
Setelah mandi, Baby memutuskan untuk turun kebawah mengambil cemilan lalu berniat mengurung diri dikamar. Saat dia menuju ke dapur suara pintu depan berbunyi.
Dengan malas Baby membuka pintu itu, ditemuinya Alan dan Pandu yang berdiri dengan cengiran meski keriput dimatanya sudah tampak jelas.
"Malem Om, mau maen game sama papa ya?" Tanya Baby dengan ramah pada mereka berdua
"Iya dong, sekalian bahas bisnis kita bersama" ujar Pandu lebih dulu masuk
"Papa mu ada?" Tanya Alan
"Ada Om, tapi nanti maen gamenya setelah marahin si Baby" kata Baby nyengir
"Lha kenapa di marah? Kamu buat salah lagi Beb?" Tanya Pandu heran
"Biasa panggilan sekolah"
Mendengar ucapan Baby, Pandu dan Alan kompak tertawa.
"Kamu sama persis kayak papamu pas muda. Banyak masalahnya" kata Alan menepuk bahu Baby.
"Om bagi duit dong, pasti setelah ini uang jajannya Baby di kurangin lagi" Baby menengadah tangan, meminta uang pada Pandu dan Alan yang langsung tertegun.
"Om lagi bokek" alasan Pandu
"Boong, masak jaksa bokek" Tutur Baby masih tetap menengadah meminta uang pada keduanya.
Mau tidak mau Pandu dan Alan mengeluarkan uang dari saku mereka. Pandu memberikan uang lima puluh ribu sedangkan Alan memberi seratus ribu.
"Om Pandu pelit amat sih. Masak ngasih cuman lima puluh ribu" cicit Baby melirik
"Yang penting kan iklas" alasan Pandu.
"Kasih yang banyak tapi gak iklas gak papa kok Om. Lagian nanti malaikat Atid tetep nyatet dosa Baby setiap hari"
Pandu dan Alan saling pandang lalu menggelengkan kepalanya.
"Beb dipanggil papa" teriak Ken dari lantai atas.
"Da Om, Baby mau perang dulu" ujar Baby mengangkat tangan tanda berdada
"Semangat ya, semoga menang melawan papamu"kata Alan dengan senyuman manis.
Baby menaiki anak tangga menuju ruang kerja papanya yang terletak di sebelah kamar Ken. Dengan dua kali ketukan Baskara sudah memerintah Baby untuk masuk kedalam ruangan bernuansa Amerika itu. Lagu lagu rock tengah diputar dari pengeras suara, salah satu lagu yang sering diputar Baskara adalah "damage" sebuah lagu dengan nada keras.
Baby duduk di kursi depan papanya, menatap papanya yang menggunakan kacamata tengah mengamati laptop kerja. Sedangkan Baby mengamati kertas laporan perusahaan.
"Papa dapet surat panggilan dari sekolahan" kata Baskara akhirnya melepaskan kaca mata dan menutup laptopnya.
Baby menatap papanya dengan cengiran tanpa dosa.
"Kamu ini bikiiiin ulah terus tiap hari" Baskara geleng geleng "malu papa sebagai pemilik yayasan Araba kalau anaknya susah diatur gini"
Baby menatap sekeliling ruangan kantor Baskara. Mulai dari interior, tata letak lukisan, dan beberapa penghargaan selama Baskara menjadi CEO.
"Niat papa beli sekolah itu biar kalian gak dideskriminasikan selama sekolah. Biar kalian lebih diutamakan. Tapi kamu malah kayak gini" kata Baskara menatap anaknya yang matanya jelalatan.
Brak
"Kamu dengerin papa gak sih?" Tanya Baskara ketika mata Baby bertemu dengan mata papanya.
"Iya dengerin" Baby memutar bola matanya.
"Mulai besok papa akan daftrain kamu les, supaya kamu gak bisa main main terus"
Ucapan Baskara langsung mendapat pelototan tajam dari Baby, bahkan Baby sungguh sungguh tidak mau jika namanya di catat dalam tempat les. Rasanya seperti didaftarkan sebagai kandidat orang yang akan mati.
