
Vio yang ditarik secara paksa oleh Baby membuat langkahnya sedikit terseok Seok, hampir saja menyandung akar kalau saja dia tidak menghindar. Sampai di atas roftof Baby yang bercucuran keringat menatap mata Vio dengan mata sayu terluka.
Mata kecoklatan kecil yang setiap hari terpancar kebahagiaan itu meneteskan air mata secara tiba tiba. Secara mendadak, sampai membuat vio memandangi sahabatnya dengan aneh.
"Lo kenapa si? Tiba tiba nangis gak jelas?" Vio berusaha menenangkan, sebisanya.
Baby masih terus sesegukan tanpa bisa berhenti. Sesegukan dan menyembunyikan wajahnya sambil berjongkok di atas paha. Tangisannya semakin kencang, terisak Isak dan membuat Vio bingung.
"Beb, jangan nangis dong," Vio ikutan berjongkok, mengelus punggung Baby dengan elusan lembut "diem dulu, jelasin permasalahannya ke gue, biar gue paham. Kalau gue paham kan gue bisa nyuruh elo lanjut nangis atau ngelarang elo" katanya
Baby mendongak, menatap wajah Vio yang terlihat cemas. Tetesan air mata yang jatuh itu di seka secara paksa oleh punggung tangannya.
"Tadi hiks tadi kan " Baby sesegukan
"Tadi gue jemput Ara" ceritanya
Vio menaikan alis "Ara itu siapa? Temen elo? Pacar atau gebetan?" Serang Vio dengan pertanyaan yang mewakili rasa penasarannya
Baby menggeleng oleh tebakan Vio yang semuanya salah
"Ara itu anaknya Adry" tukasnya
"Oh" Vio menatap wajah Baby, lalu tersadar ketika otaknya mulai mencerna kata Adry yang disebutkan Baby.
"Apa? Jadi elo kabur dari sekolahan cuman mau jemput anaknya duda itu? What? Lo beneran beb? Lo mabuk? Ngigo atau elo udah gila" serang Vio
Baby yang mulai sedikit tenang. Menegakkan tubuhnya dari jongkok dan pindah duduk di pinggir roftof.
"Gue tadi bingung mau kabur kemana, dan gue putusin buat jemput Ara, taunya si Adry maki maki gue dengan kata kasarnya itu" Baby menunduk, terlihat murung
"Bahkan, dia nuduh gue cuman mau morotin hartanya doang"
Helaan nafas berat keluar dari hidung Vio, perlahan namun pasti Vio mendekati sahabatnya, duduk disebelah sambil menarik kepala Baby agar bersandar di pundak Vio.
"Elo mau gue nasihati atau gue tenangin?" Tanyanya terlebih dahulu
Baby menoleh di sela kepalanya berada di bahu Vio, menilik wajah sahabatnya dari samping.
"Nasihati" ujarnya lirih
"Lo kan belum terlalu kenal sama si Adry, jadi wajar kalau Adry marah pas elo jemput Ara tanpa bilang ke dia terlebih dahulu" Vio menepuk lengan Baby.
Gadis yang setahun lebih muda dibandingkan Baby itu terlihat begitu bijak, sabar ketika menghadapi kelakuan aneh dari Baby. Gadis dengan kelopak mata indah, rambut sebahu , tubuh mungil adalah satu satunya gadis yang tahan berteman dengan Baby. Hanya dia, dia saja.
"Apa salah nya, kan gue mau nolongin dia" Baby mengangkat kepalanya, menatap kumpulan siswa siswi yang tengah bermain basket dilapangan.
"Salah lah Beb, Lo udah minta ijin ke bokap nya? " Tanya Vio
Baby menggeleng
Vio berkecap "nah, ijin dulu kalau mau jemput anak orang, biar bapaknya gak nyariin"
Vio berdiri, membersihkan rok nya yang terkena percikan debu. Dan Baby yang masih duduk menyodorkan tangannya, meminta bantuan vio untuk menarik uluran tangan Baby, untuk membantu gadis itu berdiri.
"Sekarang, urusan gue sama BK gimana?" Tanya Vio sambil merangkul bahu Baby.
"Gampang, nanti gue bilang sama bokap gue Soal elo"
"Lo udah damai sama bokap elo?" Tanya Vio
Sambil bercerita, mereka menuruni anak tangga hingga bertemu dengan Ken yang berdiri gagah didepan mereka. Ken menatap mata Baby dengan tajam, setajam ketika Ken menatap musuhnya.
"Minggir" bentak Baby.
Bukan nya pergi atau lebih menggeser posisi, Ken justru menarik tangan Baby sekencang mungkin untuk naik ke rofot. Di sana Ken melepas cekalannya dengan cara menepis.
"Kasar banget sih jadi cowok, Untung di muka bumi ini gue sama elo di haramkan buat nikah" gerutu Baby.
Ken menyodorkan kertas kearah Baby.
"Surat pemindahan sekolah" tukas Ken tiba tiba.
Baby menatap kertas itu, keras yang berisi pemindahan sekolah dirinya.
"Gue gak mau" Baby melangkah mundur sambil merampas kertasnya, merobek hingga menjadi beberapa lembar.
