
Seperti yang dijanjikan oleh Aleya, pagi itu ia datang ke hotel untuk menemui Luna. Ia akan membantu Luna dan Jagad mempersiapkan semua acara foto preweding sampai acara pertunangan mereka di gelar di Korea.
“Kak Aleya!” Luna menyambut bahagia kedatangan Aleya. Ia tidak menyangka bahwa apa yang diucapkan calon kakak iparnya itu benar-benar dia lakukan. Tidak seperti kesannya yang dingin, sikap Aleya sangat royal dan hangat pada Aleya.
“Kau ingin foto yang seperti apa?” tanya Aleya sambil melihat contoh foto yang dibawakan oleh fotografer yang sudah dihubungi Luna sebelum ia berangkat ke Korea.
“Apa pun rekomendasi kak Aleya aku akan terima!” jawab Luna mantap. Ia masih duduk di depan meja rias bersama MUA yang akan mendampinginya hari ini.
“Kau kan yang akan menikah, kenapa aku yang harus repot!” nada Aleya sedikit bercanda saat mengatakannya. Ia lalu membalik-balik katalog dan sesuai dengan keinginan Luna ia mulai berdiskusi dengan fotografer.
Mata Luna membulat saat menyaksikan cara Aleya berdiskusi dan berbisnis dengan tim fotografer. Ia benar-benar jatuh hati dan takjub dengan calon kakak iparnya. Benar-benar terlihat saat menawan dan juga elegan. Wanita itu begitu hebat, namun kenapa tidak ada yang pernah menceritakan tentangnya?
“Apa ada satu tempat khusus yang ingin kau jadikan tempat berfoto?” tanya Aleya sekali lagi untuk memastikan.
“Gwanghamun, tentu saja!” jawab Luna mantap sambil menyebut ikon lokasi terkenal di Korea itu. Aleya hanya mengangguk dan mulai menyusun rencana perjalanan dengan menjadikan Gwanghamun sebagai salah satu destinasi perjalanan hari ini.
“Apa kau sudah siap?” tanya Jagad begitu ia masuk ke dalam kamar. Ia mengabaikan keberadaan Aleya dan langsung menyapa calon istrinya itu dengan kecupan ringan di dahinya.
Aleya yang sempat melihat kedatangan Jagad kembali fokus pada pekerjaannya hari ini. Niat Aleya sudah bulat, ia tidak ingin memungkiri apa yang sudah ia janjikan pada Luna dan Jagad di depan orang tuanya.
“Sudah di sini kau rupanya?” Jagad berjalan ke arah Aleya dan mengusap rambut adiknya itu dengan lembut layaknya seorang kakak yang benar-benar menyayangi adiknya. Aleya sediri memilih tidak menjawab dan mendiamkannya, “tumben kau tidak ditemani anjing-anjingmu?”
“Anjing juga membutuhkan istirahat agar tidak menggigit majikannya,” Aleya merasa tersinggung dengan ucapan Jagad walau itu tidak ditujukan secara langsung untuknya, “apa tidak bisa kita melalui hari ini dengan tenang?”
“Baiklah-baiklah...” Jagad beranjak menjauhi Aleya dan kembali pada Luna.
Tidak berapa lama setelahnya, mereka akhirnya berangkat untuk melakukan sesi foto itu. Semua urusan sudah ditangani oleh fotografer, Aleya hanya di sana untuk membantu komunikasi keduanya. Ia bahkan tidak berbuat banyak karena semua dilakukan sesuai dengan arahan walau hanya menggunakan bahasa tubuh dan bahasa inggris sekenanya.
“Apa kau tidak lelah?” Robin yang turut serta acara itu menyodorkan minuman pada Aleya yang tidak segera menerimanya, “kenapa? Aku belum membuka segelnya...” melihat Aleya yang tidak bergeming, ia membuka botol minuman itu dan meminumnya sendiri, “kau puas?” kata Robin lalu kembali menyerahkan botol itu pada Aleya.
“Sangat puas,” jujur Aleya merasa lelah. Tapi ia memilih untuk menunggu karena mungkin tidak hanya dirinya yang merasakan hal demikian.
