First Love Duda

First Love Duda
Home



Mereka terdiam setelah sama sama masuk ke mobil, juga ketika mobil sudah berada di kawasan Jakarta.


"Saya antar sampai rumah" kata Adry


Baby menoleh spontan "gak, gak usah, nanti urusannya bisa panjang kalau bokap gue tahu, gue di Bali" katanya


"Gue bilangnya ke Singapur sama Oci, anaknya Om Pandu" imbuh Baby


"Oci pulang lusa, terus kamu menjelaskan ke orang tua mu bagaimana?" Tanya Adry


Baby menunduk "gue juga bingung" katanya lirih


"Dan kakimu, apa yang akan kamu katakan ke orang tuamu?" Tanya Adry lagi


Baby menunduk dalam "gak tahu" katanya lagi


"Saya antarkan, saya bisa menjelaskan ke orang tuamu dengan masuk akal" kata Adry mantap


"Tapi omm" Baby menatap Adry dengan memelas


"Saya tidak butuh penolakan" ujarnya


Dengan berat hati Baby hanya bisa terdiam, pasrah dengan mobil yang terus melaju kearah rumahnya. Baby tak henti hentinya berkomat Kamit, mungkin tengah merapalkan segala doa agar orang tuanya tidak curiga.


Saat mobil berbelok ke pelataran rumah, demi Tuhan jantung Baby hampir copot, ditambah kakinya lemas, nafasnya sudah habis. Kalau orang tuanya tahu, bisa selesai karirnya.


Adry mengeluarkan koper dan membukakan pintu untuk Baby.


"Om, gue boleh gak ikut elo balik kerumah aja" pinta Baby dengan wajah pucat


"Kamu punya rumah sendiri, lagi pula saya bukan penampungan orang terlantar" kata Adry sarkatistik


"Om, Please. Gue takut banget" rengek Baby.


Adry berjalan cepat meninggalkan Baby. Mau tidak mau gadis itu turun dari mobil dengan pelan. Dia berdiri dibelakang Adry, bersembunyi dibalik bahu kekarnya.


Ting tong


Adry menekan bel bagaikan tengah bertamu kerumah malaikat pencabut nyawa. Bayangkan  jika yang keluar adalah malaikat Izrail dengan sabit kebanggaannya serta baju dinas hitamnya. Dan saat keluar dari balik pintu, malaikat Izrail menyapa Baby. Tidak, membayangkan mengenai itu saja Baby bergidik ngeri, belum lagi jika dia membayangkan wajah marah Rindu dan Baskara.


Baskara keluar dari balik pintu membuat pasokan oksigen Baby menipis.


"Ram, tumben?" Baskara mengintai siapa gerangan gadis yang bersembunyi di belakang punggung Adry.


Duda itu menarik tangan Baby hingga gadis itu berdiri disebelahnya.


"Lho kok Baby bisa sama kamu?" Tanya Baskara


"Semalam aku ke Singapura, mungkin Oci tahu kalau aku ke sana, jadi anak itu nelfon aku dan bilang kalau Baby pengen cepet cepet pulang, kakinya terkilir" Adry melirik Baby "Lebih rincinya kamu tanya sama anakmu "


Baby tersenyum meringis kearah papanya, hingga papanya menatap kaki bengkak Baby.


"Aneh aneh kamu itu, liburan bukannya pulang bawa oleh oleh malah bawa kaki bengkak gitu" Baskara mengambil alih koper milik anaknya


"Masuk Ram" ajak Baskara.


Duda itu mengikuti langkah sahabatnya menuju ruang tamu, juga melirik kearah Baby yang sepertinya berhasil mengumpulkan nyawanya kembali.


"Udah pulang kamu Beb?" Rindu datang dengan clemek di perutnya.


"Ini ma, si Baby kakinya bengkak jadi pulang cepet, dianterin si Rama pulangnya" jelas Baskara pada Rindu


"Kamu sih, udah Mama bilangin jangan pakek heels" Rindu memukul lengan Baby dengan pelan


"Ih Mama" Baby mengelus lengannya "abis Baby pendek banget. Gak pede ma sama tinggi badan Baby"


"Ikut makan malam yuk Ram" ajak Rindu


Adry tersenyum cerah "makasih Bu, tapi saya harus pulang, kasihan Ara nungguin saya" kata Adry berdiri sambil merapikan switernya.


