
Adry mengantarkan Baby kembali ke sekolahannya meski hampir magrib. Adry was was meninggalkan anak gadis sendirian disekolahan seperti ini.
"Kamu beneran ada janji temu dengan saudara kembarmu?" Tanya Adry
Baby mengangguk sambil melepaskan seatbelatnya. Dia tidak menatap wajah cemas Adry yang akan meninggalkan Baby sendirian
"Om langsung balik aja kerumah, takut dicariin Ara nanti" kata Baby sudah turun dari mobil.
Adry diam sejenak. Berfikir haruskah dia meninggalkan Baby disini atau dia menunggu sampai Baby bertemu saudaranya?. Akhirnya Adry turun dari mobil.
"Lah ngapain masih disini?" Tanya Baby bingung
"Saya gak mungkin ninggalin kamu dalam keadaan kayak gini, apalagi ini udah malam" kata Adry tetap berdiri di sebelah Baby
Baby tersenyum dengan perhatian dari Adry "Cie perhatian cie" kata Baby menggoda Adry.
Mendengar godaan dari Baby Adry justru malu malu seperti anak muda. Dia menoleh kesamping sambil menyembunyikan senyum malunya
"Ada kuntilanak disebelah kamu" ujar Adry berusaha mengalihkan topik
"Yah gue mah sama jenis setan gak takut Om, kan gue setannya" kata Baby menyombongkan diri.
"Dimana saudara kembar kamu?"
"Busyet gue lupa nanyain dia dimana?" Baby menepuk dahi
Dia langsung merogoh saku dan menghubungi "Anak pungut ❤".
Suara dering telpon terdengar, tidak lama karena Ken langsung mengangkat panggilan Baby.
"Woy dimana elo?" Teriak Baby
Adry yang mendengar teriakan Baby hanya bisa sedikit menjauh dari posisi Baby.
"Gue diperpustakaan" kata Ken lirih
"Lo setan penunggu sekolahan apa?, jam segini belum balik malah tetep di perpustakaan" teriak Baby
"Lo kalo ngomong bisa pelan gak sih" Ken ikutan menaikan suaranya
"Udah buruan"
"Iya bentar, gue langsung kesana"
Panggilan berakhir, dan Baby berserta Adry sama sama diam. Hanya tangan Baby yang sibuk memukul nyamuk penyedot darah di tubuhnya
"Lo kira gue badan amal apa, enak banget kalian main nyedot darah gue" maki Baby ketika mendapatkan seekor nyamuk yang sudah mati
Adry melirik tingkah Baby, tingkah anak SMA yang selalu ajaib . Diam diam Adry tersenyum, sangat kecil dan tipis.
"Mau menunggu didalam mobil?" Tawar Adry
"Iya deh, bisa kurus kering gue lama lama disini" Baby berjalan lebih dulu dibandingkan Adry.
Mereka ada didalam, duduk sambil mendengarkan musik yang dipecet Baby asal asalan. Adry sedari tadi terus menatap Baby, mungkin tatapannya tidak pernah lepas pada gadis disebelahnya.
"Pemotretan di Bali, kamu ikut?" Tanya Adry untuk mengusir sunyi
Baby menoleh, tersenyum cerah "tentu dong, udah lama gue gak liburan" katanya
"Kapan selesai ujian?" Tanya adry
"Besok"
Baby memainkan dasboard, lalu memainkan mainan Ara yang tertinggal di mobil Adry.
"Bisa minta tolong?" Tanya Adry terdengar hati hati "Tapi saya tidak mau memaksa. Kalau kamu bisa silahkan bantu saya tapi kalau tidak tidak masalah" kata Adry seperti terdengar tidak enak.
"Apa?" Baby menaikan alisnya sambil menyipitkan mata
"Besok Ara pengambilan rapot. Tapi saya gak bisa datang. Kebetulan besok saya harus bertemu client saya dari Jepang" Tutur Adry menjelaskan "bisa gantikan saya?" Tanyanya
Baby terdiam. Dia belum pernah sih datang mengambilkan rapot anak SD. Tapi kalau Baby tidak datang kasihan Ara.
