First Love Duda

First Love Duda
Tentang sebuah perasaan



Adry menyesal telah mengatakan kalimat seburuk tadi pada Baby. Meski begitu dia memang harus membentengi dirinya, Baby dan istrinya adalah dua orang yang hampir sama, ceroboh, manja dan selalu seenaknya. Melihat Baby rasanya Adry selalu melihat bayangan masa lalunya. Aneh....


Bik Kar menggeser pintu kamar Ara. Meletakkan tas yang berisi baju baju dan perlengkapan selama Adry ataupun Ara menginap dirumah sakit.


"Bik tolong jaga Ara, kalau ada apa apa langsung kabari saya" kata Adry sambil mengikat dasinya


"Non Baby" saat bik Kar menyebut nama Baby, tangan Adry berhenti mengikat dasi


"Non Baby sudah pulang kerumahnya, tadi dia membereskan barang barang" imbuh bik Kar


Adry kembali mengikat dasinya tanpa menyahuti ucapan bik Kar mengenai Baby.


"Oh ya tuan, koper tuan dibawa oleh Baby"


Tangan Adry benar benar lemas saat bik Kar menyelesaikan kalimatnya. Tidak, dia bukan lemas oleh koper yang dibawa kabur Baby, melainkan beberapa memori bertebrangan tentang istrinya muncul.


Nafas Adry benar benar terasa sesak, matanya panas, kenapa Baby dan istrinya benar benar mirip.


Dahulu, ketika istrinya tinggal bersebelahan dengan rumah Adry, istrinya melakukan hal yang sama, kabur dari ayahnya dan pergi menggunakan koper milik Adry.


Semuanya bahkan terasa lemas untuk diingat, Adry merasa sesak. Karena tidak ingin bik Kar tahu, Adry buru buru keluar.


"Mr Adry" panggilan dari seseorang membuat Adry menoleh.


Jef Alandra seorang pembisnis di Jakarta berjalan mendekati, menepuk bahu sebagai sapaan akrab antara mereka.


Adry duduk di kursi tunggu dengan tatapan mata nanar. Begitupun Jef Alandra atau yang akrab dipanggil Alan menghentakkan sepatu untuk menghilangkan kecanggungan antar keduanya.


"Gimana keadaan Ara?" Tanya Alan


"Panas nya udah turun"


"Dokter bilang gimana?"


"Ara cuman terkena tipes biasa" nafas Adry kembali beraturan.


Alan menghela nafas melihat perubahan signifikat dari sahabatnya.


"Untuk tawaran semalam tentang___"


Adry langsung berdiri begitu kalimat Alan ditengah tengah. Dia tahu kemana arah bicara sahabatnya ini, tentu saja tentang perjodohan konyol yang selalu di rencanakan sahabatnya.


"Lupain lan, sulit menggantikan posisi mendiang istri gue" katanya berusaha dengan nada biasa seramah dulu.


Alan menatap mata lelah sahabatnya dengan iba. Memang Adry tidak pernah mengatakan jika dia lelah dengan semuanya. Tapi dari cara Adry membentengi dirinya dari segala hal, membuat Alan menyimpulkan bahwa Adry memiliki trauma dengan sesuatu hal. Mungkin wanita.


Bagaimana pun Adry pernah kehilangan belahan jiwanya yang sudah dia tunggu jatuh cinta bertahun tahun.


"Lusa gue buka cabang di Bintaro" Alan berdiri sambil menepuk bahu Adry.


"Ajak Ara, gue mau elo datang ke sana, kita kumpul kumpul bareng sama yang lainnya" imbuh Alan.


Adry mengangguk lalu mereka berpisah pada lorong lantai ke tiga. Adry harus menemui dokter yang memeriksa Ara sedangkan Alan kembali ke restorannya.


**


Baby menguap meskipun kemarin dia mengambil libur, tapi rasanya pergi sekolahan diantar Ken selalu terasa kantuk saat di mobil. Ken dan lagu Maudy Ayunda nya seolah sedang menina bobokan Baby


Mata Baby terpejam , bahkan hampir tertidur kalau tidak Ken membunyikan klakson berulang ulang.


"Heh" Baby menggerutu


"Bisa biasa aja gak kalo ngelakson" cicitnya


Bibir Ken menyeringai, sesuatu yang baru Baby lihat pertama kali. Didepannya ada gadis dengan seragam SMA, tetapi bukan dari SMA Araba. Gadis itu melirik tajam kearah Ken, dia kembali berdiri ke trotoar jalan, membatalkan untuk menyebrang ugal ugalan.


