
Baby datang kesekolah lebih pagi, Ken sudah merengek untuk cepat cepat ke sekolah, katanya dia piket. Sampai disekolah, untungnya Vio sudah duduk disana, dia tertawa cekikikan.
"Kesambet baru tahu rasa Lo" Baby meletakkan tas ransel diatas meja
"Kemana Lo kemren?" Tanya Vio mematikan tayangan YouTube nya
"Biasa" Baby duduk disebelah Vio
"Beb, dipanggil Bu Adel" Dina tergagap gagap saat menyampaikan pesan Bu Adel, kaca matanya terjatuh, dia menyembunyikan wajah dari rambutnya.
Baby tidak begitu menanggapi Dina, dia tidak berselera menggoda anak itu. Dilangkahkan kaki menuju ruangan segi empat yang luasnya hanya seperempat dari kamar Baby, juga banyak bunga yang di gantung menggunakan pot bekas minuman soda.
Baby membuka pintu tanpa rasa takut atau gugup sama sekali. Bu Adel dan Baby adalah dua orang yang tidak bisa disatukan bagaikan air dan minyak, Baby selalu tidak menyukai apapun ide yang di berikan Bu Adel, apapun itu.
"Baby kemarin kamu kemana? Kenapa tidak kesekolah ?" Bu Adel dengan kaca mata bulat dan catatan hitam mulai introgasi
"Kemarin saya ke ___" Baby menjedanya "Tempat teristimewa di jagad raya" kalimat itu diakhiri dengan cengiran
Bu Adel enggan menanggapi , dia menyodorkan kertas kosong berisi study planing.
"Kamu isi ini" titah Bu Adel "kalau sudah kasih ke saya, hari ini" ujarnya lagi
Baby menarik kertas itu dan langsung berdiri, dia menatap sekilas isinya. Baby tidak memiliki tujuan setelah dia lulus dari sini, sungguh dia tidak memikirkan apapun selain terkenal dan menjadi artis.
Dikelas, Baby hanya memainkan bolpoin tanpa mengisinya. Berkali kali dia berniat mengisi tapi diurungkan. Bahkan sampai jam terakhir, selembar kertas itu hanya ditatap Baby dengan nanar.
"Jadi Lo mau nulis apa?' Vio seperti cenayang yang bisa membaca pikiran Baby.
"Gak tahu, gue gak pengen kuliah" katanya
"Beb, bokap nyokap elo itu pendidikannya tinggi semua, masak anaknya gak nerusin kuliah sih"
Baby menyangga dagu di meja, dia menatap kertas itu. Baginya kuliah tidak penting, toh Baby bisa mencari uang sendiri dengan kecantikannya.
"Lo sendiri, emangnya udah selesai ngeplaning sekolah elo?" Baby justru tidak menanggapi kalimat Vio
Gadis berambut pendek, bertubuh kurus, dengan mata sipit, nyengir kuda.
"Gue ngambil psikolog, kalo nilai gue nyukupi gue mau masuk US, tapi kalau gak nyukupi paling ke kampus bokap elo" Vio kembali nyengir.
"Gak punya pendirian amat lo, katanya mau ngambil Bahasa Inggris, kenapa jadi psikolog" Baby mengatakan kalimat itu sambil tetap meletakkan dagu diatas meja
"Yah gimana ya Beb, pilihan orang tua itu selalu bener. Siapa tahu kalau gue ngambil psikolog gue bisa sedikit bermanfaat buat orang lain" Vio menyangga kepalanya
"Heh" Baby menghela nafas "Gue gak pengen kuliah Vi" matanya begitu lemas menatap arah depan
"Beb, Lo pikirin matengateng deh, ini masa depan elo, apa kata orang tua elo kalo elo gak ngelanjutin sekolah" Vio berdecak
Baby memalingkan muka kearah Dina yang sedang memasukan buku kedalam tas ranselnya. Anak cupu itu pasti begitu senang kalau ada diposisi Baby, mempunyai harta berlimpah, cantik juga orang tua yang sayang kepadanya, poin plus yang dibutuhkan Dina mungkin kepopuleran. Saat mata Dina dan Baby bertatapan, Dina dengan gugup mengalihkan tatapan itu. Dina anak yatim piatu, dia dibesarkan oleh Kakek neneknya, masuk ke sekolah Araba adalah berkat luar biasa untuknya, Dina mendapatkan beasiswa, gadis itu juga rela menjadi budak anak anak hanya untuk bertahan disini.
"Tau ah, gue mau ngadep Bu Adel dulu" Baby berdiri dan berjalan, dia menyusuri lorong dengan kehampaan.
Srek
Kertas ditangan Baby sudah direbut oleh Ken, lelaki itu berdiri dengan tampang kakunya.
"Lo gak ngisi apa apa?" Ken menaikan alis "Lo beneran gak mau ngelanjutin kuliah?" Ken menaikan suara
"Bukan urusan elo" Baby berusaha merebutnya, tapi Gagal karena Ken sudah berjalan pergi membawa kertas itu. Entah kemana yang jelas Baby tidak perduli. Kalaupun kertas itu berisi, Baby akan bersyukur sebab dia tidak perlu berpikir hanya untuk mengisinya.
