
Adry membawa Baby pulang kerumah. Alasan Adry membawa Baby pulang bukan Karena dia ingin berduaan, tapi melihat kondisi Baby yang tengah mabuk seperti ini, dia takut kalau membuat Rindu dan Baskara memberi hukuman pada Baby, juga karena gadis itu selalu memeluk lengannya dengan kuat meskipun Adry kesusahan menyetir.
Adry membuka pintu rumah, sepertinya Ara sudah tertidur. Bik Kar keluar dari dapur, dia kaget saat tuan nya membawa seorang gadis.
"Ini Baby bik" Adry menyadari kebingungan bik Kar.
Saat Adry menyebutkan nama Baby, bik Kar manggut manggut "oh non Baby" ujarnya
Adry menggendong Baby ke kamarnya, lalu menidurkan gadis itu. Diselimuti tubuh Baby. Adry tidak beranjak pergi, dia duduk di kursi, mengamati wajah Baby yang tenang.
Diambilnya ponsel Baby dari tas, Adry sengaja mengirimi pesan ke Baskara melalui ponsel Baby, agar lelaki yang seumuran Adry itu tidak curiga.
Baby
Pa, Baby nginep dirumah temen
Sepertinya Baskara sedang lembur, karena tidak ada balasan, hanya pesan pesan Rindu yang sedari tadi berdatangan. Adry menundukkan kepalanya, apa dia harus berbohong seperti ini terus?
Adry membalas pesan Rindu, dia juga mengatakan pesan yang sama seperti yang dia kirim ke Baskara.
Meski Rindu masih mengirimi pesan ke Baby yang menanyakan mengenai dia menginap dimana dan dengan siapa, Adry memilih tidak membalasnya, ponsel itu diletakkan diatas meja. Saat walpaper layar kunci muncul, Adry menarik senyum dengan getir. Karena walpaper itu lah, asal mula Adry tahu bahwa Baby anak Baskara. Dan dari situlah sifat dingin Adry muncul, dia sengaja memberi pembatas antara Adry dan Baby, agar dirinya tidak terluka juga tidak melukai Baby yang sudah mulai berharap.
Baby membuka mata, dia menatap Adry yang menunduk didekatnya. Baby merubah posisi, dia duduk, menatap Adry yang perlahan mengangkat kepala.
"Sudah bangun?" Tanya Adry
"Om gak tidur?" Baby balik bertanya
"Saya belum ngantuk"
Dilihatnya jas Adry yang masih terpasang rapi, perlahan Baby mengelus tangan Adry yang setia berada ditangannya . Gadis itu menarik senyum setulus mungkin
"Kenapa? Mikirin tentang hubungan kita?" Tebak Baby
Adry membalasnya dengan senyum lalu menarik tangan Baby dan diciumnya, tangan itu di letakkan Adry di pipi sebelah kanan, Adry memejamkan mata, berusaha menikmati kenyamanan yang dia rasakan.
"Kalau papa kamu tidak merestui kita bagaimana?" Tanya Adry menciumi kembali tangan Baby.
Baby hanya terdiam, dia belum memikirkan mengenai itu, juga rasa rasanya terlalu cepat kalau membahasnya, Baby kan masih SMA.
"Nanti gue cariin dukun biar bisa bikin papa luluh" kata Baby bercanda
Mendengar itu Adry tersenyum, mata mereka bertatapan. Sangat lama, begitu lama dan dalam. Hembusan nafas yang memburu dari Baby membuat Adry mendekatkan wajahnya, dilumuti bibir gadis itu secara lembut. Tangan Baby membantu Adry melepaskan jas nya, juga perlahan Adry naik keatas kasur, sedikit mendorong Baby untuk tertidur. Ciuman mereka semakin dalam, begitu dalam.
Baby melapskan ciumannya, menatap mata Adry seperti mengisyaratkan untuk Adry melanjutkan. Tapi Adry menarik senyum, dia paham akan arti tatapan itu, tangan Adry mengelus Baby.
"Tidak sekarang ya" bisiknya lalu mencium Baby sekilas dan beranjak pergi meninggalkan jasnya.
**
Adry duduk dengan secangkir teh hangat di depan kolam. Dia sudah berganti pakaian, mungkin Baby tengah tertidur usai mereka berciuman. Menikmati mimpinya atau melanjutkan ciuman mereka didalam mimpi.
Adry menatap air kolam yang begerak teratur, dia melepaskan baju. Dan menceburkan dirinya di kolam. Menyelam didalam air sangat lama lalu menimbulkan diri .
Ada kebingungan yang saat ini menghinggapi Adry. Apa Baby sanggup jika Adry ingin ke jenjang serius? Apa gadis itu bisa merawat dan menjadi ibu dari Ara? Anak itu belum tahu apa apa, mengenai semuanya, tentang bagaimana menjadi seorang ibu.