"Saya permisi dulu" pamit Adry sopan


Baskara selaku sahabatnya, berjalan mengantarkan kepergian Adry sampai diambang pintu. Mobil sedan hitam itu membunyikan klakson sebagai tanda berpamitan terakhirnya. Dan begitu mobil Adry tidak terlihat, Baskara menoleh dan langsung terkejut saat Baby ada dibelakangnya.


"Kamu ngapain disini?" Tanya Baskara dengan terkejut


"Tumbenan, biasanya kalau ada temen temen papa pulang kamu cuek aja" Baskara berjalan ke meja makan


"Ramah salah, cuek salah, emang aku ni serba salah"


Baskara mengerem langkahnya dan menatap anak gadis yang tingginya sudah hampir se bahu Baskara. Di menilik dari atas Samapi bawah


"Atau jangan jangan, kamu habis malakin Om Rama ya?" Tuding Baskara


"Astagfirullah" Baby mengelus dada sebagai bentuk mendramatiskan keadaan "papa ini seudzon aja sama anak sendiri" kata Baby berjalan kearah kursi makan


"Kamu kan emang sering gitu, kalau baik pas ada maunya" cicit Baskara "dikasih uang berapa kamu sama Om Rama?"


Baby geleng geleng tidak percaya "dia mah jenis oom oom yang pelit, susah dipalakin" ujar Baby sudah menyendok nasi


Ken keluar dari kamar, berjalan sambil memasukan tangannya ke saku celana. Disusul Rindu yang membawa sup hangat ke meja makan.


"Tadi kalau tahu kamu mau pulang, Mama bikinin salad kesukaanmu" kata Rindu meletakkan sup kesukaan Ken


Baby mengambil lauk pauk , memakannya tanpa banyak suara dan tidak menanggapi kalimat dari mamanya


Ken pun begitu, dia sudah makan dengan tenang, hanya dentingan sendok yang terdengar di meja makan.


**


Ken tengah membaca buku di kasur dengan posisi tengkurap, ada beberapa buku matematika juga buku yang lainnya. Dan dengan tidak berperasaan Baby langsung melompat pelan keatas tubuh Ken, hingga tubuh cungkring itu sesak akibat ulah adiknya


"Lo kira kira dong kalau bikin orang mati" teriak Ken meronta membuat Baby terjatuh kelantai


"Abis, gue ketok pintu dari tadi lo gak denger" Baby duduk di sisi Kasur.


"Lo tu ya Ken, liburan itu diisi dengan hal yang menyenangkan bukan bacain buku" cicit Baby membolak balikan buku milik Ken.


"Gue bukan elo, yang selalu mengisi waktu dengan hal gak berguna" balas Ken pedas


"Eh, ini kok ada buku pengantar ilmu hukum" Baby menarik buku yang sedang dibaca oleh Ken


Lelaki itu dengan tampang dinginnya langsung memelototi Baby, dia bahkan merebut buku yang dipegang Baby dengan kasar.


"Lo mau ngambil hukum Ken?" Tanya Baby ragu


"Lo kepo banget sih sama urusan orang, sana keluar" pekik Ken keras


Bukannya keluar dari kamar Ken, Baby justru menidurkan tubuhnya disebelah Ken, memainkan ponsel.


Baby


Om, udah sampai rumah?


Om, lagi apa?


Om udah makan?


Om, berantem yuk?


Baby mendegus kesal saat pesan pesan yang dikirimnya hanya dibaca tanpa dibalas oleh Adry.


"Di dunia ini laki laki yang gak bikin gue kesel siapa sih?" Pekik Baby


Bak


Ken dengan kejamnya melempar buku matematika ke kepala Baby, gadis itu menggaduh kesakitan


"Lo kalo mau ribut diluar sana, gue mau belajar"


Baby mendegus saat mendengar ucapan Ken, dia bangkit dengan kesal, lalu mengambil bantal dan memukulkan tepat ke kepala Ken.


"Dasar keturunan Mama, dasar kulkas, dasar triplek, dasar kanebo, dasar anak pungut" maki Baby terus menerus sambil menghajar Ken dengan bantal


Tenang saja, Ken tidak sepenuhnya terluka oleh pukulan Baby karena bantal yang digunakan Baby adalah bantal yang terbuat dari bulu angsa. Setelah puas , Baby langsung turun dan berjalan kearah pintu namun belum sampai dia memegang knop, Baby terjatuh akibat kakinya terasa nyeri


"Rasain lo, kualat sama kakak sendiri" kata Ken sambil beranjak menolong Baby.