First Love Duda

First Love Duda
Rindu Ken



Adry yang baru tiba di depan rumahnya, menghentikan mesin mobil dan berniat membuka pintu mobil


Drrttt drrrttt


Mendengar suara ponsel yang ada di dasbor dia berhenti untuk mendorong pintu. Walpaper ponsel milik Baby membuatnya diam sejenak. Memandangi dengan mata yang sulit di jelaskan.


**


"Udah punya Pacar?" Pertanyaan tiba tiba dari Manik membuat Baby menoleh dengan binar mata bahagia.


Seperti rencananya, semua berjalan dengan baik


"Belum" katanya melemah


Manik tidak menimpali lagi jawaban Baby, dia menatap Hendrik dan Vio yang sudah berjoget dipanggung.


"Hendrik temen kakak?" Tanya Baby masih pada pandangan bahagia Vio


Manik mengangguk tanpa bersuara, dia menyesap jus melon yang ada digenggaman.


"Dari semester 1 kita kenal" jelasnya


"Oh"


"Lo sama temen Lo itu, udah lama kenalnya?"


Kali ini Manik sedikit merubah posisi berdirinya.


"Mama kita berdua temenan dari SD, otomatis setiap kali Mama gue dan Mama Vio ketemu, kita selalu ketemu juga" jelas Baby berbelit "pokoknya kita kenal udah dari bayi"


Vio turun dari panggung dan mendatangi baby.


"Cabut kuy, udah malam banget. Nyokap gue dari tadi nelfonin terus" ujar Vio dengan tampang kusutnya.


Baby melirik ke jam dipergelangan tangan, pukul sepuluh malam. Dia pun menatap Manik yang juga menatapnya, mungkin sedikit meminta persetujuan kalau dia akan pulang lebih cepat.


"Balik aja gak papa, lagian emang udah malam" kata Manik yang seakan mengerti arti tatapan Baby.


"Kita anterin ya?" Tawar Hendrik sudah dengan kunci mobil di tangan


Baby dan Vio langsung kompak menggeleng.


"Kita naik taksi" ujar mereka kompak.


Manik dan Hendrik mengernyitkan dahi, sedikit heran sih sama kelakuan dua anak didepannya ini. Biasanya kalau ada yang menawarkan mengantar pulang, mereka akan menerima dengan senang hati.


"Beneran?" Tanya Manik memastikan apakah mereka tidak apa apa pulang sendiri


Baby mengangguk mantap "lagian kan kak Manik sama kak Hendri orang penting di BEM"


"Iya bener itu, kalau kakak nganterin kita, gak enak sama kakak kakak yang lainnya" timpal Vio cepat.


"Kita duluan ya" Baby buru buru menarik tangan Vio sebelum Manik dan Hendrik berucap lebih banyak lagi.


Baby dan Vio sudah keluar dari gedung tempat berlangsungnya pesta, ditatap oleh kedua mata Hendri dan Manik bersamaan.


"Cinderella" kata Hendri tiba tiba


"Bukan, Putri mahkota" sergah Manik masih menatap lekat pintu masuk


"Dua anak orang kaya yang cantik, satu calon penerus rumah sakit swasta terbaik se Indonesia, satu lagi penerus perusahaan periklanan terbesar di Asia" Hendrik geleng geleng


"Lo yakin soal ini?" Mata Hendrik menatap wajah Manik dari samping


Manik pun menoleh sambil menepuk bahu Hendrik


**


Mereka berpisah setengah jam yang lalu, saat ini Baby dengan tas ransel dan baju santainya membuka pintu rumah Adry.


"Sudah pulang"


Suara berat dan berwibawa yang hampir mirip Baskara itu mengagetkan Baby. Hampir saja melompat kalau tidak berpegangan pada tembok.


"Ngagetin aja sih Om" kata Baby.


"Besok, saya antarkan kamu pulang ke rumah orang tua kamu, akan saya jelaskan dan minta mereka untuk membatalkan homeschooling kamu, bila perlu Saya akan memohon pada mereka"


Buk


Setelah kalimat itu selesai diucapkan Adry, pintu kamar Adry tertutup rapat. Baby memandangi daun pintu, tiba tiba sekali Adry membahas soal ini. Biasanya kalau Baby menginap dalam waktu yang lama pun, dia tidak pernah mempermasalahkan. Baby langsung menggeleng dan naik ke kamar Ara.


