First Love Duda

First Love Duda
Gue Suka sama elo Om



Lagi lagi Baby terpaku dan merasa dadanya terhantam oleh benda keras, amat sangat menyakitkan, pasokan oksigen yang ada di bumi terasa menipis, Baby merasakan tengah menghirup racun yang perlahan lahan menyodok jantungnya.


Tidak ada Adry yang menyibak teplak meja untuk meminta Baby keluar, atau lelaki itu tengah mengikuti Rike keluar dari ruangan ini. Meninggalkan Baby sendirian tentunya.


"Ram" lagi lagi suara yang begitu akrab ditelinga Baby terdengar.


Baby tidak mampu mengintip dari bawah meja, dia terus menerus mengigit kuku tangannya.


Ram? Siapa Ram yang dimaksud.


"Bas" adalah kalimat yang membuat Baby amat sangat tercekat.


Adry berdiri berhadapan dengan Baskara, dengan kedua mata elang yang sama sama menatap.


"Bentar lagi Kamu naik podium" kata Baskara mantap "sekali lagi selamat, kamu udah sampai di titik ini" Baskara menepuk bahu Adry.


Adry menyunggingkan senyum tak kalah bangga didepan Baskara. Dia menunduk malu malu saat mengingat perjuangan dulu.


"Rama Rama, aku masih gak nyangka kalau kamu bisa sesukses ini" ujar Baskara.


"Ayo, kita sambut para investor mu" ajak Baskara.


Adry dan Baskara keluar ruangan, meninggalkan Baby memaku dengan dirinya sendiri. Benarkah Adry adalah Rama, benarkah lelaki yang selama ini membuat Baby bergetar adalah sahabat papanya?. Baby tidak mampu bergerak, mungkin sudah tewas andai dia tidak bernafas


**


Acara pembukaan kantor cabang sudah selesai, baik tamu undangan pamit undur diri, juga beberapa model yang sudah meninggalkan tempat acara. Namun Adry masih berkeliling , mencari keberadaan Baby yang sedari tadi tidak dilihatnya. Kemana perginya gadis itu?


"Thea" panggil Adry


Thea yang sedang berbincang dengan Om Om menoleh kearah Adry. Thea tersenyum sekilas lalu permisi pergi dan berjalan kearah Adry.


"Ada apa pak?" Tanyanya


"Kamu ngeliat Baby gak?"


Alis Thea terangkat, ini bukan pertama kali CEO Sila mencari keberadaan Baby, ada hubungan apa antara Adry dan Baby?. Thea masih belum menjawab, memikirkan jawaban atas pertanyaan yang di lontarkan kepalanya.


"Kayaknya dia udah pulang deh pak, soalnya dari mulai acara saya gak ngeliat Baby" ujar Thea.


Adry tidak lagi menanggapi ucapan Thea, dia bejalan menyusuri tempat acara, mencari keberadaan Baby. Lelaki itu terus menyusuri ruangan, dengan langkah tegap.


Srek


Begitu taplak meja dibuka oleh Adry, lelaki itu terkejut, apalagi melihat Baby diam saja seperti orang kebingungan. Tidak mungkin gadis ini kesurupan.


"Baby, keluar" titah Adry dengan tegas.


Baby mendongak, menatap mata Adry dengan berkaca kaca. Sebentar lagi kalau pertahanan Baby tidak kuat, gadis itu akan menangis sejadi jadinya, menumpahkan isi hatinya.


"Baby" panggil Adry lirih begitu menyadari mata berkaca kaca milik Baby.


Perlahan lahan meski tidak setegas biasanya, Adry membimbing Baby untuk keluar, membimbingnya bagaikan anak kecil yang sedang bersembunyi di bawah meja. Lalu menegakkan tubuh Baby.


Gadis bermata kecoklatan itu tidak mampu berdiri sempurna, kakinya begitu lemas, bahkan Baby tidak merasakan adanya tukang kaki di sana.


"Kamu tidak apa apa?" Tanya Adry memegang bahu Baby.


Benarkah lelaki didepannya ini adalah Rama sahabat papanya?, kalau benar iya berdosa kah Baby selama ini memiliki perasaan dengan lelaki didepannya?, berdosakah Baby mengharapkan lelaki ini?.


