First Love Duda

First Love Duda
Duka Dirumah Om Rama



Baby mengguling diatas kasur dengan malas, dia menguap saat melihat tontonan film luar negri yang membuatnya jenuh.


Brak


Baby menutup laptop tanpa mematikan dulu. Dia sudah terpejam, mungkin akan segera pergi ke alam mimpinya kalau tidak seseorang membuka pintu dengan kurang ajar.


"Sialan" umpat Baby saat lampu kamarnya di nyalakan oleh Ken.


"Kira kira dong kalo masuk kamar orang, ketuk pintu kek, salam kek, jangan main nyelonong gitu aja" maki Baby membabi buta.


"Diajak papa sama Mama melayat ke rumah Om Rama" kata Ken sudah berbalik untuk meninggalkan kamar Baby.


Baby menghentakkan kakinya, mungkin akan segera patah andai dia tidak melemahkan hentakan itu.



"Kenapa sih di dunia ini gak ada  ketenangan buat orang semacam gue" teriak Baby.


Dengan malas dia berdiri, mencari baju warna hitam dan juga kaca mata. Dia turun dari tangga dengan menguap.


"Baby buruan" ujar Baskara yang sudah gelisah.


"Siapa sih yang meninggal?" Tanya Baby dengan malas


"Istrinya Om Rama"


Baby menguap kala mendengar papanya Baskara menyelesaikan kalimat. Mereka bergegas menuju mobil, duduk di belakang sambil menyenderkan pada kaca mobil, Baby sudah lelap tertidur.


"Emangnya sakit apa istrinya Om Rama bisa meninggal?" Tanya Ken yang kurasa tertarik berbincang soal ini.


"Kata om Alan, Tante Sisil terkena kanker, udah lama" Tutur Baskara mulai gelisah.


Rindu duduk disisi Baskara sambil menenangkan, bagaimanapun Sisil pernah ada di hidup Baskara, pernah menjadi satu bukti bagaimana rumah tangganya dulu hampir runtuh. Tapi cukup tersimpan rapat rapat didalam memori keduanya.


"Ma, aku deg deg an" kata Baskara lirih meminta kekuatan pada Rindu.


"Ikhlaskan pa, dia pasti sudah bahagia disana" ujar Rindu menguatkan suaminya, dia mengelus bahu Baskara.


"Padahal Rama masih punya anak, dan masih kecil sekali"


Selama perjalan pun, Ken ikut tertidur disamping Baby, menjadi tumpangan kepala Baby yang menyandar entah sejak kapan di pundak Ken.


Mobil keadaan sunyi, hanya suara dering ponsel Baby yang terus terdengar.


"Alan sama Pandu udah kesana?" Tanya Rindu mulai menyambungkan ponselnya dengan power Bank.


"Katanya sih udah, tapi gak tau"


"Kemarin aku dengar keadaan Sisil mulai membaik saat perawatan di Singapura" Rindu menoleh Baskara.


"Papa juga dengarnya gitu" tukasnya "mulai drop nya sore setelah Rama nelfon kita minjem uang itu"


Baskara mengusap wajah "Ternyata umur gak ada yang tahu ya ma"


Rindu tersenyum "umur sudah ada yang ngatur pa" katanya "makanya papa harus sering kontrol, almarhum papa Arya dulu kan punya riwayat jantung sama diabetes, Mama takut nanti menurun ke papa"


Baskara tersenyum, mungkin merasa lega ada seseorang yang memperhatikannya.


"Masih lama?" Tanya Baby dari belakang dengan suara serak.


"Setengah jam lagi" tukas Baskara.


"Ih si Ken agak geser duduknya, sempit tau" Baby mendorong kepala Ken hingga kepala itu terbentur ke kaca.


"Baby" Rindu menoleh kearah mereka saat sayup sayup Ken membuka mata


Ken hanya menoleh kearah Baby lalu bergeser sedikit.


Baby membuka sosial medianya, mendapatkan Line banyak sekali dari online shopee.


Baby membuka sosial media Instagram, mengecek berapa puluh ribu likenya dan membaca satu persatu koembatar. Sejauh ini tidak ada yang menganggu dari komentar komentar para fansnya. Hanya sejenis komentar "kak balas komenku dong" , "kalau komenku dibalas aku bakalan jungkir balik " , "gak pernah jelek, cantik terus" , "body goal" dll.


