First Love Duda

First Love Duda
Ada Apa Ini?



Baby melepaskan seragam sekolah setelah seharian melakukan aktivitas di sekolah. Belum lagi mulai Minggu depan, sekolahan akan mengadakan les untuk persiapan Tri out dan teman temannya.


Baru saja Baby akan merebahkan badan, panggilan dari Vio membuat Baby harus menegakkan badan kembali. Di ambilnya benda Pipih yang tergeletak diatas nakas


"Beb Beb, Lo harus bukak TV sekarang, berita elo udah dimana mana" suara Vio terdengar menggebu gebu


Baby bingung sendiri, kenapa dia menelfon dengan terburu buru seperti itu. Apa ada BTS yang akan perfom di TV, atau ada EXO yang sedang tayang di sana.


"Kenapa sih, jelasin pelan pelan"pinta Baby.


"Berita elo, berita elo sama Om Adry Adry itu ada di TV sekarang"


Hah, Baby melongo, dia buru buru menyalakan TV, melihat Chanel yang sedang menayangkan tayangan infotaiment, begitu mendengar suara pembawa acara membacakan berita mengenai dirinya, Baby langsung merasa lemas


"Beb" panggil Vio


"Vio, ini maksudnya apa?" Baby masih tidak paham apalagi isi berita yang dibacakan pembawa acara semuanya tidak benar.


"Gue juga gak tahu" Vio tampah lebih heboh dibandingkan Baby "coba elo buka situs infotaiment, internet lagi heboh tentang berita elo"


Tanpa banyak bicara, Baby memutuskan panggilannya, dia beralih ke ponsel, saat Baby mengetik namanya di internet, robot pintar itu menyajikan tulisan berita yang membuat Baby memaku.


"Baby Arya Kaylovi berpacaran dengan CEO Sila"


"Baby anak bungsu dari Baskara tengah hamil anak CEO Adry"


"Pernikahan dua perusahaan"


Isi artikel itu semakin tidak jelas, mulut Baby kaku, apalagi dua pembawa acara yang tengah membicarakan dirinya terputar bagaikan suara musik rusak.


Brak


Ken membuka pintu kamar Baby dengan sekali hentakan. Baby hanya mampu menatap Ken yang tengah menatapnya dengan nafas tersengal sengal, Baby rasa, Ken langsung berlari pulang dari les begitu mendengar berita ini.


"Berita itu, apa semua bener?" Tanya Ken mendekati Baby


Baby menggeleng "Gak Ken, semuanya gak beneer"


Ken mendekati adiknya "jujur sama gue Beb, Lo beneran pacaran sma Om Rama?" Tanya Ken serius


Baby tidak bisa menjawabnya, dia menatap mata tajam Ken. Hanya menatapnya saja membuat Baby begitu takut apalagi mata Ken Sama dengan mata Rindu, Baby hampir menangis.


"Baby, jawab gue" Ken mendesak


"Iya, gue pacaran sama Om Rama" kata Baby dengan lirih


"Lo, tolol banget sih jadi cewek, Lo tahu dia siapa" Ken menunjuk televisi dengan marah, lalu mematikannya. "Dia itu sahabat bokap elo Baby, dia Duda" Ken menekannya


"Ken, gue gak bisa milih dengan siapa gue jatuh cinta kan" mata Baby mulai kehilangan ketegarannya, butiran bening langsung membasahi pipi.


"Sekarang, kalau papa sampai tahu gimana?" Ken memijat pelipisnya "Gue yakin papa udah tahu sekarang" imbuhnya meralat ucapannya barusan.


Baby terisak, apalagi saat mendengar suara mobil papanya tiba di pelataran rumah. Juga suara Rindu yang menenangkan agar Baskara tidak terpancing kemarahan. Sesuai dugaan Baby, Baskara dan Rindu tiba bersamaan. Mata Baskara begitu menyala dengan marah, sedangkan Baby hanya mampu berdiri sambil menundukkan kepalanya, dia tidak mampu barang sedikit saja beradu mata dengan Baskara.


"Berita di TV apa semua bener?" Tanya Baskara mencoba membuat suaranya rilek.


Baby menangis sesegukan, mulutnya terkunci rapat. Dia ketakutan, tulang kakinya melemas, sungguh Baby tidak bisa mengatakan kata sepatah apapun.


"Baby" suara Baskara Menaik, ini bukan Menaik biasa tapi membentak "jawab papa" lanjutnya


Baby semakin kencang menangis, dia begitu ketakutan, papanya tidak pernah marah, sungguh, Baskara selalu humoris, dia belum pernah marah separah apapun Baby membuat ulah. Lelaki itu selalu bisa menoleransi kesalahan Baby.


