CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 9; Kuda Hitam



“Aleya…” ucap Yong Nam saat ia menyadari ke arah mana mata San Hyuk tertuju.


“Ha?”


“Nama gadis yang mencuri perhatianmu itu!”


“Ah…”


“Dia juga pasti ada di malam keakraban karena ia anak baru.” Yong Nam menambahkan informasi pada San Hyuk.


“Dari mana kau tahu sebanyak itu? Kau mengenalnya?”


“Mana mungkin aku mengenalnya!” Yong Nam menarik San Hyuk agar berbicara sambill berjalan keluar dari kampus. Mereka sudah terlalu lama berdiri di tengah jalan dan membuat orang lain kesulitan melewati keduanya, “semua laki-laki sama saja, mereka tidak bisa mengabaikan gadis cantik bukan?”


San Hyuk hanya bisa menyetujui kalimat Yong Nam. Ia tidak memungkiri fakta itu mengingat ia  sendiri juga terpesona oleh aura yang dipancarkan oleh sosok Aleya. Ia merasakan getaran aneh di dadanya saat gadis itu berjalan melewatinya. Seperti ada sebuah energi yang menarik dawai dalam ruang sunyi di dadanya. Suara tunggal itu perlahan berdentang dan getarannya menyebar ke seluruh nadi melalui aliran darahnya. San Hyuk merasakan sesuatu yang disebut jatuh cinta pada pandangan pertama.


“Gimana? Kau mau datang kan?” Yong Nam kembali merayu San Hyuk begitu ia melihat pendar aneh di mata sahabatnya itu. Ia pasti berhasil meyakinkan San Hyuk untuk bergabung karena teman yang gila belajar itu menemukan motivasi lain untuk bersenang-senang.


“Baiklah…”


“Yes!” sesuai dugaan Yong Nam, ia dengan mudah mengajak San Hyuk untuk bergabung dengannya. Tidak ada niatan buruk dalam ajakan Yong Nam. Ia murni ingin menghabiskan malam keakraban itu dengan San Hyuk. Tapi ia juga tidak memungkiri bahwa San Hyuk adalah laki-laki yang menarik perhatian banyak kaum hawa. Selain ketampanannya, San Hyuk juga terkenal baik hati dan dewasa. Kenyataan ini membuat San Hyuk mudah disukai disamping pribadinya yang terkesan malu dan pendiam.


San Hyuk sendiri merasa bersalah karena keikutsertannya tidak murni disebabkan oleh ajakan Yong Nam. Ia ingin melihat gadis itu lagi dan memastikan perasaannya sekali lagi. Ia tidak mau terjebak dalam ketidakpastian yang nantinya akan menganggu proses belajarnya. Bukan karena San Hyuk gila belajar seperti yang dikatakan orang-orang tapi karena ia menyadari kekurangannya dan ketertinggalannya. San Hyuk hanya perlu berlajar lebih keras dari orang lain untuk mengisi kekosongan yang dua tahun ini ia tinggalkan.


Benar saja, akhir minggu itu San Hyuk ikut serta dalam kegiatan malam keakraban yang diadakan oleh fakultasnya. Mereka menyewa satu restoran daging dan memesan apapun makanan dan minuman yang mereka inginkan. Meja-meja sudah terbagi ke dalam kelompok-kelompok kecil begitu San Hyuk masuk ke dalam restoran. Matanya langsung memindai satu per satu wajah-wajah asing di depannya sampai matanya menangkap banyangan  Aleya. Hatinya kembali mengirimkan sinyal SOS keras ke otaknya.


“San Hyuk!” teriak teman sekelasnya dulu, Dong Suk, “kemari, duduk sini!”


San Hyuk tidak bisa mengabaikan tawaran temannya itu dan duduk di sampingnya. Ia terpaksa duduk cukup jauh dari Aleya meski jarak pendengaran dan pandangannya masih menjangkau keberadaan gadis itu. Ia menahan diri dan mulai bergabung dengan obrolan rekan-rekan lamanya. Ia tidak bisa menghindari nostalgia yang dirindukannya.


“Ayolah, minum satu gelas saja! Apa kau tidak tahu bahwa tidak meminum minuman yang diberikan padamu itu tidaklah sopan?” telinga San Hyuk menangkap oborlan di samping mejanya. Matanya langsung tertuju pada Aleya yang masih tersenyum sopan sambil memegang satu gelas soju ditangannya. Aleya jelas tidak mau meminum minuman beralkohol itu. Walau wajahnya tersenyum, ia berusaha menahan ketidaknyamanannya saat dipaksa seperti itu.