“Aku akan melakukannya...” kata Robin ketika keheningan mulai memberi ruang canggung di antara keduanya.
Aleya hanya menoleh sambil menatap Robin tak mengerti. Ia tidak tahu arah pembicaraan ini.
“Telepas dari dia anakku atau bukan, aku berjanji padamu bahwa aku akan melindunginya. Bahkan dengan mempertaruhkan nyawaku jika itu perlu.” Robin mengikrarkan janjinya. Ia menatap Aleya dan berusaha meyakinkan wanita itu bahwa ucapnnya itu tidak mengada-ada.
“Aku tahu...” Robin mengakui kalimat Aleya sepenuhnya benar, bahkan Robin tidak berhak terluka hanya kalimat itu, “kau sudah mempertaruhkan nyawamu untuk melahirkannya walau kau tidak tahu siapa ayahnya, jadi tidak masalah jika kini giliranku yang melakukannya.” Tekad Robin sudah kuat. Setidaknya ia memiliki alasan lain untuk hidup.
“Jika kau terlalu baik, akan semakin banyak orang yang memanfaatkanmu...”
“Tidak masalah, karena tidak banyak orang yang tau kalau aku adalah orang yang baik!” Robin menarik ujung bibirnya menanggapi ucapan Aleya yang terkesan lucu. Baru kali ini ada orang yang menyebutnya baik.
“Kakak masih sama seperti dulu...” gumam Aleya lirih. Nada bicaranya sudah berbeda. Ia seolah ingin bernostalgia di masa-masa mereka dulu bersama, “orang yang selalu ada di sana saat aku putus asa...”
“Kau terlalu melebih-lebihkan...”
“Tapi itu benar adanya. Jadi, biarkan aku berterima kasih sekali saja atas semua yang kakak lakukan untuk kehidupan remajaku yang menyedihkan...” Aleya menatap jauh ke arah Jagad dan Luna yang sedang menikmati sesi foto mereka dengan mesra.
“Aku harap cinta yang Jagad berikan untuk Luna tulus dari hatinya...” doa Aleya.
“Jagad mencintai Luna, kau jangan khawatir kalau masalah itu,” tegas Robin yakin.
“Aku tahu...”
“Dan dia tidak pernah berbohong saat dia mengatakan kalau dia menyukaimu...tentu saja sebagai adik...” tambah Robin.
“Dari mana kau tau? Kalau perasaan Jagad padaku adalah rasa cinta terhadap adiknya?” Aleya setengah sangsi setengah penasaran dengan pernyataan Robin.
“Kau jangan berpura-pura bodoh. Kau pasti sudah tahu kalau dia adalah kakak tirimu kan?” tebak Robin, “kau kini memiliki kemampuan untuk menyelidiki hal-hal sepele seperti itu.”
“Kalau dia menyukaiku, kenapa dia melakukan semua perundungan itu padaku?” Aleya tentu saja tidak terima dengan pembelaan yang dilakukan oleh Robin. Ia jelas-jelas ada di sana saat Jagad melakuka semuanya.
“Karena dia juga korban...” Robin kembali melemparkan senyumnya sambil menyingkirkan anak rambut yang tertiup dan menganggu pandangan Aleya. Ia sangat meyayangkan tragedi yang harus di lalui oleh dua insan ini hingga berakhir saling membenci.
Jagad yang melihat Robin tersenyum sambil menatap Aleya dengan lembut merasakan luka di dalam hatinya. Ia menyayangkan bahwa keduanya tidak bisa bersama seperti yang ia harapkan sebelumnya. Jagad memang memiliki agenda pada hidup Aleya termasuk menjadikan Robin sebagai ansuransi kehidupan untuk Aleya. Tapi ia tidak menyangka rencana yang telah disusun olehnya gagal dan harus kembali ke titik awal.
Padahal waktu yang Jagad miliki sangat sempit.
Jagad kini hanya memiliki dua pilihan. Menjadikan Aleya ada dipihaknya atau membuat Aleya hilang selamanya.