
Jagad tidak bisa menyembunyikan senyumnya begitu ia mendarat dan selesai mengurus urusan imigrasinya. Mereka langsung menuju hotel tempat mereka akan menginap.
“Apa kau sebahagia itu, Sayang?” senyum Luna tak bisa berhenti berkembang. Sudut bibirnya yang berisi penuh itu melengkung sempurna melihat calon suaminya yang jelas-jelas senang dengan perjalanan romantis mereka. Bahkan laki-laki yang terkesan dingin itu berulang kali mendaratkan kecupan ringan di wajah Luna.
“Iya...” Jagad tanpa ragu meraih pinggang ramping Luna dan menariknya mendekat.
“Ada apa denganmu sih sebenarnya?” Luna hanya bisa tersipu malu mendapat perlakuan manis dari Jagad. Ia sebenarnya masih tidak menyangka perjodohannya dengan Jagad akan begitu penuh kasih. Sudah lebih dari tiga tahun mereka dikenalkan sebagai tunangan. Bahkan Luna yang tidak banyak berharap dari pernikahan bisnisnya, masih tidak mempercayai mereka akan benar-benar bahagia seperti ini.
“Aku hanya sangat bahagia...” ucapan Jagad tidak sepenuhnya bohong. Kebahagiaannya mungkin tidak sebanding dengan kebersamaannya dengan Aleya dulu. Tapi ia sangat menantikan pertemuannya dengan wanita itu. ia tidak sabar bagaimana sosok Aleya saat ini.
“Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpamu kalau kau terus bersikap manis seperti ini!” Luna membalas pelukan Jagad. Sepanjang perjalanan menuju hotel, keduanya tidak henti-hentinya saling mengoda dan melempar ungkapan-ungkapan manis layaknya pasangan yang akan menikah pada umumnya.
Tiba di SG Hotel, Jagad langsung di sambut oleh kedua orang tuanya. Mereka langsung pergi ke resto untuk menikmati makan malam sambil menikmati pemandangan kota Seoul. Tidak ada pembicaraan yang berarti sampai akhirnya detik mendebarkan bagi orang tua dan anak itu tiba.
“Ke mana adikku? Kenapa dia tidak bergabung dengan kita?” tanya San Hyuk begitu ia menyelesaikan makan malam. Ia sudah menahan rasa ingin tahunya begitu melihat hanya kedua orang tuanya lah yang menyambutnya. Tidak seperti bayangannya sebelumnya. Tanpa ingin membuat Luna curiga, Jagad berusaha menelan kekecewaannya.
“Adik?” Luna yang belum tahu tentang sosok Aleya pun tidak bisa untuk tidak bertanya. Selama ini baik Jagad ataupun keluarga laki-laki itu tidak pernah cerita tentang keberadaan sosok lain dalam keluarga itu.
“I..iya... Jagad memiliki seorang adik, usia mereka tidak terpaut jauh...” jawab Krisma tanpa bisa menyembunyikan kegugupannya.
“Aleya sibuk, ia akan menemui kita nanti...” jawab Thomas sambil memberi ancaman pada Jagad secara tidak langsung.
“Sombong sekali adik ku satu itu. Apa dia tidak merindukan kakaknya?” sudut bibir kanan Jagad tertarik bersamaan dengan seringainya. Ia paham benar maksud ucapan Thomas.
“Kenapa tidak pernah cerita?” Luna kembali bertanya. Ia sangat penasaran dengan sosok Aleya.
“Anak kurang ajar itu pergi dari rumah setelah lulus SMA. Ia begitu menikmati hidupnya di sini hingga lupa pulang!” Jagad terkekeh dengan nada bercanda. Ia lalu menambahkan, “seperti kata Ayah tadi, dia sangat sibuk berkerja. Benarkan Ayah?”
“Hmm, kau lihat gedung itu? Itu tempat adik iparmu bekerja. Ia adalah Asisten Direktur di sana ..” demi mengurai kecanggungan antara ayah dan anak itu, Krisma menunjuk gedung yang memang merupakan bangunan Suwon Grup. Ia mendapatkan informasi dari Leo demi membayangkan seberapa kaya dan berpengaruhnya Shin San Hyuk di Korea.
“Wow... hebat sekali! Aku dengar tidak mudah mendapatkan pekerjaan yang stabil dengan gaji yang tinggi di Korea. Pantas saja ia sibuk jika ada dia sampai menempati posisi itu!” Luna hanya bisa takjub membayangkan calon adik iparnya.