"Papa anggap kamu menjawab iya" Baskara menghela nafas "Apa bener kamu hamil?" Tanya Baskara


"Pa, Baby gak hamil tap___"


"Diam Ken, yang papa tanya itu Baby bukan kamu!! " bentak Baskara pada Ken


Ken kicep, juga Baby yang semakin menangis terisak isak. Rindu berusaha menengahi namun tetap gagal.


"Jawab papa" kali ini, Baskara menggoyangkan bahu anaknya supaya Baby bersuara.


Dengan berat dan tercekat, Baby membuka mulutnya. Suaranya hampir hilang, hampir goyang dan hampir tidak terselesaikan


"Baby gak hamil"


Setidaknya. Helaan nafas dari Baskara kali ini mengandung kelegaan, Baskara paling takut kalau semua karma yang telah dia lakukan dimasa muda mengenai anaknya, cukup Baskara saja yang menerima, jangan kedua anaknya yang tak tahu apa apa.


"Apa bener, kamu pacaran sama Rama?" Suara Baskara sedikit lebih tenang meski tidak benar benar tenang, nadanya selalu mengandung kekacauan.


Baby mengangguk sambil terisak. Selesai dari anggukan, Rindu bersuara lirih, begitu lirih tapi dapat didengar oleh Baby.


"Astagfirullah" Rindu beristighfar


Baby benar benar ketakutan, apalagi saat Baskara tidak lagi bersuara. Nafasnya terdengar memburu, Baby takut, Baskara memiliki penyakit jantung koroner, penyakit yang diwarisi dari almarhum kakeknya, dan membayangkan kemungkinan yang akan terjadi semakin membuat Baby takut.


"Pa" suara dari Rindu membuat sedikit demi sedikit Baby mengangkat kepala


Baskara sedang memegangi dadanya, dia bersandar pada pintu, menatap langit langit kamar dengan lemas. Begitu juga dengan Ken, lelaki itu juga begitu cemas melihat papanya.


Baskara tidak lagi bersuara, dia pergi menuruni tangga, ditinggalkan oleh Baskara membuat Baby menangis terisak isak hingga jatuh lemas. Ken tidak menolongnya, Ken langusng keluar dari kamar Baby, mencari papanya.


Baby ikut turun meski dengan kaki yang terasa lemas, dia melihat Ken tengah panik dan menghubungi seseorang dari ponselnya. kakak nya itu yang tengah mengenakan seragam sekolah, melirik Baby.


"Papa kenpa?" Tanya Baby mendekati Ken


Karena berita mengenai dirinya, jantung Baskara kambuh kembali, bahkan rumah menjadi kcau berkatnya.


**


Adry sedang menjemput Ara, dia menunggu didepan sekolahan, melambaikan tangan saat anak kecil itu keluar dari pagar sekolah


"Dapet nilai berapa?" Sapa Adry ramah


"Delapan puluh, semalam ada satu jawaban yang salah" Ara bercerita sambil masuk mobil.


Saat Adry hendak membunyikan mesin mobil, panggilan dari Sinta membuatnya berhenti.


"Ada apa Sin?" Tanya Adry


"Ada berita mengenai bapak dan Baby" Sinta terdengar panik "saya kirim artikel dan beritanya " ujar Sinta


Panggilan itu terputus, di lanjutkan dengan Adry menerima sebuah artikel dari tablet kerjanya. Sebuah berita asal mengenai dirinya, Adry membaca kata demi kata, semua yang tertulis di sana benar benar tidak benar.


Hanya yang membuatnya terlihat benar adalah foto foto Adry dan Baby. Lelaki itu hampir berteriak kalau tidak ingat ada Ara.


Adry langsung meletakkan tablet dan mengantarkan pulang Ara. Karena terburu-buru , Adry sampai tidak ikut masuk rumah, dia hanya melihat dari dalam mobil saat Ara berjalan dengan bik Kar.


Adry lantas kembali ke kantor, menyelesaikan pekerjaan dan mencari tahu siapa sumber pengirim berita ini.


Di kantor, Masalah tidak berhenti disitu, karyawannya menatap Adry sambil berbisik bisik. Adry tidak mempedulikannya, toh semenjak dia mendapat gelar Duda Komen negatif selalu dia terima, tapi kali ini bagaimana dengan keadaan Baby, lelaki itu yakin Baby akan mendapat amukan dari orang tuanya.


"Berita itu rilis kapan Sinta?" Tanya Adry begitu dia bertemu Sinta, sekretaris nya.