Dari follower 534K itu Baby mampu menghasilkan uang sendiri, tentu untuk membeli barang yang tidak diperbolehkan Rindu untuk di beli. Seperti alat makeup, baju dance, sepatu, tas dll.


Kalau ditanya bagaimana dengan sekolah Baby. Jawabannya normal, dia pergi ke sekolah milik keluarganya, duduk, mendengarkan, tertidur, mencontek, membolos, pergi kekantin dan pacaran. Dia tidak pernah mendapatkan juara sepuluh besar, paling bagus masuk juara dua puluh besar tapi paling sering juara tiga puluh delapan dari empat puluh siswa.


Baby komat Kamit membaca pesan yang dikirimkan online shopee pemutih badan, menghafalkan kata yang perlu untuk di iklankan di insta storynya.


"Pa, nyalain lampu nya dong" pinta Baby.


"Ih Ken agak geseran. Heran deh selalu menuhi tempat duduk"


Ken berdecak "iss"


Ketika Ken tidak masuk dalam frame kamera, Baby mulai merekam Vidio


"Hay guys gue mau rekomendasiin obat pemutih badan yang terbukti banget khasiatnya" dia menunjukan tangan ke kamera "nih buktinya, setelah tiga hari pemakaian, kulit gue jadi putih kan" Baby nyengir


"Nah gue biasanya order di @putihputihsekali, yuk buruan order biar kulit sehat, cerah dan bercahaya"


Setelah selesai, dia memberi efek sedikit pada kamera dan mengunggahnya di insta story. Dengan tarif 500 per posting sudah bisa membantu Baby  membeli apapun dengan uang itu.


"Faedah dari kamu begitu apa sih Baby?" Tanya Rindu yang melirik dari kaca mobil


"Dapet duitlah" katanya cuek


"Lebih baik kamu fokus belajar" nasihat Rindu lagi


"Ih Mama, apaan sih" baby berdecak "satu anak yang pinter udah cukup kali"


Baby masih menatap ponselnya


"Memangnya masa depan kamu terjamin dengan begituan?"


Baby memutar mata malas "ma ini tu endorse, ngasilin duit" katanya "bagus dong, Baby udah bisa kerja diumur begini"


"Tapi bab_"


"Udah ah " potong Baby sambil menarik jaketnya "capek ngomong sama Mama tu"


Baskara memutar mobil menuju rumah Rama. Disana sudah banyak pelayat, mobil sedan Alan dan Pandu pun juga sudah terparkir setia didepan halaman rumah Sisil.


"Ken, Baby kita udah sampai" kata Rindu.


Ken merapikan jas lalu mendorong pintu dan keluar, sedangkan Baby menguap lebar lebar sambil merentangkan tangan. Dia keluar setelah tiga menit dari keluarnya Ken. Berjalan sampai berhenti di depan teras rumah Rama. Ketika tatapannya bertemu dengan Lydia, musuhnya Baby berhenti melangkah, menatap sinis wajah Lydia yang tidak ingin dia lihat.


Kata orang kalau ayah nya bertemen maka anaknya akan berteman juga. Kurasa itu tidak cocok dengan cerita Baby, Baby amat membenci Lydia anak Alan yang hanya terpaut satu tahun namun mereka satu angkatan. Bagi Baby tidak ada hal yang menjijikan selain melihat muka dua dari Lydia.


Lydia anak tunggal dari rumah tangga Alan, dia tengah duduk di kursi plastik dengan gayanya yang sok kecantikan.


"His" cibir Baby merasa muak.


"Ken tungguin" Baby menarik kemeja Ken, berjalan dibelakang Ken dan ikut duduk ketika mereka berada didalam.


Ken maupun Baby tidak banyak bicara, hanya Baby yang diam diam memainkan ponselnya kemudian di pelototi Rindu terang terangan. Yah, Baby menunggu papanya keluar dari kamar Rama, mungkin dia tangah menghibur oom itu.


"Ken, Lo pernah ketemu Om Rama gak?" Tanya Baby.


Ken memutar bola matanya "pernah waktu SMA dulu, pas di Amerika sama papa" jawab Ken membuat Baby kesal


"Yang elo sama papa ninggalin gue itu" cicit Baby "brengsek sih kalian, udah tau gue mau ikut malah ditinggal"


Ken menoleh Baby, "Lo bisa jaga mulut gak, mulut Lo udah kayak sampah, bau banget" hina Ken


Baby memukul Ken keras "taik" umpatnya