**
Baby berjalan mengenakan pakaian kasual di kantor Adry. Om Om bermuka triplek itu tetap saja tidak memblas pesannya, padahal kemarin mereka sibuk bermesraan.
Baby membuka pintu agak kasar, dia sudah akan meledakkan bom kemarahan.
"Om, kenap___" ucapannya harus berhenti saat melihat dua orang asing duduk didepan Adry.
Adry meliriknya sekilas, bolpoin yang dia pegang di letakkan diatas meja. Adry sedikit tersenyum ke dua lelaki yang duduk di hadapan Adry.
"sorry, i stayed a while"
Adry bangkit dan mendekati Baby, gadis itu ditarik paksa oleh Adry. Ketika di lorong ruangan, Adry melepaskannya
"Tunggu sebentar, saya kedatangan tamu dri Thailand" Adry langsung kembali lagi ke ruangannya.
"Sory" kata Adry kepada dua orang yang ada didepannya.
"No problem mr. Adry" lelaki berkacamata bulat tersenyum
Baby masih berdiri menunggu didepan ruangan Adry, dia enggan beranjak, sebelum dentingan lift terbuka Baby langusng bersungut. Bibirnya manyun saat melihat siapa yang keluar dari sana, Rike dengan rok mini berjalan anggun.
"Ngapain lo disini?" Tanya Rike pada Baby
"Ngapain lagi kalau gak nemuin pacar gue" Baby menatap Rike mengejek "Ups" tangannya menutup mulut "lo belum tahu ya hubungan gue sama Adry" dan diakhir kata Baby sengaja memberikan senyum centilnya.
Pintu yang tertutup tadi terbuka, dua orang bertubuh gemuk, berkulit putih dan bermata sipit keluar diantarkan Adry. Dua lelaki tadi menatap Baby sekilas, lalu tersenyum juga berpindah menatap Rike, dan tersenyum.
Setelah dua orang itu menghilang dari balik lift, Baby langsung mendekati Adry. Sengaja dia menempelkan lengannya di lengan Adry, supaya Rike tahu hubungan mereka sekarang.
"Ada apa Rike?" Tanya Adry memasuki ruangannya
Rike dan Baby mengikuti Adry, seperti dua bocah yang sedang mencari muka pada gurunya. Adry duduk di kursi sofa sedangkan Baby justru duduk di peganggan sofa yang berada disebelah Adry. Sikap itu mendapat tatapan aneh dari Adry.
"Oh ya Ada perlu apa?" Adry mengalihkan tatapannya ke Rike
Gadis itu menyilangkan kaki, sehingga rok mininya sedikit terangkat. Rike tersenyum manis, tapi justru di cibir Baby dari samping Adry.
"Ada undangan makan dari papa" Rike tersenyum "lusa, sekaligus papa ngebahas mengenai pembukaan restoran baru nya"
Adry manggut manggut "Saya akan kesana" dia membalas Rike
"Ada lagi?" Tanya Adry mulai tidak tahan untuk menggoda Baby
Rike yang merasa di usir lekas berdiri dengan canggung. Dia mengangguk sopan dan permisi pergi, berjalan se santai mungkin.
"Udah kayak miss Indonesia aja dia jalan" Baby gentar mencibir Rike
Adry hanya mampu tersenyum melihat tingkah anak gadis disebelahnya.
"Om, Om gak ngajak gue ke rumah Rike?"
Adry menaikan alis "Gak. Lagipula keluarga pak Purna belum sepenuhnya lupa atas insiden kemarin"
"Kan, itu bukan kesalahan gue" Baby masih merengek
"Kesalahan siapapun itu, dimata mereka, kamu pihak yang bersalah"
Baby manyun "Udah kayak hakim aja mereka bisa nentuin siapa yang salah"
"Oh ya, Kamu kenapa datang langsung marah marah seperti tadi?" Kini giliran Adry yang menggoda Baby, gadis itu langsung berdiri
"Lagian Om gak pernah balas chat gue"
"Saya sibuk, sebentar lagi saya harus louncing produk baru, belum lagi saya harus tanda tangan kerja sama dengan kator luar negri" Adry duduk kembali di meja kerjanya, mengerjakan pekerjaan yang sempat dia tunda.
Baby mengikuti bagaikan anak kecil, dia bergelayut manja dileher Adry saat lelaki tinggi jangkung sudah duduk di kursinya.
"Om bisa gak istirahat sehari aja kerjanya?" rengek Baby
Adry terkekeh geli mendengar rengekan an manja dari Baby. "nanti kalau saya tidak bekerja siapa yang akan menafkahi kamu"
Baby bersungut "yah kan libur sehari juga gak ngurangin pendapatan perusahan Om"
Gadis itu mengacak acak dokumen Adry yang sudah disusun, Adry hanya melihat tingkah gadis didepannya. Rambut Baby yang berayun ayun serta bibir yang cemberut membuat Adry menarik sudut bibir.