"Gak mau, papa lupa waktu Baby kelas satu dulu Baby gak pernah hadir di les, buang buang uang aja tau gak. Mendingan uangnya buat bikin usaha, terus usaha nya dikasih ke Baby, mayan kan dapet duit"
"Duiiiitttt aja kamu itu fikirannya, fokus sekolah, gak usah mikirin nyari uang. Biar papa yang cari uang"
"Papa nyari uang tapi gak pernah ngasih ke Baby sama aja" kata Baby tajam
"Ka__"
"Papa tahu gak sih kenapa Baby kayak gini. Dari kelas satu Baby selalu dapet masalah di sekolahan dan selalu dipotong sama Mama, potongan di hukuman pertama belum selesai udah kena potongan di hukuman yang kedua. Dan total uang saku Baby sekarang cuman dua puluh lima ribu" ujar Baby "masuk akal gak , pertama sekolah uang saku Baby lima ratus ribu, semakin hari semakin dikit,dan sekarang jadi dua puluh lima ribu. Buat beli nasi Padang aja kurang" rengek Baby
Baskara menarik nafas lalu mendegus.
"Aku ngerasa jadi anak orang miskin tau gak pa, yang lebih parah malah Baby sering banget minta dijajanin sama Vio dan yang lainnya, malu pa Baby sebagai anak penerus perusahaan terbesar se Asia tenggara ini"
Baskara menunduk, kemudian menatap wajah Baby yang murung.
"Habis ini kamu makan dan tidur" kata Baskara.
Baby tersenyum menang, memang kalau urusan dengan Baskara akan selalu mudah tapi jika urusan dengan Rindu akan memakannya waktu yang panjang dan susah.
Baby berniat pergi tapi panggilan dari Baskara membuatnya menoleh
"Ini buat jajan kamu" Baskara memberikan kartu kredit ke Baby.
"Beneran pa, makasih" Baby berlari dan memeluk Baskara, menciumi papanya berkali kali
"Inget, jangan bilang mamamu kalau papa ngasih kartu kredit"
Dengan puas Baby keluar meninggalkan Baskara. Dia menuruni tangga tetapi seolah melihat bayangan Adry yang masuk kedalam rumah. Namun Baby langsung menepis dan berjalan ke dapur.
"Mama" Baby memeluk Rindu dari belakang.
"Udah belajar?" Tanyanya
"Bentar lagi otw, ma minta salad nya dong"
Rindu memberikan semangkuk salad ke Baby.
"Buat siapa yang lainnya?" Tanya Baby
"Buat temen temen papamu"
Baby memakan salad buah sambil menatap Rindu yang menyiapkan cemilan untuk teman teman Baskara.
"Udah lama ya papa temenan sama mereka?" Baby memasukan buah kedalam mulut
"Emmmm" Rindu berfikir sejenak "sebelum mama nikah sama papa mereka udah temenan" katanya
"Malem Tan" sapa Yoshua teman Ken kepada Rindu saat membuka kulkas untuk mengambil minum
"Yoshua lagi belajar sama Ken ya?" Tanya Rindu ramah.
Yoshua mengangguk
"Ini di bawa salad buahnya buat cemilan kalian"
"Makasih Tan"
Baby menatap Yoshua yang culun sambil berjalan menunduk.
"Eh Yos Lo gay ya?" Terka Baby dengan argumen tidak masuk akalnya.
"Ha? Maksud kamu?" Tanya Yoshua bingung
"Gue liatin elo nempel terus sama Ken udah kayak sejoli_" Baby menghentikan kalimatnya "jangan jangan__"
Sebelum menyelesaikan ucapannya, Rindu sudah memberi pelototan pada Baby sehingga Baby langsung diam tidak berani melanjutkan kalimatnya.
Yoshua hanya menunduk kemudian permisi pergi, Rindu sibuk memotong menata salad ke mangkuk.
"Mama denger kamu bikin ulah lagi disekolahan?" Pertanyaan Rindu sudah semacam introgasinya untuk Baby.
"Cuman silahturahmi ke ruang BK doang" ujar Baby, membawa pergi salad yang sudah diambilnya tadi.
"Baby" panggilan Rindu membuat Baby berhenti, lalu menoleh lemah
"Sebagai pelajar ada yang perlu kamu kerjakan dan ada yang tidak perlu kamu kerjakan" Rindu memulai nasihat
"Bedakan yang mana sekolah dengan yang mana hobi kamu, jangan sampai Mama membatasi ruang gerak kamu dalam melakukan hobi" tegurnya
Ucapan Rindu membuat Baby langsung naik ke lantai atas. Hobi dan sekolah mana yang lebih penting, Baby tidak menyukai sekolah. Jelas dia tidak memiliki cita cita selain menjadi artis, menghasilkan uang tanpa meminta Rindu atau Baskara.
"Semoga ada pangeran berkuda yang nyelamatin gue dari kastil sialan ini" gerutu Baby lirih sebelum membenamkan diri pada bantal.