
Baby buru buru pulang lebih cepat karena mendapat pesan bahwa jadwal pemotretan di ajukan. Agak kesal sih, udah pergi sekolah telat mana harus cepet cepet pergi ketempat pemotretan yang sudah di ganti alamatnya.
Baby menyetop ojek asal asalan, memintanya mengantarkan ke alamat tujuan. Ojek menerobos jalan macet dengan lihai, Untung dia dapat tukang ojek yang pinter, coba kalau enggak.
"Berapa mang?" Tanya Baby melepaskan helm sialan yang bau nya seperti *** ayam.
"Lima puluh ribu neng" kata tukang ojek dengan kejam
"Busyet, Lo minta ongkos atau malak gue sih" cerocos Baby geram
"Nih ya, memang udah nganterin neng sampe nyalip nyalip, masa iya mau dikasih harga murah, emangnya neng pikir nyalip kayak gitu gak susah, butuh skill dewa neng"
"Serah lo deh, gue gak mau lagi naik ojek elo" kata Baby menyodorkan uang lima puluhan.
Baby langsung pergi sambil mendumel. Gila saja dia harus membayar ongkos ojek yang mahal, mau naik haji mungkin tukang ojek itu. Selesai memaki sampai di studio pemotretan, ternyata tidak ada orang, dan yah, para model belum datang. Padahal sudah lebih dari lima belas menit dari jam yang ditentukan.
"Beb, makeup dulu sambil nunggu yang lainnya" kata Ica selaku perias.
Baby menurut, duduk dan membiarkan Ica berserta tim menyentuh wajahnya. Sampai suara satu persatu model terdengar. Mereka bercanda terlebih mendengar suara Rike yang tiba tiba menggema diruangan.
"Pagi mbak Ica " Sapa Rike pada tim perias yang baru
Ica hanya tersenyum sekilas lalu melanjutkan memoles wajah Baby. Rike duduk disamping Baby sambil bertumpu tangan, menatap Baby selekat mungkin.
"Gue denger denger lo sering diantar pak Adry pulang ya?" Tanya Rike yang terdengar seperti tuduhan.
Baby tersenyum miring "Kenapa?" Baby membuka mata dan menatap kearah wajah Rike yang masam
"Gue udah pernah bilang kan ke elo, jangan ganggu Adry atau karir elo di sini hancur" ancam Rike
Baby lagi lagi tersenyum "Gue penasaran, siapa sih elo sampe sampe punya hak luar biasa buat ngelarang orang"
Rike tersenyum kecut, memiringkan wajahnya dan bilang
"Gue orang yang akan dijodohkan sama pak Adry"
"Cuman mau dijodohkan, bukan istri atau pacarnya" kata Baby dengan lebih ganas.
Ica selesai memoles Baby sehingga Baby bisa langsung pergi dan melakukan pemotretan. Sebanarnya Baby tidak ingin mempercayai apapun yang keluar dari mulut Rike, demi Tuhan tapi perkataannya justru terus terngiang di telinga.
Bahkan membuat Baby tidak fokus dalam pemotretan, sial.
Baby selesai pemotretan giliran model model yang lain, yang belum melakukan pemotretan. Kali ini yang tengah bergaya di depan kamera adalah Thea, gadis cantik keturunan cina. Thea tengah berpose menggoda didepan kamera, sedangkan Baby duduk sambil memijat kakinya yang terasa pegal pegal.
"Pak Adry" suara Rike yang dibuat serak serak mendayu terdengar memecahkan keheningan.
Membuat beberapa model atau staf menoleh kompak kearah pintu. Adry berdiri dengan setelan jas yang rapi, lalu tersenyum menyapa satu persatu orang yang ada disana, tak terkecuali menatap mata Baby meski hanya sekilas.
"Saya kira pemotretan sudah selesai" kata Adry
Baby tidak ingin menatap Adry terlalu lama lagi. Baginya Adry sudah berubah menyebalkan karena perkataan Rike tadi.