Adry menaikan alisnya, dia tidak tahu kemana arah bicara Baby. Bahkan ketika gadis itu menangis, dia tidak tahu kesalahan apa yang bisa membuat gadis itu menjatuhkan air mata.


"Maksud kamu apa?"


Baby melepaskan cekalan bahu Adry, dia mencoba berdiri tegak sempurna meskipun sangat sulit. Meskipun kepalanya begitu penuh dengan ucapan dari Purna mengenai pertunangan Adry dan Rike juga mengenai kemungkinan Adry adalah Rama.


"Gue tahu kalau Om temen bokap gue. Tapi gue gak tahu kalau Om itu sahabat nya papa gue. Gue_ gue , gue gak tahu kalau elo Om Rama" Baby menangis tersedu sedu.


Dan Adry, hanya mampu berdiri tegak tanpa bisa berbuat apa apa, hanya mampu melihat gadis didepannya menangis terisak isak.


"Ya, saya adalah Rama, Rama Degestra Gerilbadry"


Selesai dari ucapan Adry, tangis Baby semakin memecah. Tulang kakinya lemas, dia berjalan mundur dan terjatuh akibat Hells nya tidak berdiri seimbang.


"Baby, kamu tidak apa apa?" Sekali lagi, yang bisa di tanyakan Adry adalah tentang keadaan Baby.


"Om tahu, hiks, kalau selama ini gue anak Cosmos Arya Bayu Baskara?" Pertanyaan Baby selalu diselingi dengan tangis


Tatapan tajam Adry berubah melemah, dia bahkan tidak mampu mengangkat kepalanya utuk menatap mata terluka Baby. Tidak sedikitpun Adry mampu melakukannya, apalagi tangis Baby begitu menyayat hatinya.


Baby semakin terisak saat tahu reaksi Adry yang hanya diam saja . Kediaman Adry menjelaskan semuanya, Baby berdiri semampunya , dia berdiri dan berjalan dengan tatapan kosong. Fikiran Baby berkecamuk, dia hanya tidak percaya kalau orang yang dicintainya adalah sahabat dari papanya.


Mencintai seorang duda sudah begitu sulit untuk Baby, apalagi sekarang ini.


Brak


Baby terjatuh dengan keadaan kaki terkilir. Dia menangis semakin menjadi, dan Adry tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya melihat gadis itu menangis sesegukan.


"Kaki mu terkilir" kata Adry melepaskan sepatu Baby.


Baby memegang lengan Adry dengan begitu kuat, lalu menunduk dilengan itu sambil menangis sesegukan.


"Gue, gue hiks" Baby menyeka air matanya "gue Gue suka sama elo Om" Baby menyelesaikan ucapannya dengan begitu sulit


Dia menggeleng dengan tegas "enggak, gue lebih dari suka, gue cinta sama elo Om, gue gak mau kehilangan elo" tuturnya dengan tercekat.


Adry terdiam mematung, dia tidak bisa melakukan apapun selain melihat Baby menangis di lengannya. Benarkah gadis itu menyukainya sampai seperti ini?


Adry pun pernah merasakan perasaan yang sama dengan Baby, tapi hanya selintas saja tidak begitu dalam. Karena dia fikir, Adry selalu merindukan kasih sayang seseorang dan mungkin kebetulan itu jatuh pada Baby.


Baby mendongak dengan wajah basah, dengan mata merah, bibir merah serat beberapa riasan yang sudah berantakan.


Tangan Adry menyeka air mata Baby, menyekanya dengan lembut.


"Gue gak tahu kalau Om itu sahabat nya papa, gue gak tahu Om, gue gak tahu" kata Baby meraung.


Baby memeluk Adry dengan begitu kuat, menangis di dada lelaki itu, tangan Adry hanya mampu terjatuh lemas tanpa bisa mengelus punggung Baby. Semua sulit, bahkan untuk Adry mencintai Baby pun terasa sulit.


Terasa sulit semua untuk Adry.


Pelukan Baby semakin erat dengan isakan nya, dia sudah tidak perduli, adakah orang yang melihat mereka atau dia sudah tidak perduli bagaimana reaksi Adry saat ini, yang jelas Baby tidak ingin, kehilangan seseorang yang dia cintai teramat sangat.