First Love Duda

First Love Duda
Titik Hancur



Baskara terbaring tidak berdaya diatas brangkar. Pandu dan Alan terlihat begitu berantakan, Pandu yang sudah mengenakan kacamata melepaskan kacamata dan memijat ujung pulupuk mata.


"Gimana keadaan Baskara? " Rindu berjalan tergesa gesa kearah suaminya.


Setelah sadar, Rindu langsung berlari kesini, Baby terisak di ambang pintu.


"Jantungnya kambuh" kata Pandu


"Apa ada sesuatu yang ngebuat Baskara drop lagi?" Rindu menatap mata Alan, meminta kejujuran.


"Tadi" Alan menunduk "tadi Baskara nemui Rama"


Helaan berat keluar dari mulut Rindu, perempuan itu hampir terjatuh kalau tidak disangga Ken. Baby merasa bersalah dan meremas ujung bajunya.


Rindu memegang tangan Baskara, perempuan itu menatap suaminya yang sedang terlelap, selang infus terpasang ditangan kiri Baskara. Lelaki itu tidak pernah sakit sebelumnya, selalu kuat sebagai kepala keluarga.


**


Adry mendapatkan pesan dari Alan bahwa Baskara jatuh pingsan, sekarang di rawat di rumah sakit milik keluarga Wirawan. Lelaki itu menyabet jas dan pergi menuju rumah sakit.


Berita saat ini sedang kacau, hanya dalam beberapa jam berita mengenai dirinya dan Baby menempati tranding 1-5 di YouTube, belum lagi masuk ke berita Nasional.


Adry menyusuri lorong VVIP, menatap kekanan dan kiri. Di kursi tunggu, gadis berambut panjang menangis sambil tertunduk, itu Baby. Adry mendekati Baby dengan perlahan, lelaki itu mengusap rambut Baby, memberi kekuatan dari sana.


Baby mendongak nya, menatap dengan buliran air mata yang menggenang. Buliran itu jatuh membasahi pipi, membuat si empunya terisak.


"Papa" suara lemah Baby mulai terdengar "Papa" Baby terbata bata oleh isakan nya.


Adry masih berdiri didepan Baby, lelaki itu menarik nafas. Dia duduk di sebelah Baby, mencoba menenangkan gadis itu sebisanya.


"Maaf" ujar Adry lirih.


Maaf karena terlambat jujur pada Baskara, maaf karena mencintaimu, maaf karena membuatmu kesusahan. Kalimat itu terus menerus di ucapkan Adry dalam batinnya.


Baby masih terisak sambil menunduk, dia kehilangan kekuatan barang mengangkat kepala, menunjukan wajah nya yang sudah tersebar luas sebagai gadis murahan di Indonesia.


"Kamu harus kuat" Adry menepuk bahu Baby, lelaki itu ingin menyalurkan kekuatan yang tersisa miliknya ke Baby, andai dia bisa melakukannya.


"Beritanya jahat banget Om" Baby terisak di akhir kalimat


"Saya tahu" Adry menatap arah depan, menatap dinding putih kokoh yang berdiri tanpa merasa gemetar sama sekali.


Berita seperti ini benar benar membuat mental Baby down, seharusnya diusia Baby, gadis itu mendapatkan banyak komentar positif bukan negatif seperti ini.


"Om, Om gak bisa ya bikin media berhenti beritin kita, kasihan papa om" Baby memohon


Andai Adry memiliki kekuatan sebesar itu, memiliki kekuasan untuk membuat rakyat Indonesia tidak memiliki penilaian negatif terhadap Baby. Tapi ke mampuan Adry hanya sebatas mengendalikan perusahaan, membayar orang orang yang mau bekerja sama dengan dirinya. Menutup berita? Itu sudah terlambat Baby, berita ini sudah menyebar luas di Indonesia, bahkan sudah di konsumsi masyarakat yang buta informasi, yang tidak menyaringnya dan menyebar luaskan berita tidak benar.