“Tapi sesibuk-sibunya dia, sudah seharusnya kan dia menyambut kedatangan kakak dan calon kakak iparnya?” Jagad bergelayut manja di lengan Luna.
“Besok pasti bertemu kan?” Luna tersenyum malu pada calon mertuanya. Ia tidak menyangka Jagad akan bersikap seperti itu di hadapan orang tuanya, “oh iya, berapa umurnya sekarang?”
“Oh, dia adikku tapi dia lebih tua dariku! Bagaimana aku memanggilnya nanti...” Luna tidak menyangka bawa Aleya hanya terpaut dua tahun lebih muda dari Jagad. Ia mengira calon adiknya itu masih muda.
Pasti tidak akan mudah berurusan apalagi mendapatkan hati Aleya. Luna benar-benar tidak tahu harus melakukan apa jika bertemu dengannya nanti.
“Walau dia lebih tua darimu, kau tetap saja menjadi kakaknya. Jadi kau bisa memanggilnya Aleya,” Thomas melihat kecemasan dari wajah cantik Luna. Ia hanya bisa berharap senyum calon mantunya akan bertahan selamanya. Ia terus berharap bahwa sikap manis dan romantis yang ditunjukan Jagad benar-benar dari hatinya.
Thomas ingin sekali cerita masa lalu itu tetap menjadi masa lalu. Ia sudah tua untuk terlibat urusan pelik yang dapat menyita pikirannya. Hanya kebahagiaanlah yang ingin ia petik di masa tuanya yang sudah menjelang.
“Kapan rencana adik ipar akan mampir?” tanya Luna tanpa tahu ketengangan yang terjadi antara Jagad dan Thomas.
“Kita belum tahu, kita fokus saja pada acara kita, anak nakal itu tentu saja sibuk, tapi ia tidak mungkin melewatkan acara keluarga nantinya.” Krisma tidak ingin calon mantunya itu terlalu memikirkan Aleya. Bahkan jika Krisma memiliki pilihan ia tidak ingin mereka bertemu dengan Aleya.
Hati orang tua itu juga cemas.
Walau ia sudah mempercayai bahwa Jagad sudah sepenuhnya melupkan Aleya, rasa khawatir itu tetap saja menghantuinya. Sudah lama sekali mereka dipisahkan oleh jarak. Ia mungkin yakin bahwa Aleya tidak akan menjadi penghalang bagi pernikahan Jagad yang tinggal mengitung bulan. Tapi Krisma tidak bisa tenang karena anaknya sendiri.
Siapa yang bisa menjamin semuanya akan berjalan dengan lancar?
“Sudah-sudah, kita istirahat terlebih dahulu. Kalian pasti lelah karena seharian di perjalanan. Kita bertemu lagi besok pagi...” Thomas mengakhiri makan malam mereka. Satu-satu persatu mereka kembali ke kamar masing-masing.
“Istirahat yang nyenyak, kita perlu memulihkan tenaga jadi aku mungkin akan tidur lebih awal...” Jagad menghadiahkan kecupan sambil berpamitan dengan Luna di depan pintu kamar hotelnya.
“Kamu juga, Sayang. Sampai bertemu besok pagi...” Luna masuk ke kamarnya setelah calon suaminya itu melepaskan pelukannya. Keduanya memasuki kamar yang berbeda di lantai yang sama.
Jagad melemparkan tubuhnya asal di atas kasur dan langsung meraih ponselnya. Ia menekan tombol hijau pada satu kontak nama yang selama ini menjadi orang kepercayaannya. Tidak sampai dering ketiga suara itu berhenti tanda orang di ujung saluran menjawab panggilan.
“Kita bertemu malam ini di basement satu pada pukul delapan,” kalimat perintah itu tidak membutuhkan jawaban. Jagad langsung mengakhiri panggilannya dan beranjak membersikan diri sebelum menemui pujaan hatinya.
Jagad tidak ingin terlihat lusuh apalagi bau saat bertemu dengan Aleya nanti.
Di bawah guyuran air dari keran shower, senyum yang lebih menyerupai seringai kini kembali menghiasi wajah Jagad. Hatinya tak bisa berhenti berdebar. Ia sudah tidak sabar untuk melakukan perburuan.
“Kau tidak akan bisa lari lagi kucing kecilku...”