
Seharian perusahaan Adry mendapatkan banyak keluhan. Panggilan tak henti hentinya masuk kedalam kantor, bahkan beberapa investor mengancam akan mencabut investasinya kalau berita ini tidak segera di tuntaskan.
Bagaimana Adry mengklarifikasi berita semacam ini, ini akan membuat dirinya terlihat bodoh. Adry membuka internet, terutama membuka Instagram Baby, Adry memeriksa komentar yang memenuhi kolom foto Baby, dari postingan pertama hingga terakhir.
"Gak nyangka, cewek sepolos ini ternyata cabe cabean"
"Gak puas sama harta bapaknya apa, sampe ngejual diri ke Om Om"
"Murah banget mau diajak ke hotel, apalagi masuk kerumah oom oom"
"Duh kasihan anaknya Duda itu, pasti menderita banget di tinggal pacaran sama bapaknya"
"Pantesan istrinya meninggal kelakuan dudanya kayak gini"
"Baby Baby, bapak Baskara itu orang berpendidikan, bahkan nyumbang banyak banget buat negara, apalagi Bu Rindu, dosen yang bentar lagi jadi profesor eh kelakuan anaknya macam monyet gini"
"Udah nananena berapa kali?"
"Enak banget oom oomnya bisa dapetin perawan"
Komentar itu membuat Adry menggeretakkan rahang. Belum lagi komentar di Instagram nya, semua dipenuhi dengan hujatan. Banyak hinaan yang mengatakan bahwa Adry seorang "predator", yang berpacaran dengan bocah, juga mengatakan bahwa Adry tidak pantas hidup. Yang lebih parah, Adry di cap sebagai seorang yang mesum.
Pintu kantornya di buka seseorang, dua sahabatnya berdiri diambang pintu. Pandu lebih dulu masuk disusul Alan. Keduanya menatap Baskara dengan lekat.

Adry duduk dan menatap mereka tanpa seulas senyum. Adry paham kehadiran kedua temannya kesini untuk meminta kejelasan dari berita mengenai dirinya.
Adry bangkit menyambut kedua sahabat selayaknya, dia duduk di sofa, juga disusul Pandu dan Alan.
"Ram, berita tentang elo sama Baby itu apa bener?" Tanya Alan memulai
Adry menarik nafas, dia memejamkan matanya. "Iya gue pacaran sama Baby"
Pandu menggebrak meja sangking tidak percayanya, dia tidak habis fikir dengan sahabatnya ini. Apa kehilangan istri membuatnya gila, c'mon Ram, didunia ini banyak cewek selain Baby
"Lo udah gila? Gue tahu kita sering maksa elo buat cari pengganti Sisil, tapi jangan dengan kayak gini dong" Pandu seperti terpancing emosi
"Pan santai" Alan berusaha meredamkan emosi Pandu
Adry tidak mampu menjelaskan, baginya menjelaskan ke dua sahabatnya akan percuma. Mereka tidak merasakan apa yang Adry rasakan, bahkan tanpa mereka minta, Adry sudah berupaya untuk menolak Baby, tapi apa yang dilakukan oleh Baby dan hatinya, mereka seperti berkomplotan untuk membuat Adry terjatuh akan pesona Baby.
"Tolol banget elo Ram" Pandu berkacak pinggang
Alan tidak lagi membujuk Pandu untuk menenangkan emosinya, bagi mereka berdua , Adry benar benar keterlaluan. Bagaimana mungkin dia memacari anak sahabatnya sendir?i.
"Ram, elo tahukan Baby itu anak Baskara, kenapa elo pacaran sama dia?" Kali ini giliran Alan yang ambil suara
Adry hanya mampu mendengarkan perkataan mereka tanpa menjawabnya, dia terdiam. Apa yang akan dijawab, semuanya kata, Adry rasa tidak bisa membuat mereka merasakan posisi Adry saat ini.
Brakk
Pintu ruangan Adry di buka paksa oleh Baskara, bahkan Sinta yang mencegahnya hanya bisa berdiri ketakutan di belakang Baskara.
Adry memberi isyarat untuk Sinta meninggalkan mereka, begitu Sinta pergi Baskara langsung meninju wajah Adry. Lelaki bertubuh jangkung itu terjatuh kebelakang.
"Brengsek" umpat Baskara lepas "Lo tahu kan Baby itu anak gue, kenapa elo macarin dia, anjing" segala umpatan dikeluarkan Baskara.
Sedari rapat dadakan tadi, Baskara sudah ingin meninju Adry, bahkan membunuh lelaki itu bila perlu. Dan sekarang melihat bibir Adry mengeluarkan darah, Baskara tersenyum puas, Alan dan Pandu memisahkan keduanya.
