CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 15; Meeting for the First Time



“Karena saat itulah kesempatan yang Tuhan berikan padaku untuk memiliki seorang keluarga,” jawab Aleya mantap seolah tahu apa yang ada di dalam pikiran San Hyuk.  “Bagaimana bisa aku melewatkan kesempatan berharga seperti itu?”


Senyum yang terukir indah di wajah Aleya membuat San Hyuk menyadari sesuatu. Hatinya yang tadinya terasa begitu sakit perlahan memudar demi merasakan kehangatan yang perlahan merengkuhnya dalam kehangatan. Air mata laki-laki itu tanpa sadar lolos begitus aja dari matanya bersamaan dengan kebekuan hati dan pikirannya.


“Maafkan aku...” San Hyuk meminta maaf atas semua pikiran egoisnya. Selama ini yang ia pikirkan hanyalah dirinya sendiri. Ia terlalu fokus pada apa yang terjadi padanya tanpa memberi kesempatan Aleya untuk bercerita.


“Tidak perlu, justru aku yang seharusnya meminta maaf karena tidak jujur dari awal,” Aleya mengulurkan tisu untuk menghapus air mata laki-laki itu.


“Tapi apa maksudmu kau tak memiliki keluarga?” San Hyuk tak mengerti dengan kalimat Aleya. Pasalnya, Aleya bisa hidup di Seoul dan tinggal diapartemen dengan lingkungan yang aman. Aleya juga sedang menjalankan studinya tanpa melakukan pekerjaan paruh waktu. Terlebih lagi ada seorang bayi yang harus dirawatnya. Dari mana sumber dana itu berasal? Apa harta warisan peninggalan keluarganya?


“Secara hukum aku memang memiliki keluarga. Aku diadopsi oleh pasangan suami istri dari keluarga berada. Fasilitas yang kami miliki serta kemudahan-kemudahan itu berasal dari mereka.” Jawaban Aleya tidak sepenuhnya membuat San Hyuk lega. Ia dapat menangkap kepedihan dalam kalimat Aleya.


“Lalu apa yang terjadi padamu hingga kau bisa...” San Hyuk kembali menahan keingintahuannya.


“Kecelakaan...” jawab Aleya tenang, “tapi aku mendapatkan hikmahnya.”


“Ayah...tidak maksudku, orang itu, apa ia tidak bertanggung jawab? Bukannya kalian saling mencintai?” walau pahit rasanya, San Hyuk ingin mendengarnya saat ini juga. Ia tidak ingin menyia-yiakan kesempatan yang diberikan Aleya. Sudah barang tentu hal ini menyakitkan untuk dibahas dan Aleya pasti sudah menyiapkan dirinya untuk menceritakan segalanya. Cukup sekali San Hyuk membuka luka lama Aleya dengan pertanyaannya.


“Dia tidak tahu dan tak perlu tahu. Aku pergi ke Korea saat usia kehamilanku masih empat bulan. Hanya orang tuaku yang mengetahui kondisiku. Mereka juga menyuruhku melakukan aborsi. Tapi aku meyakinkan mereka untuk merawat anak ku. Aku adalah anak yang pernah dibuang. Tidak mungkin aku melakukan hal yang sama terhadap anak ku sendiri. Itu terlalu menyakitkan.” Tidak ada penyesalan yang muncul dalam setiap kata yang diucapkan oleh Aleya. Tekadnya sekuat baja.


San Hyuk tidak bisa berkata apa pun. Hati kecilnya merasa bahwa ia harus belajar banyak dari cara pandang hidup Aleya. Dari segi umur, mungkin San Hyuk lebih tua dari Aleya, tapi jika membicarakan kedewasaan, Aleya jauh di atasnya. San Hyuk semakin melihat ke dalam dirinya sendiri, mencari tahu apa tujuan hidup dan ke arah mana layarnya akan terkembang.


Suara tangis bayi memecah keheningan. Membuat dua insan yang saling bercengkrama dengan pikiran masing-masing itu menoleh bersamaan.