"Bagaimana sekolahmu?" Tanya Adry sambil menandatangani dokumen
"Kayak biasa" katanya
"Tidak bikin ulah kan disekolahan?"
Baby memainkan pena sambil cemberut "Gue disuruh nulis study planing, tapi gue gak ngisi, abis bingung mau kemana setelah lulus ini"
Tangan Adry berhenti saat menandatangani dokumen, dia menatap wajah Baby yang sudah duduk di meja kerjanya.
"Kenapa? Belum tahu setelah ini kamu mau kemana?" Tanya Adry memastikan
Baby mengangguk berulang ulang "Si Ken kayaknya mau ngambil hukum, tapi dia belum ngomong ke papa, jadi Ken nyuruh gue buat nerusin perusahan dan ngambil bisnis" Baby menatap mata Adry yang juga menatapnya "Gue gak suka matematika Om, bisnis kan ada MTKnya "
Adry tersenyum mendengarkan curhatan Baby. Baginya mendengarkan anak usia tujuh belasan bercerita mengenai masa depan, Adry seperti diajak Baby menyusun bagian penting dalam hidupnya.
"Ambil saja, Toh gak ada ruginya buat nerusin bisnis, kamu punya peluang besar di bisnis, lihat Elena grup dan Araba sudah berkembang pesat, tinggal kamu kembangkan lagi" Adry mencoba meyakinkan Baby
"Tapi kan Om, masalahnya gue bego, mana papa pengennya Ken nerusin ke Havard itu artinya gue juga harus ke Havard" Baby menunduk "emangnya Havard mau Nerima orang kayak gue?"
Adry menggenggam tangan Baby, mengelusnya lalu mencoba meyakinkan Baby. Menyemangati gadis yang rambutnya digerai itu
"Tidak ada salahnya di coba, jangan mengukur kemampuanmu sebelum mencobanya, kadang gagal itu terjadi karena kita tidak percaya dengan kemampuan kita dari awal" Adry tersenyum "Toh kalau Havard tidak menerimanya, masih ada kampus di luar yang pendidikannya setara dengan Havard"
Baby menatap mata Adry "Om setuju gue ambil bisnis?" Tanyanya
Adry mengangguk penuh keyakinan, baginya Baby akan mampu mengelola perusahaan, gadis itu sedari awal sudah banyak tertarik akan bisnis tapi dia belum menyadari.
"Papamu dulu juga gagal daftar di Havard" Adry berusaha membuat mental Baby tidak down "Jadi kalau kamu gagal papamu akan mengerti, yang penting kamu berusaha dulu"
"Eh sumpah Om, papa pernah gagal di Havard?" wajah Baby berubah sumringah
"Papamu gak cerita?" Adry menaikan alis
"Enggak, papa gak pernah cerita, malah dia sombong banget karena Mama kuliah di Havard, gue kira papa pinter, ternyata sama kayak gue" Baby tersenyum puas, setidaknya dia memiliki keturunan gen yang membuatnya sebodoh ini.
Adry melanjutkan mendatangani dokumen, dia tersenyum saat melihat Baby mulai semangat lagi.
**
Diluar Rike menggeram kesal saat tahu Baby berada disana, apalagi pernyataan dari gadis kecil mengenai hubungan mereka. Benarkah Baby dan Adry sudah resmi berpacaran, tapi kenapa? Baby tidak jauh lebih baik dari dirinya. Anak itu hanya anak orang kaya yang tidak tahu aturan, kenapa Adry bisa jatuh cinta dengan dia. Rike yakin Baby cewek murahan yang berkedok polos.
Di ambilnya ponsel, Rike menekan nama "Boby" di ponselnya.
"Bob, masih kerja di infotemen?" Tanya Rike begitu panggilan mereka tersambung
"Masihlah, kenapa? Lo mau ngasih gue gosip?" Suara Boby terdengar serak
"Ada gosip yang bakalan gemparin dunia, terutama dunia bisnis" Rike berhenti sejenak menatap Baby yang baru keluar bersama Adry melalui dalam mobil.
"Tentang apa dulu, gue gak mau kalau gosipnya abal abal"
Rike tersenyum smirk, merasa puas, apalagi beberapa foto yang sudah dia kumpulkan, Rike menatap foto ditabletnya, beberapa foto Baby dengan Adry.
"Lo kenal anak bapak Baskara, CEO Araba dan Elena grup?" Tanya Rike
"Yang mana nih, anak pak Baskara ada dua?"
"Baby" Rike menatap kembali foto di tabletnya, foto Baby berciuman ditengah hujan bersama Adry, foto Adry menggendong Baby ke dalam rumahnya juga foto Adry dan Baby masuk kedalam hotel. Masih banyak foto foto yang sudah Rike kumpulan
"Kenapa si dengan Baby?" Boby penasaran
"Dia hamil duluan sama Rama Degestra Gerilbadry CEO Sila" Rike tersenyum menang "Gue denger sih, si Adry deketin Baby karena pengen dapet saham warisan dari pak Baskara"
"Ha, sumpah lo Ke, ini mah wajib banget diberitain, yaudah Lo dimana sekarang kita ketemu"