
San Hyuk terlihat limbung saat berjalan menuju perpustakaan. Ia baru saja menelusuri kampus untuk mencari sang dewi yang belum lama ini mencuri perhatiannya. Tapi usahanya itu gagal. Ia tidak menemukan gadis itu di mana pun hingga akhirnya ia menyerah dan kembali ke rutinitasnya, mengerjakan tugas.
Baru saat rasa juang itu pupus, pucuk dicinta ulam pun tiba. Ekor mata San Hyuk tidak sengaja menangkap bayangan yang selama ini ia cari. Aleya ternyata ada di perpustakaan dan sibuk membaca buku di sudut ruangan. Rambut sebahunya yang berwarna hitam itu kini terikat asal-asalan dengan karet gelang. Keelokan rupanya semakin terpampang jelas akibat cahaya matahari senja yang menembus dinding kaca di sebelahnya.
Lagi-lagi San Hyuk menahan nafas.
Sebelum menuntaskan keinginannya untuk berjumpa, San Hyuk sempat mengeluarkan ponselnya dan mengambil lukisan semesta itu untuk dirinya. Takut jika empunya sadar, San Hyuk segera memasukan ponselnya dan berjalan mendekati sang dambaan.
“Hai...” sapaan San Hyuk layaknya angin lalu. Pandangan Aleya tetap tidak bergeming dari buku yang ada di hadapannya. Barulah sadar bahwa ia menggunakan headset yang tersemat di kedua alat pendengarannya.
“Haloo...” tanpa seizin Aleya, San Hyuk menarik pelan salah satu kabel dari sisi telinga Aleya.
“Seonbae!” teriak Aleya tertahan. Matanya membulat karena terkejut.
“Apa kabar?” San Hyuk langsung saja duduk di hadapan Aleya begitu menyadari bahwa gadis itu tidak melupakannya.
“Apa yang Seonbae lakukan di sini?” Aleya mengedarkan pandangannya. Tidak ada orang lain yang datang bersama San Hyuk.
“Tentu saja mengerjakan tugas...” walau niat San Hyuk tidak sepenuhnya benar, tapi ia juga tidak bisa dikatakan salah. Dia memang putus asa mencari keberadaan Aleya dan memutuskan untuk mengerjakan tugas pada akhirnya.
“Sendiri?”
“Awalnya iya, sekarang tidak!” senyum San Hyuk langsung merekah begitu melihat Aleya sadar bahwa ialah orang yang dimaksud San Hyuk.
Keduanya lalu sibuk saling melempar pertanyaan dan berbagi pendapat tentang mata pelajaran walau jurusan mereka berbeda. San Hyuk lebih ke jurusan aristek dan Aleya sendiri mengambil jurusan ekonomi bisnis. Walau dasar dan tujuannya berbeda, tapi keduanya menemukan titik temu yang membuat obrolan itu semakin mendalam.
San Hyuk bisa melihat betapa cerdasnya Aleya dan semangatnya untuk menuntut ilmu. Dari pilihan kalimat dan cara penyampian pendapatnya, San Hyuk menyadari bahwa Aleya adalah sosok yang memiliki pemikiran yang cerdas dan kegigihan yang tidak biasa.
“Leya-ya?” San Hyuk sengaja berbicara banmal untuk menarik perhatian Aleya.
“Ada apa?” jawab Aleya tanpa merasa risih sedikit pun.
“Untuk saat ini, maukah kau berteman denganku?” tanya San Hyuk.
“Untuk saat ini? maksudnya?” Aleya bingung dengan pilihan kata yang digunakan San Hyuk.
“Kita tidak tahu kan apa yang akan terjadi di masa depan?” San Hyuk menatap Aleya penuh arti, “gimana?”
“Kenapa aku?” tanya Aleya seolah membuat batas di antara mereka.
“Kau tidak merasa kalau kita cocok setelah berbicara tadi?” San Hyuk langsung menyambung kalimatnya, “aku membutuhkanmu.”
Aleya memilih diam untuk mendengar penjelasan dari San Hyuk. Ia tidak ingin menyimpulkan apa pun terlebih lagi ia tidak tahu niat San Hyuk sebenarnya.
“Ajari aku bahasa Inggris atau kalau bisa Indonesia juga. Aku membutuhkan banyak pengalaman dan belajar untuk bisa menguasainya. Sebagai gantinya, aku akan menjadi seseorang yang bisa kau andalkan selama di Korea.” Tawar San Hyuk. Ia tidak berbohong dan mengada-ada. Sebelumnya, San Hyuk mencoba bertanya tentang kemampuan bahasa Aleya dan ia benar-benar mahir menggunakan bahasa Inggris. Walau benar San Hyuk tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa niat utamanya adalah untuk mendekati Aleya, tapi tidak ada salahnya ia juga memanfaatkan momen itu untuk kepentingan masa depannya.