"Lo kalo kesepian cari jalang lain, jangan anak gue" rasanya memaki Adry tidak cukup membuat Baskara puas,
Adry menyeka bibirnya, dia berdiri tegak, meminta Pandu untuk tidak lagi memeganginya, Adry sepenuhnya sadar dan tidak gila untuk membalas tinjuan Baskara, memangnya dia anak muda yang akan berkelahi.
"Bas, gue bisa jelasin semua" suara Adry tetap tegas
"Jelasin apa lagi, jelasin kalo elo udah memperlakukan anak gue kayak jalang" Baskara menekan kalimatnya "Elo mikir Ram, anak gue baru umur tujuh belas tahun, dia gak seharusnya elo perlakukan kayak Tante Tante"
Baskara berkacak pinggang sambil mengatur nafasnya, jantungnya sudah berdetak kencang sedari tadi.
"Gue emang pacaran sama Baby, tapi gue gak ngapa ngapain anak elo, gue sepenuhnya sadar Bas" Adry berusaha menjelaskan
"Sejauh apa hubungan kalian?" Akhirnya suara Baskara sedikit tenang
"Kita gak ngapa ngapain, Baby ke rumah gue cuman maen sama Ara, gak lebih" Adry menyeka darahnya, besok luka ini akan berubah menjadi sariawan, akan membuatnya susah untuk makan
"Putusin anak gue"
Adry menatap Baskara begitu mendengar permintaan sahabatnya, Adry tahu, kemana akhir hubungan ini, tapi tidak sekarang, dia benar benar membutuhkan Baby untuk menemani hidupnya.
"Sory Bas, gue gak bisa" Adry hendak keluar tapi di tarik oleh Baskara, lelaki yang tingginya hampir sama itu membenturkan tubuh Adry ke tembok
Baskara menghalu dada Adry dengan sikunya, menekan kuat dada Adry sehingga Adry merasakan sakit di dada. Mata Baskara menyala marah.
"Apa ditinggal Sisil udah bikin kewarasan elo berkurang?"
Mendengar nama Sisil dibawa bawa, Adry mendorong kuat Baskara hingga lelaki itu terdorong jauh. Mata Adry langsung berubah menyala, dia tidak suka sesuatu apapun harus disangkut pautkan dengan Sisil, istrinya yang harus bahagia di surga.
"Jangan sebut Sisil dimasalah ini!!" Adry menekan kalimatnya
Adry melangkah, hampir meninju Baskara tapi gagal karena Pandu mengetahui gerak geriknya dan memisahkan mereka
"Woy ingt umur woy" Alan menengahi
"Kalian udah pada tua, punya anak semua, gak malu sama anak anak elo" Pandu ikut menimpali
Jantung Baskara berdecak cepat, napasnya sesak. Demi Tuhan dia tidak mau terkena serangan jantung dalam keadaan seperti ini. Baskara mendongakkan wajahnya, merubah ekspresi sebiasa mungkin agar sahabtanya tidak mengetahui
"Ini bukan tentang elo dan Baby, tapi tentang kewajiban gue sebagai bapak ngelindungi anak gue dari predator kayak elo" Baskara hendak berlalu tapi Adry ber suara kencang
"Apa Duda kayak gue gak di ijinin jatuh cinta? Apa semua cinta gue harus minta ijin elo terlebih dahulu?" Adry menatap punggung Baskara yang tidak bergerak
"Alasan gue gak cepet punya anak bukan karena masalah ****** gue Bas," Adry menjedanya "Tapi karena Sisil gak bisa ngelupain elo, cewek itu nolak buat ngelakuin kewajibannya sebagai istri, dia selalu berharap kalau elo nyeraiin Rindu dan balik kedia" Adry menarik nafas, memandang jauh bayangan saat istrinya menolak Adry.
Baskara tidak tahu mengenai ini, bahkan tidak ada yang tahu selain Adry dan Sisil. Mereka terlihat bahagia, saat bertemu Baskara maupun siapapun, dan berita mengenai kesehatan Adry yang bermasalah, hanya itu yang didengar Baskara .
"Lo kira, gue bahagia atas rumah tangga gue?" Adry menaikan kalimatnya "Gak ada bahagia di rumah tangga gue Bas, bahkan sampai kematian cewek itu, dia masih ngarepin elo" Adry berkacak pinggang sambil menunduk
"Sisil kira, setelah nikah sama gue, bisa bikin elo balok lagi sama dia" Adry menggeleng dan menarik lengan Baskara, di tariknya kerah kemeja Baskara.
Mata lemah Adry dan Baskara bertatapan "apa gue salah, gue jatuh cinta? Apa gue salah gue baru ngerasain cinta gue terbalas saat ini?"
Adry melemparkan Baskara, lelaki itu jatuh kelantai.
