First Love Duda

First Love Duda
Sialan



Mobil itu menggelincir dengan kaca mobil yang sengaja di buka oleh Adry. Agar aroma udara Bali masuk kedalam mobilnya mengusir aroma muntahan dari Baby. Awalnya Adry membawa Baby ke hotel khusus model namun begitu dia hendak menggendong Baby, dia baru tersadar kalau Adry hanya membawa Baby saja tanpa membawa tasnya.


"Ahh cobaan apa lagi ini Tuhan" decak Adry frustasi.


Adry mencoba mengatur nafas, tidak, jangan menghadapi masalah ini dengan emosi karena itu hanya akan menguras tenaga nya saja. Lihat gadis yang di khawatirkan Adry, dia justru tertidur pulas tanpa tahu bagaimana kerasnya usaha Adry.


"Setidaknya malaikat atid sama raqib ngeliat kejadian ini" ujar Adry menepuk pundak kanan dan kirinya.


Adry akhirnya membawa Baby ke vila nya, membawa dengan pikiran Adry yang penuh kekacauan. Sampai didepan vila, Adry langsung membopong Baby, di tidurkannya gadis itu dikamar.


Rasanya peristiwa seperti ini bukan pertama kali yang diawali Adry, sudah berapa kali Adry selalu membawa gadis ini ke kamarnya dalam keadaan tertidur. Saat melepaskan gendongan nya, bibir Adry tanpa sengaja menyentuh bibir Baby, dengan spontan Adry melepaskan tubuh Baby hingga gadis itu terpental begitu saja.


"Argh" helaan berat itu lolos dari hidung Adry "sialan" imbuhnya mengumpat.


Adry mendegus kesal , melihat pakaian Baby yang begitu terbuka, di selimutinya gadis itu. Dan Adry keluar dari kamar.


Adry duduk di depan kolam sambil membawa berkas pembukaan cabang baru esok. Tapi rasa rasanya Adry tidak terfokus akan dokumen ditangannya, justru dia terfikirkan mengenai dirinya yang tanpa sengaja mencium bibir Baby.


"Astaga dosa apa saya ini bisa ketemu orang gila seperti dia" kata Adry langsung berdiri dan meletakkan dokumennya di meja


Adry menggeleng berkali kali, sedang mengusahakan untuk mengusir bayangan mengenai Baby.


"Kayaknya saya butuh pencerahan" kata Adry berlalu pergi entah kemana membawa mobil sedannya.


**


Mentari dengan gembira keluar kepermukaan, menyapa beberapa orang yang sedang sembahyang di pura juga menyapa umat muslim yang sudah pulang sholat subuh.


Matahari itu dengan kegagahannya menerobos celah tirai jendela, masuk dan menyapa kornea mata Baby. Gadis itu mengerjap sambil mengernyitkan dahi, ditutupinya kepala dengan bantal, lalu melanjutkan tertidur kembali.


Mungkin adalah lima menitan dia melanjutkan tertidur sebelum suara Adry yang tengah menceburkan diri dikolam membuat Baby langsung terbangun


"Air? Orang berenang?" Batin Baby masih terpejam


"Kayaknya gue lagi di Bali tapi kenapa ada suara orang berenang?"


Meskipun dia membatin itu namun matanya tetap tertutup sempurna


"gak mungkin kan gue semalam tidur di pantai" saat batinan terkahir itu, dia langsung berdiri.


Di jelajahinya seluruh ruangan, kamar putih dengan hanya ada beberapa lemari juga meja.


"Gue dimana nih?" Tanya Baby pada dirinya sendiri.


Baby langsung berlarian keluar kamar, mencari siapapun yang bisa dia tanyai mengenai keberadaannya.


Begitu dia keluar dari kamar dan menuju kolam, yang dia lihat adalah pemandangan Adry tengah menyelam didalam air.


Lima detik Baby menganga dengan isi kepalanya, sungguh perut kotak kotak, kaki panjang serta bahu lebar itu membuat Baby amat tercengang


"Sumpah, Duda jaman sekarang gak sopan sopan" batin Baby dalam hati "kalau kayak gini bentuk dudanya , perawan kayak gue mana bisa terselamatkan coba"


Tubuh Adry timbul dari kolam, dia menatap Baby yang tengah menatapnya tanpa kedip, tahu kalau Baby tengah memandangi tubuhnya, sontak Adry berteriak galak.