Ada keraguan yang ikut bersemayam dalam pikiran Adry. Lelaki itu menatap langit malam yang kehilangan bintang.
"Papa" suara Ara terdengar dari ambang pintu.
Ara dengan setelan baju tidurnya, ikut duduk di atas kursi dekat kolam
"Kok udah bangun? Tidur lagi sana, masih malam ini" Adry bergerak keluar dari kolam, dia mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya.
Ikut duduk di dekat Putri kecilnya yang memeluk boneka tady bear.
"Bik Kar udah pulang, Ara takut tidur sendiri"
Bagian ini aku lupa menjelaskan. Adry memiliki pembantu hanya satu untuk merawat rumah dan juga Ara. Masalah baju, Adry memerintah bik Kar untuk mencuci di tukang cuci langganan, bik Kar hanya bertugas memasak juga merawat Ara. Saat Adry sudah pulang, bik Kar akan pulang kerumahnya, rumah bik Kar tidak terlalu jauh, dia tinggal di belakang rumah Adry, sebuah rumah sederhana yang di belikan oleh Adry untuk keluarga bik Kar. Perempuan bertubuh gemuk itu memiliki dua orang anak laki laki, semuanya sudah bekerja juga suami yang bekerja di perkayuan.
Adry menatap Ara "Tante Bunda nginap disini"
Saat mendengar kata Tante Bunda, Ara langsung menoleh ke Adry. Bibirnya terangkat naik, matanya tenggelam ditelan pipi gembulnya.
"Beneran pa?" Tanya Ara tidak percaya
Adry mengangguk berulang ulang "Dia ada di kamar papa, sana kamu tidur sama Tante Bunda"
Ara tidak lagi menanggapi, langsung berlarian kearah kamar papanya. Meninggalkan Adry yang diselimuti angin malam juga selintas kekhawatiran.
**
Adry menyiapkan sarapannya sendiri, memanggang roti juga susu. Rutinitas pagi seorang duda, Ara sudah bangun lima belas menit yang lalu, sekarang sedang dikamar dengan bik Kar. Baby keluar dari kamar Adry, gadis itu mengenakan kaos Adry yang kebesaran.
"Tidak sekolah?" Tanya Adry sambil menuangkan susu
Baby mendekati Adry, menoleh ke kanan dan kiri sambil menoel lengan Adry berkali kali.
"Morning kiss" ucap Baby yang membuat Adry melipat bibir sangking malunya
"Saya lagi nuang susu" alasan Adry, sebenarnya lelaki tua itu terlalu malu untuk menuruti Baby. Kenapa abg jaman sekarang bruntal bruntal ya?
"Om" Baby memanggil Adry, lelaki itu menolehnya, dan dengan sedikit tenaga, tangan Baby berpegangan pada pinggiran meja dapur, menjinjitkan kaki lalu mencium bibir Adry.
Cup
Adry tersenyum, saat kaki Baby sejajar dilantai, giliranan Adry yang menundukkan kepalanya.
Cup
Dia membalas ciuman Baby. Karena mendengar suara orang menuruni tangga, Baby lantas duduk diatas meja, dia menarik narik roti yang sudah dipanggang Adry.
"Lo kok bangun pagi gak bangunin gue sih?" Tanya Baby
Adry membawa tiga gelas susu keatas meja, Adry memberi pelototan kearah Baby lalu mengatakan kalimat "jaga bicaramu" tanpa suara.
Baby paham apa maksudnya, oleh karena itu dia tersenyum kearah Ara dan
"Kenapa pagi tadi gak bangunin Tante Bunda, kan Tante Bunda jadi terlambat ke sekolahnya" kata Baby dibuat semanis mungkin
Ara yang tengah memakan roti kontan menoleh sambil mendelik
"Tante bunda kenapa ngomongnya gitu?" Tanya Ara heran
Adry tertawa cekikikan saat melihat reaksi anaknya, memang lucu kalau melihat Baby berkata lembut, meski itu bukan watak Baby
Ara selesai menyantap sarapannya, dia sudah siap dengan menggantungkan tas dipundak. Menyalami Baby bagaikan itu adalah tangan ibunya dan Adry.
"Tante bunda, Ara berangkat dulu" kata Ara permisi pergi dan menggandeng tangan bik Kar.
Biasanya Ara dijemput oleh bus sekolah, tapi jika hari Sabtu bus tidak menjemputnya, bus itu bukan disediakan oleh sekolah, tapi disedikan oleh para politikus, jika Sabtu bus akan liburĀ karena itu jika Sabtu, Adry ataupun bik Kar yang mengantarnya. Ara sudah hilang di balik pintu, sedangkan Baby tengah menikmati sarapannya dengan asyik
"Tidak pergi sekolah?" Tanya Adry menyabet jas dan berdiri
Baby menggeleng "enggak, udah telat jam segini" katanya mengayunkan kaki.
