First Love Duda

First Love Duda
Kemarahan Adry



"Hoy mau kemana?" Baby mengikuti Ara dari belakang.


Gawat kalau anak itu marah padanya, bisa bisa rencana untuk mendapatkan tempat tidur gratis sia sia.


"Ke toilet" kata Ara berhenti dan berbelok ke arah toilet


Baby tersenyum kaku lalu mulutnya membentuk huruf "o" lebar lebar. Baby berdiri didepan toilet menunggu Ara keluar karena takutnya anak itu akan berlanjut marah padanya. Otak anak kecil sulit untuk ditebak.


Ara keluar kamar mandi beberapa menit, Ara menatap Baby yang terus berdiri tanpa bergerak.


"Tante bunda mau ke toilet?" Tanya Ara sudah dengan nada bicara yang seperti semula


"Nungguin elo" kata Baby lalu mengikuti Ara dari belakang menuju ruangan Adry.


Disana, ketika Baby membuka pintu Adry berdiri dengan wajah cemas yang terlihat, Sinta juga berdiri, menunduk dengan wajah pucat. Suasana tidak menyenangkan itu bisa Baby cium meskipun jarak beberapa meter dari Adry.


Begitu suara pintu yang tertutup terdengar Adry langsung menatap wajah Baby dengan lebih tajam, lebih galak dari biasanya bahkan rasanya ditatapa seperti itu oleh Adry mempu membuat Baby ingin menumpahkan tangisnya.


Sinta permisi keluar begitu melihat kode tangan dari bosnya, Ara tersenyum tapi tidak ditanggapi oleh Adry karena tatapan Adry masih terfokus pada Baby.


"Ara bisa ikut Tante Sinta dulu gak, papa mau ngomong bentar sama tante ini" kata Adry dengan suara lembut yang dibuat buat.


Ara mengangguk. Dia keluar ruangan dan pergi meninggalkan ketakutan pada Baby. Seberani apapun Baby dia adalah seorang perempuan. Perempuan yang juga bisa takut dengan seorang lelaki apalagi lelaki seperti Adry didepannya.


"Tadi _ gue jemput Ara" karena merasa tidak nyaman di situasi hening Baby membuka suara.


Brakk


Adry memukul mejanya dengan keras, membuat Baby terjingkat dengan degupan jantung paling kencang punyanya


"Kamu siapa, kamu siapa Ara? Ibunya? Saudaranya atau temannya?" Tanya Adry Dengan nada bicara yang menusuk


"Kamu siapa sampai jemput anak saya tanpa persetujuan dari saya" teriak Adry menggebu gebu


Baby menunduk, takut , ini adalah bentakan pertama dari seseorang yang tidak begitu dia kenal. Kemarahan Adry yang tampak jelas dari wajahnya, bahkan membuat tulang kaki Baby melemas.


"Saya peringatkan kamu, jangan mentang mentang saya memberikan tumpangan pada kamu, kamu jadi seenaknya sama saya" Adry menunjuk nunjuk tepat pada wajah Baby


"Kamu hanya orang asing untuk saya ataupun Ara" Adry menarik nafasnya


"Saya kira kamu hanya kurang baik dalam atitude ketika baru kenal, ternyata kamu benar benar buruk"


"Saya gak tahu asal usul kamu dari mana, apakah dari keluarga baik baik, atau_" Adry berhenti "atau kamu hanya memanfaatkan saya dan Ara untuk kepentingan kamu"


Mendengar itu hati Baby terasa tertusuk. Ini lebih menyakitkan dibandingkan apapun, bahkan dibandingkan kabar homeschooling dadakannya. Baby menatap wajah Adry dengan cucuran air mata yang sudah tidak bisa dia bendung lagi, segala bentangan, Isakan sudah keluar tanpa bisa ditahan


"Gue cuman jemput Ara, gak ada maksud apa apa" kata Baby dengan suara lemah dan penuh gemetar


"Siapa yang tahu motif kamu, bisa saja kamu cuman ingin harta saya"


"Om cukup" teriak Baby lantang " gue emang butuh uang, tapi gue gak ngelakuin semuanya untuk uang" kata Baby penuh isakan


"Gue cuman jemput Ara, gak lebih"


Baby mengambil tasnya yang berada diatas sofa


"Asal Om tahu. Gue berasal dari keluarga baik baik, punya pemahaman pendidikan yang baik dan perusahaan ini" Baby melirik sekitar kantor Adry


"Bisa dengan mudah dibeli keluarga gue"


Baby berlari pergi. Membuka pintu dan menatap Ara yang memeluk buku gambarnya dengan tatapan terkejut. Baby menangis tersedu sedu, berlari entah kemana   mungkin pulang kerumah atau kesekolah dan memeluk Vio.