"Om" Baby menggoyangkan lengan Adry, gadis itu berharap Adry akan mengabulkan keinginannya, bukankah Adry selalu menjadi lelaki penurut


Adry menarik Baby kedalam pelukannya, lelaki itu memejamkan mata. Menahan rasa sakit akan berita ini. Baby menangis di dada Adry, menangisi papanya yang terbaring lemas di brangkar, menangisi berita mengenai dirinya juga menangisi semuanya.


**


Ken tetap terjaga seharian, lelaki itu sudah menggantikan Baskara sejak lelaki yang tertidur di brangkar belum sadarkan diri. Ken menatap Baby yang tengah menatap Baskara dengan kosong juga melihat Rindu yang pucat pasi.


"Ma, Ken beliin sarapan ya?" setidaknya dalam keadaan seperti ini, mereka harus saling menguatkan, bukankah itu fungsi keluarga


Rindu menggeleng sambil menampilkan senyum nya "Gak usah sayang, kalian harus sekolah" Rindu mengelus lengan Ken


"Ma, ijin sehari gak bakal bikin nilai kita turun kok" mana bisa Ken meninggalkan mamanya sendiri dalam keadaan seperti ini.


"Ken" Rindu tersenyum pahit "Tugas seorang anak adalah sekolah. Kamu harus melakukan tugasmu, tugas Mama biar Mama yang urus" Rindu mengelus rambut Ken.


"Ma" Ken memohon agar diperbolehkan tidak sekolah


"Sekolah lah, hari ini kalian ujian harian akan?" Tanya Rindu menatap anaknya satu per satu


Mau tidak mau Ken bangkit dengan sisa tenaganya, menarik adiknya yang terduduk dengan kekosongan. Setelah selesai mandi dan bersiap siap, Ken maupun Baby pergi sekolah, setidaknya Ken ingin berbakti kepada orang tuanya.


Sampai diparkiran, Baby masih melamun tanpa daya, fikirannya kemana mana, setelah berita yang menggemparkan itu, bagaimana komentar teman temannya akan diri Baby? .


"Beb, Lo gak turun?" Ken menoleh Baby yang tengah melamun


Perlahan Baby melepaskan seatbelatnya, dia membuka pintu, melangkah dengan ketakutan yang menguasai dirinya.


Di lorong, semua siswa siswi berbisik, membicarakan Baby, juga ada yang terang terangan memberi tatapan jijik. Ken berdiri di belakang Baby dengan gagah, lelaki itu tidak akan membiarkan adiknya di perlakukan tidak baik. Ken menarik Baby, memegang bahu adiknya


"Angkat kepala elo" kata Ken


Baby menggeleng dibalik rambut yang dia gerai.


"Beb, sejak kapan nyali lo ciut?, ini bukan Baby yang gue kenal" Ken hampir menaiki suaranya ditengah koridor


"Gu_ gue takut Ken" Baby terisak.


"Gak ada yang perlu elo takutin, ini sekolah kita, punya papa, disini elo boleh semena mena" Ken mengangkat dagu Baby, menyeka air mata adiknya dan menggandeng Baby untuk berjalan.


Ken adalah kakak yang harus melindungi adiknya, didepan kelas Baby, Ken memanggil Vio, gadis itu langsung menghampiri Baby dan memeluk temannya.


"Nitip Baby" kata Ken beranjak pergi


Vio membimbing Baby ke kursinya, di kelas pun Baby tetap mendapatkan tatapan tidak menyenangkan dari teman temannya.


"Kenapa kalian ngeliat Baby kayak gitu?" Suara Vio Menaik, dia tidak segan segan memaki siapapun yang menatap Baby dengan tatapan jijik seperti itu


Masalah tidak sampai disana, Reno dan kedua temannya masuk kekelas, mereka datang membawa kotak sampah dan melemparkan ke meja Baby.