“Aku bukannya sengaja tidak berperilaku sopan seperti yang Seonbae katakan, tapi aku tidak boleh meminumnya, bukan tidak bisa…” jelas Aleya walau dengan aksen Seoul yang belum terlalu lancar.


“Kenapa? Apa kau akan mati jika meminumnya, hah?” senior Aleya mulai tidak sabar dan merasa dipermalukan dengan penolakan Aleya. Ia tidak pernah diabaikan seperti itu apalagi oleh juniornya.


“Ya, bisa di bilang seperti itu. Biar bagaimanapun, saya tidak bisa meminumnya…” Aleya masih bertahan dengan prinsipnya. Selain ia tidak diperbolehkan untuk meminum alkohol, itu juga bukan bagian dari budaya tempatnya dibesarkan. Ia merasa tidak nyaman berada dalam situasi yang rumit ini.


“Kenapa? Kau sakit? Atau kau hamil!” senior itu mulai meninggikan suaranya, membuat orang lain menoleh dan merasa tidak nyaman akibat perbuatannya.


“Aku…”


“Tenangkan dirimu Tae Kwan-ah. Aku akan menjadi kuda hitamnya. Kalau seperti itu tidak akan menjadi masalahkan?” San Hyuk sudah berpindah duduk di samping Aleya. Ia merebut gelas dari tangan Aleya dan langsung menenguknya dalam satu kali tegukan.


“Kau…” Tae Kwan terkejut melihat sosok San Hyuk, “Seonbae! Kapan Seonbae kembali!” Tae Kwan mengubah sapaannya begitu menyadari siapa yang kini duduk di antara dia dan Aleya. Meski San Hyuk merusak suasana hatinya, Tae Kwan tidak bisa melawan dan mengusir San Hyuk seenaknya. Laki-laki itu adalah kakak tingkat satu angkatan di atasnya.


“Belum lama…” San Hyuk mengalihkan perhatian Tae Kwan dengan mengajaknya bicara. Di sela-sela kesibukannya, diam-diam ia meletakan gelas kosong di depan Aleya dan mengisinya dengan air mineral yang di bawa sebelum duduk di sana.


“Terima kasih, Seonbae…” Aleya bukanlah orang yang tidak tanggap dengan sikap San Hyuk. Walau laki-laki itu tidak mengajaknya bicara sama sekali, tapi San Hyuk secara tidak langsung telah menolongnya. Ia selalu mengisi kembali gelas Aleya dengan air putih begitu isinya hampir habis. Hal itu tidak lain adalah untuk menyelamatkan Aleya dari tawaran untuk meminum soju yang terus menerus diberikan padanya.


“Tidak masalah…” San Hyuk akhirnya bisa memperhatikan wajah Aleya dengan seksama. Akhirnya San Hyuk bisa melihat paras Aleya sedekat itu. Ia sengaja tidak mengajak juniornya berbicara walau ia duduk tepat disebelahnya selama perjamuan dilaksanakan. San Hyuk tidak ingin membuat Aleya tidak nyaman dengan keberadaannya.


“Aleya…” Tanpa sadar ia mengulurkan tangannya untuk mengajak San Hyuk berkenalan. Aleya memperkenalkan dirinya begitu suasana di sekitarnya sudah cukup kondusif. Sebagian besar sudah pergi meninggalkan tempat makan. Hanya ada beberapa orang yang masih tersisa.


“Shin San Hyuk,” San Hyuk menerima uluran tangan Aleya dengan senang hati, ia bahkan tidak menyangka bahwa akan bisa mengenggam tangan Aleya secepat itu. Mungkin ini cara negaranya untuk mengajak orang lain berkenalan.


“Apa Seonbae tidak apa-apa?” Aleya ragu bertanya saat San Hyuk tidak melepaskan tangannya. Bukan tanpa alasan Aleya bertanya. Ia melihat seniornya itu minum begitu banyak gelas soju yang ditawarkan padanya.


“Tidak apa-apa,” dengan kecewa San Hyuk melepaskan tangan Aleya, “rumahmu di mana? Kau bisa pulang sendiri?”


“Ya, saya baik-baik saja berkat, Seonbae.”


“Kalau begitu hati-hatilah, sampai jumpa di kampus.” San Hyuk mengakhiri kebersamaannya dengan Aleya sebelum ia benar-benar mabuk. Ia tidak ingin membuat Aleya tidak nyaman. Walau tingkat toleransinya pada alkohol cukup  tinggi, San Hyuk memilih menghindari hal-hal yang tidak perlu. Ia ingin lebih mengenal Aleya dan meninggalkan kesan baik pada gadis itu.