CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 44;Menyelinap



“Apa kau akan melakukannya malam ini?” San Hyuk mengamati Aleya yang kini tengah mengganti gaunnya. Wanita itu bahkan tidak lagi malu memperlihatkan kulit polosnya di depan San Hyuk dan fokus mengambil kaus bermodel turtle neck berwarna hitam dan celana jeans dengan warna yang sama. Ia langsung mengganti pakaiannya begitu saja setelah sampai di dalam kamar.


“Aku harus melakukannya tepat saat penjagaan mereka sedang lemah,” ucapan Aleya memang beralasan. Karena acara dinner malam ini, beberapa orang yang sengaja di tempatkan oleh Jagad untuk memantau aktivitas keduanya sedikit berkurang. Bahkan saat kembali dari hotel ke rumah sakit, tidak ada satu mobil pun yang mengikuti mereka.


“Bisa saja mereka sudah ada di depan rumah kita,” jawab San Hyuk sambil menarik pinggang ramping Aleya hingga merapat padanya. Ia tidak ingin melepaskan wanita itu malam ini apalagi untuk bertemu dengan lelaki lain yang ia curigai sebagai ayah Han Byeol. San Hyuk tidak bisa memungkiri kalau ia khawatir hingga pada titik ia merasa cemburu.


“Kalau begitu suruh beberapa bodyguard kita untuk mengecohnya!” bukannya surut, Aleya justru kini balik memerintah San Hyuk.


“Hmm…kau benar-benar sudah seperti nyonya rumah…” tanpa melepaskan ikatannya pada pinggang ramping Aleya, San Hyuk menghubungi kepala penjaga untuk melakukan tugas yang diberikan oleh sang nyonya besar.


“Oppa bisa beristirahat dan menyerahkan semuanya padaku. Besok pagi ada meeting penting bukan?” Aleya melepaskan pegangan San Hyuk dan bersiap kembali ke hotel.


“Kau pikir aku bisa tenang dengan membiarkan istriku di luar sana bertemu dengan laki-laki lain? Di dalam hotel?” San Hyuk menarik kembali Aleya dan menangkupkan tangannya pada kedua pipi Aleya. Ujung ibu jarinya menyapu belahan bibir Aleya dengan lembut.


“Oppa cemburu?” pipi Aleye merona merah ketika kedua bola matanya bertemu dengan sepasang netra San Hyuk yang memancarkan kecemburuan dan kelembutan secara bersamaan.


“Heem…” San Hyuk menjawab pertanyaan Aleya dalam sekali gerakan. Ia mengikuti nalurinya untuk menyatukan nafasnya melalui celah di antara kedua bibir mungil itu. Niat awal yang hanya ingin sekedar mengecup bibir ranum itu berubah menjadi sesapan dan helaan yang membuat insting naluriahnya mengambil kendali.


“Oppa…aku harus pergi…hmm…” bulu rona Aleya tersentak saat San Hyuk mengeser sesapannya dari bibir ke pangkal leher Aleya. Laki-laki itu secara kekanak-kanakan meninggalkan markanya di sana untuk berjaga-jaga.


“Aku tahu…” San Hyuk berusaha meredam gejolak di dalam dirinya setelah mengakhiri pagutan singkat itu. Ia lalu menyuruh Aleya menunggu kabar dari kepala penjaga sementara dirinya masuk ke dalam kamar mandi untuk mendinginkan kepalanya.


“Dasar gila…” San Hyuk menghapus lipstick Aleya yang menempel di bibirnya. Ia tidak menyangka bahwa usianya yang sudah dewasa tidaklah menjamin sikapnya. Terbukti San Hyuk sendiri merasa seperti remaja yang baru dimadu asmara hingga ia merasa tertekan hanya saat laki-laki lain memandang ke arah Aleya. Ia merasa sangat malu dengan dirinya sendiri saat ia tidak bisa mengontrol emosinya seperti ini.


“Oppa mau ke mana?” tanya Aleya bingung. Jelas-jelas ia sudah menyuruhnya beristirahat.