"Belum kok pak. Sebagian dari kita udah selesai dan ada yang belum" kata Rike menyembunyikan anak rambut kebelakang telinga
"Oh ya" kata Adry tidak begitu menanggapi.
"Oh ya pak, saya semalam buatkan bapak kue" Rike berjalan kearah tas nya, mengambil kotak bekal warna biru.
"Silahkan, semoga bapak senang" kata Rike sambil menyampingkan rambutnya kekanan, gestur menggoda
"Ini masih ada pemotretan lagi atau tidak untuk meodel yang sudah selesai?" Tanya Adry pada penanggung jawab pemotretan
Perempuan yang ditanyainya membolak balikan kertas, mengecek.
"Tidak pak, semua produk sudah selesai di pasarkan oleh masing masing model" jawabnya
"Kenapa tidak di suruh pulang saja model yang sudah selesai?" Tanya Adry sambil mencuri pandang kearah Baby.
"Ha?" Perempuan itu gelabakan lalu "untuk model yang sudah selesai diperbolehkan pulang. Kami akan menghubungi seputar pemotretan pada manager masing masing" katanya
Mendengar itu Baby menegakkan tubuhnya, gila saja kalau dia memilih tetap disini. Sekarang Minggu Minggu ujian dan dia harus mempersiapkan ujian, setidaknya kalau tidak belajar dia bisa mencontek. Baby merapikan tas dan berganti pakaian dengan pakaian awal.
"Beb mau cabut Lo?" Tanya Riko
Riko adalah tim penanggung jawab. Dia yang mengurusi seputar jadwal jadwal.
"Iya" jawab Baby cuek
"Nih. Kemarin model yang belum nerima jadwal cuman elo" Riko menyodorkan kertas
"Email in aja ke gue" kata Baby enggan menerima "gue suka lupa narok barang kayak gitu" Baby melirik kearah Adry yang tengah digoda oleh Rike
"Gue kira elo tipe model yang mau hard copy dan soft copy jadwal" Riko mengusap rambut "yaudah gue kirim email aja" lanjutnya
"Yo'i, cabut gue" katanya permisi pergi
"Jangan lupa, Minggu depan kita pemotretan di Bali" teriak Riko
Baby terus berjalan sampai berhenti didepan gedung. Menatap ke kanan dan kiri, mengecek ponselnya, berniat memesan taksi online, tobat deh pesen pesen ojek.
"Mau pulang?" Tanya seseorang dari belakang
"Copot jantung gue" tidak sengaja Baby menjatuhkan ponselnya karena kaget. Dia menoleh setelah memungut ponsel yang jatuh kelantai.
Melirik dengan tajam si pemanggil yang tak lain adalah Adry.
"Om tahu gak sih, kalau Kakek gue punya riwayat jantung" teriak Baby kesal
"Memangnya ada masalah?" Tanya Adry yang terlihat bingung
"Iyalah, siapa tahu gue juga punya penyakit yang sama" katanya kesal
Adry hanya tersenyum sekilas lalu menatap Baby yang tengah membersihkan ponselnya.
"Kamu mau pulang?" Tanya Adry
"Udah tahu pakek nanya" jawabnya galak
"Mau saya antarkan" tawar Adry dengan suara lembut
Baby berhenti membersihkan ponselnya lalu menatap arah lurus. Terima gak ya? Kalau dia pulang naik taksi, otomatis uangnya akan berkurang, tapi kalau dia pulang bersama Adry, uangnya akan aman.
"Boleh deh" kata Baby sambil tersenyum
"Tapi saya harus mampir ke suatu tempat"
"Yaudah gue ikut" Baby tidak perduli tempat mana yang akan didatangi Adry yang jelas uangnya harus aman tanpa kurang sepersen pun.
Adry tersenyum kearah Baby sambil mata keduanya saling bertatap. Rasanya waktu berhenti sejenak hanya untuk menyaksikan mereka saling menatap dari dekat. Jantung Baby pun tidak pernah tinggal diam kalau didekat Adry, selalu berdetak kencang.