Ken menoleh, tahu kalau dia tengah dicurigai, Ken langsung membawa mobilnya begitu lampu hijau menyala


"Apa? Siapa?" Tanya Ken tetap menatap arah depan


"Lo kenal cewek tadi siapa?"


Ken tidak menjawab, tetap menatap arah depan, lagu dari Maudy Ayunda tiba tiba di putar kencang oleh Ken.


"Lo kenal cewek itu tadi gak?" Baby mengeraskan suaranya, sangat keras bahkan membuat Ken memukul mukul telinganya.


"Bringsik" bentak Ken


Baby bersungut kesal "Lo kenal cewek tadi?" Tanyanya


"Cuman cewek yang gak tahu terimakasih" kata Ken


"Ha? Maksud Lo?"


"Sejak kapan sih Lo kepo sama siapa aja yang gue kenal?" Ken memutar mata


Baby menatap arah jalan "sejak hari ini dan mulai hari ini" Baby menggeretakkan giginya "siapa dia? Kenal dimana?" Tanyanya bagaikan seorang kekasih yang curiga


"Waktu elo ninggalin gue di tol" Ken melirik Baby tajam "dia nyebur ke sungai, gak dalam sih tapi dia gak bisa berenang" katanya menjelaskan


Selanjutnya yang terjadi, Baby sudah tidak perduli dengan pertanyaannya atau tentang mengapa Ken bisa mengenali cewek tadi. Dia sudah memainkan ponselnya, melihat beberapa foto model Sila yang sudah di publis di akun Instagram official milik Sila. Termasuk foto Baby.


Mengingat tentang Sila Baby jadi teringat akan Adry. Apakah lelaki itu baik baik saja setelah dirinya pergi? Ah. Baby langsung menggeleng lalu memukul kepalanya, pasti dia baik baik saja tanpa Baby. Memangnya Baby siapa bisa sepangaruh itu di hidup Adry.


"Lo kenapa?" Ken melirik Baby


"Gak. Gak papa" katanya sudah menyandarkan kepala di jok mobil


"Lo aneh semenjak balik kerumah"


"Aneh gimana? Gue masih gue yang dulu" bentak Baby


"Bukan. Dulu perasaan Lo jarang peduli hal hal kecil, kayak ngambil minuman ke dapur misalnya" Ken hati hati saat mengatakan itu, takut membangunkan sisi keiblisan Baby jika sudah menyangkut tentang dirinya


Baby menoleh tajam "emangnya gue gak boleh ngambil minum ke dapur, kan gue juga mau mandiri, gak nyusahin bibik mulu. Elo gak seneng banget gue berubah" cerocos Baby bagaikan iblis kecil


Ken langsung berdecak mendengar itu, memang salah kalau dirinya mengomentari tentang kepribadian Baby, bukannya dia mendengarkan yang ada malah dapat amukan.


"Terserah" mobil yang ditumpangi mereka berhenti.


Ken langsung buru buru keluar dari mobil, tanpa menunggu Baby yang dengan malas menarik tas ranselnya. Dia keluar mobil dengan tampang kusut, melangkah di koridor kelas dengan lemas.


"Lah rasanya pengen bolos" Baby menguap lebar "kasihan kasur gue, gue tinggalin terus" gerutunya kecil.


Dia berjalan sambil menunduk, sesekali menguap lagi, rasanya tempat paling banyak setannya adalah sekolahan. Dari rumah pergi ke sekolahan semangat, giliran udah sampe koridor malah pengen pulang.


Baby menggaruk kepalanya, lalu berbelok pada kelas dan melempar tas ransel di samping Vio yang tengah membaca novel romantis


"Tumben sekolah" komentar Vio


Baby menguap "terpaksa, ketimbang di homeschoolingin" Baby menyembunyikan kepalanya diatas tas ransel


"Tidur dimana Lo semalam? Maksud gue, Lo masih di rumah Adry?" Vio menutup buku, dan memberi batas menggunakan pembatas buku


Baby menggeleng dengan muram, rasanya kalau membahas Adry, segala hal yang dilakukan Baby menjadi tidak semenyenangkan sebelumnya.


bantuin vote ngapa biar Novel ini dapet ranking satu. kan lumayan


kumpulin koin ya, terus di vote, terimakasih