Baby mendongak, menatap tajam kelakuan Reno yang semakin menyebalkan.


Aku jelaskan sedikit mengenai Reno, di sekolah Araba, yang anak pengusaha bukan hanya Baby dan Ken, atau Lyida . Ada sepuluh anak emas disekolahan ini.


Golongan pertama, Baby, Ken, Reno, mereka adalah anak anak direktur utama pemilik saham terbesar. Golongan kedua Lyida, Vio, Golden, Julian, keempat anak ini adalah anak dari pemilik restoran, hotel, atau bisnis besar yang berada hampir di setiap kota. Golongan terkahir adalah anak pejabat, Resa, Oci, Benard, ketiga anak itu lahir dari ayah dengan pangkat tinggi di kota, Gubenur, Mentri juga kepala kejaksaan.


Perusahaan Reno selalu bersaing dengan perusahan Araba, sebuah perusahaan pertelivisian yang sudah memiliki tiga Chanel. Kebanyakan Chanel mereka selalu mendatangkan artis luar negri.


Reno sekelas dengan Ken, Baby jarang berbincang dengan Reno, bertatap muka saja jarang. Satu satunya orang yang sering berurusan dengan Reno adalah Ken. Mereka berdua musuh bebuyutan seperti Lydia dan Baby.


"Buang sampah itu" titah Reno


Baby tersenyum smirk "Lo udah ngerasa jadi penguasa disini" sepertinya Baby menemukan kekuatannya kembali


"Baby Baby, Lo masih gak sadar tempat elo disini" Reno menendang kotak sampah yang jatuh ke lantai


"Saham perusahaan bokap elo turun Beb, sangat rendah" Reno tertawa diakhir kata "Sebentar lagi elo bakal jatuh miskin"


Brak


"Jaga mulut elo"


Tidak lama Lydia masuk kekelas, dia menatap wajah Baby dengan tersenyum menang. Bagi Lydia tidak ada kepuasan Selain melihat perempuan itu hancur.


"Beb, apa kabar hubungan elo sama Om Rama?" Tanya Lydia langsung duduk diatas meja


Baby melirik Lydia sekilas, lalu menatap Reno dengan tajam


"Araba, bakal hancur" Reno melanjutkan "Perusahaan bokap gue dan perusahana cina bakal narik investasinya" Reno tersenyum "Oh ya gue lupa" Reno menepuk jidat


"Berita tentang seberapa murahanhya elo, udah masuk ke koran New York, mungkin sebentar lagi ke seluruh dunia"


"Mulut elo bisa dijaga gak sih Ren" Vio memaki Reno sebagai perwakilan Baby.


"Vi, mending elo diem deh" salah satu teman Reno menyeletuk


"Vio hati hati, bisa bisa bokap elo yang jadi sasaran selanjutnya sama Baby " Setelah mengatakan itu Reno berjalan keluar kelas.


Lydia turun dari meja "Beb, sumpah ya, gue gak nyangka sama elo" Lydia mendekati Baby.


Gadis bermata coklat itu menatap wajah Lydia dengan lemas. Sungguh, dia ketakutan, bagaimanapun kuatnya Baby,  Baby hanyalah anak dengan mental Cemen yang bersembunyi di balik kepopulerannya.


"Lo tahukan Om Rama sama bokap elo itu sahabatan dari jaman kuliah, bisa bisanya elo pacaran sama sahabat bokap elo sendiri" Lydia geleng geleng "Jangan jangan , Elo pernah naksir lagi sama bokap gue"Lydia bergidik ngeri


"Kasihan, otak sama tumit sama sama dungu" dan Lyida beranjak pergi


Baby terjatuh kelantai, dia menangis terisak isak. Baby belum pernah diperlakukan seperti sampah.


"Jangan nangis Beb" Vio dengan setia menyeka air mata Baby.