"Mesum, keluar kamu dari sini" teriak Adry begitu keras


Baby terjingkat lalu buru buru berlari menuju ruang makan. Astaga asupan macam apa tadi?


Adry keluar dari kolam, lalu mengenakan kemeja putih yang ada di kursi pinggir kolam.


Selesai memakai pakaian, Adry keluar kolam dalam keadaan basah, sungguh seharusnya para pria sadar pemandangan ini bisa membuat wanita terkena serangan jantung.


Adry melirik Baby dengan ganas, lalu meneguk minuman dalam kulkas.


"Om, kenapa gue disini?" Tanya Baby dengan nada seperti biasa tanpa ada kegugupan sama sekali.


Adry tidak langsung menjawab, dia meneguk segelas aqua kemasan , jika diperhatikan, jangkung Adry perlahan lahan bergerak.


"Astaga pagi pagi nambah dosa" kata Baby lirih


"Semalam kamu mabuk" Adry menatap mata Baby, sehingga begitu Baby tahu dan sadar semalam dia mabuk , wajahnya berubah pucat.


"Kamu" nada Adry naik satu oktaf "tahu tidak yang kamu lakukan itu salah?"


Mendengar nada Adry setegas itu, hingga terdengar seperti Baskara , Baby ketakutan sendiri, apalagi wajah Adry yang begitu serius


Baby tidak menjawab, hanya menunduk.


"Kamu seharusnya sadar kalau kamu itu dibawah umur, perempuan macam apa kamu itu sampai mencoba minumannya terlarang begitu, apalagi dengan seorang pria" kata Adry dengan nada tegasnya.


Baby masih menunduk, bibirnya bergetar, mendengar nada Adry setinggi itu serta kalimat yang begitu menusuk.


Baby menangis terisak isak saat Adry terdiam. Mendengar tangisan kecil dari meja makan, Adry langsung menatap dengan tajam kearah Baby.


"Jangan menangis" kata Adry melemah "saya tidak berniat menyakiti hati kamu" katanya


Baby masih saja menangis, bahkan berulang ulang air matanya diseka namun tetap saja muncul


Nampaknya Adry tidak begitu tertarik dengan tangisan Baby, dia beranjak kearah kamarnya, mungkin akan mandi dan pergi bekerja. Mengurus acara pembukaan kantor cabang nya.


Tiga langkah dari posisinya, suara Baby yang bergetar terdengar, dan itu berhasil menghentikan Adry.


"Gue gak suka Om deket sama Rike" kata Baby


Adry berhenti, lalu menoleh, kenapa tiba tiba Baby membahas Rike. Dilihatnya Baby bangkit, dan menatap Adry dengan mata basah.


"Gue cemburu liat Om deket deket sama Rike, makanya gue ke club buat nenangin diri" kata Baby dengan nada menaik.


Bany langsung berlari pergi, begitu dia berada diruang tamu yang berbeda dengan ruang makan, dia berbalik lagi.


"Ini gue dimana?" Tanya Baby sambil terisak


Entah, harus menanggapi pertanyaan Baby tadi seperti apa. Senyuman atau sebuah kekhawatiran karena membuat gadis itu menangis. Nyatanya Baby memang selalu lucu.


"Vila Humas" kata Adry lemas


Dan Baby langsung berlari pulang kembali. Dia mencari taksi dan segera pulang ke hotelnya. Rasanya begitu menyayat hati saat Adry marah marah padanya, dia bisa diberi tahu tapi jangan dengan nada tinggi seperti itu, asal Adry tahu, Baby tidak suka perlakuan semacam itu. Baby tidak suka dibentak !


Didalam taksi pun, Baby masih saja menangis, menangisi dirinya yang begitu ceroboh mau mencoba minuman keras.


"Kenapa sih, sulit banget buat gue berperilaku bener" Kata Baby lirih yang dilirik Supit taksi.


Bany menangis lagi, sesegukan tak berhenti henti.


note * maaf harus hapus beberapa part, karena rupanya Aku salah tulis urutan bab


maaf ya