"Kamu nyontek?" Adry sepertinya kaget dengan penuturan Baby barusan
"Lah katanya Om udah tahu kalau gue goblok. Kenapa kaget kalau gue nyontek"
Adry geleng geleng sendiri "kamu tahu selama saya sekolah saya belum pernah nyontek ketemen saya. Mereka yang sering nyontek saya"
Baby memutar mata. Kalimat Adry dan Rindu benar benar mirip "Yaya terserah Om ajalah"
Drttt
Ponsel Baby bergetar, buru buru dia membuka pesan
Anak pungut ❤
Gue tunggu didalam mobil, di parkiran
Cepet !!!!!!!!!!
"Isss seharusnya gue yang marah, kenapa ni anak jadi marah ke gue, dasar Ken brengsek" maki Baby
"Ada apa?" Tanya Adry yang bingung dengan perubahan emosi Baby secara tiba tiba
"Ini kembaran gue nyuruh gue ke parkiran" kata Baby langsung bersiap turun
"Gue pulang om" kata nya langsung menutup pintu tanpa sempat mendengarkan tawaran dari Adry.
Adry melihat langkah Baby yang berjalan menuju parkiran. Langkah kaki yang kecil serta terlihat malas itu membuat Adry menyunggingkan senyum meski tipis
"Dasar, anak kecil" katanya lirih
**
Didalam kelas Baby sudah tidak sabar untuk keluar. Sedari tadi dia terus memikirkan akan menemui Ara bahkan sudah membawa baju ganti yang nantinya dia gunakan untuk menemui Ara.
Hari ini ujian Penjas sehingga memudahkan Baby untuk mengarang jawaban. Selama ini dia selalu mengancam Ken untuk memfoto jawaban miliknya, meskipun selalu berakhir sia sia. Karena Ken tidak pernah membuka pesannya. Dibalas pun kalau jam ujian sudah berlalu.
Soal soal ujian telah dibagikan, dengan kekuatan Baby langsung menulis nama dan menjawab. Dia hanya membaca soal yang dia bisa lalu sisanya soal soal yang tidak bisa dijawabnya, akan langsung di jawab asal asalan
"Yang penting udah berusaha" katanya menepuk soal ujian
Vio dan Baby tidak satu kelas, mereka berbeda abjad dan berjauhan. Baby berada diruangan pertama sedangkan Vio berada diruangan kedua, meskipun begitu tidak menghalangi proses menyontek mereka. Baby memfoto jawabnnya lalu dikirkan ke Vio.
"Sudah pak" kata Baby mengangkat tangan.
Satu kelas menoleh kearah Baby dengan kompak
"Diperiksa jawabannya" kata guru pengawas
"Ah kelamaan, saya udah yakin sama jawaban saya" kata Baby berjalan maju ke meja depan
"Tapi siapa tahu ada jawaban yang salah" kata guru pengawas keukeuh meminta Baby membaca soalnya lagi
"Bapak pengawas yang terhormat. Mau saya baca sampe seratus kali jawabannya ya tetep aja sama. Namanya juga saya udah yakin" kata Baby.
Guru pengawas hanya mendegus dengan kesal. Memang kalau urusan dengan Baby selalu susah. Apalagi predikat anak pemilik yayasan yang selalu membuat guru tidak enak jika menolak permintaan Baby.
"Yasudah kamu boleh keluar" kata guru pengawas ragu ragu.
Belum dua langkah dari langkah Baby guru pengawas memanggilnya lagi.
"Eh eh, udah ngisi tanda tangan belum?" Tanya guru pengawas.
"Lah iya gue lupa" kata Baby langsung merebut tanda tangan kehadiran yang sedang ditanda tangani oleh Dina.
"Minggir gue dulu" kata Baby langsung menandatangani
"Beres pak, saya pamit pulang" katanya
Baby berlalu pergi dan mengganti pakaiannya dulu, dia akan menjadi orang tua Ara hari ini. Tetapi entah mengapa, dihatinya dia merasa senang dan tidak sabar untuk menggantikan Adry mengambil rapot anaknya. Padahal hanya mengambil rapot bukan mengambil uang, rasanya aneh.