“Apa Seonbae kira aku tidak bisa mengandalkan diri sendiri?” selidik Aleya.
“Tidak! Bukan itu maksudku...” San Hyuk terkejut dengan pertanyaan tajam dari Aleya. Ia tidak menyangka gadis itu akan memahami kalimatnya secara defensif seperti itu, “maaf!”
“Aku bercanda....” Aleya tersenyum jahil pada San Hyuk, “aku dengan senang hati berteman denganmu Seonbae. Tapi Seonbae tidak perlu merasa terbebani dengan kekuranganku. Aku bisa menjaga diriku Seonbae,” Aleya mencoba menenangkan hati kakak tingkatnya itu. Ia memahami benar apa maksud San Hyuk. Perbedaan adat dan budaya antara Korea dan Indonesia sangat besar hingga membuat Aleya sedikit kualahan beradaptasi. Tapi itu tidak berarti Aleya menyerah untuk mencobanya. Perlahan tapi pasti, Aleya mencoba berbagi toleransi bersama teman-temannya.
“Benar kau tidak tersinggung dengan ucapanku?” San Hyuk kembali memastikan bahwa Aleya benar-benar tidak terlukai olehnya.
“Hmm...” Aleya kembali melempar senyum terbaiknya hingga membuat perut San Hyuk kembali dipenuhi dengan buih-buih yang menerbangkan hatinya.
“Kalau begitu mulai sekarang aku akan memanggilmu Leya, kau juga tidak perlu berbicara formal padaku.” sambil mengesahkan pertemanan mereka, San Hyuk mengulurkan ponselnya pada Aleya. Ia meminta nomor dan alamat email gadis itu agar.
“Baiklah Seonbae...”
“No! Oppa...” San Hyuk merengek seperti anak-anak, “panggil aku oppa!”
“Bukankan itu terlalu cepat?”
“Tidak, kau harus membiasakannya dari sekarang!
“Tapi...”
“Apa kalian tidak sadar ini perpustakaan?” tegur seseorang dari samping meja mereka berdua. Seorang wanita berdiri tepat samping San Hyuk. Ada lanyard yang bergantung di lehernya, menunjukkan bahwa ia adalah penjaga perpustakaan.
“Maafkan kami...” jawab Aleya.
“Lain kali lebih tenang jika di dalam perpustakaan,” sekali lagi petugas itu mengingatkan sebelum pergi meninggalkan Aleya.
Aleya menghela nafas panjang begitu penjaga itu pergi. Ia melirik jam tangannya yang kini menunjukan pukul tujuh malam. Aleya memutuskan untuk berkemas dan kembali ke rumahnya.
“Kau mau pulang sekarang?”
“Ya, sudah malam. Aku harus pulang...”
“Aku akan mengantarmu,” San Hyuk ikut mengemasi barangnya.
“Aku akan pulang sendiri,” tolak Aleya.
“Leya-ya...” San Hyuk hendak merengek lagi.
“Aku bisa pulang sendiri, Oppa!” Aleya meraih tasnya dan berjalan cepat meninggalkan San Hyuk yang masih termenung di tempat. Kata oppa memang sangat akrab sekaligus terdengar romantis bagi banyak laki-laki Korea. Walau Aleya menganggap sapaan itu biasa, tapi ia tahu kekuatan dan akibat yang muncul dari kata itu bagi laki-laki terutama San Hyuk.
Cukup lama bagi San Hyuk untuk menguasi dirinya sendiri. Ia tidak menyangka bahwa kata yang diucapkan dari mulut Aleya dapat membuatnya mati kutu seperti itu. Padahal ini bukan kali pertamanya ia dipanggil oppa oleh banyak gadis yang dikenalnya. San Hyuk segera mengejar Aleya begitu menyadari bahwa gadis itu telah jauh meninggalkan dirinya.
“Hei itu curang namanya!” San Hyuk berhasil menjajari langkah Aleya.
“Bukan aku saja kan yang memanggilmu oppa?”
“Tapi cuma kau yang membuatku sampai seperti itu Leya-ya!”
“Oppa tahu? Orang pertama yang ku panggil oppa adalah kau,” Aleya berhenti berjalan dan menatap San Hyuk tajam, “terima kasih telah bersedia menjadi oppaku!”
San Hyuk mengeratkan kepalan tangannya hingga buku jarinya memutih. Ia menahan diri untuk tidak menarik Aleya ke dalam pelukannya. Gadis itu benar-benar membuat San Hyuk gila.