First Love Duda

First Love Duda
Bertemu Ken



Baby sudah siap dengan gaun yang dibelikan Adry. Dia berdiri menyilangkan kaki, sambil tersenyum cerah. Tidak sia sia Baskara dan Rindu merawatnya kalau tumbuh secantik ini. Baby turun dari lift sambil menghubungi Thea sedari tadi.


"Si Thea ini kalau lagi dicariin ga ada kalau ga dicariin muncul" ucapnya pada diri sendiri


Sudah sepuluh kali Baby mengirim pesan pada Thea namun perempuan itu tak kunjung membalas. Baby melihat jam di ponsel nya, acara akan dimulai sebentar lagi.


Baiklah, agaknya meninggalkan Thea lebih baik ketimbang menunggu dan mencari keberadaan gadis itu. Baby berjalan dan mencari taksi, untungnya tidak perlu menunggu lama karena taksi sudah ada didepannya.


Selama dijalan jantung Baby berdegup, apalagi saat memikirkan mengenai Adry. Ah rasanya, jantung ini akan difonis koroner kalau Baby terus berdetak kencang begini.


Sampai ditempat acara, Baby langsung turun dan menyapa teman teman modelnya, juga menyapa Adry yang sudah gagah dengan setelan jas.


Melihat Adry setampan itu jantung Baby langsung berdetak cepat. Keringat dingin keluar dari pelipisnya belum lagi rasanya tubuhnya kaku. Kenapa Duda jaman sekarang modelnya udah kayak aktor gini?


Mau tidak mau Baby mendekati ke arah Adry, meski sebenarnya dia ingin jatuh pingsan hanya melihatnya Saja. Adry menatap gadis didepannya saat Baby sudah berdiri dengan gaun yang dibelikan Adry. Terllihat amat sangat sempurna.


"Selamat atas pembukaan cabang barunya Om" kata Baby mengulurkan tangan ingin berjabat.


Adry hanya berdiri sambil menatap mata Baby, bahkan tidak menerima uluran tangan itu, mata Adry hanya terfokus ke arah mata Baby


Merasa canggung perlahan uluran tangan itu jatuh dengan lemas. Baby hanya bisa merasa malu sendirian, oleh jabatannya yang tidak diterima oleh Adry.


"Silahkan dinikmati acaranya" ujar Adry langsung berjalan pergi.


Melihat punggung Adry yang menjauh, entah kenapa Baby jadi merasa kesal sendiri, apalagi Adry seperti sengaja tidak menerima jabatan tangannya . Karangan bunga, beberapa meja yang sudah di hias serta panggung untuk Adry melakukan pidatonya. Baby menatap semua itu dengan jeli, bahkan melihat para tamu yang tersinari lampu malam .


Dan pandangan Baby jatuh kepada tiga orang yang dia kenali.


"Shit" ujarnya mengumpat sambil duduk jongkok.


Baby langsung berjalan jongkok sambil bersembunyi dibelakang meja yang ditutupi taplak.


"Ngapain lo?" Suara Thea membuat Baby menjingkat


Diliriknya Thea dengan tatapan tajam yang menghunus, kalau bisa Baby ingin membunuh gadis itu sekarang juga.


"Gue lupa kalau gue anak pemilik perusahaan" ujar Baby lirih


"Lo lupa kalau elo kaya?"


"Mendingan lupa kalau kaya ketimbang lupa kalau miskin" sindir Baby pada Thea


Mendengar itu Thea berdecak kesal sendiri "emangnya siapa yang elo hindari sampe sembunyi kayak gembel gitu" cicitnya


"Itu, bokap nyokap sama kakak gue" Baby mengintip sedikit, dan Rindu, Baskara beserta Ken sedang berjalan kearah Adry.


Sialan, kenapa dia tidak memikirkan hal ini, tidak memikirkan kalau Baskara akan datang ke acara pembukaan perusahaan Sila. Astaga, seharusnya Baby ingat kalau semua perusahaan di Asia itu bekerja sama dengan perusahaan papanya.


"Ah, kalau tahu gini mendingan gue gak kesini" katanya memaki diri sendiri.


"Beb, berdiri ih, elo diliatin orang orang" kata Thea menyenggol tubuh Baby dengan kaki


"Bentar dulu, gue lagi mikirin cara buat lari dari bonyok gue"


"Emangnya kenapa sih Beb? "


"Kemarin gue ga bilang kalau ke Bali, gue ngomongnya ke Singapura"


Mendengar itu Thea geleng geleng kepala. Sebuah kebohongan yang akan menciptakan kebohongan lain.