"Gue juga kalau bisa minta, gue gak mau jatuh cinta sana anak elo Bas" mata Adry berair "demi Tuhan, gue udah berusaha nolak anak elo. Tapi semakin gue jauhi dia semakin gue kesiksa Bas"
Adry terjatuh kelantai, dia menatap mata Baskara "Gue gak bisa ninggalin Baby" kata Adry
Baskara berdiri , dja mengibaskan jas yang berdebu "Sory Ram kalau gue jadi orang paling brengsek buat elo" Baskara menjedanya "Tapi gue gak bisa ngerestuin hubungan kalian" Baskara berlalu dari ruangan Adry.
**
Baby tidak pernah merasa setakut ini berada di rumah, dia benar benar takut, merasa bersalah dan malu pada orang tuanya. Adry tidak menghubungi Baby, selitas mengenai keadaan lelaki itu muncul di pikiran Baby. Apa Adry baik baik saja mengenai berita ini?
Pintu kamar Baby terbuka, Rindu membawa segelas susu dan roti kedalam kamar anaknya, Baby yang tengah duduk dilantai dibimbingnya untuk duduk di sisi ranjang. Rindu membelai rambut anaknya dengan lembut.
"Mama tahu apa yang kamu rasakan sekarang" Rindu menenangkan.
"Ma" Baby menatap mata Rindu "salah ya Baby suka sama om Adry? Apa Baby salah?"
Rindu menggeleng dan menarik anaknya untuk menyandar dipelukan Rindu. Ditepuknya bahu Baby berulang ulang.
"Gak ada yang salah dari jatuh cinta nak, bahkan sama seorang duda sekali pun" Rindu mengelus punggung anaknya "Yang salah hanya tempat dan lingkungan, kebetulan kamu berada dilingkungan orang orang seperti papamu, jadi cinta kamu dianggap salah"
Baby terisak didalam pelukan Rindu, apa dia harus merelakan cintanya. Begitu menyakitkan saat merasakan seperti ini, apalagi berita diluar sana yang semakin tidak jelas mengenainya. Komen jahat seputar Baby di Instagram, juga beberapa akun fansclub yang justru ikut memposting berita mengenai keburukan Baby.
"Baby takut" Baby memeluk Rindu amat kuat
"Jangan takut Baby, ada Mama disini" Rindu menenangkan.
"Ma. Orang orang anggap Baby murahan sekarang, bahkan mereka___" Baby terisak ditengah kalimatnya.
"Dengerin Mama" Rindu menangkup wajah anaknya, rambut rambut itu disingkirkan dari wajah Baby, air mata yang menetes diseka perlahan
"Jangan dengerin omongan orang orang, Baby anaknya baik kok, Mama yakin Baby bisa jaga diri, semua yang dibilang mereka tentang Baby semuanya gak bener" Rindu memeluk anaknya.
"Baby takut papa marah sama Baby?"
Rindu mengelus anaknya "Papa gak bakal marah sama Baby, papa sayang sama Baby" ujar Rindu menenangkan "Kamu tahu, kamu itu dari kecil anak yang super aktif dan lincah, dulu sewaktu kecil, kamu lebih dulu yang bisa jalan dibandingkan Ken, kata pertama yang kamu sebutin adalah papa" Rindu bercerita mengenai masa kecil Baby "papa kamu dari dulu, sayang banget sama kamu, kamu yang sering ngabisin waktu sama papa, main game, tidur bareng bahkan pergi kekantor sama papa"
Rindu mengeratkan pelukannya "Jadi papa gak mungkin marah sama kamu"
"Tapi, Baby takut ma" Baby masih terisak didalam pelukan Rindu.
"Percaya sama Mama, papa kamu gak bakal marah, tahu gak siapa perempuan yang bisa bikin papa kamu nurut?"
Baby menggeleng dalam pelukan Rindu, dada perempuan berumur lima puluhan itu basah oleh air mata anaknya.
"Mama satu satunya orang yang bisa bikin papa kamu nurut" kelakar Rindu bangga.
"Biar papa yang jadi urusan Mama. Sekarang Baby jangan nangis. Baby harus kuat buat nyelesaiin masalah Baby" Rindu menambahi.
Dari luar pintu, Ken datang dengan wajah pucat, celana kotak abu abu miliknya belum dilepas. Ken mengenakan kaos putih dengan tatanan rambut berantakan
"Ma" suara Ken begitu bergetar
Rindu melepaskan pelukan Baby, dia berdiri menunggu anak sulungnya menyelesaikan kalimat.
"Papa" Ken tampak begitu takut, wajahnya pucat, Rindu ikut ketakutan saat melihat wajah Ken yang begitu pucat.
"Papa masuk rumah sakit"
Deg
Rindu ambruk seketika saat mendengar kabar dari anaknya. Melihat kondisi Rindu yang jatuh pinsan, Baby maupun Ken langsung panik.