
“Dokter akan menjelaskannya nanti pada anda, namun pasien harus menjalani rawat inap untuk memantau kondisinya. Boleh saya tahu apa hubungan anda dengan pasien?” tanya perawat itu sambil mengulurkan formulir kepada San Hyuk.
“Saya suaminya…” kalimat singkat yang baru saja keluar dari bibir San Hyuk menggetarkan hatinya. Bagaimana tidak, status hubungannya dengan Aleya tidak pernah diungkapkan kepada orang lain selain keluarga dan instansi-instansi tertentu yang memerlukan status resmi itu. Secara sah dan tertulis, keduanya memang berstatus suami istri. Tapi tidak secara lahir dan batin. Lebih dari sepuluh tahun ini mereka hidup masing-masing hingga melupakan fakta bahwa keduanya terikat oleh kekuatan hukum negara.
“Mari ikuti saya,” seorang perawat membimbing langkah San Hyuk memasuki sebuah ruangan. Tidak ada yang istimewa dari ruangan itu. Sama seperti rumah sakit pada umumnya. Seorang dokter telah menunggu San Hyuk dengan senyum lebar di wajahnya.
“Shin San Hyuk!” teriaknya.
“Kim Si On!” San Hyuk terkejut saat mendapati dokter yang bertanggungjawab atas Aleya adalah seorang yang dikenalnya, “apa kabar?”
“Jika situasinya tidak seperti ini tentu saja kabarku baik-baik saja. Aku akan senang sekali bertemu denganmu lagi jika suasananya tidak seperti ini. Kau benar-benar keterlaluan!” tegurnya sambil menyilahkan San Hyuk duduk.
“Maafkan aku...”
“Tapi aku terkejut saat mengetahui bahwa kalian berdua suami istri, selama ini kalian membohongi publik?” selidik Si On. Ia juga menghadiri univeristas yang sama dengan San Hyuk walaupun berbeda jurusan. Keduanya sudah lebih dulu mengenal dan tetap menjaga hubungan. Tentu saja rumor kedekatan San Hyuk dengan seorang wanita asing juga sampai ditelinganya. Bahkan dia juga mengenal langsung Aleya karena San Hyuk sering ikut serta dalam pertemuan rekan seangkatannya.
“Aku tidak berbohong, kami hanya tidak membicarakannya,” jawab San Hyuk jujur, “bagaimana keadaan Aleya?”
“Kau tidak memaksanya bekerja terlalu keras kan? Atau kalian ada masalah serius?” San Hyuk tidak menjawab pertanyaan Si On karena tidak paham arah pembicaraan ini. Kenapa ia justru bertanya jika tugasnya adalah menjelaskan ke keluarga pasien tentang kondisinya.
Si On menarik nafas panjang setelah melihat raut kebingungan rekannya, “Aleya sepertinya memiliki masalah serius hingga membuat tekanan darahnya naik. Jantungnya sempat kualahan hingga menganggu sistem peredaran darahnya, singkatnya... dia mengalami serangan jantung ringan.”
“APA! Bagaiman bisa?” San Hyuk tidak bisa menahan keterkejutannya.
“Stress,” jawab Si On singkat.
“Dia bisa sembuh kan? Tidak bisakah kau menolongnya? Apa yang harus aku lakukan? Kenapa kau diam saja?” serbu San Hyuk. Mendengar Aleya divonis seperti itu membuat ketakutannya memuncak.
“Tenangkan dirimu, bagaimana aku bisa menjawab jika kau terus bertanya!” Si Oh menyentuh bahu San Hyuk dan menyuruhnya kembali duduk, “dia tidak apa-apa asalkan tekanan darahnya kembali normal. Oleh karena itu, dia harus dirawat beberapa hari kedepan untuk memastikan bahwa semuanya kembali normal. Aku rasa dia juga mengabaikan jam makan dan tidurnya. Itu salah dua faktor yang membuatnya sampai seperti itu,” Si On menyelesaikan penjelasannya. Ia menatap wajah San Hyuk yang diliputi mendung, “tidak ada masalah di rumah tangga kalian kan?”