“Anak ku bangun, Oppa makan siang dulu!” tanpa menunggu jawaban, Aleya langsung berlari memasuki pintu kamar lain di apartemen itu. Suara tangisan itu perlahan mulai mereda. Seorang wanita paruh baya keluar dari kamar dan berjalan ke pintu kamar lain yang ada di sebelahnya. Ia hanya tersenyum sambil menatap San Hyuk.


Aleya keluar kamar sambil menggendong seorang bayi laki-laki berumur kurang lebih satu setengah tahun. Hatinya berdebar menunggu respon apa yang akan diberikan San Hyuk ketika bertemu dengan putranya itu.


“Sapa pamanmu...” kata Aleya dengan bahasa Indonesia begitu sampai di dekat San Hyuk.


San Hyuk yang baru menikmati nasi goreng untuk pertama kalinya terkejut dengan pertemuan yang begitu tiba-tiba. Sebutir nasi tersangkut di kerongkongannya dan membuatnya terbatuk seketika. Buru-buru Aleya mengambilkan segelas air putih untuk San Hyuk.


“Siapa namanya?” tanya San Hyuk tanpa mengalihkan tatapan matanya dari dua buah netra bulat dan bening yang kini menatapnya dengan penuh perasaan.


“Deepa, sementara ini Oppa bisa memanggilnya dengan nama itu,” Aleya memang belum resmi mencatatkan kelahiran anaknya. Ada banyak yang harus di urus dan ia belum bisa mencabut namanya dari KK orang tuanya di Indonesia agar kehadiran Deepa tidak berpengaruh pada silisah keluarga yang sudang berbaik hati padanya.


“Deepa?” sapa San Hyuk pelan, “nama yang indah.”


Usaha San Hyuk tidak sia-sia. Setelah hampir satu jam ketiganya duduk di atas lantai, akhirnya Deepa mulai menerima kehadiran San Hyuk. Perlahan-lahan anak kecil itu mulai penasaran dan secara progresif mulai mengenali San Hyuk. Diawali dengan menyetuh tangan, kini Deepa sudah berdiri dihadapan San Hyuk dan menelusuri garis wajah laki-laki itu dengan jemari mungilnya. San Hyuk bahkan memejamkan mata untuk menikmati proses perkenalan itu.


San Hyuk merasa kedamaian menyelimuti batinnya. Sentuhan-sentuhan dan wangi khas bayi dari Deepa membuatnya mendamba. Ingin sekali ia memeluk bocah itu ke dalam pelukannya. Belum lama San Hyuk memanjatkan keinginannya, justru Deepa yang kini memeluk lehernya dengat erat.


“Sekarang aku tahu, memeluknya seperti ini membuat tubuh dan pikiran kita terasa nyaman dan aman,” bisik San Hyuk sambil membalas pelukan Deepa.


Pemandangan yang ada di hadapan Aleya membuat hatinya terasa pelik. Di satu sisi ia senang bahwa Deepa memiliki teman lain selain dia dan Mbok Sari, ia juga tidak perlu menyembunyikan keadaannya. Tapi di sisi lain Aleya merasa sedih. Ia tidak ingin larut dengan kebahagiaan sesaat ini. Ia tidak ingin memunculkan benih-benih harapan apalagi doa untuk membuat momen ini bertahan selamanya.


Aleya sadar diri.


Siapa yang menjadi prioritasnya saat ini.


Aleya juga sadar bahwa dia adalah gadis dengan keadaan khusus yang tidak sama dengan orang kebanyakan. Ia tidak boleh berharap terlalu tinggi tentang bagaimana masa depan percintaannya. Ada orang yang mau berbagi hidup dengan keadaanya saja sudah termasuk hal istimewa. Ia tidak ingin terlalu serakah dengan berharap lebih pada San Hyuk.


Banyak sekali perbedaan.


Banyak sekali jeda yang tidak bisa dipangkas oleh usaha. Bahkan jika kehadirannya seperti pentingnya air dalam kehidupan kita. Sebesar apapun ia memberikan kesejukan dan kehidupan dalam gersangnya jiwa raga. Aku tidak boleh melupakan fakta bahwa dia adalah air. Seberapa pentinya dia, gengaman tanganku tak akan pernah bisa menahannya.Semakin erat aku menganggemanya, semakin aku kehilangan wujudnya.


Visual Aleya!