Rasanya Adry benar benar keterlaluan menganggap dia hanya memanfaatkan kekayaan Adry untuk kepentingan Baby. Dia juga terluka dengan menatapnya seolah Baby berasal dari keluarga tidak baik baik.


**


"Pa" Ara memegang lengan Adry dari samping.


Adry menoleh nya , tersenyum dengan tulus dan menciumi tangan mungil anaknya.


"Kenapa marahin Tante bunda?" Tanya Ara


Adry menggeleng, mengusap wajahnya. Dia berdiri dengan penuh penyesalan, dia menyesal menyebut Baby berasal dari keluarga tidak baik. Membentak bentaknya hingga gadis seceria itu bisa meneteskan air mata.


"Tante bunda baik kok sama Ara, jangan marahin Tante bunda kayak tadi, Ara takut" kata Ara memeluk gambaran Baby semalam.


Adry menatap jendela kantornya, tidak bergerak oleh penyesalan yang tiba tiba menyeruak hadir di hatinya.


"Ara hari ini mau gak diantar om Budi, kasihan Seno sendirian nungguin Ara belum pulang" ucap Adry sambil berjongkok mengusap lengan anaknya.


Ara tersenyum senang, baginya hari menyenangkan adalah berada dirumah, bukan di kantor pengap meskipun bersama papanya. Hanya saja Adry terkadang tidak tenang jika meninggalkan Ara sendiri bersama bik Kar. Yah walaupun bik Kar terjamin kebaikannya.


Setelah meminta Budi mengantarkan Ara pulang kerumah, Adry duduk di kursi kerja nya dengan lamunan.


Apakah dia sudah kasar dengan Baby?


**


Saat ini Baby berdiri didepan gerbang sekolahnya. Rasanya dia sudah tidak memiliki tempat untuk pergi. Tidak mungkin dia pulang kerumah dalam keadaan menangis seperti ini.


"Pak blenu, buka" teriak Baby mengguncangkan pagar depan


Pak Blenu sebagai satpam tersentak saat tahu Baby sudah berdiri diluar sekolah.


"Non dari mana kok baru Dateng?" Tanya pak Blenu bergegas membuka gerbang sekolahan


"Pakek nanya segala" bentak Baby langsung berlari ke kelasnya.


Dia berlari menyusuri koridor, sempat bertabrakan dengan Ken yang membawa tumpukan buku di tangannya.


"Dari mana Lo?" Tanya Ken penuh selidik


"Bisa gak sih gak usah nanya" bentak Baby langsung melanjutkan jalannya


Sampai dikelas, dia membanting tas dan menoleh kekanan dan kiri.


"Ada yang tahu Vio dimana?" Teriak Baby.


"Ruang Bk, dia ketahuan lompat pagar ta__" belum selesai Yohanes cerita, Baby sudah lebih dulu berjalan pergi .


Dia berlari menuju ruang Bk dan membuka pintu yang ditakuti dengan penuh keberanian


Vio dan Bu Adel menatap Baby bersamaan, bersama dengan tatapan kebencian dari guru BK itu.


"Vio keluar deh sekarang" teriak Baby tanpa mengindahkan tatapan Bu Adel


"Baby kamu tahu dimana kamu sekarang"


Brakk


Secarik kertas berisi nomor ponsel papanya, alamat rumah berada diatas meja Bu Adel.


"Saya yang tanggung jawab atas kaburnya Vio tadi. Panggil orang tua saya kesini, bila perlu keluarkan dan skor saya" kata Baby langsung menarik tangan Vio untuk keluar.