"Lo juga, kenapa gak jujur aja"


Baby memutar mata malas dan melirik tajam Thea yang sedang meneguk segelas jus


"Mana di ijinin gue"


Baby terdiam sejenak, begitu dia melihat Rindu dan Baskara yang sedang sibuk berbincang dengan orang asing. Baby langsung berdiri dan sedikit lari, kemanapun asal tidak bertemu dengan keluarganya.


"Aduh ni kenapa pada dikunciin sih" kata Baby sambil memaksa knop untuk terbuka.


Semua ruangan terkunci kecuali satu ruangan yang pintu nya sedikit bercelah. Saat Baby menoleh kebelakang, Ken sedang mengikuti dirinya, mungkin memastikan apakah gadis yang berjalan tergesa tadi adalah adiknya.


"Duh gimana nih mana si Ken ngikutin gue lagi" katanya


Baby buru buru berlari masuk keruangan, dan dia harus merasa lega karena orang yang berada diruangan itu tak lain adalah Adry yang sedang berbincang dengan sekretarisnya.


"Baby, ngapain ka___" belum selesai ucapan Adry Baby langsung masuk ke kolong meja, dia masuk dan tertutup oleh telapak panjang yang sampai ke lantai.


Adry menyibak taplak itu, menatap Baby yang sembunyi dibawah meja dengan wajah ketakutan.


"What are you doing?" Tanya Adry


"Sssttt" Baby menempelkan jari telunjuk ke bibir meminta Adry untuk jangan banyak bertanya.


"Om" suara itu membuat tangan Adry langsung menutup meja, dilihatnya Ken berdiri gagah menatap mata adry.


"Eh Ken, ada apa?" Tanya Adry mencoba membuat wajah serileks mungkin


"Om ngeliat cewek masuk kesini gak?" Tanya Ken


Suara Ken itu membuat Baby begitu ketakutan, apalagi dia begitu takut kalau kalau Adry memberitahu dimana keberadaan Baby.


"Kakak sialan" maki Baby dalam hati


"Cewek? Sekretaris saya maksud kamu?" Tanya Adry menunjuk Sinta yang tengah kebingungan.


Ken mengusap rambut, tersenyum manis dan menggeleng.


"Bukan Om, kalau gitu berarti Ken salah lihat" kata Ken "permisi Om" dan Ken berlalu pergi dengan suara ketukan dari sepatunya.


Lima menit dari keluarnya Ken, Baby muncul dari balik taplak meja, mengeluarkan kepalanya saja sembari menolah kekanan dan kiri.


Adry bersidekap menatap kelakuan Baby yang begitu ajaib, sangat ajaib karena dia berprilaku seperti anak kecil.


"Keluar"titah Adry dengan tegas


"Bentar dulu,, tar ada bokap gue gimana?" Tanya Baby dengan nada takut


"Bokap kamu ad___" Adry tidak jadi menyelesaikan kalimatnya saat mendengar pintu terbuka.


Dan kepala Baby bagaikan kura kura yang langsung kembali bersembunyi, Baby tidak tahu siapa yang masuk melalui pintu tadi. Hanya bisa mendengarkan suara suaranya saja.


"Pak Adry" sapa seseorang, dari suaranya terdengar seperti bapak bapak yang sudah berumur


"Bapak Purna" Adry menjabat tangan lelaki di depanya.


"Selamat atas pembukaan kantor cabang Anda. Saya salut dengan kinerja Anda yang begitu luar biasa" puji orang itu


"Terimakasih pak" Adry tersenyum malu malu.


"Papa" Rike berjalan dibelakang Purna, bergelayut manja di lengan nya. Tersenyum kearah Adry dengan gestur menggoda


"Sudah kamu memberikan selamat pada pak Adry?" Tanya Purna pada putrinya


Ya, Rike adalah putri dari Purna Irawan, CEO Dynamic , sebuah mall terbesar di Indonesia. Adry membalas senyum Rike dengan sedikit getir.


"Kalau begitu saya permisi sebentar, silahkan lanjutkan diskusi anda dengan sekretaris, saya menunggu pidato luar biasa dari Anda" kata Purna kembali dengan pujiannya.


Adry hanya mengangguk dan lelaki itu belum beranjak dari tempatnya , menepuk bahu Adry sekuat tenaga


"Saya juga menantikan pertunangan Anda dengan Putri saya" kata lelaki itu berlalu pergi.