“Aku lebih baik terjaga semalaman demi bersamamu daripada harus membayangkan kau bersama laki-laki itu…” San Hyuk memimpin langkah Aleya menuju garasi. Malam ini mereka menggunakan mobil lain yang biasa dipakai oleh tim penjaga sementara mobil San Hyuk dibawa keluar oleh tim lain untuk mengecoh orang suruhan Jagad yang memang berjaga di sekitar lokasi rumahnya.


Aleya dan Jagad meninggalkan kediaman mereka dengan mengambil rute yang tidak biasa mereka gunakan. Ini untuk menghindari ada orang lain yang berjaga dan mengawasi pergerakan mereka. Awalnya San Hyuk tidak mengira bahwa Jagad akan melakukan tindakan sejauh ini. Tapi berdasarkan laporan dari orang-orangnya, ternyata orang yang disewa Jagad lebih banyak daripada perkiraannya. Kakak istrinya itu seolah sedang menyusun rencana untuk mencelakaan Aleya kapan saja sampai menempatkan begitu banyak orang dalam lingkup kerja San Hyuk dan ALeya.


San Hyuk dan Aleya sampai di basement hotel tanpa kendala. Sudah ada seseorang yang menunggu kedatangan keduanya dan langung membawa mereka ke ruang sekuriti utama.


Di dalam ruangan itu, tidak hanya kepala bagian keamanan yang harus bekerja lembur untuk mengikuti kemaun sang pemilik grup tapi juga menajer senior yang akan membantu keduanya. Secara khusus kedua orang itu ditugaskan oleh direktur utama untuk membantu San Hyuk dan Aleya.


“Kami sudah meng-upgrade kamar keluarga sesuai dengan permintaan Anda. Selain itu, masih ada satu orang yang menetap di kamar yang sama,” San Hyuk memang meminta pihak hotel untuk memberikan kamar khusus untuk keluarga beserta calon ipar mereka. Robin yang memang hanya sendirian, masih berada di kamar lantai 17 sementara anggota keluarga menempati kamar suit di lantai 40. Ini berati jangkuan kamar antara Robin dan Jagad cukup jauh hingga memberikan peluang lebih untuk bisa menemuinya tanpa sepengetahuan Jagad.


“Orang yang Anda cari tidak keluar dari kamarnya setelah acara makan malam, lalu untuk Tuan Jagad sendiri baru masuk ke dalam kamarnya beberapa menit yang lalu setelah menghabiskan malam di lounge bar bersama Nona Luna…” informasi ini sangat mudah di dapatkan dari pantauan CCTV yang ada di seluruh hotel. Aleya awalnya hanya akan menggunakan kekuatan San Hyuk untuk menanyakan nomor kamar Robin, tapi keberadaan San Hyuk membuat pergerakannya selangkah lebih di depan. Lebih banyak informasi dan data yang ia dapatkan dari petugas hotel.


“Aku hanya akan memberimu waktu maksimal satu jam. Jika lebih dari itu aku akan membuka paksa pintu hotel,” nada bicara San Hyuk bercampur dengan ancaman. Ia menyodorkan mastercard kamar agar Aleya bisa masuk ke kamar Robin, “kamar nomor 1702 dan 1706 kosong, kau bisa menggunakannya dalam keadaan terdesak. Kami akan memantaumu dari ruang kendali.”


“Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Nyonya bisa mengetuk pintu itu dengan nada 1 2 1…” informasi yang diberikan oleh penjaga hotel membuat Aleya menuntut lebih banyak penjelasan, “semua orang yang hendak memasuki kamar itu menggunakan kode itu. Tidak ada yang memencet bel atau pun menggunakan saluran intercom,” jelasnya lagi.


“Terima kasih…” Aleya mengucapkan rasa terima kasihnya. Informasi itu sangatlah membantu. Lebih baik ia menunggu tuan rumah untuk membukakan pintu daripada menyelinap masuk tanpa tahu kondisi yang ada di dalamnya. Tapi untuk berjaga-jaga, Aleya tetap menyimpan kunci cadangan itu di dalam kantongnya.


“Sebelum Anda pergi, silahkan gunakan ini…” petugas itu memberikan alat komunikasi dua arah untuk Aleya. Sekali lagi sambil mengucapkan terima kasih ia menyematkan headsfree di telinganya sebelum meninggalkan ruangan.