. Kehilangan Baby begitu membuatnya sesak, dia merasa telah kehilangan sesuatu yang seharusnya menjadi bagian dari dirinya.


"Ini data beberapa cabang Sila di luar negri" Sinta menyodorkan tablet kerja yang diminta Adry, lelaki itu hanya bisa mengangguk tanpa menatapnya.


Adry melihat langit yang tergambar cerah diatas, melihat kumpulan awan  putih yang hampir membentuk sebuah hati. Nafasnya begitu sesak saat memikirkan mengenai Baby, Adry sudah mendengar mengenai keberangkatannya ke Belanda, tapi dia tidak akan mencegah gadis itu pergi, itu sudah keputusan Baby, yang bisa di lakukan Adry hanya menunggu gadis itu pulang kepadanya


Adry berpegangan pada meja, kepalanya benar benar pusing, nafasnya ngos-ngosan.


Adry menatap data perusahaan yang diberikan Sinta, sebuah cabang Sila di luar ngeri, beberapa saham perusahannya tampak tidak setabil mungkin ikut tergoncang tentang berita dirinya. Hanya ada satu cabang perusahaan yang bisa dikatakan stabil dari angka harga saham.


Kanada, itu tempat dimana dulu dia menikahi istrinya , Adry memejamkan mata, merasakan kembali sayatan hati yang sempat sembuh lalu muncul lagi.


**


Di Belanda, Baskara sudah menyiapkan rumah yang akan dihuni Baby, juga dengan beberapa pelayan


"Beb, kenapa kita gak dari dulu kesininya" Vio menoleh kekanan dan kiri "sumpah gede juga rumah elo" ujarnya


Baby tidak menanggapi, menyeret koper menuju kamar yang sudah disiapi pelayannya.


Baby ingin merebahkan diri sebentar di kasur, hingga dia terlelap memimpikan dunia keinginannya. Tapi yang namanya kesenangan tidak akan bertahan lama, Vio sudah menggedor gedor pintu kamar.


"Apa sih?" Baby bersungut, memunculkan kepala dari balik pintu


"Jalan jalan yuk, ngeliat Belanda" Vio merentangkan tangan


"Lebay banget Lo" Baby berdecak "besok besok kan bisa" Baby hendak menutup pintu tapi ditahan oleh tangan Vio


"Beb, besok kita bakalan sibuk sekolah, Lo tahukan kita disemester akhir" Vio menghentakkan kaki.


"Please deh Vio, gue capek, pengen istirahat" Baby merebahkan tubuh diatas kasur


"Ayolah Beb, sekali aja" Vio menarik narik tangan Baby, meminta sahabatnya untuk berdiri


"His" Baby berdecak, akhirnya dengan paksaan dia berdiri mesti dengan setengah hati. Menuruti kemauan sahabatnya itu.


Mereka sudah berganti dan menaiki taksi yang akan membawa mereka ke Vodelpark, namun Vio tidak berhenti di Vodelpark tetapi didepan mal dekat dengan Vodelpark, dia ingin membeli beberapa pakaian katanya.


Sesudah membeli pakaian yang diinginkan, Vio dengan Google mapsnya mencari jalan menuju Vodelpark. Jalan yang di tuju Vio lancar tanpa kendala namun Setelah lama Baby merasa mereka hanya berputar-putar di tempat yang sama


"Lo beneran tahu tempatnya gak sih?" Baby berdecak


"Kalau di sini ditulis tiga menit" Vio masih mengamati ponselnya


"Tiga menit pala elo, ini kita udah muter muter sampe sepuluh menit Vio" Baby geram apalagi kakinya sudah lelah berkeliling di seputar mall


"Bentar dulu Beb" Vio masih mengamati ponselnya


Berhubung kota Amsterdam ini kota kanal jadi banyak bangunan kanal, serius bangunannya unik unik. Jadi banyak bangunan yang mirip mirip, makanya bisa bikin tersesat.  Akhirnya Vio menuntun Baby kejalan yang benar, dan saat memasuki kedalam Vodelpark, mata Baby langsung menatap beberapa orang yang mengendarai sepeda, Amsterdam memang sangat memperhatikan pengguna sepeda.