"Sekitar pukul sepuluh pak, belum ada dua puluh empat jam tapi berita mengenai bapak sudah menghebohkan"


Adry menyalakan televisi, mengendorkan dasi dan menatap dengan tatapan nanar.


"Kamu hubungi infotaiment yang terkait dan minta mereka untuk menutup beritanya" titah Adry.


Sinta permisi keluar dan melaksanakan perintah Adry. Lelaki itu menatap arah televisi, tidak lama Sinta masuk kembali, wajahnya begitu cemas.


"Maaf pak" Sinta menunduk


"Ada apa?" Tanyanya


"Para investor dan tim direksi, meminta bapak mengklarifikasi foto yang sudah tersebar luas" kata Sinta


Adry menoleh kearah Sinta, menatap sekretaris yang sudah bekerja dengannya hmpir empat tahunan, seorang gadis keturunan Palembang yang merantau ke Jakarta.


"Kenapa harus saya mengklarifikasi berita yang tidak masuk akal seperti ini" Adry berdecak


Tidak lama, seorang berambut hitam ikal masuk kedalam ruangan Adry. Dia memberikan isyarat untuk agar Sinta meninggalkan mereka berdua.


"Saham perusahaan turun" kata lelaki dihadapan Adry


Adry langsung syok mendengar berita mengenai ini, beginilah permainan saham. Kabar sekecil apapun akan membawa pengaruh buruk untuk kelangsungan perusahaan. Dan saham, cepat sekali terpengaruh dalam hitungan detik.


"Bagaiman Anda menyikapi masalah yang sudah Anda perbuat bapak Adry?" Lelaki tua ini memberikan tablet kerja


"Saya akan bertanggung jawab" tukas Adry mantap tanpa menerima tablet yang disodorkan


"Anda tahukan, berita ini akan berdampak besar untuk perusahaan kita, apalagi berita mengenai Anda mendapatkan komentar negatif" lelaki berambut ikal ini meneruskan "Saya diminta dewan direksi untuk Anda membuat keputusan secepatnya" kata nya


Lelaki ini langsung berlalu pergi, Adry seperti dihantam ribuan gondam. Tidak menyangka hari yang akan dinggap Adry sebagai hari tenang justru membuatnya seperti ini. Hanya dalam hitungan jam, berita seperti ini membuat perusahannya kacau.


**


Baskara bersandar di sandaran ranjang, setelah dokter Wirawan memeriksanya, tubuh Baskara sedikit lebih segar. Ponsel diatas nakas terdengar, Rindu mengabilkannya dan menyodorkan kearah Baskara.


"Ada apa?" Tanya Baskara


"Maaf pak, seluruh direksi tengah berkumpul dan meminta bapak mengklarifikasi berita mengenai Putri bapak" sekretarisnya terdengar ketakutan


"Saya akan kesana" Baskara menyibak selimut


"Pak" sekretarisnya memanggil. Panggilan itu belum terputus "Saham perusahaaan  turun" imbuhnya


"Apa?" Baskara hampir terkena serangan jantung yang kedua akibat kabar dadakan ini.


Dia tidak menyangka, perusahaan yang bertahun tahun dia bangun dengan kerja keras akan berkahir hanya karena berita anaknya. Baskara mengusap wajahnya, di meminum dua kaplsu sekaligus dan mengenakan jas.


"Mau kemana?" Rindu mencegah Baskara untuk pergi, wajah suami benar benar pucat.


"Ke kantor ma, kantor benar benar kacau, saham perusahaan turun, para direksi sudah berkumpul" Baskara hendak berjalan namun tangan Rindu menarik kuat Baskara


"Inget kondisimu, kamu baru aja drop" Rindu menolak untuk Baskara kembali bekerja


"Aku gak mungkin istirahat gitu aja disaat perusahan sedang kacau" Baskara menatap Baby yang tengah menangis tanpa henti.


Baskara mendekati anak bungsunya, di tatap dengan lekat dari atas sampai bawah.


"Kamu tahu kan akibat dari cinta monyet antara kamu dan Rama" Baskara terdengar emosi "ini bukan tentang kalian berdua saja, tapi mengenai dua perusahaan Baby" dan Baskara langsung pergi.


Dia tidak ingin memarahi anaknya terlalu keras, bagaimanapun Baby adalah dirinya, mungkin Baskara jauh lebih  fatal membuat kesalahan dimasa muda. Bahkan sering masuk koran karena mengendarai mobil ugal ugalan.


"Apa karma memang seperti ini bentuknya?" Ujar Baskara lirih pada dirinya sendiri


note : Sudah masuk ke konflik