"Gue gak bakal pindah dari sekolahan ini"
Mendengar itu Baby langsung duduk Jongkok karena tungkainya yang lemas. Demi Tuhan, dia tidak suka di kengkang, dia tidak suka duduk manis dirumah. Bertemu Rindu yang akan memberi materi mematikan setiap waktunya, bertemu Baskara yang siap dengan kotbah sepanjang waktu.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa" memikirkan bayangan bayangannya, Baby berteriak kencang hingga memecahkan gendang telinga
"Gue gak bakal pindah titik"
**
Adry di selimuti gelisah usai membentak bentak Baby, apalagi mata lemah yang menyorotinya semakin membuat Adry mengacak rambut.
"Sialll" umpatnya
Adry tidak menyukai perasaan tidak enakan pada orang seperti ini. Terakhir kali pada istrinya, tatapan mata sayu terluka yang menggambarkan beratapa terluka hatinya. Tatapan seperti ditinggalkan dari istrinya itu seakan berada dimata Baby, tatapan seperti minta tolong untuk dikasihani, tatapan tidak sanggup yang terpancar disana.
Adry mengacak rambutnya frustasi, haruskan dia mencari dimana gadis itu berada, meminta maaf lalu semua penyesalan nya akan berkurang. Atau Adry biarkan saja perasaan tidak enak itu hadir di hatinya, toh juga esok lusa, dua hari, tiga hari perasaan semacam ini akan lenyap.
Tapi ketika jam menunjukan pukul dua empat puluh menit, Adry bergegas berdiri, menyabet jasnya dan keluar dengan kunci mobil tertenteng di tangan
Saat dirinya sudah berada di dalam mobil, bergegas mobil itu dipacu kearah yang berlawanan dengan arah rumah.
Adry berdiri didepan mobil setelah dia sampai ditempat tujuannya, menjadi pusat perhatian beberapa siswa berseragam yang baru saja bergerombol keluar dari gerbang.
"Ngapain saya kesini?"kata Adry lalu beranjak masuk kedalam mobil
Didalam mobil ketika dia hendak menghidupkan mesin, seketika itu tangannya membeku , dia berhenti sambil merenung.
"Ahhh, ini ada sihir apa sih? Kenapa untuk ninggalin sekolahan ini rasanya berat" ujar Adry meletakkan kepala nya di setri mobil.
"Dia cuman anak kecil yang sewaktu dia lahir, saya sudah bisa membaca dan menulis, jadi untuk apa saya disini?"
Ketika dia berniat menghidupkan mesin mobil, Adry melihat dari kaca spion mobilnya, Baby berjalan bersama Vio. Dengan wajah sedih yang semakin membuat Adry merasa bersalah.
"Apa karena saya dia jadi sedih seperti itu?" Tanya nya lebih pada diri sendiri.
Grek
Adry membuka pintu mobil tiba tiba, hampir menabrak Baby yang sedang berjalan disisi jalan, menabrak pintu mobil Adry.
"Woy kira kira dong kalo buka pintu itu, gak liat banyak anak sekolahan lewat jalur ini"maki Baby tanpa melihat siapa yang sedang dimakinya.
Ketika matanya dan mata Adry bertabrakan, Baby lantas merubah ekspresi wajahnya semakin kesal.
"Ngapain lo disini?" Tanyanya
"Saya mau minta maaf" ucap Adry keluar dari dalam mobil dan berdiri didepan Baby.
Vio melongo, menatap wajah Adry semakin lekat.
"Beb, ini CEO yang Lo ceritaiin itu kan?" Tanyanya sambil berbisik.
Baby mengangguk , semakin mendekatkan kepalanya pada Vio.
"Anjir, ganteng banget Beb, kalau ini mah gue mau" bisik Vio semakin membuat Baby jengkel.
"Kamu mau memaafkan saya atau tidak?" Tanya Adry.
Baby menimbang nimbang, kalau dia pulang ke rumah dalam keadaan perang seperti ini, yang ada baik Baskara maupun Rindu tidak akan membatalkan untuk homeschooling Baby. Lagi pula jika dipikir fikir, memaafkan Adry tidak sepenuhnya rugi, dia bisa memanfaatkan rasa bersalah duda didepannya ini dengan mendapatkan tumpangan, selain itu juga masalah tadi siang, sepenuhnya salah Baby bukan salah Adry.
"Tapi dengan satu syarat" kata Baby sambil buang muka
"Syarat?" Alis Adry terangkat.
Apalagi yang dia inginkan Tuhan. Rasanya Baby tidak puas puasnya membuat Adry semakin kesal
"Apa itu?" Tanya Adry
"Gue mau numpang dirumah elo sampe orang tua gue batalin bakal homeschooling in gue"
Adry mendegus. Berurusan dengan anak didepannya ini memang tidak akan mudah.
"Apa kamu jenis orang yang senang merumitkan sesuatu?' tanya Adry
Baby mengernyitkan dahi karena tidak paham.
"Masuk, saya akan memberikan tumpangan hidup sama kamu" ujar Adry sudah lebih dulu masuk kedalam mobil