First Love Duda

First Love Duda
Murahan Mana ?



Sampai di depan hotel Baby terpaku sejenak. Sialan, dia lupa membawa dompetnya, ponsel, kartu kredit, atm dan uang cash semua ada di sana.


"Pak, mau nunggu bentar gak, saya ke atas dulu ngambil uang" kata Baby kepada supir taksi.


Si supir taksi kontan menoleh sambil mengernyitkan dahi, dilihatnya Baby dengan lebih teliti, seperti sedang menelanjanginya.


"Gak bisa neng, modus kayak gini udah sering saya temui " kata supir taksi tanpa lincah mengucapkan huruf t


Baby berdecak sebal, dia kira, Baby ini sejenis modus penipuan terbaru apa.


"Yaudah kalau bapak gak percaya, ayo ikut saya naik keatas" kata Baby asal membuat sisupir taksi langsung terbatuk


Baby langsung keluar mobil tanpa menatap sisupir taksi, terserahlah dia mau mengikuti Baby atau menunggunya diluar.


Sampai di lobi, Baby bertemu dengan Thea, gadis itu sudah nyetil dengan pakaiannya


"The" panggil Baby langusng berlari kearahnya


Thea menatap Baby dengan tatapan aneh, dia menatap dari atas sampai bawah lalu menarik tangan Baby dan membisikan


"Lo udah gila, jalan tanpa alas kaki" bisik Thea membuat Baby langsung tersadar


Dia menepuk jidat sambil berdecak "sial, gue lupa" kata Baby "minjem duit dong, buat bayar taksi" Baby menengadah tangannya.


Untung, Thea turun ke lobi hotel membawa dompet, kalau tidak supir taksi yang tengah berdiri menunggu Baby dengan tatapan tajam itu, benar benar akan menuduh Baby dengan modus penipuan.


"Nih" Thea menyodorkan dua uang seratus ribuan.


Baby langsung berlari kecil dan sudah menjadi perhatian. Bayangkan, seseorang dengan pakaian mini, berjalan tanpa alas kaki, mungkin sebagian orang berpikir gadis ini sudah gila. Atau paling tidak bodoh.


"Nih pak, gue gak nipu kan" kata Baby dengan tak kalah tajam dari tatapan supir taksi.


Sisupir taksi tanpa sopan langsung melenggang, yakin , mungkin dia sudah kesal harus menunggu Baby mengambil uang terlebih dahulu. Thea sudah berdiri di belakangnya, menatap mobik taksi yang sudang melenggang


"Semalam Lo nginep dimana?" Tanya Thea.


"Di rumah pa__" tidak, Baby langsung menghentikan ucapannya saat tatapan Thea begitu mengintimidasi.


Hampir saja dia keceplosan kalau semalam tidur di vila Adry, kalau ketahuan urusannya akan semakin panjang.


"Di vila bokap gue" kata Baby selanjutnya.


"Gimana sih, bisa lupa pakek alas kaki, Lo bikin gue malu aja tau gak Beb" cicit Thea dengan tajamnya


Baby memutar mata malas, dengan menghentekkan kakinya sekali kali karena merasa sesuatu dingin merambat ke saraf kaki.


"Lo mau kemana sih, pagi pagi udah nyentil gini?"


Mendengar ucapan Baby, Thea langsung bergaya anggun. Dan tertawa lebar tanpa dosa


"Pemotretan lah" katanya


"Tungguin gue. Gue mau keatas dulu"


Baby langsung berlarian menuju lift, dan pergi ke kamarnya. Mengganti pakaian dengan pakaian yang normal, juga menggunakan sepatu Kets ataupun sepatu heel. Juga melupakan mengenai dimana keberadaan ponsel dan dompetnya.


Thea begitu setia menunggu Baby berganti, bahkan sesekali dia bercerita mengenai siapapun yang menggemaskan untuk menjadi bahan perbincangan.


Selesai berganti, Baby dan Thea keluar dari hotel. Tatapan mencela tadi yang di didapatkan Baby, rasa rasanya sudah berganti menjadi tatapan paling menganggumkan.