“Entahlah...” jawab San Hyuk sangsi. Ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada Aleya. Perubahan sikapnya jelas menunjukan ada hal yang di sembunyikan darinya.
“Baiklah, aku serahkan dia padamu. Aku keluar dulu ya...” San Hyuk pamit dari ruangan Si On.
"Kau benar-benar berubah..." kata Si On sambil mengikuti San Hyuk keluar dari ruangan.
San Hyuk berjalan pelan menuju IGD. Ia membuka tirai tempat Aleya berbaring tak berdaya. Ia masih berada di ruang transit sambil menunggu ruang inap disiapkan. Ia mendekati sisi pembaringan Aleya. Sebelum duduk di kursi yang ada di sebelah brangkar, San Hyuk mengusap pelan dahi Aleya dan menyisihkan anak rambut yang ada di dahinya. Matanya terpaku pada wajah Aleya yang kini tengah tertidur. Tatapnya begitu sendu. Siapa saja yang melihatnya pasti tahu betapa San Hyuk mencintai wanita itu.
“Jangan seperti ini...” San Hyuk tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Hatinya terasa begitu pedih melihat Aleya menderita. Semacam ada luka menganga yang membuatnya dadanya tersiksa. Diusapnya wajah Aleya, jemarinya menelusuri lekukan paras indah sang punjaan. Wajah yang kini terlihat jauh lebih dewasa itu tetap menyimpan keelokannya. Dalam benak San Hyuk ia tetaplah gadis ayu yang mencuri perhatiannya dari awal mereka berjumpa. Sebuah awal mula garis takdir yang mempertemukan mereka untuk pertama kalinya.
San Hyuk baru saja kembali dari tugas wajib militer yang harus dijalaninya sebagai warga negara Korea. Dua tahun ia meninggalkan studi dan kembali sebagai mahasiswa angkatan tingkat empat yang harus menyelesaikan studinya di tingkat dua. Tentu saja teman-teman kelasnya sudah berganti dengan wajah-wajah baru yang belum ia kenali. San Hyuk tidak bisa tidak merasa canggung berada di antara junior-juniornya. Tapi apa boleh buat, itu adalah hal yang sangat lazim.
“San Hyuk!” panggilan itu membuat San Hyuk menoleh. Orang yang memanggilnya tentu saja teman seangkatannya. Ia tidak menggunakan sapaan seonbae di belakang nama panggilannya.
“Yong Nam! Apa kabar!” San Hyuk menyambut rekannya itu dengan bahagia. Perpisahan mendadak karena tugas itu ternyata tidak melebarkan jarak keduanya. Mereka tetap merasa nyaman satu sama lain.
“Tentu saja tidak sebaik dirimu!” ada nada iri di kalimat yang diucapkan oleh Yong Nam. Tentu saja ia merasa iri karena San Hyuk sudah menyelesaikan wajib militer di awal semester kuliah sementara ia masih menunggu kapan giliran melayani negaranya.
“Kau akan mendapatkan jatahmu nanti, tenang saja!” San Hyuk menghibur rekannya yang tampak senang sekaligus khawatir.
“Aku tahu!” Yong Nam memukul bahu San Hyuk pelan untuk mengusir rasa canggung antar keduanya, “oh iya, kau ikut perkumpulan akhir pekan ini? Kau sudah dengar beritanya kan kalau kita akan mengadakan malam keakraban?”
Pertanyaan Yong Nam tidak dihiraukan oleh San Hyuk karena saat itu perhatiannya tertuju pada sesosok gadis yang berjalan melewatinya. Dalam sekali lihat, San Hyuk sudah mengetahui bahwa gadis itu bukanlah warga negaranya. Tapi hal itu tidak membuat San Hyuk memungkiri pesona dan kecantikannya. Hatinya tiba-tiba bergetar dan membuat nafasnya tertahan. Ada desir aneh yang merambat pelan dari kerongkongannya hingga membuat perutnya merasa tergelitik oleh perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tanpa sadar mata San Hyuk terus mengekori langkah gadis itu hingga pupus dari pandangannya.
“Aleya…” ucap Yong Nam saat ia menyadari ke arah mana mata San Hyuk tertuju.
“Ha?”
“Nama gadis yang mencuri perhatianmu itu!”