Adry mengenakan jasnya dan mendekati Baby, di kecupnya bibir Baby yang penuh dengan roti.
"Saya berangkat ya" pamit Adry berjalan pergi.
Baby melambaikan tangannya bagaikan itu ayahnya sendiri. Setelah mobil Adry pergi, yang bisa dilakukan Baby hanya merenung.
"Ngapain coba gue disini?" Tanyanya.
Baby berputar putar di dapur saat menemukan buku resep makanan, dia tertatik untuk mencoba membuatnya. Membuat telur dadar, sepertinya enak. Baby memeriksa kulkas, semuanya masih ada, dia mencampur bahan seperti yang dituliskan lalu memasaknya.
"Gue nih emang udah cocok jadi ibu" tukasnya pada diri sendiri
Api yang digunakan untuk menggoreng kompor bukankah harus kecil? Kenapa Baby menyetel Sebasar itu, ketika telur dibalik, bagian telur itu warna hitam pekat. Asap asap bermunculan, minyak yang dituangkan Baby terlalu sedikit ditambah api yang terlalu besar.
"Uhuk uhuk" Baby terbatuk oleh aroma gosong dari telurnya.
Dia mengipasi berkali kali agar udara bersih, percuma, terlur Baby sudah benar benar gosong.
Klik
Adry yang entah sejak kapan putar arah langsung mematikan kompor, dia mengangkat teplon dari kompor dan membuang telur gosong milik Baby.
"Saya sudah punya firasat tidak enak mengenai ini" ujar Adry menatap Baby.
"Gue cuman nyoba nyoba masak" Baby membela dirinya.
Adry memejamkan mata, memijat pelipisnya dan mengacak rambut.
"Seharusnya kamu kecilkan api itu" Adry menekan meja dapur.
Baby mengangkat buku resep, menunjukan ke Adry "Disini gak tertulis Om kalau gue harus ngecilin api" Baby tetap Keukeh bahwa kegosongan telur bukan salahnya.
Adry melepaskan jas dan dasi, menggulung lengan kemeja. Lalu membuka kulkas untjk mengambil telur dan mengambil taplon yang baru. Dia mulai memasak, sedangkan Baby hanya berdiri melongo melihat keahlian Adry memasak.
"Om bisa masak?" Tanya Baby memeluk Adry dari belakang. Lelaki itu menarik sudut bibir, dia tidak menolak, membalik telur tanpa terganggu sama sekali.
"Dulu saya kos di Jakarta"
Baby menciumi punggung Adry, lelaki itu sedikit melepaskan pelukan Baby, dan berjalan mengambil piring. Telur dadar yang matang sempurna itu membuat Baby menelan Saliva.
Adry mengambil saos, membuat tanda love diatas telur. Baby malu malu saat melihat apa yang digambar Adry. Melihat Baby yang menggigit bibirnya, Adry tertawa renyah.
"Udah laper?" Tanya Adry menyerahkan sepiring telur kepada Baby.
"Tanda apa ini?" Baby pura pura tidak tahu dan itu membuat telinga Adry memerah.
"Saya juga tidak tahu" katanya sambil merapikan dapur.
"Om Om" Baby menoel Noel lengan Adry, lelaki itu menoleh dan
Cup
Baby mendaratkan ciumannya di bibir Adry, lelaki berumur empat puluhan itu menatapnya sambil tersenyum. Tangan Adry menarik pinggang Baby sehingga pinggang ramping milik gadis bermata coklat menempel di perut rata Adry. Lelaki itu tanpa pikir mencium bibir Baby, begitu lama karena Baby dan Adry memejamkan mata. Adry melepaskan ciumannya, dia tersenyum memggoda, mendekatkan bibir Adry ke telinga Baby.
"Gak ada siapa siapa dirumah, kamu mau__"
Seakan paham oleh ucapan Adry,
Baby langsung berlarian membawa telur itu keatas meja, menyantapnya dengan perlahan.
"Hemm enak" Baby berhenti, menggantungkan sendok di bibir "Om, besok kalau kita nikah, Om yang masak ya?" Baby nyengir di akhir kalimat, membuat Adry ikut tertawa.
"Om gak kerja?"
Jangkung Adry yang bergerak meminum air berhenti, dia menatap kearah Baby yang sedang menikmati telur buatannya.
"Ngambil libur"
"Jalan yuk" ajak Baby
"Jalan?" Adry bersidekap, dia memutar mutar bola matanya.
"Selesaikan makanmu, saya ganti baju dulu" Adry berjalan kearah kamarnya
Kalau sudah begitu artinya Adry mau menuruti permintaan Baby. Memang sih kalau dipikir pikir Adry hampir tidak pernah menolak permintaan anak itu.