Lokasi pemotretan kali ini, berbeda dengan lokasi sebelumnya, dimana sekarang terletak di pulau Dewata. Baby selalu senang melihat pemandangan hijau didepannya, rasa rasanya dia melupakan mengenai Rike dan Adry, juga beban dirumahnya.


"Pagi, The, Beb" sapa Rike terdengar menyebalkan.


Baby melipat kakinya bertumpu, menatap sekeliling dengan congkak. Kalau berada didekat Rike, jangan sekali kali bersikap lemah.


"Lo semalam nginep dimana Beb?" Tanya Rike sambil membenarkan letak cincinnya.


Mendengar itu, Baby langsung menoleh. Dari mana Rike tahu kalau semalam dia tidak menginap di hotel?


"Tahu dari mana elo kalau gue gak di hotel?" Tanya Baby dengan tatapan menghunus.


Kalau tatapan bisa membunuh, mungkin saat ini Rike sudah terkapar.  Namun tatapan hanya tatapan, tidak setajam ucapan.


"Tahu dari mana ya?" Rike malah balik bertanya sambil mengomat amitkan bibirnya.


Baby langsung menoleh kearah Thea yang bermain ponsel, merasa ditatap begitu, Thea mendongak dan balik menatap Baby.


"Lo yang ngasih tahu ke Rike kalau gue semalam ga tidur di hotel?" Tanya Baby ke Thea


Thea menggeleng secara berulang ulang, tangannya naik.


"Demi Tuhan Yesus, gue gak pernah ngasih tahu dia" kata Thea terdengar gugup


"Terus dari mana dia tahu?"


"Semalam ada acara party di atap hotel, dan gue lihat cuman elo model Sila yang ga hadir" sergah Rike berdiri tegak


"Sayang" katanya membisikan ditelinga Baby "Lo masih dibawah umur, tapi udah pinter melacur" kata Rike.


Mendengar itu, Baby menggenggam tangannya dengan kuat. Brengsek, dia bilang pelacur. Tidak, Baby bukan wanita murahan seperti yang dibicarakan Rike, lagipula di vila, dia tidak berbuat sesuatu hal yang mesum bersama Adry


"Brengsek" teriak Baby secara prontal.


Thea, Rike, juga beberapa model dan staf menatap kearah Baby. Melihat wajah masam Baby begitu, mereka langsung terdiam, bukan karena mereka takut pada Baby, melainkan hanya ingin melihat lebih seksama dan menjadi bahan gosipan.


Baby mendekati Rike "murahan mana elo sama gue?" Tanyanya.


Tidak ada yang memisahkan, atau mengerjakan pekerjaannya kembali. Diam diam justru beberapa model mevidio mereka.


Rike tersenyum kecut "Murahan elo, karena elo ngejual diri elo buat oom oom"


"Oom oom?" Ulang Baby tidak tahu


Rike mendekati telinga Baby dan berbisik "Semalam elo nginep di vila pak Adry kan?" Tanyanya


Baby langsung mengerjap, dari mana Rike tahu kalau semalam dia menginap di vila Adry.


"Sayang, gue mau aja nyebar foto elo sama Adry, hanya saja__" Rike berhenti dan mengelus rambut Baby "gue gak mau acara perjodohan gue sia sia" kata Rike langsung berjalan begitu saja.


Baby memaku, demi Tuhan, rasanya tulang kakinya lemas saat mendengar Rike akan dijodohkan dengan Adry. Bukan karena ancaman Rike akan menyebarkan fotonya. Lagipula dia tidak melakukan hal hal diluar kewajaran bersama Adry, lelaki tua itu tidak semesum dugaan Rike.


Tapi kenapa? Kenapa harus Rike orang yang dijodohkan dengan Adry, lagi pula dia sudah tua kenapa harus main jodoh jodohan.


Thea mengelus bahu Baby , dan membimbing Baby untuk duduk di kursinya.


"Beb, Lo gak papa?" Tanya Thea.


Ah rasanya Baby ingin pulang saja, mengapa dia ada disini, membuang buang waktu. Tidak lama dari itu, Adry dan Rike berjalan bersisian, benar benar bersisian karena dengan setelan jas dan gaun itu rasanya mereka seperti pasangan, apalagi dengan umur Rike yang sudah tua.