Masyarakat Indonesia begitu terpengaruh dengan berita sekecil ini, bahan yang hanya seujung kuku bisa menjadi berita paling menyakitkan seperti pedang. Baby menangisi perbuatannya, dia tidak semurahan yang dikatakan mereka.


**


Adry memijat pelipis, setelah para direksi mengancam akan memecat Adry jika berita ini tidak segera ditanganinya. Berita mengenai dirinya bahkan sudah dimuat di koran New York dengan judul "Araba and Sila's pregnancy".


"Pak Adry" Sinta memanggil Adry


Adry menoleh perempuan itu "kenapa?"


"Pak Baskara melakukan konferensi pers" ujar Sinta memberitahu


Adry langsung menyalakan TV, melihat wajah sahabatnya yang masih pucat berdiri di atas mimbar.


"Saya menyatakan bahwa anak saya Baby Arya Kaylovi tidak memiliki hubungan apapun dengan Rama Degestra Gerilbadry, segala berita yang memuat mengenai anak saya akan ditindak lanjuti" Tukas Baskara yang memberikan klarifikasi melalui televisi miliknya.


"Pak Adry" Sinta memanggil lagi, lelaki itu hanya menoleh nya


"Elene grup, membatalkan kontrak kerja sama juga seluruh iklan milik kita tidak akan ditayangkan di televisi Araba"


"Apa?" Adry syok


"Bagaimana bisa mereka memutuskan kontrak dengan mudahnya, apa menurut mereka Sila bahan lelucon" Adry mengeram


Memutuskan kerja sama , bagaikan memutuskan persahabatan antara Adry dan Baskara. Kenapa Baskara bisa Setega itu?


"Tuntut Elena, minta mereka membayar kompensasi kerugian yang Sila tanggung" Adry membanting dokumen di atas meja.


"Baik pak" Sinta undur diri


Kepergian Sinta membuat Adry geram, dia melempar pot bunga kearah dinding. Menatap dengan tatapan marah


"Kalau itu maumu, hubungan kita sampai disini Bas"kata Adry lirih pada dirinya sendiri.


Pembatalan kontrak dan pemberhentian tayangan iklan produk Sila membuat perusahana ini menerima kerugian hampir dua triliunan. Adry tidak menyangka hanya karena berita murahan seperti ini perusahaan yang dia bangun harus hancur.


Sinta membuka pintu mendekati Adry dengan gugup


"Pak Adry, saya baru saja mendapat email dari perusahaan Thailand" Sinta mencoba mengatur nafasnya "Mereka membatalkan untuk melakukan investasi di perusahaan kita"


"Gak mungkin" Adry membentaknya "mereka baru saja tanda tangan kemarin , bagaimana bisa Dengan mudah mereka membatalkannya?"


"Mereka bilang, berita mengenai pak Adry berdampak bagi perusahan mereka"


"Sialan" Adry mengumpat, dia memegangi pinggiran meja, menatap dengan tatapan kabur.


Sungguh berita yang dimuat di koran New York benar benar membuat perusahaan Adry kehilangan banyak dana.


**


Dengan lemas Baskara menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu, dia memijat pelipis, mengendorkan dasi dan membuka dua kancing kemejanya.


"Pa" Rindu mendekati dengan segelas air putih "Papa beneran mutusin kontrak sama Sila?" Tanya Rindu


Baskara mengangguk "gak ada pilihan lain buat ngedalikan berita ini ma"


"Pa, papa tahu gak, dengan papa mutusin kontrak, sama aja papa mutusin hubungan papa sama Rama"


"Mama tahu, berapa kerugian yang kita dapetin dari berita ini?" Urat Baskara menimbul "tiga koma enam triliun ma. ditambah  berita yang dimuat di koran New York makin bikin runyam, Araba kesulitan ngendaliin berita yang udah nyebar kuas kemana mana "


Baskara mengatur nafasnya "Suruh Baby putus sama Rama" titah Baskara


Lelaki itu berjalan dengan menyangga kepalanya menuju kamar.