Sepeda yang digunakan disini tanpa gigi, alias sepeda genjot, dilengkapi dengan dua macam kunci, juga sepedanya tidak ada rem, jadi kalau mau mengerem tinggal membalikan arah genjotan kaki.


"Gilaa kayaknya gue betah deh di Belanda" tukas Vio merentangkan tangan, menghirup udara Belanda


"Lebay Lo" Baby melangkah meninggalkan Vio, dia berjalan mengikuti kemana kakinya pergi


Menikmati udara yang segar ini entah mengapa membuat hatinya teriris, seharusnya dia berada di sini bersama Adry.  Menggoda lelaki itu hingga lelaki bermata elang berdecak kesal karena ulahnya


"Baby" suara itu berasal dari arah kanan, Manik dengan tas ransel mendekati Baby


"Ngapain lo disini?" Tanya Manik


Vio mendekati Baby saat tahu ada seorang lelaki yang juga mendekati sahabatnya.


"Lo sendiri ngapain?" Tanya Baby


"Gue magang disini" Manik menjijing tas ransel bawaanya juga buka yang ada ditangan


"Magang sampe ke Belanda" Vio mencibir


"Belanda kan negara lahirnya hukum Indonesia" Manik tersenyum "Lo belum jawab pertanyaan gue, ngapain disini?" Tanya Manik


Baby menoleh kearah Vio lalu berdehem "Gue pindah sekolah kesini" katanya lemah, jujur Baby masih takut mengenai beritanya.


Bagaimana jika Manik mendengar berita tentang Baby dan mempermalukan Baby disini.


"Oh, bagus dong" Manik justru tersenyum tidak seperti dugaan Baby.


"Bdw, kapan kapan kita jalan yuk?" Tawar Manik


"Jalan?" Ulang Baby


"Boleh boleh, kebetulan gue belum tahu negara ini" celetuk Vio


"Eh, gue gak bisa hari ini" Baby buru buru meralat penerimaan Vio "besok gue mulai sekolah" tambahnya


"Yaudah, kapan kapan aja pas elonya bisa" Manik menggaruk tekuk leher "Kebetulan gue selesai magang dua minggu lagi"


**


Adry mengacak rambutnya di meja rapat, dia begitu bingung menanggapi laporan penjualan yang semakin menurun. Rasanya kepala Adry berdenyut, bagaimana menghadapi krisis ini?


"Bagaimana dengan iklan dengan perusahan baru?" Tanya Adry memecahkan keheningan rapat bulanan karyawannya


Satu perwakilan dari tim pemasaran berdiri "Untuk perusahan baru yang akan kerja sama dengan kita, pemasarannya tidak seluas saat__" karyawan itu berhenti sejenak "dengan eee" karyawan Adry tergagap "dengan Elena grup"


Adry mengetuk pena diatas meja, dia tahu untuk mendapatkannya iklan yang besar serta promosi luas, tidak ada perusahaan yang bisa mengalahkan kepopuleran Elena, bahkan masyarakat sudah menjamin, siapapun yang menggunakan jasa iklan Elena produknya akan habis di pasaran


"Tidak apa-apa sementara ini kita coba dengan perusahaan jasa iklan baru itu" Adry berdiri


"Oh ya satu lagi" Adry mengancingkan kancing jasnya


"Lusa, saya tidak akan bekerja di sini lagi" Adry menarik nafas "Saya akan memanage perusahaan ini dari Kanada" Adry menarik nafas "Kalian tahu perusahaan kita diambang krisis, saya harus menyelamatkan perusahaan ini dengan memperluas pasar dari perusahaan Kanada"


Adry menggoyangkan tumit kakinya, mengedarkan pandangan ke sisi ruang rapat.


"Akan ada yang menggantikan saya, entah kapan saya akan kembali untuk memanage perusahan ini lagi tapi__" Adry tersenyum " saya harap kalian bekerja keras"


Dan dia keluar dari ruangan rapat, Adry akan melakukan hal saat pertama kali dia membeli saham Sila, pertama kali dia merelakan pergi ke luar negri dan memperkuat pasar di sana, lalu kembali dengan membawa dana yang bisa menyelamatkan perusahan di Indonesia.


Setidaknya dengan harapan kalau dia akan segera lupa dengan Baby, segera melupakan gadis yang memenuhi otaknya dua hari ini.