Gadis cantik itu tertidur bagaikan Putri salju yang sudah menelan apel beracun. Baby memandangi anak kecil dihadapannya. Selimut yang sedikit melorot kebawah ditarik pelan oleh Baby.


"Kasihan banget sih Lo, Mama gak punya, hidup sendiri gak ada saudara" Baby duduk di kursi belajar milik Ara, memandangi nasib keduanya yang berbeda.


"Gue punya saudara tapi berantem terus, gue punya mama tapi gak deket" Baby meletakkan kepalanya di meja belajar.


"Gimana rasanya gak punya siapa siapa? Hidup cuman sama bokap elo yang super dingin kayak gitu?"


Baby teringat akan Ken, lelaki yang selalu dijahili nya itu. Tiba tiba secerca kerinduan hadir di hatinya, dia menatap ponsel yang tergeletak di meja belajar.


"Lah ini kan hp gue, kok disini, bukannya di dasbornya Om Om itu ya"


Baby menarik ponselnya, semuanya masih baik baik saja. Baby menatap sejenak walpaper kunci di ponselnya, dipandangi wajah orang orang yang ada disana.


"Ma Baby rindu, kenapa sih Mama gak ngebatalin homeschooling Baby aja, biar Baby ga perlu kabur kaburan kayak gini" Baby menarik nafas dan menyeka butir yang menetes dari pelupuk matanya.


Dipencetnya nomor yang memiliki nama "Anak pungut ♥", dua dering tersambung terdengar ditelinga Baby.


"Apa" sapa dari ujung telepon


Baby memutar mata malas, dia lupa siapa yang tengah di telpon malam malam begini. Orang paling menyebalkan di dunia setelah Adry.


"Salam dulu kek Ken, ini sodara elo lagi nelfon" cicit Baby kesal


"Iya apa? Duit Lo abis? Atau mau minta gue buat bujuk mama sama papa?" Tanya nya


"Padahal niat gue nelfon elo buat jadi kembaran yang baik, tapi kayaknya emang kita ditakdirkan berantem" ujar Baby pedas.


"Lo lupa didalam perut kita udah sering tawuran, jadi gak usah sok sok an mau deket deh" komentar Ken tak kalah menusuk


Bagi keduanya hal seperti ini sudah biasa, Baby keras kepala begitupun Ken yang tidak bisa diajak bercanda. Namun dalam hati keduanya baik Baby maupun Ken, mereka saling mencintai, buktinya merasa kehilangan disaat salah satu dari mereka tidak ada dirumah.


"Gak enak ya punya kembaran, kerjaannya tawuran mulu, udah kayak anak STM"


"Cepet deh Beb, mau ngapain elo nelfon gue?" Tanya Ken mulai jengah


"Kangen" ujar Baby tiba tiba "hahahahhahahahah tapi bo'ong" lanjutnya


"Heh" terdengera helaan berat dari mulut Ken "kalau elo bilang beneran berarti ada yang salah sama otak elo" imbuh Ken


"Mama sama papa lagi apa?"


Ken terdiam sangat lama, membuat Baby menggigiti kuku karena gelisah


"Pacaran "


Baby mengehela nafas berat "kalian adem ayem banget tanpa gue" ucapnya lirih


Ken berdecak sehingga terdengar jelas ditelinga "gak usah kayak anak kecil, gak ada yang adem di rumah ini kalau salah satu diantara kita gak ada"


Baby masih saja terdiam


"Papa sama Mama sering berantem masalah homeschooling elo" suara Ken kali ini terdengar lirih


Mereka sama sama terdiam sangat lama, tidak ada yang melanjutkan pembicaraan.


"Maafin gue ya" suara Baby terdengar lirih , ada nada penyesalan terkandung didalamnya, apalagi ketika tidak sengaja dia menatap Ara yang masih tertidur pulas.


"Bacot" kata Ken yang tidak ingin menanggapi ucapan Baby terlalu serius, karena jika Ken menjawab dengan kalimat mellow, maka Ken yakin Baby akan menangis


"Serius, gue minta maaf"


"Iya" sedetiknya nada bicara Ken Menaik "udah ah buang waktu gue aja Lo"


Tut Tut Tut


Memang sejatinya seperti itulah kembaran, tidak bisa akur. Baby duduk lemas memandangi Ara, sungguh dia tidak bisa membayangkan jika harus diposisi Ara, tidak memilik Mama meski sedingin Rindu dan tidak memiliki Ken meski mereka sering adu bicara